Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Hancur


__ADS_3

Hari itu cuaca tampak mendung saat Zoya selesai menerima telpon dari suami tercintanya yang sedang bekerja di perusahaan agar ia tetap berada di rumah, tidak pergi keluar karena sebentar lagi akan turun hujan. Zoya mengiyakan, toh ia sedang bersama dengan Freya, melihat-lihat lagi foto masa kecil Ethan yang terlihat lucu dan menggemaskan, juga tampan.


"Ini waktu dia wisuda SD. Awalnya nolak poto bareng ayah bundanya di lapangan sekolah, tapi Arasy berhasil bujuk. Gak tau gimana caranya." beritahu Freya ketika melihat foto Ethan dengan toganya dan juga ekspresi andalan. Datar.


"Mungkin dipaksa Bunda." Zoya menyahut sambil tertawa, membayangkan Arasy yang kerap kali memaksa Ethan dan terpaksa membuat pria itu mau menurutinya.


"Tapi kenapa nggak mau foto, Bunda?" Zoya baru mengingat lagi begitu kembali melihat foto Ethan kecil yang tampan. Pria itu memang sudah tampan sejak usia dini.


"Ayah Bundanya, 'kan artis. Jadi dia malu kalau diliatin temennya."


"Kan Ethan artis juga Bunda." Zoya mengingat lagi jika Ethan sudah memiliki project film dan iklan sejak masih sangat kecil. Memulainya lebih dulu sebagai seorang model.


Bunda mengangkat bahu, lalu menyahut. "Dia nggak mau temen-temennya tahu kalau dia anak Ayah sama Bunda." Freya menyahut dengan tawa di sana, menepuk bahu menantunya dan menggelengkan kepala. Ia pun tidak mengerti atas kelakuan putranya.


"Ethan itu memang begitu, Zoya. Kamu sudah tahu sendiri, 'kan, dia susah sekali dimengerti apa yang dia lakuin kadang di luar nalar kita sebagai manusia biasa." Freya berbicara seolah Ethan adalah makhluk astral di antara mereka.


Tapi Zoya hanya tersenyum dan menganggukkan kepala, Freya benar. Zoya sudah mengetahui suaminya, Zoya kenal betul dengan pria itu meski terkadang apa yang Ethan lakukan seringkali membuat dirinya heran dan juga kesal.


"Maafin, ya, kalau dia gitu ke kamu." sambung Freya. Untuk yang kali ini Zoya menggelengkan kepala."Bunda nggak usah minta maaf, Ethan kan nggak pernah nyakitin Zoya. Dia baik, sama seperti Bunda, Ayah, dan juga Arasy. Kalian semua baik, Zoya beruntung masuk di keluarga ini." papar Zoya dengan tulus.


Freya mengukir senyum, kemudian keduanya kembali melihat lagi foto-foto di dalam sebuah album khusus masa kecil Arssy dengan Ethan dan juga ayah bundanya sampai Zoya menemukan salah satu lembaran kosong dan ia segera menatap Freya. "Fotonya ke mana Bunda?" tanyanya.


Freya terdiam sesaat, memikirkan kira-kira kenapa foto tersebut bisa hilang. "Oh, yah. Sekarang Bunda ingat, ini foto Ethan waktu dia jadi pemeran utama di Drama Musikal sekolahnya pas SMP."


"Terus kenapa fotonya nggak ada Bunda?"


"Diambil sama Ethan, disimpan. Sayang banget dia sama foto itu." Freya ingat dengan baik ketika kala itu Ethan mencari album foto dan mengambil foto tersebut setelah meminta izin pada bundanya.


"Foto cadangannya masih ada Bunda?" tanya Zoya. Freya terdiam sesaat kemudian menggelengkan kepala. "Zoya pengen lihat." sahutnya dengan sendu, kecewa karena tak bisa melihat foto suaminya. Zoya tampak penasaran dengan foto yang menjadikan kesayangan Ethan.


"Kalau nggak salah Ethan kayaknya nyimpen fotonya di brankas kamarnya, deh kalau penasaran kamu coba lihat." Zoya segera menganggukan kepalanya antusias mendengar pemaparan Freya.


Tidak sabar untuk segera melihat foto Ethan, pasti pria itu sangat tampan ketika bermain peran. "Sekarang aja, ya, Bunda." sahutnya dan begitu Freya menganggukan kepala, Zoya segera pamit untuk pergi dan masuk ke kamar guna mencari foto suaminya setelah melakukan drama musikal saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.


Wanita itu segera menuju brankas sang suami yang di simpan pada lemari petak paling atas, ia tidak perlu khawatir tidak dapat membukanya, karena ia memiliki akses untuk bisa masuk mengingat jika password yang digunakan adalah tanggal pernikahan mereka.


Dengan wajah berseri-seri Zoya mulai memasukkan password brankas. Tak Butuh waktu lama untuk berangkas ersebut segera terbuka dan Zoya mampu melihat isinya. Selama ini ia jarang sekali merasa penasaran pada barang-barang sang suami.


Zoya melihat beberapa tumpukan kertas penting di sana entah itu data-data perusahaan atau hal-hal pribadi milik Ethan. Wanita itu mulai mencari apa yang menjadi incaran-nya.


Ia mulai melihat beberapa lembar foto milik pria itu, beberapa di antaranya adalah foto Zoya yang diambil dari jarak jauh. Sepertinya dia tidak perlu merasa heran ataupun tercengang karena dia tahu siapa suaminya, bahkan di ruang rahasia pria itu terdapat ruangan khusus untuk foto-foto Zoya.


Tapi Zoya tak kunjung menemukan apa yang dicarinya, berangkas tersebut lumayan berada dalam ketinggian. Cukup berat dan Zoya tidak bisa membawanya turun sehingga akhirnya Zoya memilih untuk mengambil kursi rias dan menjadikannya pijakan agar ia lebih leluasa melihat isi brankas.


Seketika wajahnya berbinar begitu menemukan apa yang ia cari, tapi matanya tidak sengaja menangkap sebuah map cokelat dengan logo Rumah Sakit di sana.


Zoya mengerutkan kening, terlebih saat dadanya tiba-tiba saja berdebar hebat. Merasa penasaran, akhirnya wanita itu membuka map tersebut dengan kepala yang diisi berbagai tanya.


Zoya lantas segera turun dari kursi dan duduk di tepi tempat tidur dengan pandangan yang memaku pada kertas yang dibawanya.


Surat keterangan dokter dimana pada lampiran pertama membuat Zoya membulatkan mata ketika mendapati namanya tertera pada Surat Keterangan Operasi. Tak butuh waktu lama untuk mata wanita itu seketika berkaca-kaca begitu membaca seluruh isi surat, tanpa sadar Zoya meremas kertas dalam tangannya.


Histerektomi (Pengangkatan Rahim). Zoya membaca judul besar dengan mata berkabut.


Sementara di pintu masuk, Freya hanya mematung mendapati menantunya yang tengah menangis, ia menatap Zoya dengan hati-hati sampai kemudian mendapati sesuatu di tangan wanita itu. Mata Freya juga mulai berkaca-kaca dengan perasaan tak karuan saat Zoya mengarahkan pandangan padanya.

__ADS_1


"Bunda." panggilnya, air matanya kian deras dengan isakan tertahan yang sudah dapat Freya pastikan jika rasanya sangat menyesakkan. Sementara Freya hanya terdiam, hingga kemudian kakinya melangkah mendekat pada menantunya.


"Sayang," tegurnya dengan suara yang begitu lembut dari biasanya.


"Apa maksudnya Bunda? Ini palsu, 'kan Bunda?" Zoya menepis keyakinan di dadanya. Namun tatapan Freya yang membenarkan isi surat itu membuat Zoya tidak berdaya.


"Apa yang kalian sembunyikan?" Ada apa?" wanita itu menangis histeris.


Freya hanya mampu menggelengkan kepala. Apa yang ia dengan Ethan rahasiakan selama beberapa bulan ini dari wanita itu hanya bertahan sebentar. Zoya mengetahuinya dan Freya tidak tahu dampaknya mengenai apa yang akan terjadi pada wanita itu setelah mengetahui hal ini.


"Kenapa kalian jahat?" tanyanya dengan perlahan beranjak dari posisinya, mundur meninggalkan Freya dan segera keluar dari kamar setengah berlari.


"Zoya, jangan pergi Sayang!"


"Kita tunggu sampai Ethan kembali, nak." Freya berusaha menahannya dan membujuk agar Zoya tidak pergi,,terutama dalam keadaan marah dan kecewa di dada wanita itu. Di tambah cuaca yang begitu menyeramkan. Menambah kelabu suasana.


"Zoya, tolong jangan pergi Sayang." Freya masih mengejar langkah kaki Zoya yang tak menghiraukannya sama sekali, berlalu menuju pelataran rumah dan keluar dari gerbang menerobos gerimis yang sudah turun beberapa waktu lalu.


Freya mendesah, ia segera meraih ponselnya dan menghubungi nomor Ethan, butuh beberapa waktu untuk panggilan segera terhubung, membuat perasaan Freya kian tak karuan.


"Angkat Ethan, angkat!"


Mungkin pria itu sedang sibuk, sampai akhirnya Ethan mengangkat panggilan, dengan cepat Freya segera buka suara. "Ethan, Zoya buka brankas kamu." hanya kalimat singkat yang Freya yakini dapat langsung dimengerti oleh putranya.


**


Zoya menyeka air matanya berulang-ulang karena cairan itu tak kunjung surut, ia berjalan dengan cepat di bawah gerimis tanpa mempedulikan apapun. Kilasan kejadian akhir-akhir ini yang membuatnya dengan Ethan berdebat terus berkelebatan di kepalanya.


Seolah benar-benar menghantui Zoya dan membuat Zoya sadar apa yang membuat pria itu tak mendukungnya secara penuh untuk memiliki anak. Rupanya karena Zoya tidak bisa memberi pria itu keturunan, nyatanya Zoya tidak mampu memberikan anak untuk Ethan.


Tapi kenapa Ethan tidak mengatakannya pada Zoya? Justru pria itu membodoh-bodohinya, membiarkan Zoya tersakiti harapannya sendiri.


Kenapa Zoya tidak tahu?


Kenapa Zoya Tltidak diberitahu? Padahal Zoya berhak tahu mengenai keadaan dirinya sendiri.


Gerimis menjadikannya sebuah hujan yang tetap tak membuat Zoya bergeming. Ia terus berjalan sampai kemudian menemukan sebuah taksi memberhentikannya dan segera masuk. Sementara tangannya terus mengusap air matanya yang tak henti mengalir, satu lagi tangannya megang dada, hatinya hancur tentu saja, perasaannya begitu hancur lebur.


Zoya merasa semuanya sudah berakhir. Ingatannya mengenai obrolannya dengan Etha. kian meremukan hati Zoya. Di dalam sana, hatinya bagai ditikam belati tajam, disayat-sayat dengan pisau. Zoya tidak bisa untuk tidak menangis. Pertahannya benar-benar runtuh mendapati dirinya yang cacat.


"Belum saatnya, Sayang. Kamu yang sabar, yah."


"Kita bisa childfree."


"Hmm? Bagaimana jika kita tidak perlu punya anak saja?"


"Jadi maksud kamu, kamu nggak pengen punya anak dari aku?"


"Bukan seperti itu, Sayang. Kita akan lebih baik kalau hidup berdua."


"Enggak ada yang lebih baik dari itu, Ethan!"


"Kamu nggak cinta sama aku?"


"Sayang, bukan seperti itu saya–"

__ADS_1


"Saya cinta sama kamu tentu saja."


"Ya terus?"


"Aku sekarang tanya sama kamu. Kenapa kamu nggak pengen punya anak dari aku?"


"Sayang, bukannya saya tidak ingin. Saya ingin sekali, tapi pada kenyataannya sulit bukan?"


"Jadi kita sabar, okey. Tuhan belum ngasih."


"Karena aku pernah gagal?"


"Kenapa ngomong gitu, sih!"


Tubuhnya yang mengigil tak Zoya hiraukan. Ia tak perdulikan, kepalanya kembali mengingat apa yang kemarin sore membuat mereka berdebat saat di perjalanan menuju rumah Freya.


"Saya mau bicara."


"Bicara apa?"


"Menurut kamu, bagaimana jika kita mengadopsi seorang anak?"


"Adopsi buat apa?"


"Ya ..., buat kita urus. Buat kita rawat. Buat kita angkat jadi anak kita."


"Kamu lagi bercanda?"


"Saya tidak bercanda, Sayang. Saya serius."


"Bagaimana menurut kamu kalau kita mengangkat seorang anak?"


"Maksud kamu, tuh, apa, sih? Aku nggak ngerti. Kenapa tiba-tiba kita harus adopsi seorang anak?"


"Ya, karena saya merasa kamu terlihat begitu ingin segera memiliki anak."


"Iya, tapi aku ingin anak yang lahir dari rahim aku sendiri, bukan hasil adopsi!"


"Iya, saya mengerti. Tapi tidak ada salahnya bukan, anggap kamu latihan sebelum kita memiliki anak."


Zoya lagi-lagi menyeka air mata dengan punggung tangan, sesak di dadanya kian menjadi mengingat apa yang seringkali Ethan katakan belakangan ini.


Zoya bahkan merasa napasnya tersenggal mengingat respon dan reaksi Ethan setiap kali melihat hasil negatif pada testpack Zoya.


Mobil yang Zoya tumpangi berhenti di sebuah Rumah Sakit besar. Usai membayar argo taksi. Zoya bergegas memasuki Rumah Sakit. Langkah kakinya dengan cepat berjalan menuju ruangan Dokter yang saat itu menanganinya ketika ia mengalami kecelakaan.


Zoya bahkan tak memedulikan tatapan heran ataupun teriakan beberapa orang yang memanggil namanya. Tidak ada waktu untuk hal itu, ia terus berjalan sampai kemudian tiba di ruangan sang dokter.


Seorang suster sudah melarangnya untuk masuk karena di dalam sana ada keluarga pasien yang sedang berbicara dengan dokter. Tapi Zoya tak mengidahkan, ia tetap menerobos masuk. Membuat sang dokter yang baru saja selesai berbicara dengan keluarga pasien mematung. Begitu juga keluarga pasien yang masih di sana, cukup terkejut saat tiba-tiba saja pintu terbuka dengan keras.


"Dokter." ucap Zoya dengan sendu.


"Ibu Zoya." Dokter memaku, melihat dari penampilan dan raut wajah orang yang baru saja menerobos masuk ke ruangannya. Ia tau kondisi wanita itu tidak dalam keadaan yang baik-baik saja.


TBC

__ADS_1


Okey, babak baru segera dimulai❤❤


Tunjukan reaksi kalian🔥


__ADS_2