Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Skandal Panas


__ADS_3

Menjadi seorang bintang yang bersinar di dunia entertaint bukanlah mimpi seorang Zoya Hardiswara, ia bahkan tak pernah memiliki keinginan untuk menjadi aktris dan selalu menjadi pusat perhatian. Selain merasa kesulitan menjalankan aktivitasnya yang selalu diikuti media, Zoya juga merasa jika semua yang dilakukannya selalu terbatas.


Membuatnya harus berhati-hati dalam melakukan segala hal. Mimpi besarnya adalah menjadi seorang arsitek hebat sebagaimaba hal itu adalah cita-citanya sejak duduk di bangku Sekolah Dasar.


Namun sayang, Zoya tidak dapat mewujudkannya. Bahkan untuk membuat hidupnya berjalan normal seperti orang biasa saja Zoya tidak dapat melakukannya.


Zoya tidak lahir dari keluarga kaya sebagaimana diceritakan dalam novel-novel. Zoya juga bukan seorang wanita yang terpaksa menikah demi membayar biaya pengobatan orang tua atau menebus hutang keluarga.


Zoya hanyalah gadis sederhana. Orang tuanya adalah pemilik toko sembako dan Zoya adalah gadis SMP yang menjalani kehidupan sekolahnya dengan tenang.


Namun, hal tak terduga terjadi ketika sang ibu jatuh sakit satu bulan setelah ayah Zoya meninggal karena kecelakaan. Zoya mulai merasa jika hidupnya persis seperti cerita di dalam novel.


Mengalami masa sulit di usia yang seharusnya ia nikmati sebagai gadis muda.


Berbulan-bulan mengurus sang ibu yang sakit, akhirnya Zoya memutuskan menjual toko peninggalan sang ayah demi mememuhi biaya pengobatan sang ibu, juga biaya hidup mereka.


Sampai takdir, membawa Zoya bertemu dengan seorang produser film yang mengajaknya syuting setelah jatuh cinta dengan paras cantiknya. Tak dapat menolak, karena hanya dengan hal itu Zoya bisa mendapatkan uang dengan cepat dalam jumlah yang banyak. Zoya yang saat itu baru berusia 14 tahun terjun ke dunia akting berbekal wajah cantik dengan keterampilan peran yang ia latih selama satu minggu sebelum melakukan proses syuting.


Di sela-sela membagi waktu antara syuting dengan sekolah. Zoya mendapat pelajaran berharga, jika mendapatkan sesuatu hal dalam hidup tidaklah mudah.


Ketika film yang Zoya bintangi mendapat rating tinggi, Zoya mendapat hadiah dari produser yang mengajaknya syuting berupa sebuah apartement yang dapat ia tinggali dengan sang ibu.


Zoya mulai terbiasa menjalani hari-harinya sebagai seorang aktris muda. Tawaran syuting film maupun iklan berdatangan padanya. Membuatnya benar-benar mengubur mimpinya dalam-dalam untuk menjadi seorang arsitek.


"Nak, Ibu tau kamu tidak suka pekerjaan yang saat ini kamu jalani, tapi kamu harus ingat. Ini adalah langkah awal untuk kamu menjadi yang terbaik."


"Jalan takdir yang menempatkan kamu pada posisi saat ini."


"Ibu sangat berterimakasih, berkat kamu, Ibu mendapat pengobatan yang layak dan menjalani kehidupan yang layak."


Saat itu Zoya baru saja pulang dari sekolah setelah menerima surat kelulusan dan dirinya menjadi lulusan terbaik. Kamar yang Zoya datangi adalah ruang VIP di mana sang Ibu mendapat perawatan.


Zoya hanya tersenyum mendengar kalimat ibunya. Merasakan belaian lembut telapak tangan sang ibu di pipinya.


Tiga tahun melawan kanker tidaklah mudah bagi Ibu Zoya, bertepatan dengan penghargaan yang Zoya terima sebagai aktris terbaik dalam kurun waktu tiga tahun berturut-turut, Ibu Zoya mengembuskan napas terakhir.

__ADS_1


Zoya yang saat itu berada di panggung megah pada podium hendak berpidato sebagai penerima penghargaan berlalu begitu saja saat manajernya memberi tahu jika sang Ibu meninggal.


Kehidupan seorang Zoya Hardiswara tidaklah mudah. Hal utama yang membuatnya bertahan dalam industri hiburan, adalah perkataan terakhir sebelum sang Ibu meninggal.


**


Seorang wanita yang baru saja akan turun dari mobil memilih kembali duduk begitu kerumunan para wartawan menyerbu kedatangan mobilnya. Zoya sangat yakin mereka membawa berbagai pertanyaan yang menuntut jawaban. Sedangkan Zoya tidak tau dengan apa yang harus ia katakan.


Zoya mendesah, menatap lantai apartementnya. Ia ingin segera ke sana dan mengistirahatkan tubuh. Bukan berdiam di dalam mobil seperti sekarang.


Selin–manajernya yang duduk di samping sopir menoleh setengah kesal. Ia tidak habis pikir pada Zoya yang tiba-tiba menghebohkan publik dengan beredarnya foto antara ia dan CEO perusahaan agensinya bernaung menyebar luas di berbagai media.


Zoya memberikan tatapan tak bersalah. Ia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, bahkan kepalanya juga pusing memikirkan hal ini. Kariernya di dunia entertainer selama sepuluh tahun ini harus ternoda karena skandal tidak terduganya.


"Kita turun setelah beberapa bodyguard agensi menjemput kemari." ungkap Selin setelah cukup lama. Zoya yang semula memejamkan mata untuk merilekskan tubuh membuka mata, dahinya membentuk lipatan.


"Bodyguard agensi?" Zoya bertanya heran.


"Kamu tau Pak Ethan tidak mungkin mengabaikan kamu. Dia tau pasti kalau kamu akan diserbu wartawan,"


"Why?"


"Zoya kamu tau sendiri bagaimana keadaannya. Syuting tidak mungkin dilakukan, beberapa sponsor menarik kerjasama dengan AE RCH."


"Kamu pikir syuting akan tetap dilanjut sebelum membersihkan nama kamu, Pak Ethan dan perusahaan?"


"Hmm."


"Mikir!"


"Ihh, jangan ngambek gitu dong. Aku juga pusing, nih. Sejak pagi Fahry gak bisa dihubungin."


"Enggak usah pacar-pacaran dulu. Fokus, kamu gak tau kalau nama kamu trending twitter dan segala macem?"


"Kamu dicap aktris gak bener. Mereka nuduh kamu godain Pak Ethan biar selalu dapet peran."

__ADS_1


"Ya tapi kan kenyataannya gak bener!"


"Orang lain gak akan percaya sama apa yang kamu bilang, Zoya."


Zoya pasrah, mendesah dan memilih kembali menyandarkan punggung ke belakang. Kepalanya melayang mengingat kejadian gila yang semalam menimpanya.


Bagaimana ia berakhir di kamar hotel yang sama dengan Ethan. CEO berwajah dingin dan tak memiliki ekspresi, bahkan Zoya tidak ingin berdekatan dengannya. Tapi Tuhan berkata lain saat ia membuka mata dan dirinya ada dalam dekapan Ethan.


"Apa yang Bapak lakukan?" melotot mendapati Ethan yang terlelap dalam tidurnya. Pria itu masih Dengan pakaian lengkap yang berantakan.


"Kamu?" Mata Ethan menyipit, beberapa detik kemudian ia tersadar dan segera menggeser tubuhnya menjauh, bahkan sampai terjatuh ke lantai.


Zoya menutup mulut melihat hal itu, menengok ke bawah dan mendapati Ethan yang terlihat kesakitan. "Ada apa kamu di kamar saya?" tanyanya, perlahan bangkit sambil memegangi kepalanya yang pening.


Ethan ingat betul, dirinya yang memang tidak kuat minum bahkan tak menyentuh alkohol sedikit pun, tapi ia merasa hangover seolah dirinya telah banyak minum.


"Saya tidak tau kenapa saya ada di sini." Zoya menyahut polos, memaerkan deretan giginya yang putih sambil meringis. Ethan mendesah, melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Pukul setengah tujuh pagi.


"Pak, tapi Bapak tidak macam-macam pada saya, 'kan Pak?" Zoya perlu memastikan jika kesuciannya masih aman dan terjaga.


"Pak, saya masih gadis!"


Ethan memutar bola matanya malas. Sedangkan Zoya berharap-harap cemas. "Apa maksud kamu?"


"Kamu siapa?" tanya Ethan kemudian yang membuat Zoya melongo nyaris tak percaya, ia mengguyur rambutnya ke belakang dengan kesal. Ia merasa diremehkan.


"Apa kebetulan kita pernah bertemu?" tanya Ethan lagi, memastikan. Kali ini Zoya tertawa, "bapak bercanda?"


Ethan tampak berpikir. "Saya tidak pernah suka bercanda."


"Saya aktris AE RCH Entertainment!" Zoya menyahut sewot. Ethan menggaruk pelipis dengan telunjuknya.


"Oh." setelahnya menyahut cuek.


TBC

__ADS_1


__ADS_2