Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Tertangkap Basah


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Ethan harus terbangun saat ponselnya berdering. Id Momy mengiasai layar ponsel, dengan mata mengantuk Ethan meraih ponsel dan menggeser ikon hijau. Zoya yang berbaring di lengan pria itu membuka matanya perlahan saat merasakan pergerakan sang suami.


"Siapa?" tanya Zoya dengan suara serak khas bangun tidur. Ia menatap sang suami yang menempelkan ponsel pada telinganya sementara matanya masih terpejam.


"Hallo Mom."


"Ke agensi sekarang, Momy ingin bicara!" intruksi yang membuat mata Ethan mau tak mau terbuka sempurna. Ia sesaat menjauhkan ponsel dan melihat jam pada ponselnya.


"Mom, ini masih pagi." sahut Ethan setelah mengecek waktu yang baru menunjukan pukul setengah tujuh pagi.


"Sekarang Ethan. Mommy tidak mau tahu!" Rachel tak bisa dibantah, membuat Ethan hanya mengembuskan napas kasar. "Okey, Ethan ke sana sekarang." sahut Ethan dengan nada pasrah. Panggilan terputus setelahnya, Ethan mengusap wajah gusar dengan hembusan napas kasar yang terdengar setelahnya.


"Siapa memangnya yang sudah datang ke tempat kerja di pagi buta seperti ini." decaknya, lantas bangkit dari posisi berbaringnya dan membuat Zoya menyingkir. Sementara Ethan beranjak dari tempat tidur.


"Momy Rachel suruh ke gedung agensi sekarang?" tanya Zoya saat suaminya tampak bergegas menuju kamar mandi.


"Iya." pria itu setengah berteriak saat sudah berada di dalam kamar mandi. Zoya mendesah, ia kembali merebahkan kepalanya dengan nyaman di atas bantal. Tapi matanya sudah tidak bisa lagi terpejam, ia hanya menatap pintu kamar mandi sampai berselang lima menit setelahnya, pintu kamar mandi terbuka. Menampilkan sang suami yang sudah segar bugar keluar dari sana.


Zoya segera beranjak dari tempat tidur menuju walk in closet untuk menyiapkan pakaian sang suami. Satu kecupan hangat dari Ethan yang terasa begitu dingin mendarat di pipi Zoya ketika wanita itu tengah memilah dasi untuk sang suami kenakan.


"Kamu hari ini ada acara apa?" tanya Ethan seraya mengenakan pakaiannya.


"Hari ini aku nggak kemana-mana, nggak ada acara apa-apa." Zoya menyahut seraya membantu mengancingkan kemeja Ethan.


"Aku libur." sambungnya, kali ini matanya menatap Ethan yang tengah memerhatikannya. Ethan mengangguk setelah mendengar jawaban istrinya.


"Yasudah, pulang mau dibawakan apa?"


"Hmm?" dahi Zoya berkerut dengan senyum manis di bibirnya. "Mm, mau dibawain apa, yah." wanita itu justru berpikir dan tertawa setelahnya. Sepulang dari Maladewa, Ethan di matanya tampak menggemaskan, membuat Zoya selalu ingin tertawa saat melihatnya.


"Dibawain apa aja, deh." jawabnya setelah ia selesai memakaikan suaminya dasi. "Yasudah." sahut pria itu yang kemudian menggandeng sang istri keluar dari kamar saat dirinya sudah selesai mengenakan pakaian kerja. Keduanya menapaki anak tangga menuju dapur dimana Naina sedang menyiapkan sarapan di sana.


"Mas Ethan, Mbak Zoya. Tumben, ini masih pagi banget." tegur Naina saat melihat dua orang itu datang ke dapur saat waktu masih terbilang pagi, karena biasanya Ethan dengan Zoya turun ke lantai bawah saat pukul tujuh atau setengah delapan ketika akan sarapan sebelum menjalani aktivitas masing-masing.


"Iya Naina. Ethan harus buru-buru ke agensi." jawab wanita itu, Naina hanya mengangguk-anggukan kepala, mengerti jika pasti banyak yang harus pria itu kerjakan setelah berlibur selama beberapa hari. "Menu sarapannya udah beres?" tanya Zoya kemudian.


"Saya sarapan di perusahaan saja, Sayang." tolak Ethan dengan cepat begitu ia melihat arloji mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Kamu yakin?"


"Iya. Saya harus buru-buru."

__ADS_1


"Saya berangkat sekarang yah,"


"Iya, kamu hati-hati."


Ethan mengangguk, meraih puncak kepala wanita itu dan mendaratkan kecupan singkat di kening Zoya. "Kalian jaga diri baik-baik di rumah." pesannya, Zoya mengangguk dan melambaikan tangannya saat Ethan sudah berjalan menuju pintu keluar.


Pesan itu sampai ke telinga Naina, tapi tidak dengan kecupan hangat di keningnya.


Ia kembali fokus memasak saat Zoya membalikan badan ke arahnya. "Biar saya bantu kamu, yah." wanita itu segera mengambil celemek dan akan membantu Naina memasak saat gadis itu menganggukan kepalanya, mempersilakan wanita itu untuk ikut membantu.


***


Ethan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, menembus jalanan ibu kota yang mulai dipadati kendaraan. Ia tidak tahu alasan kenapa Rachel memintanya buru-buru datang ke perusahaan.


Mungkin karena kesalahannya yang tidak masuk kerja selama beberapa hari dan sulit dihubungi, atau mungkin ada hal lain yang wanita itu ketahui.


Keadaan gedung agensi masih lumayan sepi saat Ethan tiba di sana, dengan segera, ia menuju ke ruangan Rachel di mana ia bertemu dengan Asisten wanita itu di depan ruangan Rachel.


"Belum sampai?" tanya Ethan dengan dahi berkerut saat asisten Rachel mengatakan padanya jika Rachel belum tiba. Ethan berdecak, ia mengembuskan napasnya gusar. Padahal ia buru-buru untuk datang namun ternyata wanita itu belum tiba di sana.


"Hubungi saya jika Ibu Rachel sudah datang!" intruksi Ethan yang setelahnya segera berlalu meninggalkan wanita itu.


"Iya Pak."


***


Pria itu segera meraih telepon kantor saat alat komunikasi itu berbunyi. "Ibu Rachel sudah datang Pak, dia menunggu Pak Ethan di ruangannya." terdengar asisten Rachel berbicara di ujung sana.


Ethan seketika membuka matanya, ia mendengkus tidak percaya, padahal ia baru saja duduk, baru beberapa detik yang lalu.


"Baiklah, saya ke sana sekarang!" sahut Ethan, ia meletakan gagang telpon ke tempatnya dan menghela napas. Ia merasa sedang dipermainkan sekarang.


Langkah lebar Ethan membawanya menuju ruangan Rachel yang tak jauh dari ruangannya, sekilas ia melihat jika para karyawan sudah banyak yang berdatangan dan menyapanya.


"Ibu Rachel sudah menunggu di dalam." asisten Rachel berbicara dan segera membuka pintu saat Ethan tiba di sana. Pria itu dengan cepat segera memasuki ruangan Rachel. Tapi langkahnya memelan saat melihat seseorang di ruangan wanita itu.


Ia melihat sosok wanita cantik dengan postur tubuh tinggi dan kulitnya yang putih kemerah-merahan, dalam posisi sedang duduk pun semua orang tahu jika ia tinggi dilihat dari kaki jenjangnya.


"Alexa." tegurnya dengan dahi berkerut.


"Hay."

__ADS_1


Wanita dengan rambut pirang khasnya itu menyapa seraya melambaikan tangan. Ia duduk dengan kaki menyilang, kacamata hitam melekat di depan matanya. Wanita itu membukanya dan menaruh kacamata tersebut di atas meja guna melihat Ethan dengan mata telanjang.


"Lama tidak bertemu Ethan."


"Yah, lumayan. Kapan landing di sini?"


"Sudah dari kemarin. Apa kabar?"


"Baik, selalu."


"Syukurlah." Alexa tahu istri pria itu merawat Ethan sengan sangat baik. Alexa mendapatkan banyak informasi mengenai kehidupan pria itu selama ia di Amerika.


"Sudah cukup berbasa-basinya?" Rachel menginterupsi dua orang itu. Ethan menoleh pada wanita yang tengah duduk pada kursi kebesarannya tersebut. "Silakan duduk." sambung Rachel yang kemudian bangkit dari posisinya setelah mengambil sebuah amplop berwarna cokelat di atas mejanya dan berjalan ke arah sofa di mana Ethan sudah mendudukan dirinya di sana.


"Ada apa Momy memanggil saya pagi-pagi begini?" pria itu tho the point, tak ingin berbasa-basi. Rachel mengerutkan kening, ia duduk pada sofa lain yang berhadapan dengan Ethan.


"Kamu sangat tidak bertanggung jawab Ethan!"


"Maksud Momy?" dahi pria itu berkerut.


"Setelah beberapa hari ini tidak masuk kerja tanpa keterangan apapun, bisa-bisanya kamu bertanya alasan kenapa saya memanggil kamu kemari?!" panjang lebar Rachel yang diakhiri decakan kesal. Ethan yang sadar jika dirinya dalam posisi salah hanya diam dan meminta maaf.


"Maaf Mom."


"Apa yang kamu lakukan selama beberapa hari ini? Kemana kamu pergi?" tanya Rachel kemudian, mencecar pria itu dengan berbagai pertanyaan.


"Maaf, Mom." lagi, Ethan berbicara pasrah, Alexa yang menatap pria itu hanya berdecih menyaksikan ketidak beresan yang dilakukan Ethan.


"Jangan bilang jika kamu ke luar kota atau luar negri untuk urusan pekerjaan, tanpa Randy. Momy tidak ingin mendengarkan kebohongan apapun!" sahut Rachel lagi, telak dan tak memberikan Ethan sedikitpun celah untuk berbohong, namun demikian pria itu masih mampu untuk bersikap tenang.


Jangan sampai salah langkah atau Rachel akan menemukan sesuatu yang mencurigakan. Sangat berbahaya bagi rahasia yang Ethan punya.


"Ethan memang keluar kota, Mom. Ada keperluan yang harus Ethan urus dan Ethan tidak bisa mengatakannya pada Momy." dusta pria itu.


"Kalau begitu jelaskan pada Momy–" Rachel membuka isi amplop cokelat miliknya dan mengeluarkan isinya tepat di atas meja, di hadapan Ethan. "Apa maksud foto-foto ini?"


Ethan hanya mematung dengan raut terkejut melihat lembaran foto saat ia bersama dengan Naina di Bandara ketika mereka akan berangkat ke Maladewa.


"Jelaskan Ethan! Apa maksud ini semua?"


TBC

__ADS_1


Nah, loh, Ethan. Ketauan, 'kan.


__ADS_2