
Acara pengajian berjalan dengan lancar sampai dengan selesai pada pukul sepuluh malam. Sebagian para tamu undangan sudah pulang, begitu juga anggota keluarga yang memang tidak memiliki niat untuk menginap, pamit pulang satu persatu sehingga membuat ruang utama yang semula ramai tampak lengang saat ini. Ethan mengistirahatkan dirinya di kamar, sedangkan Zoya membantu Freya, Grrycia dan Wulan membereskan ruang utama. Begitu juga Naina yang ikut membantu di sana, gadis itu menyimpa beberapa gelas kotor ke dapur, tanpa ia duga jika pria yang sejak awal membuatnya bertanya - tanya berada di sana, sedang membuat kopi. Ia sempat menoleh pada Naina sebentar, namun kemudian tampak tidak perduli dan asik dengan dunianya sendiri. Bermain ponsel sembari menunggu air yang dimasaknya mendidih.
Naina yang semula akan berbasa - basi mengurungkan niatnya melihat tingkah acuh tak acuh pria itu. Dia ingin berterimakasih meski Rival tak membutuhkannya, tapi setidaknya ia ingin mengucapkan hal itu. Meski pada akhirnya ia beranjak tanpa menegur Rival, kembali ke ruang utama untuk melanjutkan pekerjaannya.
Rival menoleh pada arah kepergian gadis itu. "Nggak ada niatan buat bilang makasih?" ia bertanya pada dirinya sendiri, berdecih dan kemudian memilih menuangkam air panas pada gelas berisi bubuk kopi begitu air sudah mendidih.
**
Waktu sudah menunjukan pukul setengah sebelas, di mana ruang utama sudah tampak rapi seperti sebelumnya saat acara pengajian belum digelar. Sebagian anggota keluarga yang tersisa berkumpul di ruang utama, begitu juga Zoya yang memilih dudyk di sana dengan Naina di samping kirinya dan Freya di samping kanan.
Para orang tua sedang mengobrol ngalor ngudul, sementara Nenek Shanty sudah beristirhata di kamarnya karena waktu sudah larut.
Zoya melihat ponselnya begitu benda canggih itu bergetar, menandakan jika ada pesan masuk. Kening wanita itu mengernyit begitu membaca isi pesan.
...Pak Boss....
...Sayang, ambilkan saya minum....
"Siapa Zoy?" tanya Freya melihat raut wajah sang menantu. Zoya terkesiap, ia tersenyum.
"Ini, Bun. Ethan minta diambilin minum, Zoya permisi sebentar, yah." ia berpamit pada Freya dan juga orang - orang di sana. Berjalan ke arah dapur bersamaan dengan Rival yang tampak pamit untuk pulang dengan Rafa. Rayn, Vina dan Davika sudah pulang lebih dulu.
"Nggak nginep aja, Mas?" tanya Freya pada pria itu begitu Rival menyalaminya.
"Enggak Tante. Suka nggak tidur kalau nginep." Rafa yang menyahut dengan nada iseng. Rival tampak tak mempermasalahkannya, ia hanya tersenyum pada Freya dan bersikap seolah membenarkan apa yang Rafa katakan.
Naina yang masih duduk di sana begitu Zoya beranjak terkesiap saat Rival mengulurkan tangan. Setengah tidak enak, canggung dan ragu ia meraih tangan pria itu dan mencium punggung tangannya.
Kenapa rasanya aneh?
**
Zoya membawa segelas air ke kamar di mana suaminya berada. Pria itu tengah bersandar pada kepala ranjang sambil bermain ponsel. Zoya melangkah menghampirinya setelah menutup pintu, menyerahkan segelas air pada sang suami.
"Kamu tinggal turun ke lantai bawah ngambil minum malah nyuruh, cape aku turun naik tangga." keluh wanita itu, Ethan meraih pinggang Zoya mendekat. Wanita yang berada pada posisi berdiri itu membuat Ethan yang berposisi duduk menengadah menatap istrinya.
"Kalau gitu tidak perlu turun lagi."
"Nggak enak, yang lain pada di bawah."
"Ini, 'kan jam istirhat, Zoy. Enggak papa."
Zoya mencebikan bibirnya. Ia hanya mengusap - usap kepala pria itu saat Ethan menggesek - gesekan wajahnya ke perut Zoya. Tak lama setelahnya, suara ketukan pintu kamar membuat Zoya menoleh, ia melangkah untuk membuka pintu. Ekspresi Zoya nampak tak terbaca saat mendapati Naina berada di depan pintu dengan raut wajah pucat pasi, membuatnya khawatir dengan keadaan gadis itu.
"Ada apa, Naina?" tanyanya cemas.
"Mbak Zoya, malam ini juga saya harus pulang kampung." ujarnya dengan suara bergetar, tangannya yang tremor saat Zoya genggam kian membuat wanita itu heran.
"Ada apa?" Zoya ingin tau kejelasannya.
"Keadaan Bibi saya di kampung parah Mbak, sepertinya saya harus pulang kampung lebih dulu." ujarnya. Ethan yang mendengar suara ribut - ribut dua orang itu lantas menghampiri keduanya. Ia mendapati sang istri yang tampak cemas di tempatnya begitu tatapan keduanya bertemu.
"Bener - bener harus sekarang?" tanya Zoya, Naina menganggukan kepala.
"Nanti biar saya langsung ke stasiun kereta." ujar Naina buru - buru.
"Enggak, enggak!" tolak Zoya dengan cepat.
"Gimana kalau di luar sana Kevin masih ngincer kamu. Gimana kalau dia berani macem - macem sama kamu?"
"Enggak bisa. Biar kamu dianter sama Ethan aja, yah." sambung wanita itu yang spontan membuat Naina dan Ethan saling bertukar pandang.
"Mbak," Naina ingin mengutarakan rasa keberatannya jika Ethan yang mengantarkannya pulang. Sekali pun ia merasa was - was mengenai keberadaan Kevin di luar sana yang seperti Zoya bilang, bisa saja sedang mengincarnya. Namun diantar pulang oleh Ethan juga bukan jalan keluar yang tepat baginya.
"Kamu anterin Naina, yah. Aku lebih percaya sama kamu. Aku yakin Naina bakal aman sama kamu." sahut Zoya pada suaminya. Ethan hanya diam, tatapan matanya mengarah pada Naina dengan ekspresi tak terbaca. Namun beberapa detik selanjutnya, kepala pria itu mengangguk samar.
__ADS_1
Naina turun ke lantai bawah saat Ethan menyuruhnya untuk menunggu di mobil. Sedangkan ia sendiri ingin berbicara sebentar dengan sang istri.
"Aku tau kamu keberatan. Tapi Naina jauh lebih aman kalau sama kamu." ujar Zoya bahkan sebelum pria itu bersuara, peka dengan apa yang akan dilakukan suaminya. Ethan diam menatap sang istri tak lama ia tampak menghela napas dan kemudian meraih wanita itu dalam pelukannya.
"Kamu menginap saja dengan Bunda di sini. Secepatnya saya akan kembali," sahut pria itu seraya mengusap belakang kepala istrinya. Zoya mengangguk.
Ia mengantarkan Ethan sampai ke teras, melambaikan tangan begitu mobil yang suaminya kemudikan melaju meninggalkan pelataran rumah.
"Kira - kira kapan Ethan pulang?" tanya Freya yang membuat Zoya menoleh padanya.
"Katanya kemungkinan besok pagi, Bun." Freya menghela napas, lantas menggandeng menantunya. "Semoga Bibi Naina tidak kenapa - napa dan Ethan segera pulang, yah."
"Iya, Bunda. Semoga,"
"Yaudah, kamu masuk. Biar tidurnya nanti ditemani Arasy, yah." Freya menatap putrinya, wanita cantik itu menganggukan kepala dengan sigap, kemudian mengangkat jempolnya sambil menaikan alis. Setelahnya ia menggandeng Zoya masuk untuk segera beristirahat karena waktu sudah larut.
"Muat nggak?" tanya Arasy pada Zoya yang sudah dua kali berganti pakaian mengenakan piamanya tapi tidak cukup untuk wanita itu. Sesungguhnya badan Zoya lebih berisi dari pada Arasy.
"Ini kayaknya agak longgar, yang ini aja." sahut Zoya, merasa jika baju tidur itu tampak sedikit longgar di tubuhnya sehingga membuatnya nyaman bergerak. Ia membawa baju ganti, tapi masih berada di mobil Ethan. Dan mobil itu tidak ada karena sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat.
"Itu Ethan yang beliin. Kegedean, dia mana hapal sih, ukuran tubuh adeknya sendiri." ujar wanita itu yang diakhiri gerutuan, Zoya hanya tertawa, lantas duduk di samping wanita itu yang tengkurap di atas tempat tidur sambil bermain ponsel.
"Lagian, udah naik berapa kilo, sih, kamu semenjak nikah sama Ethan, berisi gitu. Bahagia lahir batin banget kayaknya." sahutnya yang lagi - lagi membuat Zoya tertawa. Adik iparnya begitu menakjubkan.
"Hamilnya udah usia berapa?" tanyanya kemudian, mengingat jika sebentar lagi ia akan memiliki keponakan.
"Hmm, baru mau empat minggu."
"Masih kecil berarti yah. Coba liat perutnya dong," pintanya tanpa basa - basi. Zoya mengernyit di tempatnya.
"Udah. Enggak papa. Cepetan ayo, mumpung nggak ada Ethan." bujuknya yang kemudian berganti posisi, duduk dan berhadapan dengan Zoya.
"Buka aja kancingnya, nggak papa." sahutnya saat Zoya tampak ragu. Wanita itu akhirnya pasrah membuka kancing piamanya satu persatu. Tapi apa yang ia lakukan justru membuat Arasy berdecak dengan ekspresi terkejut bahkan sampai menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Matanya memancarkan tatapan terjahil yang pernah ada.
Zoya sempat membulatkan mata, ikut terkejut, tapi kemudian ia hanya pasrah. Bagaimanapun Arasy sudah melihat semuanya.
Zoya samar - samar mengingat kapan Ethan melakukannya. Mungkin saat ia setengah sadar, kemudian pagi harinya begitu akan mandi ia terpekik kaget melihat banyak hickey di dada dan tulang selangkanya.
"Nggak bahaya, nih, kalau kalian sering kaya gitu saat kamu lagi hamil muda gini?" tanyanya kepo, sekarang tangannya berpusat pada perut Zoya. Mengusapnya penuh kasih sayang seolah ia tengah mengusap bayi yang lucu di sana.
"Mmm, nggak tau. Kita belum konsultasi ke dokter. Tapi Ethan buat kesimpulan katanya kalau pake perasaan nggak bakal kenapa - napa."
"Emang biasanya nggak pake perasaan?" tanya Arasy yang kembali tertawa.
"Pake napsu!" jawab Zoya yang juga ikut tertawa. Tapi beberapa saat kemudian tawanya memudar, mengingat sudah lebih dari satu jam Ethan menghabiskan perjalanan.
"Oh, iya. Itu yang dianterin Ethan asisten rumah tangga yang Bunda cariin buat kalian yah?" tanya Arasy lagi. Mengingat gadis yang membuat Ethan turun tangan mengantarkannya ke kampung halaman.
"Hmm, dia juga jadi asisten aku." jawab Zoya, kembali mengancingkan piamanya setelah Arasy puas melihat dan mengusap perutnya.
"Nggak papa, tuh, dia deket - deket suami kamu?" Zoya mengalihkan perhatiannya pada Arasy, wanita itu menautkan alisnya.
"Ethan cakep kali Zoy, bukan nggak mungkin dia jatuh hati sama Ethan." beritahunya pada kakak iparnya itu. Zoya tersenyum. "Nggak akan, aku percaya mereka. Lagian aku yakin Naina nggak mungkin kaya gitu." ucapnya yakin. Arasy kemudian hanya mengangkat bahu saja. "Yaudah, deh, tidur yu nanti kalau begadang besoknya ngantuk." ajak wanita itu, memposisikan dirinya dan menaikan selimut. Zoya mengangguk, kemudian juga ikut berbaring di samping Arasy yang sudah memejamkan mata.
**
"Naina, Bibi kamu tiba - tiba pingsan."
Satu kalimat yang disampaikan salah satu tetangga Naina di kampung membuat gadis itu tidak tenang sepanjang perjalanan. Pasalnya, satu bulan yang lalu bahkan sang Bibi nyaris sembuh dari sakitnya. Ketika sekarang tiba - tiba saja bibi - nya itu pingsan, tentu saja Naina merasa cemas dan khawatir. Ia tak bisa berhenti memikirkan keadaan sang bibi sepanjang perjalanan.
Ethan menoleh pada gadis di sampingnya yang sejak tadi mengigiti ujung kukunya karena cemas. Jalanan yang mobilnya lalui sudah memasuki sebuah jalanan sepi, dengan pepohonan rimbun di samping kiri kanan.
Jika mereka melalui jalan tersebut pada siang hari. Maka akan terasa menyenangkan karena pepohonan membuat suasana menjadi teduh dan sejuk. Tapi sekarang justru tempat itu terasa begitu mencekam, ditambah lagi tidak ada lampu penerang jalan di sana. Ethan melihat arloji yang melingkar si pergelangan tangan, waktu sudah menunjukan hampir pukul satu tengah malam.
Jalanan yang keduanya lalui mulai terasa tak bersahabat saat terlalu banyak batu besar yang terasa sangat menghambat laju mobil. Bersamaan dengan itu, ponsel Naina yang tiba - tiba saja berdering membuat Ethan sedikit terlonjak kaget.
__ADS_1
Gadis itu tampak buru - buru memeriksa ponsel dan menggeser ikon hijau.
"Signalnya jelek." gerutunya, tapi kemudian ia menempelakan benda pipih itu di telinga.
"Hallo, Bibi."
"Hallo." sahutnya lagi saat suara di ujung sana terputus - putus.
"Naina, kamu dimana nak?" terdengar suara sang Bibi yang tidak bertenaga di ujung sana
"Bi, Naina sedang di perjalanan untuk pulang." beritahu wanita itu dengan suara yang sedikit keras, khawatir sang bibi tidak dapat mendengar suaranya.
"Tidak usah, Nak. Kamu kembali saja, Bibi tidak apa - apa. Kamu kembali saja, yah."
"Kalau Bibi baik - baik aja kenapa Bibi sampai pingsan?"
"Bibi hanya tidak nafsu makan, jadinya lemas. Bibi nggak mau merepotkan, kamu kembali saja, yah. Percaya sama Bibi, Bibi baik - baik aja."
Naina terdiam saat sang Bibi meyakinkan. Ia akhirnya mengangguk dengan perasaan lega karena sang bibi baik - baik saja. "Bibi bilang kita nggak usah ke sana Pak. Keadaannya udah baik - baik saja." beeitahu Naina begitu panggilannya dan sang bibi berakhir. Ethan mengernyit. "Jadi kita putar balik?" Ethan tak percaya. Padahal jarak yang mereka tempuh sudah sangat jauh. Tapi tiba - tiba mobil yang Ethan kemudikan berhenti di bawah hawa dingin yang tiba - tiba saja mengusik.
Pria itu tampak keheranan. "Ada apa Pak?" tanya Naina saat Ethan turun dari mobil dan memeriksa mobilnya.
"Bannya bocor." sahut pria itu. Naina ikut turun, melihat kondusi ban mobil Ethan yang bocor, sepertinya karena batu tajam. Dua sekaligus, Naina menggelengkan kepala, takjub. Ia dan Ethan benar - benar sedang tertimpa musibah.
"Saya nggak bawa ban serep."
"Terus bagaimana Pak?"
Ethan diam, ia berpikir. Memeriksa ponsel tetapi signal sangat sulit di dapat. Hawa dingin kian menusuk, gerimis perlahan turun dan membuat Naina kian khawatir. Benar - benar cuaca dan keadaan yang sempurna dari definisi sebuah kesialan.
"Di sekitar sini nggak ada penginapan?" tanya Ethan. Karena sangat tidak mungkin jika keduanya bertahan di dalam mobil sampai pagi.
Naina mengedarkan pandangan. Matanya menangkap cahaya terang dari lampu jalanan tepat di depan sebuah penginapan yang sangat dikenalinya. "Ada, Pak tapi–"
"Sebelah mana? Hujannya nanti semakin deras." sahut Ethan yang membuat gadis itu menunjuk arah penginapan. Ethan mengangguk dan segera berjalan ke sana, Naina pasrah mengikuti. Hujan mulai deras dan membasahi pakaian yang keduanya kenakan. Bahkan membuat rambut lepek.
Ethan melihat plang bertuliskan Penginapan 24 Jam besar - besar di halaman penginapan. Ia melihat kondisi di dalam di mana salah satu kamar tampak hanya diterangi cahaya temaram. Ia menoleh pada Naina di sampingnya. Jujur Ethan tak yakin untuk bermalam di sana, tapi saat ini ia tak memiliki pilihan lain. Memperbaiki mobilnya juga sangat tidak mungkin, Ethan ingat ia melewati sebuah bengkel, tapi bengkel tersebut sudah tutup karena waktu yang sudah sangat larut, ditambah cuaca yang saat ini sedang hujan.
"Pak Ethan, ini bukan penginapan biasa." beritahu Naina saat ia dan Ethan berjalan ke arah loket untuk mengambil kunci. Tidak seperti penginapan pada umumnya, tempat itu tidak memiliki meja resepsionis.
Hanya ada sebuah tempat di bagian depan yang lebih mirip tempat pengambilan karcis di taman bermain. "Permisi Bu," Naina mengetuk pintu kaca di mana terlihat perempuan paruh baya berada di baliknya dengan mata mengantuk.
"Oh, mau pesan kamar, yah?" tanyanya to the poin.
Ethan mengangguk, Naina hanya terdiam di samping pria itu.
"Hmm," Ibu itu tampak menatap Ethan dan Naina.
"Mau berapa kamar?" tanyanya.
"Dua." jawab Ethan tanpa pertimbangan.
"Tapi cuma ada satu kamar." sahutnya yang sontak membuat Ethan dan Naina bertukar pandang. Naina memberi isyarat agar Ethan menolaknya, Ethan terdiam sesaat. Satu kamar? Artinya ia harus berbagi kamar dengan Naina?
Lamunan Ethan dibuyarkan oleh kedatangan seorang pasangan yang saling berangkulan mesra, kondisi mereka sama dengan Naina dan Ethan. Pakaian yang sedikit basah dan rambut yang lepek.
"Jadi diambil atau nggak, Pak?" tanya si Ibu begitu melihat pasangan yang baru datang. Seolah memberitahunya jika kunci itu akan diserahakan pada mereka jika ia terlalu banyak berpikir.
"Jadi Bu." sahut cepat Ethan. Ia tidak ingin tidur di luaran sana atau di mana pun. Ia hanya ingin mendapat tempat yang nyaman.
Naina hanya mengusap kening saat kunci tersebut sudah berada di tangan Ethan dan keduanya berjalan menuju kamar nomor 11 sesuai yang tertera pada kunci, tapi sebelumnya Ethan sempat menghentikan langkah saat mendengar obrolan pemilik penginapan di belakangnya dengan pasangan yang baru saja datang.
"Cuma sisa satu kamar? Mau diambil atau enggak?"
Ethan mengernyit menatap Naina. Sekarang ia mengerti maksud perkataan gadis itu jika penginapan ini bukan penginapan biasa.
__ADS_1
TBC
Terjebak + Hujan + tidur dalam satu kamar \= Zoya, how are you? Your husband dalam bahaya😂