Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
The Story of the Day (II)


__ADS_3

"Saya cuma nggak mau terjadi hal buruk sama kamu." sahut pria itu seraya merapikan dasinya, Zoya yang berdiri di belakang sang suami hanya mengangguk - aanggukan kepala.


"Nanti aku ngobrol sama Mbak Selin buat urus semuanya, kamu nggak perlu khawatir yang berlebihan."


"Saya cuma khawatir, Sayang."


"Ya makannya aku bilang nggak perlu khawatir."


"Tidak bisa begitu."


Ethan yang sudah selesai merapikan diri berbalik dan mendekat pada wanita itu. "Saya nggak mau mengulang apa yang sudah terjadi. Saya nggak bisa kehilangan dia, dan juga kamu."


Zoya tersenyum, mengangguk - anggukan kepala. "Kamu tenang aja, aku bisa jaga diri baik - baik, yah. Kan ada kamu."


Ethan juga tersenyum, meski tak bisa ia pungkiri jika ia selalu khawatir terhadap keadaan istrinya. Terutama dengan keadaannya sekarang yang sedang mengandung buah hatinya.


Zoya dengan Ethan turun ke lantai bawah. Zoya segera berhambur memeluk Selin saat wanita itu sudah ada di lantai bawah. Selin yang mendapat pelukan tiba - tiba dari Zoya mengernyit heran. Tidak biasanya Zoya melakukan hal - hal menggelikan seperti ini kecuali ada kabar baik dari wanita itu.


Randy yang berdiri di samping Selin mengernyit pada Ethan atas tindakan istri dari pria itu, tapi Ethan hanya mengangkat bahu acuh tak acuh. Hari ini, ada dua alasan Randy datang pagi ke rumah Ethan. Pertama untuk menjemput pria itu, kedua untuk melihat keadaan Naina setelah subuh tadi Ethan menceritakan alasan pemutusan kerja sama dengan Eagle Pictures.


Randy sudah tau keadaan Naina baik - baik saja. Mereka sempat berbicara beberapa menit yang lalu sebelum Ethan dan Zoya turun.


"Ada apa ini?" tanya Selin, Zoya tak kunjung mengurai pelukan. Zoya hanya tersenyum. "Aku hamil."


"Hah?" Selin membulatkan mata. Zoya mengurai pelukan dan menatap manejer yang sudah ia anggap sebagai kakak itu.


"Kamu hamil?" tanyanya tak percaya dengan raut wajah terkejut. Zoya mengangguk, Randy yang mendengar hal itu juga ikut membulatkan mata.


"Zoya hamil?" tanyanya pada Ethan. Pria itu menganggguk dengan senyum penuh raut bahagia. Selin dan Randy saling bertukar pandang tak percaya. Sedangkan Ethan dan Zoya saling bertukar pandang ketika dua orang itu justru berpelukan.


Ethan mengernyit menatap Zoya, wanita itu hanya mengangkat bahu. Menatap dua orang yang sedang berpelukan itu sampai mereka sadar dengan sendirinya begitu Zoya mengatakan. "Perasaan yang mau punya anak itu aku sama Ethan. Kenapa yang heboh pelukan malah kalian?"


"Euu," Selin tampak salah tingkah, sama halnya dengan Randy yang menggaruk belakang kepalanya.


Ethan dengan Zoya saling bertukar pandang. Mengerti dan sepertinya mereka harus melakukan sesuatu hal.

__ADS_1


**


"Ini beneran tempatnya?" Randy bertanya pada diri sendiri begitu ia tiba di depan sebuah gedung bioskop dengan dua tiket di tangannya. Ethan sudah bilang jika pria itu akan mengajak Zoya menonton sebagai ucapan selamat untuk istrinya karena sudah mengandung anaknya. Juga ingin menikmati waktu berduanya dengan Zoya. Randy datang untuk mengantarkan tiket, namun Ethan tidak ada di tempat yang pria itu maksud untuk janji temu.


"Zoya ngapain, sih nyuruh ke sini?" gerutu Selin begitu ia memarkirkan mobil di depan gedung bioskop. Matanya mengernyit mendapati Randy tengah berdiri dengan raut bingung.


"Pak Randy," tegurnya menghampiri pria itu.


"Selin."


"Pak Randy ngapain di sini?" tanyanya heran.


"Aku disuruh –" Randy segera merogoh ponsel dan menggeser ikon hijau saat sang penelpon adalah Ethan.


"Pak Ethan –"


"Tiba - tiba Zoya mual, dia nolak keluar. Jadi kamu pakai aja tiketnya, sayang kalau dibuang." sahut pria itu yang membuat Randy mengernyit heran.


Bersamaan dengan pangilannya dan Ethan yang berakhir, ponsel Selin berdering. Telpon dari Zoya yang memberitahukannya jika ia sudah pulang.


Randy dan Selin saling bertukar pandang.


"Jadi?"


"Yaudah, kita maanfaatin. Kasian mereka udah nyusun rencana ini buat kita." sahutnya dengan wajah tanpa dosa.


"Tiketnya gratis." imbuhnya yang kemudian menggenggam tangan Selin dan membawa wanita itu memasuki gedung dengan modus menghargai usaha Ethan dan Zoya.


"Randy gercep juga." decak Zoya. Keduanya berada di dalam mobil dan tengah mengamati Randy dengan Selin sampai akhirnya dua orang itu memasuki gedung dengan saling bergandengan tangan.


"Randy, tuh, sebenernya –" kalimat Zoya tertahan begitu ia menolehkan wajah, ternyata jarak wajahnya dengan Ethan sangat berdekatan.


"Apa?" tanya pria itu saat Zoya tak kunjung melanjutkan kalimatnya.


"Nggak salah kita jodohin mereka? Randy kan labil."

__ADS_1


"Labil di mulut doang Sayang. Hatinya buat manejer kamu."


"So tau."


"Karena saya kenal Randy."


Akhirnya Zoya memilih diam dan mengangguk saja. Hari mulai gekap saat kemudian Ethan mengajaknya untuk pulang usai mereka berbelanja kebutuhan ibu hamil. Ethan pulang cepat dari kantor dan mengajaknya jalan. Juga merencanakan pertemuan antara Randy dengan Selin agar dua orang itu menghabiskan waktu bersama.


**


Randy dan Selin hanya duduk saling terdiam menikmati jalannya penayangan film yang tengah mereka tonton. Selin tau diam - diam Randy mencuri pandang terhadapnya. Hal yang membuat perasaannya tak karuan terutama saat tiba - tiba pria itu menggenggam tangannya.


Spontan membuatnya menoleh dan pandangan keduanya bertemu. "Selin,"


"I - iya Pak?" tiba - tiba ia menjadi gugup dan tak karuan seperti perasaannya.


"Gimana reaksi aku kalau aku bilang suka sama kamu?"


"Hah?" wanita itu cukup terlejut, terutama binaran mata Randy terlihat tak main - main dengan apa yang dikatakannya.


"Aku sayang sama kamu."


"Bukannya Pak Randy suka sama Naina, yah?"


"Suka sama sayang itu kedudukannya berbeda. Aku suka Naina karena dia baik, cantik, pintar masak dan sopan."


"Kalau ke kamu. Aku sayang kamu karena aku ngerasa perasaanku tertuju sama kamu. Kalau kamu tanya sejak kapan, aku nggak tau pasti. Tapi aku udah cukup lama ngerasain hal ini." jujur pria itu yang membuat Selin menatapanya dengan tatapan asing. Orang di hadapannya adalah sisi berbeda dari Randy saat pria itu tengah serius dengan urusan asmaranya. Seperti sekarang misalnya.


"Mungkin sejak saat aku terlalu sering bantu kaalmu keluar dari kerumunan wartawan. Aku sering narik tangan kamu, aku selalu merasa kesetrum kalau ngelakuin hal itu. Kaya sekarang misalnya, " menunjuk tangan dengan dagu karena tangannya sedang menggenggam tangan Selin.


"Sekarang aku kaya kesetrum, jangan lama lama, yah nanti gosong." melepas tangan Selin dan membuat wanita itu menggeleng bingung. Ia tiba - tiba merasa yakin, jika orang yang ada di hadapannya ini adalah Randy. Jenaka dan sedikit slebor.


Pria itu tak berkata apa - apa lagi. Yang ia lakukan selanjutnya setelah cukup lama keduanya saling bertatapan adalah mendekatkan wajahnya pada Selin, hendak meraih bibir wanita itu namun seseorang lebih dulu menginterupsinya.


"Mas, Mbak. Kalau mau pacaran jangan di sini, dong. Nggak tau, yah, kalau saya ini jomblo?"

__ADS_1


TBC


Randy said : Baru juga mau dapet enak. Wkwk


__ADS_2