
Syahdan tengah sibuk memeriksa beberapa file di kantor, diruang kerjanya. Dia menemukan sebuah kotak perhiasan yang didalamnya tersimpan sebuah cincin permata yang sangat indah. Rencananya dulu cincin itu ingin diberikannya pada airin untuk melamar melamar Airin. Tapi ternyata takdir berkata lain. Syahdan menggenggam kuat cincinitu ditanggannya. tak dipedulikan rasa sakit karena ukiran cincin itu yang runcing runcing. Rasa sakit itu tak sebanding dengan rasa sakit hati dan kecewayang dirasakannya. Ya, dia masih belum siap menerima kenyataan kalau Airin telah menjadi istri Devid. Sahabatnya sendiri. Apalagi jika membayangkan Devid telah melewati malam malam yang indah dengan Airin.
"Aaaarrrgghhhhhhh" Tiba tiba saja Syahdan histeris. Dadanya benar benar sesak memikirkan itu semua.
Diraihnya ponselnya, kemudian menghubungi sebuah nomor. Nada tersambung dan kemudian dijawab oleh si empunya nomor.
"Halo, Assalamu'alaikum..." Suara lembut yang masih dirinduinya. Syahdan menghubungi nomor Airin. Tadinya dia mengira Airin akan mengganti nomor ponselnya, ternyata masih aktif. Dulu Syahdan yang telah membelikan ponsel itu untuk Airin. Ternyata Airin masih memakai ponsel pemberianya. Hati Syahdan sedikit tersentuh, dan rasa cinta itu semakin mendamba.
"Ai..."Sapa Syahdan lirih.
"Iya mas, apakabar..." Lama Airin baru menjawab. Dan Syahdan pun terdiam. Seakan merasakan kehadiran Airin didekatnya.
"Apakah kita bisa bertemu, ada yang ingin mas sampaikan." Entah kenapa Syahdan mengutarakan itu. Dia ingin sekali bertemu Airin. Kerinduan itu benar benar membuncah dalam dadanya.
Lama Airin terdiam, entahlah. Mungkin Airin tak ingin lagi bertemu dengannya. Itulah yang ada di fikiran Syahdan.
"Sebentar saja Ai, mas hanya ingin bertemu kamu sebentar saja. Mas janji." Syahdan mencoba lagi merayu.
"Baik mas. InsyaAllah Airin bisa. Bagaimana kalau sore ini kita bertemu di ******* " Akhirnya Airin mengabulkan permintaan Syahdan. Tak terlukiskan bahagia Syahdan. Akhirya dia akan bertemu lagi dengan wanita yang dirinduinya itu.
Dan panggilan pun berakhir. Syahdan nampak sumringah. Dia segera merapikan kerjaannya. Dan ingin segera menuju lokasi yang dipilih Airin.
Sementara itu Airin masih mematung dengan mendekap ponselnya. Sebenarnya dia tak ingin bertemu berdua saja dengan Syahdan seperti ini. Dia tak ingin nanti terjadi fitnah atau ada hal hal lain yang tak di inginkan. Dia tak ingin ada kesalahpahaman dengan Devid suaminya. Karena hubungan mereka sekarang ini sudah semakin dekat dan baik. Jangan sampai Devid masih berfikir kalau dirinya masih menyimpan rasa untuk Syahdan.
Airin menerima ajakan Syahdan karena masih memikirkan tentang meninggalnya Tante Rahma. Walau bagaimana pun dia merasa sedikit bersalah. Karena Tante Rahma meninggal dihari tante Rahma datang kerumahnya. Dan Tante Rahma pulang dalam keadaan menangis. Airin pun juga ingin meminta agar Syahdan melanjutkan hidupnya. Syahdan berhak bahagia dengan wanita yang lain. Karena itulah Airin mau bertemu dengan Syahdan. Sekalian sore ini dia ada keperluan juga keluar. Jadi bisa sekalian, agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi Ibu mertua dan suaminya.
Di balik pintu, tanpa sepengetahuan Airin ternyata Devid telah berdiri lama disitu. Dia mendengar percakapan Airin di telfon tadi. Dan Devid merasa yakin kalau tadi Airin tengah berbicara dengan Syahdan. Ada kecemburuan dihatinya, dan tanda tanya. Apakah tanpa sepengetahuannya Airin sering bertemu dengan Syahdan.
Tadinya Devid sengaja pulang cepat dari Rumah Sakit karena ingin mengajak Airin dan Syfa jalan jalan. Rutinitas yang sekarang ini sudah sering mereka lakukan kalau Devid tak ada lagi kerjaan di Rumah Sakit. Tapi saat dia ingin masuk kamar, tak sengaja dia mendengar pembicaraan Airin di telfon. Karena memang pintu kamar tak tertutup rapat saat dia datang. Devid mencaba bersikap tenang. Meski kini hatinya dibakar api cemburu, tap dia tak ingin menampakkan kemarahannya.
__ADS_1
Devid kembali turun ke ruang bawah. Degan pelan dia menuruni anak tangga, aga tidak menimbulkan kecurigaan Airin. Dia melangkah ke arah ruang keluarga. Disana ada Bundanya dan Syfa tengah menonton film kartun.
"Airin mana.. " Tanya Anita.
"Dikamar mungkin." Jawab Devid. Dia berpura pura belum melihat Airin.
"Dev, bagaimana hubunganmu dengan Syahdan. Apakah kalian udah pernah bertemu lagi ?" Tanya Anita kemudian.
"Masih seperti itu Bund, Devid belum bertemu dengan Syahdan sejak hari itu." Jawab Devid.
"Cobalah kamu datangi dia di kantornya. Bicara dengan dengan kepala dingin. Siapa tau dia sudah tidak emosi lagi." Kata Anita. Devid hanya menarik panjang nafasnya. Dia juga bingung.
"Bukan Bunda mau menambah fikiran kamu. Hanya saja Bunda ingin kesalahpahaman kalian berakhir. Dan kalian bersahabat seperti dulu lagi. Apa perlu Bunda yang menemui Syahdan langsung." Kata Anita.
"Tidak usahlah Bund, nanti aku coba cari waktu yang pas." jawab Devid.
"Bund, Devid keluar dulu ya. Devid lupa kalau ada janji dengan orang sore ini. " Ujar Devid segera pergi. Dia berniat untuk melihat pertemuan Airin dengan Syahdan sore ini di tempat yang tadi Airin katakan lewat telfon.
Anita tidak menaruh rasa curiga kepada anaknya. Karena memang Devid sibuk dengan pekerjaannya. Sekarang aja agak sedikit longgar karena ada Airin dan Syfa. Tak lama Airin tampak menuruni anak tangga. Dia sudah berpakaian rapi seperti hendak keluar.
"Loh, kamu janjian sama Devid mau keluar ?" Tanya Anita.
"Nggak Bund. Mas Devid kan belum pulang." Jawab Airin.
"Sudah, tadi Devid sudah pulang. Barusan pergi lagi ada yang lupa katanya." Ujar Anita.
"Ooo,, Kalau gitu Airin pamt keluar sebentar ya Bund. Ada yang mau Airin beli. Airin boleh nitip Syfa sebentar nggk. InsyaAllah nggak lama." Kata Airin.
" Iya pergilah. Jangan kesorean. Diantar Supir aja ya. " Jawab Anita. Airin pun mengiyakan. Setelah berpamitan dia pun pergi diantar supir ke tempat dimana dia akan bertemu dengan Syahdan.
__ADS_1
Tak lama Airin pun sampai. Di sebuah cafe yang berada di Mall. Airin sengaja memilih Mall agar nanti supir yang mengantarnya tidak melihat dia bertemu dengan Syahdan. Karena sekarang supir nya tengah menunggu di parkiran saja. Ternyata Syahdan sudah ada disana.
"Apakabar Ai." Sapa Syahdan sambil mengulurkan tangannya. Airin menerima uluran tangan Syahdan sambil tersenyum. Sesaat Syahdan menggenggam erat jemari Airin. Serasa tak ingn melepaskannya. Tapi Airin menarik pelan tangannya.
"Mas Syahdan mau bicara apa. Katakanlah" Tanya Airin, dia tak ingin berlama lama ngobrol dengan Syahdan. Dia tak ingin Syahdan semakin terluka.
"Apakah kamu dan Syfa bahagia.. Apakah dia memperlakukan kalian dengan baik ?" Bukan nya menjawab pertanyaan Airin, Syahdan malah balik bertanya.
"Alhamdulillah kami bahagia.."Jawab Airin tersenyum. Kemudian mereka sama sama terdiam. Syahdan menatap Airin dalam. Mencoba menyelami apakah masih ada rasa dulu yang pernah dilihatnya dimata itu. Tapi entah mengapa, semakin dalam dia menatap semakin tak ditemukan yang dicarinya.
"Mas, Aku minta maaf. Karena mungkin sudah membuat mas kecewa dan terluka. Tapi inilah takdir Allah. Kita tak mampu untuk melawan takdir yang sudah Allah tentukan. Aku harap mas bisa menerima semuanya. Dan aku sangat berharap sekali hubungan persahabatan mas dengan mas Devid bisa seperti dulu.. Jangan lagi mas Syahdan membenci nya. Karena sebenarnya mas Devid pun tak bersalah. Kita bertiga sama sama tak kuasa mengelak takdir Allah. Sekarang aku hanya ingin menjalani kehidupanku yang sekarang. Aku ingin mengabdi kepada suamiku. dan memulai kisah kami bersama. Aku harap mas Syahdan juga bisa membuka lembaran kehidupan yang baru.Dan aku ikut berduka atas kepergian tante Rahma. Maafkan aku karena baru mengucapkannya sekarang." Airin pun menyampaikan apa yang ingin dikatakannya.
Syahdan hanya mampu terdiam. Apa yang Airin ucapkan tidaklah salah. Tapi juga tak semudah itu untuk menerimanya.
"Kalau tak ada yang ingin mas sampaikan. Airin pamit dulu. Tidak baik kita ngobrol berdua saja. Jangan sampai ada fitnah lagi." Ujar Airin. Dia pun bangkit dari duduknya dan bersiap untuk pergi.
Syahdan tak mampu lagi bicara, awalnya dia mengira kalau Airin pun masih menyimpan rasa untuknya. Tapi dari kata kata dan tatapan Airin, seperti sudah tak ada lagi harapan untuknya.Sakit, teramat sakit yang dirasakan Syahdan.
"Sekali lagi Ai minta maaf ya mas... "Ujar Airin sebelum pamit.
Tiba tiba dari arah belakang lewat seorang pria yang sengaja menyenggol Airin, sehingga Airin hampir jatuh kedepan dan Langsung ditangkap Syahdan. Tak sengaja mereka tampak berpelukan. Dari kejauhan sekilas Syahdan melihat Devid berjalan. Hati Syahdan tiba tiba seperti dibisiki niat jahat Dia pun memeluk Airin kuat. Seakan tak ingin melepaskan.
"Biar seperti ini sebentar saja Ai. Izinkan mas memelukmu sebntar saja. Untuk terakhir kalinya. Setelah ini mas akan mencoba ikhlas melepaskanmu." Ucapnya lembut sambil membelai kepala Airin.
Airin merasa ini tak pantas, karena sekarang dia adalah wanita yang bersuami. Mana mungkin dia bisa dipeluk erat seperti ini oleh lelaki lain. Tapi dia tak bisa melepaskan pelukan Syahdan. Kedua tangannya dikekap di dada Syahdan.
"Mas lepaskan.. Ini tak pantas mas.." ucap Airin.
Dari kejauhan nampak Devid menahan amarah menyaksikannya. Dia tadi memang mampir dulu ke Rumah Sakit lagi. Makanya dia baru saja sampai ditempat Airin ketemuan dengan Syahdan. Dan hal pertama yang harus dilihatnya adalah Istrinya tengah berpelukan dengan laki laki lain.
__ADS_1