
Tiga hari ini Ethan lalui dengan hampa karena Zoya yang tak kunjung bicara dengannya meski ia sudah minta maaf berkali - kali karena sifat pencemburunya yang berlebihan itu. Terutama, tiga hari ini ia disibukan oleh urusan perusahaan, sehingga jarang memiliki waktu luang.
"Sayang, saya sarapan di perusahaan." beritahunya seraya merapikan dasi, Zoya yang sedang merapikan jas untuknya terlihat menganggukan kepala, Ethan melihatnya melalui pantulan cermin.
Beruntung, sekali pun tak bicara banyak dengannya, wanita itu tetap memenuhi segala keperluannya seperti biasa.
"Aku udah suruh Naina siapin bekal." wanita itu menyahut setelah cukup lama. Kemudian melangkah keluar, Ethan menoleh dan melihat pintu kamar yang perlahan tertutup, tak lama ia meraih jasnya dan berjalan sambil mengenakannya. Menyusul langkah wanita itu menuju dapur.
"Bekal buat Ethan udah disiapin?" tanyanya pada Naina, gadis itu mengangguk seraya mengangkat rantang tupperware tiga susun yang sudah ia siapkan untuk Ethan.
Zoya tersenyum puas. Lantas duduk pada kursi yang biasa di tempatinya bersamaan dengan kemunculan Ethan.
"Pak Ethan, ini bekalnya. Ini airnya," Naina menyodorkan rantang tupperware berwarna biru untuk pria itu. "Terimakasih, Naina." ungkapnya dengan senyum tipis, lantas tatapannya beralih pada Zoya yang tengah menikmati sarapannya.
"Saya berangkat." pamitnya, wanita itu menganggukan kepala.
"Zoya saya berangkat." Ethan hanya ingin wanita itu menatapnya. Zoya tak menggubris, tetap menikmati makannya dan membuat Ethan menghela napas. Pria itu membungkukan badan, mengecup kening wanita itu sekilas.
"Saya berangkat." pamitnya sekali lagi, lantas berlalu meninggalkan meja makan, Zoya hanya mengangguk. Diam - diam ia tersenyum, lantas melanjutkan makannya.
Naina yang melihat hal itu menggelengkan kepala. "Kasian Pak Ethan, Mbak." gadis itu akhirnya buka suara.
"Biar nggak kebiasaan, Na." Zoya menyahut santai.
"Tapi iya, sih, kasian banget." sambungnya, membayangkan bagaimana ia mengabaikan pria itu selama tiga hari ini, membayangkan bagaimana Ethan mencoba merayu, membujuk dan menggodanya dan tidak mempan.
Tapi Zoya merasa kesal pada suaminya yang seenaknya saja memberi kesempatan pada Edrin untuk mendekatinya. Memangnya ia apa?
"Zoy, tau nggak?" tanya Edrin saat mereka menikmati makan siang di restoran yang sudah pria itu booking tempo hari.
"Apaan?" Zoya bertanya dengan nada malas.
"Kata Ethan, aku boleh loh, deketin kamu." Zoya mengerutkan kening. Sepertinya orang yang duduk di hadapannya bukanlah Edrin, pria itu bukan tipe to the point seperti suaminya.
"Coba lebih jelas lagi." suruh Zoya.
"Jadi gini, Ethan ngira aku suka sama kamu."
"Hmm, terus?"
"Dia bilang aku boleh deketin kamu kalau bisa."
"Jadi?" Zoya tak mengerti apa yang pria di hadapannya ini maksud.
"Gimana kalau kita kerjain Ethan." Edrin menawarkannya dengan wajah tanpa dosa. Zoya seketika menggelengkan kepala, andai ia melakukan hal tersebut dan Ethan mengetahuinya. Sudah dipastikan jika pria itu akan mengamuk padanya nanti, bahkan Zoya tidak berani untuk sekedar membayangkannya.
"Enggak bisa. Jangan main - main sama Ethan!" Zoya memperingatkan.
"Zoya please - lah, cuma tiga hari. Hitung - hitung hadiah ulang tahun buat aku."
"Kamu yang ulang tahun, dih, kok kadonya minta, sih. Nanti kadonya yang lain aja, nggak hal kaya gini, pokoknya nggak!" final Zoya, sudah tak bisa diajak bernegosiasi lagi.
"Ayolah, Zoy. Cuma tiga hari," Edrin masih mencoba membujuk.
"Kamu nggak penasaran gimana reaksi Ethan kalau kamu cuekin?"
__ADS_1
"Udah sering liat!" sahut Zoya, mengingat jika sudah banyak yang mereka lewati.
"Kamu nggak penasaran gimana reaksi kalau seandainya dia ngeliat kamu jatuh hati sama orang lain dan dia kehilangan kamu?"
Zoya diam. Ia menatap Edrin, pria tampan itu menaikan alisnya, meminta persetujuan Zoya hingga akhirnya wanita itu mengangguk.
Ia sudah melihat sekarang bagaimana lemah lembut seorang Ethan meski Zoya sudah mengabaikannya selama tiga hari, dan hari ini adalah puncaknya, Zoya penasaran bagaimana reaksi pria itu nanti.
Naina yang melihat Zoya tersenyum ikut tersenyum. Ia menggeleng pelan mengingat jika setiap malam Zoya selalu mencoba menghindari Ethan dan menghabiskan waktu dengannya untuk menonton tv.
Yang akhirnya membuat Ethan pasrah dan mengisolasi diri di ruang baca sekaligus menyelesaikan pekerjaannya yang tak pernah ada habisnya.
**
"Zoya masih gak mau ngomong?" tanya Randy begitu Ethan tiba di ruangannya yang sedang Randy rapikan. Sesekali Ethan memang melarang cleaning service untuk masuk ke ruangannya, hingga Randy yang kemudian mengambil alih urusan tersebut.
Ethan yang langsung mendapat pertanyaan yang membuatnya down hanya mendesah. Melepas jas yang ia kenakan dan menyampirkannya pada stand hanger, kemudian duduk dan membuka rantang tupperware yang dibawanya tanpa menjawab pertanyaan Randy. Ia justru malah bertanya. "Kamu udah sarapan?"
"Masakan Naina, yah?" Randy semringah dan segera duduk begitu Ethan mengangguk, sekalian mempersilakannya untuk ikut sarapan.
"Naina tuh calon istri ideal." sahut Randy begitu mencicipi masakan Naina, Ethan yang tengah mengunyah tak menghiraukan. Sarapan dengan tenang, kepalanya dipenuhi oleh nama sang istri.
"Masih muda, cantik, bisa ngerjain semua urusan rumah, pinter masak, lemah lembut –"
"Jadi kamu sukanya Naina atau manejer Zoya?" tanya Ethan yang kali ini memerhatikan apa yang Randy katakan.
"Dua - duanya." Randy menyahut spontan tanpa pertimbangan.
"Punya istri dua enak kali, yah, Than." sambungnya seraya menaik - turunkan alisnya pada Ethan. Sementara pria itu hanya menggelengkan kepala, kemudian mengingat jika beberapa hari ini Naina sering menerima telpon, entahlah dari siapa.
Mengingat jika sampai hari ini wanita itu masih marah padanya, Ethan hanya bisa menghela napas dan mengembuskannya pelan. Ia sudah kehabisan cara merayu istrinya.
**
"Saya pergi dulu, kalau Ethan dateng dan nanyain. Bilang aja saya jalan sama Edrin ke galeri seni." sahut Zoya pada Naina. Gadis itu hanya mampu mengangguk.
Naina melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul delapan malam. Zoya sudah berada di luar selama lebih dari empat jam. Entah sengaja atau tidak, tapi Zoya melewatkan jam pulang Ethan.
Gadis itu tersentak begitu mendengar suara pintu yang terbuka. Tak lama, seorang pria dengan wajah tampannya yang tampak lelah muncul. Seperti biasa, berjalan sambil membuka jas yang dikenakannya.
"Zoya di mana?" tanyanya pada Naina yang hanya berdiri.
"Mm, itu Pak. Euu, Pak Ethan minum dulu," Naina memilih buru - buru beranjak untuk mengambil segelas air putih, juga mengumpulkan keberanian untuk menyebutkan nama Edrin pada Ethan.
Ethan mengikuti langkah kecil gadis di hadapannya. Begitu gadis itu tiba - tiba berbalik, Ethan dengan cepat mengambil langkah mundur, Naina tampak terkejut karena hampir saja bertabrakan dengan Ethan.
"Euu, maaf Pak."
"Ada yang kamu khawatirkan?" Ethan adalah orang yang mampu membaca ekspresi lawan bicaranya dengan mudah.
"Mm." Naina memejamkan mata, kembali membalikan tubuhnya dan mengambil segelas air, lantas menyerahkannya pada Ethan. Pria itu menerimanya dan menandaskannya.
"Zoya ke mana?" kembali pada pertanyaan awal hanya dalam hitungan detik.
"Mbak Zoya pergi sama Mas Edrin ke galeri seni." Naina menyahut dalam satu kali tarikan napas. Ethan tampak terkejut, tapi terlihat masih bisa menahan gejolak emosi yang mungkin sudah naik ke ubun - ubun.
__ADS_1
"Galeri seni mana?"
"Mbak Zoya nggak bilang, Pak."
Ethan menghela napas, sangat kentara jika pria itu sedang menahan amarah dan mengendalikan emosinya.
"Kamu bisa ikut saya?" tanya Ethan yang membuat Naina bingung.
"Buat ingetin saya biar nggak marah - marah." sambung pria itu. Naina akhirnya mengangguk, lantas berjalan mengikuti langkah cepat Ethan keluar dari rumah. Masuk ke mobil pria itu, tapi sebelumnya, Naina lebih dulu bertanya.
"Saya duduk di samping Pak Ethan?" Ethan yang baru membuka pintu mobil lantas mengerutkan kening.
"Terserah kamu!" lantas masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kendali. Naina menutup pintu bagian depan, kemudian berpindah ke belakang dan duduk di sana. Ethan yang sudah menghidupkan mesin mobil menoleh. Apakah ia seorang sopir?
Tak ingin ambil pusing, Ethan segera melajukan mobil, menuju sebuah galeri seni yang sangat besar kemungkinannya jika Zoya ada di sana. Ethan masih bisa menyetir dengan tenang, ia melihat Naina melalui rear vission mirror yang ketakutan ketika Ethan mengemudikan mobil dengan kecepatan di atas rata - rata.
"Kamu takut?" tanya Ethan. Gadis di belakangnya itu mengangguk.
"Pak Ethan memang nggak takut?"
Ethan menggeleng. "Dalam kondisi apa pun, yang paling diutamakan itu keselamatan Pak." beritahu Naina dengan lembut. Ethan menoleh sebentar, kemudian kepalanya mengangguk samar.
Setelah lama perjalanan karena memang jaraknya yang cukup jauh, Ethan memarkirkan mobilnya di halaman sebuah gedung galeri seni di mana ia merasa begitu yakin Zoya ada di sini.
"Pak Ethan," panggil Naina begitu pria itu dengan gerakan tidak sabaran membuka seatbeltnya. Ethan menoleh ke belakang dengan gerakan tangan tertahan.
"Apa pun yang nanti Pak Ethan lihat di dalam, jangan bersikap kasar sama Mbak Zoya." pesannya, Ethan terdiam, sedangkan kepalanya dengan cepat berpikir dan menyimpulkan. Tak ingin salah tanggap, akhirnya ia lebih memilih bertanya.
"Memang apa yang sekiranya terjadi di dalam?"
Naina terdiam, ia hanya menggeleng pelan. Ethan yang merasa jika wanita itu tak akan menyahut lantas keluar dari mobil, Naina mengikuti, keduanya berjalaan masuk. Rupanya di dalam begitu ramai lebih dari biasanya, entah karena ada acara atau memang para pengunjung sedang ingin di sana.
Ethan mengedarkan pandangan, mencari di mana sekiranya keberadaan Zoya. Begitu juga Naina. Tempat yang ramai membuat keduanya sesekali bersenggolan dengan pengunjung lain, beberapa kali juga Naina hampir kehilangan jejak Ethan. Ia mulai cemas saat Ethan benar - benar hilang dari hadapannya.
"Pak Ethan,"
"Pak."
Naina panik. Melihat ke sana kemari mencari keberadaan Ethan. Ia tidak tau kemana mereka melangkah dan meninggalkan pintu masuk di tempat yang seperti labirin. Naina mulai memegang kepalanya, ia hampir benar - benar menangis saat merasa pusing dengan keriuhan dalam kebingungannya. Suara orang - orang di sekitarnya samar - samar ia dengar, namun lebih dulu terbang ke udara.
Sampai rasanya ia bagai menemukan kehidupan baru begitu seseorang menggenggam tangannya. Yang pertama ia lihat adalah wajah tampan Ethan, pria itu mengerutkan kening dan mendekati wajahnya "Kamu tidak papa?" tanyanya dengan nada cemas.
"Saya jalan terlalu cepat?" tanya Ethan lagi, kali ini Naina mengangguk samar.
"Maaf kalau begitu," sahut Ethan. Ia juga merasa panik karena tiba - tiba saja Naina menghilang di belakangnya. Beruntung, gadis itu dapat di temukan sengan mudah karena postur tubuhnya cukup tinggi, kulit putihnya juga menonjol di antara orang - orang.
"Kalau begitu, genggam tangan saya!" suruh Ethan tanpa beban, berlalu begitu saja yang membuat Naina mengeratkan pegangan pada tangan pria itu, berjalan di belakang Ethan dengan tangan keduanya yang saling menggenggam. Sesaat Naina merasakan kehangatan ..., bahkan ia nyaris lupa siapa pria yang menggenggam tangannya ini.
Seorang pria tampan dengan status sudah dalam pernikahan dan begitu sangat mencintai istrinya. Naina tidak mungkin menjadi perusak dalam hubungan orang - orang yang begitu baik padanya.
"Kita ke sana!" sahut Ethan begitu melihat kerumunan orang - orang yang hendak naik ke lantai atas. Dari beberapa poster yang dibawanya, bisa dipastikan jika mereka adalah para fans Edrin.
Naina mengangguk, keduanya kembali melangkah untuk mencari keberadaan Zoya.
TBC
__ADS_1
Jadi gimana, tim Ethan Zoya atau Ethan Naina?😂