
Ketika ia terjebak dengan Ethan di kamar hotel pria itu, sedikit pun Zoya tidak pernah menyangka akan jatuh hati pada Ethan. Pria dingin menyebalkan yang hemat dalam berbicara. Pria kaku yang memiliki kepribadian sulit ditebak. Pria yang sangat sering membuat Zoya sakit kepala karena sikap acuh tak acuhnya.
Namun siapa sangka, jika hatinya dapat dengan mudah berlabuh di dermaga yang Ethan miliki, hingga rasanya ia tidak bisa jika tanpa pria itu. Melihat ketulusan Ethan dalam mencintainya membuat Zoya tak bisa meragukan perasaan Ethan. Merasakan kehangatan dan kebaikan keluarga Ethan juga membuat perasaan Zoya melega, ia seperti kembali memiliki keluarga yang sangat lengkap dan juga menyayanginya.
Singkatnya, hidup Zoya menjadi sempurna sejak kehadiran Ethan yang berbaur dalam kehidupannya. Sehingga tidak ada yang bisa Zoya lakukan kecuali berdamai dengan Ethan sekali pun pria itu telah sangat melukainya. Pada kenyataannya Zoya juga sudah lama menunggu Ethan untuk mendatanginya.
Zoya berdiri di depan pintu balkon sambil memeluk tubuhnya sendiri, pintu balkon yang terbuka membuat sepoy angin yang menyapanya masuk dan membuat gorden putih di kamar utama vila itu terbuai. Ethan yang baru saja kembali ke kamar melangkah menghampiri wanita itu, berdiri di samping Zoya, kemudian menutup pintu balkon. Zoya menoleh dan tersenyum, kemudian bersandar pada bahu Ethan, membuat pria itu akhirnya membuka tangan dan merangkul Zoya.
"Maafin, saya, yah."
Zoya mendongak dan mempertemukan ratapannya dengan Ethan, satu tangannya mengusap sisi wajah pria tampan itu.
"Kamu jangan minta maaf terus, aku udah maafin kamu. Aku juga minta maaf ...," Zoya menjeda kalimatnya.
"Maaf karena gak tau kalo aku hamil dan buat kita kehilangan calon anak kita." sesalnya yang mendapat elusan lembut di lengan dari Ethan. Ethan diam dengan senyum tipis yang terbit dari bibirnya. Kemudian tatapan keduanya kompak melihat keluar pintu balkon di mana beberapa kunang-kunang tampak beterbangan di luar sana.
"Zoya, kamu pernah dengar? Katanya orang yang meninggal menjelma menjadi kunang-kunang."
"Hmm." Zoya menoleh pada pria itu sementara Ethan tetap lekat menatap kunang-kunang.
"Mungkin salah satu dari mereka ada malaikat kita." sahut Ethan yang membuat Zoya tersenyum, mengangguk dan menempelkan tangan pada pintu kaca balkon saat kunang-kunang itu mendekat.
Zoya percaya, apa yang hilang dalam genggamannya akan Tuhan ganti dengan sesuatu yang jauh lebih baik lagi. Begitu kunang-kunang itu terbang menjauh, Zoya juga menurunkan tangannya, melepaskan rangkulan tangan Ethan dan menghadap pada pria itu.
Menggenggam tangan Ethan dan membuat pria itu terdiam menyaksikan apa yang istrinya akan lalukan. "Ethan, makasih, yah." ucapnya, Ethan tampak hanya diam sambil memperhatikan.
"Kamu harus tau, aku merasa sangat beruntung punya suami kaya kamu."
"Meski saya sudah melukai kamu?"
"Aku yakin kamu cuma khilaf aja, 'kan?"
Ethan tersenyum tipis, membuat Zoya menatapnya lekat sampai kemudian ia berjingjit, mendaratkan kecupan singkat di bibir Ethan.
"Makasih udah jadi suami yang baik." ungkapnya, Ethan mengangguk, menangkup satu sisi wajah Zoya dan mendaratkan bibirnya di atas permukaaan bibir wanita itu. Perlahan membuat Zoya memejamkan mata merasakan sapuan lembut dari Ethan yang sangat ia rindukan.
"Sekali lagi saya minta maaf." sahut Ethan, belum sempat Zoya merespond pria itu sudah kembali menyatukan bibir mereka dengan gairah yang perlahan menuntut.
Begitu merasa jika Ethan akan melakukan sesuatu yang lebih, Zoya melepas ciuman mereka. Membuat Ethan menatapnya heran karena mendapat penolakan.
__ADS_1
"Dokter bilang tidak dianjurkan berhubungan badan sebelum dua sampai enam minggu." beritahu Zoya mengingat apa yang dokter katakan saat ia pulang dari Rumah Sakit.
Ethan tampak kecewa, ia mendadak lemas dan menjatuhkan kepalanya di bahu wanita itu.
"Zoya, kenapa kamu baru bilang setelah saya turun on!"
Zoya tertawa, mengusap belakang kepala suaminya dengan mesra dan meminta maaf. Ia kira Ethan akan mengerti dengan hal itu, nyatanya nafsu dan kerinduannya tidak dapat pria itu kendalikan.
**
Adalah suatu kebahagiaan bagi Zoya mendapati sang suami yang sudah menyiapkan sarapan untuknya di dapur vila ketika pagi hari tiba. Ia tampak dibantu oleh penjaga vila menata makanan di meja makan.
"Selamat pagi." sapanya begitu melihat sang istri. Zoya membalas dengan senyuman, berjalan mendekat pada Ethan, Ethan juga tersenyum, mendaratkan kecupan di pipi Zoya dengan singkat sebagai ucapan selamat pagi. Inginnya di bibir, namun Ethan sadar jika dunia bukan hanya milik ia dengan Zoya.
Zoya melihat beberapa hidangan yang sudah tersaji. "Kamu bangun jam berapa?" tanyanya pada sang suamai.
"Mm, sekitar satu jam yang lalu."
Zoya menutup mulutnya. Takjub. Padahal Zoya sendiri baru bangun lima belas menit yang lalu, mandi dan baru turun ke lantai satu.
Tak lama ponsel dalam genggaman Zoya berdering.
"Siapa?"
"Bunda." Zoya menyahut antusias. Segera menggeser ikon hijau dan menyalakan mode pengeras suara.
"Selamat pagi Bunda." sapa Zoya dengan ceria.
"Wah, kedengarannya kamu bahagia. Kalian sudah bertemu?" Freya bertanya tak kalah ceria di ujung sana. Zoya mengangguk, berbicara setelahnya. "Iya, Bunda. Ini Zoya lagi sama Ethan."
"Waah, kabar baik, nih."
"Jangan berantem-berantem lagi, oke."
Dua orang itu kompak mengangguk.
"Dan untuk perihal anak ..., kalian bisa membuatnya lagi, 'kan?"
"Bisa Bunda." Zoya menyahut cepat, menatap Ethan yang hanya diam.
__ADS_1
"Tapi tunggu enam minggu lagi." sambungnya yang membuat Ethan membulatkan mata.
"Dua sampai enam minggu, enggak harus enam minggu, 'kan Zoy?" Ethan bagai tidak terima jika disuruh menunggu terlalu lama. Sedangkan Freya tertawa di ujung sana. sama dengan penjaga vila yang diam-diam tersenyum mendengarnya.
"Zoya, kamu rundingkan itu sama Ethan nanti, yah."
"Siap Bunda."
Panggilan berakhir, Zoya menatap suaminya. "Tiga minggu." tawar Ethan dengan cepat.
"Empat minggu!"
"Enggak, itu artinya satu bulan." Ethan menolak.
"Itu resiko karena kamu gak pernah datang ke Rumah Sakit buat aku."
Penjaga vila diam-diam pergi begitu pekerjaannya sudah selesai. Ia tidak ingin mengganggu keharmonisan dua orang itu.
"Saya sudah minta maaf."
"Tiga minggu saja, oke." tawarnya lagi sembari mendekap tubuh wanita itu dari belakang.
"Empat minggu Ethan, dua minggu udah lewat. Artinya cuma dua minggu lagi."
"Tiga minggu Sayang, dua minggu sudah terlewat artinya tinggal satu minggu lagi."
"Okey?"
"Mmm, nanti kita konsultasi sama dokter." sambungnya berusaha keras. Zoya tampak mempertimbangkan.
"Hmm."
"Artinya kamu setuju?" Ethan meminta kepastian.
Zoya diam beberapa saat, kemudian berbalik pada Ethan dengan tangan pria itu yang tetap melingkari tubuhnya. Kepalanya mengangguk yang membuat Ethan tersenyum senang, mendaratkan kecupan singkatnya di bibir wanita itu.
"Jadi kapan?" tanya Zoya, Ethan mengerutkan kening.
"Kapan kamu bawa aku ke ruang rahasia kamu?"
__ADS_1
TBC