
Sejujurnya, saat Zoya bertanya mengenai keadaan Naina, gadis itu tidak benar-benar baik- baik saja. Pusing di kepalanya terasa begitu menyiksa, namun tetap ia tahan karena tidak ingin menjadi beban bagi Zoya.
Saat Ethan menyambut kedatangan mereka dan Zoya segera memberikan pria itu pelukan terhangatnya, Naina hanya bisa menatap dua orang itu. Senyum Naina terukir melihat moment romantis antara Ethan dengan Zoya. Tapi perlahan, pandangannya kabur, seperti ada yang berputar-putar di kepalanya. Kemudian gelap.
**
"Bagaimana keadaannya Dok?" tanya Zoya dengan panik begitu dokter selesai memeriksa keadaan Naina. Saat gadis itu pingsan di teras beberapa saat yang lalu, Zoya segera menyuruh Ethan untuk mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya masuk ke dalam rumah. Membaringkan tubuh Naina di atas tempat di kamar gadis itu. Sedangkan Zoya dengan cekatan segera menghubungi dokter.
Dokter yang melihat raut panik Zoya hanya mengukir senyum lembut. "Ibu Naina tidak kenapa-napa. Hanya kelelahan." terang sang dokter, membuat Zoya dapat bernapas lega. Setidaknya, Naina dalam keadaan yang baik-baik saja.
"Mungkin akhir-akhir ini dia kurang beristirahat?" sambung sang dokter yang kemudian bertanya.
Zoya diam sesaat. Akhir-akhir ini ia memang sibuk syuting, sehingga Naina pun ikut-ikutan sibuk. Terlebih gadis itu juga harus membereskan pekerjaan rumah.
"Tidak apa-apa. Ibu Naina hanya butuh istirahat yang cukup." Dokter kemudian nenyahut saat Zoya dan Ethan hanya saling terdiam.
Setelah memberikan resep obat, Dokter pamit pulang. Ethan mengantarkan sampai ke teras, sementara Zoya menemani Naina ketika gadis itu sudah sadar.
"Kepala kamu masih pusing?" tanya Zoya begitu Naina membuka mata, gadis itu mengubah posisinya, bersandar pada kepala ranjang dan meminum sedikit air putih yang disodorkan oleh Zoya.
"Sudah mendingan Mbak."
"Lain kali kalau kamu cape bilang, yah. Kalau sakit juga bilang, jangan dipendem sendirian." pesan Zoya mengingat jika barangkali sejak siang tadi Naina sebenarnya berbobong padanya mengenai keadaan gadis itu.
Naina tersenyum tidak enak, raut wajah yang mampu Zoya baca dengan mudah."Saya nggak mau ngerepotin Mbak Zoya." jujur Naina kemudian, sesuai dengan dugaan Zoya.
"Kamu nggak ngerepotin saya sama sekali. Lain kali jangan seperti ini lagi, yah." kali ini Naina mengangguk. Dua orang itu saling berpandangan dalam satu garis lurus.
"Terimakasih banyak yah Mbak Zoya."
"Kamu nggak perlu berterimakasih. Justru sebarusnya saya yang makasih sama kamu karena selama ini kamu sudah bantu saya." tutur Zoya, tak mampu membuat Naina berkata-kata.
Hingga setelahnya adalah hening di antara dua orang itu. Setelah memastikan jika keadaan Naina sudah membaik, Zoya dengan Ethan yang baru saja tiba setelah meangantarkan dokter lantas pamit untuk beristirahat ke kamar
***
"Sudah makan?" tanya Ethan ketika keduanya tengah menapaki satu persatu anak tangga. Zoya yang ditanya mengangguk. Ethan menatap istrinya lekat-lekat, perlahan langkah kaki keduanya sama-sama terhenti.
Tak ada yang bicara kecuali mata keduanya yang seolah mewakili perasaan masing-masing. Hingga Ethan meraih pinggang Zoya, perlahan merapatkan tubuh mereka, satu tangannya mengangkat dagu wanita itu. Ketika bibir keduanya saling bertemu, perlahan Zoya memejamkan matanya.
Ketika Ethan menyudahinya dengan kecupan hangat di dahi Zoya, wanita itu mengikir senyum selebar-lebarnya. Begitu juga dengan Ethan.
"Aku ketemu seseorang hari ini." beritahu Zoya setelah beberapa saat.
"Siapa?"
"Zayn."
**
"Terimakasih Bunda." ucap Ethan setelah cukup lama berbasa-basi dengan Freya melalui sambungan telpon. Ia menghubungi Freya begitu Zoya masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Hmm, dia masih senang?" Freya bertanya di ujung sana. Ethan menganggukan kepala sekalipun Freya tidak dapat melihat dirinya saat ini.
__ADS_1
"Bunda senang kalau Zoya juga senang." sahut Freya ketika putranya hanya terdiam.
"Iya Bunda, Ethan juga senang. Tadi Zoya cerita, ada anak lelaki yang menarik perhatian Zoya." Ethan mengingat apa yang istrinya katakan saat perjalanan menuju ke kamar mengenai bocah laki-laki bernama Zayn.
"Oh, yah, bagus kalau kaya gitu. Biar Zoya tertarik juga buat adopsi anak."
Ethan seketika terdiam. Bukan saja karena ia ragu mengajak Zoya melakukan adopsi, tapi juga karena ia dengan istrinya sedang menjalankan rencana untuk memiliki anak dengan cara mereka. Sekalipun anaknya nanti bukan lahir dari rahim wanita itu. Bukan dari rahim Zoya.
"Memangnya Bunda tidak masalah kalau punya cucu hasil adopsi?" Ethan mencoba bertanya pada sang bunda. Sejauh ini, sejak Zoya mengalami dua kali keguguran bahkan harus kehilangan rahimnya, sekalipun Ethan belum pernah bertanya bagaimana perasaan Freya yang pastinya mengharapkan seorang cucu darinya.
Ethan nasih menunggu jawaban Freya saat wanita itu hanya menggumam di ujung sana.
"Bunda tidak masalah. Bunda tidak ingin menuntut banyak pada kalian. Apapun yang kalian lakuin dan buat diri kalian seneng, maka Bunda juga akan ikut seneng." terang Freya sebagaimana yang memang ia lakukan untuk putra kesayangannya dan juga sang menantu.
"Terimakasih Bunda, terimakasih atas suport dan pengertiannya, Ethan senang punya Bunda seperti Bunda Freya." ucap Ethan. Jujur dari hatinya yang terdalam, ia dapat menebak jika Freya tengah tersenyum di ujung sana.
"Yasudah, kamu dengan Zoya istirahat, yah. Jangan biarian Zoya kecapean setiap malam, yah, Ethan." pesan Freya dengan nada menggoda diakhir kalimatnya. Ethan hanya tergelak, kemudian sambungan telpon terputus setelahnya bersamaan dengan pintu kamar mandi yang terbuka.
Menampilkan Zoya dengan baju mandinya yang berwarna putih. Wanita itu mengerutkan dahi begitu bersitatap dengan Ethan. "Habis telponan sama siapa?" tanya wanita itu, cukup heran mendapati sang suami yang senyum-senyum sendiri setelah mengakhiri sambungan telepon.
"Bunda." Ethan menyahut singkat.
"Ohh, Bunda."
"Iya, saya baru saja berterimakasih sama. Bunda." sahut pria itu, Zoya memerhatikan dengan seksama ketika Ethan tampak belum selesai dengan kalimatnya.
"Saya berterimakasih karena Bunda sudah membuat istri saya bahagia hari ini." sambung pria itu yang membuat Zoya tersipu. Tapi wanita itu enggan menanggapi, ia memilih berjalan menuju walk in closet untuk segera berganti pakaian. Ethan justru mengekor di belakangnya. Memerhatikan sang istri yang bergati pakaian dengan sesekali merecoki istrinya tersebut dan membuat Zoya menggerutu.
**
"Kamu bisa atau tidak, sih, coba dengarkan saya."
"Dokter sudah bialang semalam jika kamu kelelahan. Kamu harus istirahat yang cukup. Bagaimana jika nanti sesuatu terjadi sama kamu?" panjang lebar Ethan bagai memarahi istrinya sendiri dengan karakter yang susah diatur.
"Kenapa memangnya kalau saya kenapa- napa?"
"Pak Ethan takut?" gadis itu menentang, membuat Ethan mengerutkan kening karena hal ini dilakukan Naina untuk pertama kalinya.
"Pak Ethan takut kalau keadaan saya memburuk dan hasil inseminasinya gagal sehingga saya tidak biaa mengandung anak Pak Ethan. Begitu?" oceh Naina sekali lagi yang berhasil menciptakan kerutan di dahi Ethan kian mendalam. Bercampur dengan rasa kesal di dadanya demi mengingat apa yang baru saja Naina katakan.
Ethan mengedarkan pandangan, memastikan jika Zoya masih ada di kamar dan tidak akan mendengar perdebatan yang terjadi antara ia dengan Naina.
"Apa kamu bilang?" tanya Ethan, namun Nain justru menundukan pandangan. Ia baru saja sadar jika dirinya sudah menentang Ethan.
Maksud Naina, ia tidak ingin memesan makan dari luar untuk mereka. Bukan saja karena ia yang merasa sudah enak badan. Namun juga karena hal yang Ethan lakukan rasanya membuat Naina merasa tidak enak. Ia tidak ingin jika nanti Ethan terbiasa memesan makanab dari luar. Lantas bagaimana sistem kerja Naina nanti?
"Kalau kamu memang tidak ikhlas membantu saya dengan Zoya, yasudah. Saya tidak akan memaksa kamu untuk mengandung anak saya!"
Naina memejamkan mata erat-erat mendengar nada dingin dan menusuk yang Ethan utarakan. Ia mengepalkan tangan kuat-kuat, meremas ujung rok yang tengah ia kenakan.
Ethan hanya berdiri menatap gadis itu. Sorot matanya tak terbaca, hingga kemudian tatapan itu meredup saat ia mendengar langkah seseorang di belakangnya.
Zoya.
__ADS_1
Wanita itu berjalan menuju dapur, ia mengerutkan kening melihat Naina dengan Ethan yang hanya saling terdiam. Zoya mempercepat langkah dan menghampiri keduanya dengan raut heran.
"Ada apa?" tanya Zoya ketika ia sudah ada di antara Ethan dengan Naina, ia menatap dua orang itu bergantian.
"Naina memaksa untuk memasak sarapan, saya sudah larang karena sudah pesan makan. Tapi dia bersikeras masak sendiri." terang Ethan, tatapan matanya tak putus dari gadis itu, membuat Naina benar-benar segan dan sekaligus merasa tertindas.
Zoya menatap Naina dengan tatapan penuh pengertian. "Naina," ia menegur gadis itu.
"Kamu tidak perlu masak, yah. Kan Ethan udah pesen, lagian kamu juga lagi sakit."
"Saya sudah mendingan Mbak."
"Yasudah, tidak apa apa. Tapi kamu istirahat aja yah. Saya nggak mau kamu kecapean nanti." bujuk Zoya, sekilas ia melihat sang suami yang sudah mengalihkan pandangan ke arah lain. Zoya sudah dapat menebak jika Ethan pasti memperlakukan Naina dengan kasar.
Setelah Zoya mengatakan hal tersebut, Naina mengangguk. Kemudian permisi untuk kembali beristirahat di kamar, meninggalkan Zoya dengan Ethan di dapur.
Zoya membalikan tubuhnya pada sang suami begitu Naina sudah menghilang dari pandangannya, ia menatap pria itu yang kini mengalihkan tatapan pada Zoya, Zoya hanya bisa mendesah.
"Kamu bisa nggak, sih, nggak perlu dingin-dingin gitu sama Naina? Dia jadi risih, Sayang. Kasihan, 'kan." ucap wanita itu mencoba menasihati sang suami.
"Saya begitu karena saya punya alasan, Sayang." seperti biasa pria itu membela dirinya sendiri.
"Iya aku tahu. Tapi nggak harus kaya gitu, apalagi saat sekarang. Gimana kalau Naina lagi hamil anak kamu?"
"Kalau kamu buat dia risih. Itu akan berpengaruh sama kandungannya Ethan!" kali ini Zoya membentak pria itu, membuat Ethan mendesah pasrah kemudian melangkahkan kakinya mendekat dan meraih Zoya dalam dekapan.
Sejujurnya membuat Zoya heran karena tidak seharusnya hal tersebut Ethan lakukan. Ethan mengusap belakang kepala wanita itu berulang-ulang. "Maafkan saya, yah."
"Kamu minta maaf sama Naina. Bukan aku."
"Iya, iya. Nanti saya minta maaf sama Naina. Sekarang sama kamu dulu." pasrahanya demi membuat sang istri tenang dan tidak marah padanya.
Zoya mendesah, tapi beberapa detik selanjutnya, ia membalas pelukan pria itu.
**
Pada malam harinya, ketika Zoya sudah lelap tidur dan Ethan lupa membawa air untuk dirinya sendiri. Akhirnya ia terpaksa turun ke lantai bawah, berjalan menuju dapur dan mengambil air dari dispenser.
Begitu menenggak dan menghabiskan segelas air, barulah Ethan tak merasakan haus lagi. Dari arah belakangnya, Naina yang membawa gelas untuk diisi air memilih untuk berbalik badan dan kembali berjalan ke arah kamar guna menghindari Ethan. Namun terlambat, saat pria itu sudah menyadari kehadirannya.
"Tunggu." Ethan membuat langkah kaki gadis itu tertahan.
Perlahan Naina membalikan tubuh pada Ethan, tetapi kepalanya tertunduk ke bawah. Ia masih merasa segan pada pria itu. Naina cukup sadar, apa yang dilakukannya pagi tadi pasti membuat perasaan Ethan tersinggung.
"Maaf untuk tadi pagi." ucap pria itu. Membuat Naina mengangkat pandangannya dan mempertemukan tatapannya dengan Ethan. Gadis itu menggelengkan kepala.
"Pak Ethan nggak perlu minta maaf. Saya yang seharusnya minta maaf." ucap gadis itu. Ethan terdiam setelahnya, hanya menatap Naina dan membuat Naina punn melakukan hal yang sama. Gerakan jarum jam yang terpasang pada salah satu sudut dinding adalah suara yang paling mendominasi di antara mereka.
Ethan benar-benar hanya diamndengan tatapan lekat pada Naina. Gadis itu pun sama. Ia tak ingin menepiskan tatapan itu.
TBC
Panas nggak, tuh.
__ADS_1