
Kematian sang ibu membuat Zoya berada di titik paling rendah dalam hidupnya. Enggan melanjutkan kehidupan, dan membuatnya seolah terombang ambing di lautan lepas. Zoya tak tentu arah, selama kurang lebih lima bulan, ia vakum dari dunia entertaint.
Sampai waktu, membawanya bertemu dengan Selin. Wanita baik hati yang tak sengaja bertemu dengannya di depan gedung agensi dan tampak sedang mengamati.
Ia terlihat terkejut melihat seorang Zoya Hardiswara yang datang tanpa pengawal, menghampiri bahkan mengajaknya berbicara.
"Saya turut berduka cita atas meninggalnya Ibu, Mbak Zoya." sahut Selin saat itu, begitu formal dan ramah.
Zoya tersenyum mendengarnya. "Mbak Selin bercita-cita jadi aktris?"
Seketika Selin menggelengkan kepala. Mengatakan tidak atas pertanyaan Zoya, ia tau barangkali Zoya merasa heran karena dirinya ada di depan gedung agensi.
"Mbak Selin pulang ke arah mana?"
"Tidak jauh,"
"Biar saya antar,"
"Tidak perlu." tolak Selin setelah sebelumnya sempat terkejut mendengar tawaran Zoya. Wanita itu tersenyum tipis dengan sorot mata yang terlihat putus asa.
Tidak enak menolak Zoya, Selin akhirnya mengiyakan. Menerima tawaran Zoya yang akan mengantarkannya pulang. Sepanjang perjalanan, Selin banyak bercerita jika orang tuanya sangat mengidolakan Zoya, kagum pada Zoya, seorang aktris muda berprestasi yang memiliki latar belakang cerita kehidupan yang menginspirasi banyak orang.
"Oh, yah. Mengenai saya yang ada di gedung agensi tadi, saya tidak bercita-cita menjadi aktris. Saya hanya pernah bermimpi untuk menjadi manajer aktris."
"Membayangkan bagaimana saya berada di dalam gedung itu bersama aktris saya."
"Oh, yah, kebetulan. Saya membutuhkan manajer, apa Mbak Selin tertarik?"
Selin terdiam, menatap Zoya dengan tatapan tidak percaya. Ia tidak tau jika semalam bermimpi mengenai hal apa, sampai merasa jika dirinya sekarang berada di udara mendapat tawaran tidak terduga dari seorang Zoya Hardiswara.
Sedangkan Zoya tersenyum manis, ia merasa jika apa yang dulu sering dikatakan sang ibu memanglah benar, pekerjaan yang ditekuninya bisa saja membantu dan mampu mewujudkan mimpi orang lain.
"Bagaimana?"
"Mbak Zoya yakin?"
"Kenapa enggak?"
"Kita baru saling mengenal."
"Kalau begitu aku percaya Mbak Selin orang baik."
Selin mengangguk dengan yakin, ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk memanajeri Zoya Hardiswara dan juga mewujudkan mimpinya.
"Kalau gitu kita gak usah formal. Jangan panggil aku 'Mbak'. Aku gak setua itu."
"Oke ... nona,"
__ADS_1
"No! Zoya. Panggil aku ..., Z O Y A."
Sejak saat itulah, Selin menjadi manajer Zoya. Pihak agensi Zoya menyetujui setelah memberi pelatihan pada Selin selama empat belas hari mengurus semua kegiatan Zoya yang kembali berakfivitas di dunia entertaint setelah lima bulan vakum.
Zoya bertemu dengan orang tua Selin. Menjalin keakraban dengan mereka, dan tanpa ia sangka jika orang tua Selin begitu baik padanya. Membuat Zoya merasa, jika dirinya kembali memiliki keluarga.
**
"Oh?" lagi-lagi Zoya emosi, tidak habis pikir dengan pria di hadapannya.Tapi ia hanya mampu menghela napas, ia tidak bisa berbicara sembarangan dengan bosnya. Ethan tampak berjalan ke arah jendela, sedangkan Zoya menilik penampilannya, sekali lagi memastikan jika pakaiannya masihlah lengkap.
Dan ia baru menyadari satu hal jika kamar hotel yang mereka tempati bukan kamar hotel biasa. Melainkan sebuah president suite yang tampaknya adalah tempat tinggal Ethan.
"Tempat tinggal?"
Zoya menggeleng tidak percaya. Bagaimana bisa dirinya terjebak di tempat yang bahkan tidak pernah orang lain injak kecuali beberapa orang-orang tertentu saja yang bisa masuk?
Seperti Zeinn Arasy Maheswari misalnya, yang merupakan saudara kembar Zeinn Ethan Maheswari.
Zoya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia bahkan tidur di atas ranjang yang sama dengan Ethan. Seandainya sampai media tau, artinya ia dalam bahaya.
Mata Zoya membulat seketika, ia mencari tas dan mengambil ponsel. Hanya dalam beberapa detik untuk air mukanya berubah menjadi ringisan menyedihkan.
Headline dengan nama ia dan Ethan menduduki peringkat satu berita terpanas di berbagai media online hari ini. Setelah fotonya dengan Ethan yang memasuki kamar hotel menyebar luas.
"Apa yang terjadi semalem? Apa yang terjadi semalem? Apa yang terjadi semalem?" bertanya pada diri sendiri agar mengerti dengan situasi yang sedang terjadi.
"Awak media sudah berkumpul di bawah." perkataan Ethan membuatnya tersadar dan memegangi kepala. Ethan menggapai ponsel dan menyalakannya. Ribuan notifikasi seger maenyerang.
"Apa yang tengah terjadi, darling?" orang di ujung sana bertanya penuh penekanan.
"Aku akan mengurusnya, Mom."
"Cepat selesaikan, perusahaan sedang kacau sekarang. You Know?"
"Hmm."
Panggilan berakhir, Ethan mendekat pada Zoya yang sudah kelimpungan. Ia memundurkan kepala begitu melihat tatapan horor Ethan padanya.
"Demi apapun saya tidak menjebak Bapak. Saya ingat semuanya, Bapak mabuk dan saya membantu Bapak kemari."
"Kalau kamu dalam keadaan sadar, lalu untuk apa kamu tetap tinggal di sini bahkan sampai pagi?"
"Euuu, saya." Menunduk. Kemudian mengangkat pandangannya pada Ethan. "Apa semalam saya juga mabuk?" bertanya dengan sangat hati-hati.
"Kamu bertanya pada saya?" Ethan bertanya retoris. Zoya tersenyum dan menggelengkan kepala.
Sesaat keduanya hanya saling terdiam. Ethan menatap wanita di hadapannya dengan penampilan yang sedikit berantakan. Dress press body sepaha dengan belahan sempurna. Ethan tau hampir semua aktrisnya memang sangat mengutamakan penampilan, hanya saja Ethan tidak pernah memperhatikan mereka.
__ADS_1
"Lalu, bagaimana cara saya pulang?" tanya Zoya.
"Ikut saya!"
Zoya menurut, mengikuti langkah kaki Ethan menuju sebuah walk in closet. Zoya tidak habis pikir, bahkan dirinya yang seorang wanita tidak memiliki barang-barang sebanyak Ethan sampai mengharuskan ukuran besar untuk tempat penyimpanan pakaian.
Zoya tersadar begitu sebuah mantel berwarna army tersodor ke arahnya. Zoya yang mengerti segera mengenakannya Mantel itu bahkan menutupi seluruh tubuhnya.
Ia mengikuti Ethan keluar dari kamar hotel setelah pria itu merapikan pakaiannya. Mereka masuk ke lift yang akan langsung ke basemant.
"Telpon manejer kamu untuk menjemput kemari!"
"Baik, Pak."
**
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan, Than?" Randy, Skretaris sekaligus kawan Ethan bertanya. Sedangkan pria yang di tatap hanya menyangga dagu dengan kepala yang berpikir keras.
"Media menyimpulkan sendiri hubungan kalian, keadaan ini tidak bisa ditepis. Melihat kalian yang semalam berjalan bergandengan menuju kamar hotel."
Ethan tetap hanya diam, ia sudah melihat berita dan juga fotonya dengan Zoya yang tersebar di berbagai media. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa keamanan privasi di president suitenya bisa memberi akses pada media?
Tak lama ponsel Ethan yang berada di atas meja di hadapan mereka berdering. Ethan tidak bergeming, sedangkan Rendy segera meraihnya.
"Om Agyan,"
Ethan mendesah, ini bukan kali pertama anggota keluarga menghubunginya. Bahkan Arasy mengancam akan berbicara lebih dulu di depan publik. Ethan tidak bisa membiarkannya. Ethan tau saudara kembarnya itu akan membuat kekacauan.
Ethan meraih ponsel yang Randy serahkan, menggeser ikon hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Apa yang akan kamu lakukan untuk menyelesaikan masalah ini?" pertanyaan sang ayah terdengar menuntut.
Pertanyaan yang sesungguhnya sudah Ethan duga. Ia hanya mendesah dengan tangan yang mengendurkan dasi yang dikenakannya.
"Ethan akan mengurusnya."
"Harus, selesaikan masalah ini secepatnya!"
"Baik, Yah."
Panggilan terputus, orang-orang di perusahaan sudah kalang kabut dengan media yang berkumpul di depan perusahaan menunggu klarifikasi Ethan maupun aktris yang terlibat skandal dengannya.
"Kumpulkan media!" Suruh Ethan seraya bangkit.
"Kamu akan mengadakan konferensi pers?"
Ethan mengangguk, keluar dari ruangannya sedangkan Randy diam ditempatnya. Tak lama, ia merogoh ponsel dan menelpon seseorang untuk mengabari media jika Ethan akan mengadakan konferensi pers untuk klarifikasi.
__ADS_1
Setelahmya, Randy diam. Menggelengkan kepalanya pelan, dengan harapan Ethan tidak akan mengambil keputusan yang akan menyulitkan.
TBC