
Pagi yang cerah, Airin baru saja selesai memandikan Syfa. Bayi cantik itu terlihat sangat girang sekali. Begitulah, bayi kecil nan polos. Yang belum mengerti apa apa. Dia berceloteh bahasa bayinya dengan riangnya saat Bundanya memakaikan baju. Seperti berkata, " aku cantik sekali. Bajuku bagus, ada bunga bunganya" Syfa tertawa riang.
"Kamu mandi gih,, siap siap. Jangan sampai nanti suami mu datang kamu belum siap." Dewi muncul dai depan pintu, yang memang ngk di tutup. Airin pun menyerahkan Syfa pada ibunya. Dan segera mandi dan bersiap siap.
Sekitar jam sepuluh pagi Devid datang. Dia dengan pakaian santai terlihat sangat menawan. Kedatangannya disambut oleh Rahmat. Dirumah Airin masih terlihat orang orang wedding organizer merapikan kembali dekorasi dari acara kemaren. Sesaat Devid teringat kembali kejadian semalam. Saat Syahdan datang dengan emosi. Luka lebam karena pukulan Syahdan masih sedikit terasa disudut bibirnya.
"Masuk nak Devid, tunggu sebentar ya. Airin masih bersiap siap dikamar. Atau mau langsung ke kamarnya masuk aja." Ujar Dewi kepada menantunya itu.
"Saya disini aja bu, ngk pa p... Hehehe sambil liat liat pekerja ini." Jawab Devid menolak. Padahal sebenarnya dia masih sungkan untuk langsung menuju kamar Airin. Meskipun mereka sudah resmi menikah.
Tak lama Airin muncul, dia terlihat anggun sekali dengan hijabnya. Sesaat Devid terpesona, selama ini Devid memang tidak terlalu memperhatikan Airin. Karena saat itu yang dia tau bahwa Airin adalah wanita Syahdan.
"Mau langsung berangkat aja, nak Devid ngk minum kopi dulu." Ujar Rahmat.
"Maaf Ayah, mungkin lain waktu saja.. Saat nanti Kami berkunjung. Karena siang ini saya ada sedikit pekerjaan di Rumah Sakit." Tolak Devid halus.
"Kita berangkat sekarang ? " Tanya Devid pada Airin. Airin pun menganggukkan kepalanya. Kemudian berpamitan kepada kedua Orang Tuanya.
Sekali lagi dia meninggalkan rumah ini. Keluar dari rumah Orang Tuanya sebagai seorang istri. Semoga kepergiannya saat ini adalah untuk menjemput bahagia.
"Baik baik ya nak dirumah suamimu. Jadilah istri yang sholeha, manut sama suamimu. Dan berbaktilah kepada Ibu mertuamu. Sekarang suamimu adalah Syurga dan Neraka mu nak. Jadi Binalah rumah tanggamu." Ucap dewi seraya menangis. Airin pun berlinangan airmata.
__ADS_1
"InsyaAllah Bu, Ibu dan Ayah baik baik ya. InsyaAllah kalau suami Airin mengizinkan, nanti Airin akan sering sering berkunjung." Kata Airin.
Setelah berpamitan, mereka pun masuk ke mobil. Devid membantu membawakan tas pakaian Airin dan Syfa. Devid juga membukakan pintu mobil untuk Airin. Melihat itu, Ayah dan Ibu Airin sedkit lega. Mereka berharap, pernikahan yang sekarang akan memberikan kebahagian untuk anak dan cucu mereka.Dan mereka pun pergi.
Selama di perjalanan, hanya suara Syfa yang terdengar, celoteh khas bayi. Terkadang terdengar suara Airin menanggapi perkataan Syfa. Seakan Airn mengerti dan faham apa yang Syfa ucapkan. Terkadang Devid tersenyum saat tangan Syfa mencoba menggapai nya.
Setelah hampir satu jam perjalanan mereka pun sampai. Terlihat Anita sudah menunggu di teras. Anita memang sudah sedari tado bolak balik ke dalan rumah kemudian keluar lagi. Dia tak sabar menungg kedatangan mereka.
Lagi lagi Devid membukakan pintu mobil agar Airin mudah keluar. Dan mebawakan tas Airin. Kemudian meminta pembantu untuk membawakan ke kamar.
"MasyaAllah cucu oma sudah sampai..." Anita langsung mendekati Airin dan Syfa. Syfa terlihat senang bertemu Anita. Dia langsung berhambur kedalam gendongan Anita. Airin pun mencium tangan Anita takzim.
"Ayo ayo masuk, kita ngobrol di dalam." Ajak Anita. Mereka pun masuk ke dalam rumah. Jujur, Airin sedikit ragu melangkah, rumah Devid sangat mewah baginya. Dia semakin merasa banyak kekurangan dan semakin takut. Akankah kebahagiaannya ada dirumah itu. Ataukah malah dirinya akan terluka lagi.
Sesampai di dalam, Mata Airin semakin dimanjakan dengan suasana yang wah. Furnitur yang ada dalam rumah itu semuanya sangat mewah. Tak ada sebanding dengan rumah Orang Tua nya yang sangat sangat sederhana.
Mereka ngobrol ngobrol sesaat, Anita menanyakan juga kabar Ayah dan Ibu Airin. Terlihat Syfa mulai rewel, mungkin dia mulai lapar dan ingin menyusu. Anita pun memberikan Syfa ke Airin.
"Mungkin dia lapar, kamu beri Asi dulu ya. Sembari istirahat. Kamar kalian ada dilantai atas. Kamar Bunda dibawah. Karena Bunda sudah nggak sanggup lagi naik turun tangga setiap saat." Kata Anita.
"Bik, antar Nyonya Muda ke kamar nya ya." Ujar Anita memerintah Artnya.
__ADS_1
Kemudian Airin pun melangkah mengikuti Art itu menuju kamar. Sesampainya di kamar, Airin takjub. Kamar itu sangat luas. Mungkin empat kali lebih besar dari kamarnya. Ranjangnya terletak ditengah, Ranjang mewah dengan ukuran big size. Di dindingnya ada foto Devid dengan pakaian Dokternya. Selain itu juga ada lukisan cantik di dinding atas ranjang.
"Maaf Nyonya muda, saya tinggal dulu ya.." Sahut Art itu.
"Iya, makasih ya Bik." Jawab Airin.
Syfa pun kembali rewel. Mungkin selain lapar juga mulai mengantuk. Airin pun melangkah menuju ranjang. Agak ragu ragu Airin naik ke ranjang, dan merebahkan Syfa. Setelah merasa tenang, Airin pun menyusui Syfa. Sampai Syfa tertidur, Airin pun ikut tertidur.
Terdengar suara pintu terbuka, Devid baru saja keluar dari kamar mandi. Airin pun terkejut karena mendengar suara pintu. Dia segera merapikan hijabnya Karena tadi sedikit terbuka menyusui Syfa.
"Maaf,," Devid pun meminta maaf. Karena dia tak tau kalau Airin sudah berada dikamar.
"Tadi Syfa menangis, jadi Bunda menyuruh saya untuk membawanya kesini. Agar bisa memberinya Asi." Ujar Airin menjelaskan. Padahal sebenarnya dia tak perlu menjelaskan apapun.Karena kamar itu memang kamar Devid dan sudah menjadi kamarnya juga.
"Oh iya, kamu istirahat lah dulu. Aku mau ke Rumah Sakit karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan." Sahut Devid.
"Apakah lama, apakah sampai malam.?" Tanya Airin. Dia tersadar, kenapa juga dia bertanya seperti itu. Kemudian Airin memalingkan wajahnya karena malu. Devid tersenyum melihatnya. Entah kenapa ada suatu rasa menyentuh hatinya. Apakah karena dia sudah lama tidak ditanya seperti itu oleh seorang istri.
"Belum tau juga, kalau cepat selesai. Aku akan langsung pulang." Jawab Devid kemudian.
Airin pun mendekat. Kemudian mengambil tangan Devid dan mencium takzim. Itu membuat Devid terkejut dan terpana.
__ADS_1
"Hati hati dijalan." Ucap Airin. Kemudian kembali ke ranjang pura pura mendekati Syfa. Padahal sebenarnya dia mencoba menenangkan debaran dadanya. Dia hanya melakukan tugasnya sebagai istri yang sholeha seperi pesan Ibunya.
"Aku pamit ya,,, Assalamu'alaikum.." Devid pun tersadar, dadanya pun tak kalah berdebar. Devid pun segera melangkah keluar meninggalkan kamar.