
"Fah, Zoya nggak ada. Kemungkinan rencana kita gagal." Selin menggigit ujung kukunya. Sedangkan matanya masih mengedar mencari keberadaan Zoya. Ia sudah memerika hampir setiap sudut hotel dan juga toilet, tapi Zoya menghilang seolah ditelan bumi.
"Lalu rencana kita, gimana?" tanya Fahry di ujung sana.
"Apa kita batalin aja, jujur aku nggak tega sama Zoya. Aku nggak mau sampe citra dia hancur gara-gara ini." suara Fahry di ujung sana terdengar sendu.
"Tapi lebih baik lagi kalau kaya gini, Fah. Dengan gitu kalian bisa putus dengan mudah dan kamu bisa fokus sama keluarga kamu."
"Enggak usah lagi ganggu Zoya!" Selin mengguyur rambutnya ke belakang, mendesah dan tiba-tiba merasa marah. Sejak awal pertemuan Fahry dengan Zoya, Selin sudah tidak setuju. Ia tau siapa Fahry, pria yang memang sudah berkeluarga dan bahkan sudah memiliki anak.
Tapi ia tidak tau, jika Zoya akan sebegitu terpesona pada Fahry dan bahkan jatuh cinta pada pria itu. Sedangkan yang membuat Selin tidak habis pikir, Fahry pun mengalami hal yang sama dan justru dengan nekad mengungkapkan perasaannya pada Zoya, mengajak Zoya berpacaran. Fahry sudah membohongi Zoya dan mengkhianati keluarganya.
Selin yang mengetahui semuanya hanya diam sampai ia bosan menunggu kapan Fahry akan jujur pada Zoya atau kapan pria itu akan meninggalkan Zoya.
Sampai pada hari ini, mereka berencana untuk menjebak Zoya, Selin sudah menargetkan salah satu produser muda yang tertarik pada Zoya. Dengan Zoya yang mabuk setelah ia beri banyak alkohol, Selin akan meminta tolong produser tersebut untuk mengantarkan Zoya ke mobil, atau lebih baik lagi jika sampai mengantarkan ke apartement.
Dengan begitu, Selin akan mengambil gambar mereka. Ia yakin berita tersebut akan menggegerkan publik dan membuat orang-orang berpikir macam-macam pada Zoya, dengan begitu Fahry akan dengan mudah memutuskan hubungannya dengan Zoya dan meninggalkan wanita itu. Membebaskan Zoya dari belenggu cintanya.
Selin tau hal tersebut terlalu jahat untuk ia lakukan pada Zoya, Selin tau resiko seperti apa yang akan Zoya tanggung karena hal ini. Tapi Selin berjanji akan selalu ada di samping wanita itu untuk melindungi Zoya, Selin menyayangi Zoya dan hal ini jauh lebih baik daripada Zoya bersama dengan Fahry yang notabenenya adalah pria beristri.
Namun mungkin rencana tersebut harus gagal karena Zoya yang tiba-tiba saja menghilang. Dan Selin harus merasa sangat terkejut begitu ia bangun pagi dan melihat artikel berita mengenai Zoya dengan CEO AE RCH Ent yang menginap di dalam kamar hotel yang sama.
Selin tidak tau mengapa hal itu bisa terjadi. Terutama ketika Ethan memberikan klarifikasi pada media dan mengatakan jika pria itu akan menikahi Zoya. Namun diam-diam Selin merasa bersyukur Zoya jatuh ke pelukan orang yang tepat, dan juga terbebas dari Fahry.
Selin mendesah mengingatnya, ia menatap Zoya yang tengah makan. Sikap wanita itu terasa kontras baginya, hari ini Zoya lebih banyak menghindar, membuat Selin khawatir jika Zoya mengetahui sesuatu hal.
Sekarang mereka sedang melaksanakan makan malam di salah satu restoran daging setelah syuting film usai. Zoya terlihat bersenang-senang dengan Adhel dan para cast film di meja lain. Sedangkan Selin bergabung dengan para kru dan beberapa manajer aktris lain pula.
"Zoy, kamu pulang bareng Mbak, yah." sahut Selin saat makan malam usai dan mereka akan pulang setelah menghabiskan hari ini dengan kesibukan yang membuat tubuh menjadi sangatlah lelah.
"Euu, aku–" belum sempat Zoya menyahut, sebuah maserati granturismo hitam berhenti tepat di hadapan Zoya. Tidak turun dan membukakam pintu untuk Zoya, pengemudi mobil mewah itu hanya membunyikan klakson mobil.
"Aku dijemput."
Selin memaksakan senyumnya. "Oh, yaudah."
"Hati-hati."
"Oh, iya. Besok Mbak sama Adhel baru pindah ke rumah kamu," sambungnya. Zoya tampak diam sebentar, kemudian mengangguk dan melambaikan tangan. Berlalu lebih dulu masuk ke mobil Ethan.
Ethan menyambut wanita itu dengan senyuman. Zoya langsung memasang seatbeltnya, kemudian menoleh pada Ethan yang tak kunjung melajukan mobil.
"Jalan nggak?"
"Kamu pikir saya ke sini mau jemput kamu?"
"Eh?" Zoya terbengong.
__ADS_1
"Saya nggak tau kalau kamu ada di sini, tujuan saya ke restoran ini mau makan." Ethan berkata dengan sangat serius. Membuat Zoya tersenyum hambar.
"Kalau gitu aku turun–" bersiap membuka Seatbelt tapi Ethan menahan tangannya.
"Bercanda!" sahut Ethan, tersenyum jenaka. Sedangkan Zoya mengerucutkan bibirnya. Ethan mengusap puncak kepala wanita itu, Zoya menatapnya.
"Gimana syutingnya? Lancar?"
Zoya hanya menganggukan kepala, begitu tangan Ethan turun dari puncak kepalanya baru ia bisa bernapas lega. Mobil melaju membelah jalanan ibu kota menuju kediaman mereka. Sepanjang perjalanan Zoya hanya menatap keluar jendela, melihat potret malam ibu kota yang seolah tidak pernah tertidur.
Ethan sesekali menoleh, melihat Zoya yang tampak hanya terdiam dengan wajah lelah. Sampai kemudian mobil tiba di pelataran rumah dan wanita itu justru tertidur.
"Zoy," Ethan menyentuh lengan Zoya. Wanita itu mengucek matanya, Ethan turun lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk sang istri, Zoya turun dengan mata mengantuk, berjalan mengikuti langkah kaki Ethan.
"Apa nggak bisa, yah, kalo gak usah ngebangunin? Digendong aja, 'kan bisa!" gerutunya sambil memperbaiki heels yang ia kenakan. Ethan yang berjalan di depannya menghentikan langkah
"Kemarilah!" ia merentangkan tangan, mendekat pada Zoya dan menggandeng wanita itu masuk ke dalam rumah. Ethan bukan tidak tau jika istrinya itu lelah, hanya saja ia ingin melihat Zoya terbangun.
Ethan sudah mandi saat akan menjemput Zoya, ia menanyakan keberadaan wanita itu pada Adhel melalui Randy, begitu tau di mana Zoya berada dan proses syuting wanita itu sudah usai, Ethan sengaja menjemputnya.
Wanita itu kembali merebahkan tubuh begitu tiba di kamar, Ethan yang sedang mengganti pakaiannya dengan piama menoleh. "Kamu tidak mandi?" tanyanya. Zoya membuka mata, menghela napas dan mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya
Zoya masih tidak habis pikir dengan Selin yang masih mencoba untuk menutupi semuanya dari Zoya. Kenapa Selin tidak jujur saja dan membuat Zoya lebih tenang? Akan lebih baik jika wanita itu jujur, apapun yang dikatakannya Zoya pasti akan menerimanya.
"Zoya," Zoya mengalihkan tatapannya pada pria yang mendekat ke atas tempat tidur itu. Mendadak perasaannya risih begitu mengingat kejadian pagi tadi.
"Aku gak mau denger!" menolak membahas hal itu. Mendadak kesadarannya kembali seratus persen, secepat kilat ia berlalu ke arah kamar mandi membawa tas yang dikenakannya.
Ethan mengusap kening. "Saya cuma mau bilang, ada pihak yang mau sponsorin bulan madu kita." ia berucap pelan saat wanita itu sudah menghilang dari hadapannya. Ethan menggeleng kecil, lantas merebahkan tubuh dan memejamkan mata.
Sedangkan di dalam kamar mandi, Zoya mengutuki dirinya sendiri. Menyesali apa yang dilakukannya pada Ethan pagi tadi. Seandainya tidak ia lakukan. Zoya cukup yakin jika Ethan juga tidak akan melakukannya.
Dan bagaimana bibir pria itu? Rasanya masih begitu lekat dalam ingatan Zoya, tanpa sadar wanita itu menyentuh bibirnya, kemudian menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Ethan sering maen cewek, yah?" bertanya pada dirinya sendiri mengingat bagaimana Ethan memperlakukannya selayaknya orang yang berpengalaman. Tapi Zoya menyangkalnya, bagaimana bisa pria seperti itu bermain wanita?
"Terus aku ngapaian bawa-bawa ini?" lagi, bertanya pada dirinya sendiri begitu sadar ia membawa tasnya ke kamar mandi.
Tak ingin ambil pusing, Zoya memutuskan untuk segera mandi dan membersihkan tubuh. Rasa kantuk yang tadi dideritanya sekarang seolah lenyap begitu saja.
Merendam diri di dalam bathub yang penuh busa, Zoya merasa ketenangan sedang menghampirinya. Sampai kemudian ia tidak sadar, jika nasib baik tidak selalu berpihak padanya.
Zoya membulatkan mata, bagaimana bisa ia melupakan handuk dan pakaiannya? Lalu bagaimana dirinya akan keluar dari kamar mandi?
"Bego, bego, bego!" Zoya mengutuki dirinya, matanya mengedar berharap ada handuk yang bisa ia pakai. Nihil, tidak ada kain apapun untuk menutupi tubuhnya.
Lalu apa yang harus Zoya lakukan?
__ADS_1
Sedangkan Ethan menoleh ke arah kamar mandi, sudah sangat lama istrinya berada di sana. Sampai Ethan sadar jika Zoya tidak membawa apapun ke dalam sana karena tadi terlalu buru-buru.
Ethan yang semula sedang membaca buku setelah merasa tidak mengantuk lantas beranjak, melangkah ke arah walk in closet dan mengambil jubah mandi berwarna bold milik Zoya di sana. Ia berjalan ke arah pintu kamar mandi. Mengetuk pintu untuk memastikan Zoya masih terjaga di dalam. Jangan sampai wanita itu ketiduran.
"Zoy,"
"Zoya."
"Hmm." terdengar sahutan dari dalam meski hanya gumaman.
"Kamu tidak akan keluar?" tanya Ethan, memancing wanita itu.
"Belum selesai!" Zoya menyahut sedikit berteriak. Faktanya ia sudah lama selesai dan sangat kedinginan. Tapi juga tidak ingin keluar dengan tubuh telanjangnya.
"Kamu butuh bantuan?" tanya Ethan lagi.
"Euu, enggak usah. Kamu tidur duluan aja!" mungkin akan menunggu Ethan tidur baru ia akan keluar nanti, begitu pikirnya. Meski sangat mustahil sedangkan sekarang dirinya sudah sangat kedinginan.
"Kamu tidak membawa handuk ke dalam, kamu tidak apa-apa?"
Zoya memejamkan matanya sekilas, kenapa Ethan selalu mengetahui hal-hal bodoh yang ia lakukan? Zoya segera mengedarkan pandangannya ke segala arah. Barangkali Ethan juga memasang kamera pengawas di kamar mandianya.
"Saya tidak memasang kamera pengawas di dalam kamar mandi." Ethan seolah dapat membaca isi pikiran wanita itu sekarang.
"Saya masuk, yah, kamu tidak mungkin menunggu saya tertidur untuk keluar dari kamar mandi."
Ethan perlahan memutar knop pintu. Kakinya perlahan melangkah masuk pada kamar mandi mewah dengan tema old-school glamour tersebut.
Kamar mandi yang didominasi warna putih terang tersebut terlihat glamour dengan sentuhan emas pada beberapa ornamen di sana. Freya yang mengatur hal itu untuk Ethan. "Zoy." panggil Ethan saat tidak mendengar suara apapun dari dalam.
Tangan Ethan hendak menyingkap tirai tulle berwarna putih di mana letak bathub berada. sampai sebuah suara menginterupsinya.
"Masuk tapi jangan liat!" suara Zoya menuntut. Ethan hanya berdecak lagi-lagi ia harus mendengar hal itu dari sang istri. Bersikap tidak perduli, tanpa aba-aba Ethan menyingkap tirai begitu saja dan masuk tanpa mengidahkan apa yang tadi Zoya perintahkan.
"Ih, kamu gak denger atau gimana, sih?" kesal Zoya. Tubuh wanita itu tenggelam dalam btahub dan hanya menampilkan leher dan kepalanya saja.
"Sengaja!" Ethan menyahut dengan santai. Menyodorkan jubah mandi pada Zoya. Wanita itu menerima setengah dongkol.
"Keluar!"
Ethan mendesah dan melangkah keluar. Zoya menghela napas, sepertinya mulai saat ini ia sudah harus kebal dengan hal apapun yang berhubungan dengan Ethan sekalipun hal itu mempermalukan dirinya sendiri.
TBC
Just Info : Yang belum mampir di novelku, Keyakinan Hati. Mampir yah:")
Sekali baca nggak sampe dua jam tapi dijamin rasanya ngena di hati selama berhari-hari❤
__ADS_1