Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Tidak Bisa Bekerjasama


__ADS_3

"Apa?"


Raut wajah Edrin berubah kacau ketika pihak brand perusahaan yang baru saja membuat kesepakatan kontrak kerjasama dengannya menyampaikan jika syuting iklan diundur minggu depan. Edrin yang sudah memiliki persiapan dan menyesuaikan jadwalnya dalam dua hari tentu saja merasa tidak terima dengan informasi yang baru saja didapatinya.


Sang manajer yang duduk di samping Edrin berusaha menenangkan pria itu agar Edrin tidak kehilangan kendali diri. Sekalipun mereka berada di ruang tertutup tanpa ada yang meliput, Edrin tetap harus menjaga sopan santunnya.


"Ini syarat yang diajukan langsung oleh brand ambassador utama kita, Mas Edrin. Mohon maaf," ucap seorang wanita dengan rambut pendek yang merupakan wakil dari perusahaan brand tersebut.


Edrin mendesah, ia mengacak rambutnya penuh frustrasi, ia seolah tersisih dan tak diutamakan. Bukan saja posisinya tetapi protesnya pun seolah tak dipertimbangkan.


"Tidak bisa seperti ini!" Edrin tidak mau tahu.


"Itu brand ambassador utama kita." sahut wanita tersebut yang membuat Edrin mengarahkan pandangannya ke pintu masuk di mana seorang wanita dengan tubuh proporsional memasuki ruangan.


Wanita itu tampak cantik dengan dress ketat sepaha yang memperlihatkan lekuk tubuh seksinya, kacamata hitam melekat menjadi penyempurna penampilannya, blazer jenis jeans berwarna hitam tersampir rapi di bahunya. Kaki jenjangnya melangkah santai dan terlihat begitu seksi dengan langkah anggunnya. Setiap orang akan terpana melihat wanita itu.


Seketika Edrin bangkit dari duduk, raut kagum di wajah Edrin berubah raut penuh kesal saat wanita itu sudah berdiri tepat di hadapannya begitu mengingat jika wanita tersrlebutlah yang sudah mengajukan syarat gila untuk waktu syuting iklan nanti.


"Oh, jadi kamu." todong Edrin dengan cepat. Membuat wanita itu menurunkan kacamata hitamnya kemudian benar-benar membukanya. Memperlihatkan bola matanya yang cantik pada Edrin yang hampir kembali terpana–lagi oleh pesonanya.


"Kita belum berkenalan." justru wanita itu mengulurkan tangannya tepat di hadapan Edrin.


"Alexa." sahutnya, memperkenalkan diri diakhiri dengan senyum manis penuh percaya diri.


"Kamu yang mengajukan syarat untuk memundurkan waktu syuting?" Edrin tak perduli sesi perkenakan mereka dan justru fokus pada hal yang membuat darahnya mendidih selama ia berada di sana.


"Iya, ada masalah dengan hal itu?" tanya Alexa dengan raut santai yang membuat siapa saja akan jengkel melihatnya terutama Edrin. Wanita itu kemudian segera duduk dengan anggun dan tanpa raut bersalah karena sudah terlambat datang dalam acara pertemuan tersebut.


Staf perwakilan perusahaan hanya menatap kedua orang itu dengan raut heran.


"Apa katamu? Ada masalah?" Edrin mengerutkan dahinya.


"Kamu bertanya apakah ada masalah?" kali ini Edrin berkacak pinggang seraya tertawa, sedangkan Lexa menatapnya dengan tatapan tak terbaca, heran, jijik, atau bahkan tidak perduli. Satu hal yang pasti, jika Alexa tidak mengerti dengan apa yang pria dihadapannya maksudkan.


"Jelas saja ada masalah!" Edrin berkata dengan nada yang sedikit berteriak, sang manajer berusaha menarik tangannya untuk membuat pria itu tenang, namun Edrin tetap tampak tidak perduli.


Sementara Alexa berusaha merapikan rambutnya seraya memaki pria itu dengan suara pelan. "Dasar pria gila!"


***


Hari-hari terus berlalu, Zoya disibukan oleh syutingnya, Naina mengikuti kemanapun wanita itu pergi. Ethan yang mendapat larangan dari Rachel untuk mendatangi lokasi syuting Zoya sebelum pekerjaannya selesai seringkali mempercepat pekerjaannya dan memforsir tubuhnya, agar dapat menemani sang istri syuting, cukup membuat Randy kewalahan maladeninya.


Sementara Alexa dengan Edrin melakukan syuting iklan brand yang menjadikan mereka Brand Ambassador. Pada akhirnya Edrin terpaksa tetap mengikuti syarat yang partnernya inginkan dan tidak membatalkan kontrak. Bagaimanapun, Edrin harus punya pertimbangan besar untuk memutus kerja sama dengan sebuah perusahaan besar, tentu tak akan ia sia-siakan.

__ADS_1


"Ayo, chemistry kalian sudah bagus. Lebih percaya diri lagi, jangan terlihat canggung." seorang staf mengoceh saat Alexa dengan Edrin tampak sangat menjaga jarak ketika seharusnya dua orang itu terlihat dekat dan akrab.


Alexa tersenyum kecut. "Sorry, tapi aku sudah semaksimal mungkin. Sepertinya kita salah memilih partner." ungkap wanita itu yang mengundang kemarahan Edrin tentu saja, pria itu tidak terima dengan apa yang Alexa katakan seolah hal itu adalah penghinaan untuknya. Menganggapnya seakan Edrin tidak becus bekerja.


"Hey dengar, aku juga sudah semaksimal mungkin." Edrin menajamkan alisnya saat menatap wanita itu.


"Maksimal?" Alexa berdecih, ia melipat tangannya di dada dengan raut meremehkan. Membuat Edrin merasa kian terhina dan tidak terima.


"Seharusnya kamu mengikitiku kalau memang sudah maksimal."


"Mengikuti kamu? Buat apa?"


"Karena aku BA utama!"


"Brand Ambassador utama!"


"UTAMA!" Alexa menegaskan dengan tampang jumawa.


"Enggak akan!"


Para staf tampak memegangi kepala mereka, sudah berlangsung satu jam dan sejak tadi dua orang itu terus berselisih paham. Membuat proses syuting terhambat dan semuanya menjadi berantakan.


"Syuting kita dua hari lagi." staf berkata lagi dengan raut lelah atas kelakuan kedua aktrisnya itu.


"Tapi dengan satu syarat." Telunjuknya terangkat ke atas.


"Okey, syuting kita lanjut dua hari lagi." para kameramen merapikan perlatan mereka. Alexa dengan Edrin hanya berdiam di tempatnya, beberapa saat kemudian dua orang itu bertukar pandang dan buru-buru menepiskannya dengan raut tidak suka serta kesal di wajah masing-masing.


"Haisshh!" Edrin mengumpat begitu melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Aku adalah orang sibuk Alexa, seharusnya syuting ini sudah selesai kalau kamu tidak mengacau."


"Kamu membuatku terlambat ke lokasi syuting!" oceh Edrin dengan nada kesal.


"Kamu sengaja? Biar proses syutingnya jadi lama supaya kamu ketemu terus sana aku." sekilas Edrin tertawa meremehkan modus wanita itu, namun beberapa saat kemudian ia merubah raut wajahnya menjadi datar.


Alexa berdecih, tidak terima dengan tuduhan kotor Edrin padanya. Memangnya Edrin siapa sampai Alexa harus bertemu dengan pria itu setiap hari?


"Kamu pikir cuma kamu yang sibuk? Aku juga sibuk."


"Kamu nyalahin aku? Hmm, kamu yang nggak becus jadi partner aku."


"Liat aja, setelah ini. Jangan harap kita ketemu, atau dapet project yang sama lagi!"


Alexa menghentakan kakinya dan pergi lebih dulu meninggalkan Edrin. "Hey, harusnya aku yang pergi duluan dan ninggalin kamu Alexa!" Edrin berteriak saat wanita itu sudah melangkah menjauh darinya dengan cepat.

__ADS_1


Edrin berdecih, amit-amit ia harus satu project lagi dengan wanita macam Alexa. Tipe idealnya adalah wanita manis, lemah lembut dan seksi. Alexa memang seksi, namun selebihnya adalah singa, dia tidak manis sama sekali.


***


Alexa kembali ke gedung agensi seraya terus menggerutu mengingat kelakuan Edrin. Sejak pertemuan pertama mereka, semua memang tampak kacau dan keduanya tidak cocok. Seharusnya sejak awal, mereka tak perlu bertemu dan terlibat kerja sama.


Kenapa bisa-bisanya ptia tampan seperti itu sangat menyebalkan? Bahkan Edrin lebih menyebalkan dari Ethan.


Kenapa juga Alexa harus terlibat kerjasama dengannya?


Alexa memgutuki seraya mengacak rambutnya, kesal.


Wanita itu masuk begitu saja ke ruangan sang momy tanpa mengetuk pintu lebih dulu, ia tersenyum miris saat ternyata sang momy tengah memiliki tamu. Alexa baru akan menutup pintu dan mengambil langkah mundur untuk tidak mengganggu, namun tamu sang momy sudah lebih dulu memanggil namanya.


"Alexa,"


Alexa tersenyum saat dengan raut datar Rachel menggerakan kepalanya, memberi aba-aba pada Alexa agar masuk dan menyapa tamunya.


Alexa akhirnya masuk dan tersenyum pada Arfat gang sedang datang bertamu. "Alexa, apa kabar?" Arfat menyapa dengan senyuman pada wanita itu.


"Baik Pak Arfat." Alexa menyahut seraya tersenyum. Ia sangat mengenal Arfat karena dirinya pernah beberapa kali terljbat dalam film dan sinetron yang diproduseri oleh pria itu.


***


"Mom itu bukan salah aku, aku sudah profesional luar biasa, memang partnerku aja yang nggak becus kerja!" oceh Alexa, membela dirinya sendiri saat sang momy menegurnya atas kekacaun yang terjadi saat proses syuting iklan hingga membuat proses syuting diundur.


"Momy tahu Edrin Nicholas, Aleexa. Dia aktor yang multitalenta dan sangat profesional. Kamu pasti membuat masalah dengannya." sahut Rachel yang berhasila membuat napas Alexa berantakan.


Ia berdecak seraya berkacak pinggang tetapi tak mampu berkata-kata. Bahkan ibu yang melahirkannya pun justru berpihak pada pria menyebalkan itu.


***


"Dia egois, sombong, galak, kasar dan aku nggak mau ketemu dia lagi!" Edrin meraih sebotol air mineral setelah memaki Alexa sepuasnya di hadapan Zoya. Zoya yang tengah menikmati salad buah hanya tertawa kecil mendengar ocehan pria itu yang tampaknya begitu marah pada Alexa.


"Baikalah, jadi ternyata BA utamanya Alexa?" tanya Zoya menangkap kesimpulan dari apa yang Edrin katakan. Edrin segera menganggukan kepalanya.


"Benar Zoya, dan dari awal dia udah nyebelin banget. Dia mundurin jadwal syuting seenaknya dan datang tetlambat dengan sesuka hati.


"Orang-orang yang terlibat kerjasama sama dia, adalah orang yang celaka!"


"Kamu salah satunya." Zoya menyela dengan cepat.


"Dan tidak akan lagi!" sahut Edrin berapi-api. Zoya hanya menoleh pada Naina yang duduk di sampingnya, dua wanita itu sama-sama tersenyum kecil menyaksikan tingkah Edrin. Berbeda dengan Edrin yang tampak kepanasan mengingat Alexa dan kekacauan yang dibuat wanita itu.

__ADS_1


TBC


Sans guys, diselang part ini dulu, yah. Setelah ini kita siap-siap menyambut konflik.


__ADS_2