
Itu adalah hari minggu saat Zoya harus berangkat pagi-pagi ke lokasi syuting karena ia harus take pagi. Sedangkan Ethan tetap di rumah bersama dengan Naina yang akhir-akhir ini banyak beristirahat karena kondisi tubuhnyan yang lemas.
Gadis itu tengah melihat-lihat bunga saat tiba-tiba saja gerimis turun menapaki bumi, padahal semula cuaca begitu cerah di minggu pagi.
"Naina," Ethan yang muncul dari pintu kaca samping rumah memanggil gadis itu dan membuat Naina beranjak menghampirinya seraya menadahkan tangan agar gerimis yang mulai membesar tak membasahi kepalanya.
"Jangan berlari!" cegah Ethan saat langkah gadis itu mengikutinya masuk ke dalam rumah sambil setengah berlari, membuat Naina memelankan laju kakinya dan mengekor di belakang Ethan seperti anak yang mengikuti induknya.
Ia duduk pada sofa seraya mengusap tangannya yang basah dengan tissue, bahkan rambutnya juga basah dan sedikit berantakan karena terkena gerimis yang dengan cepat menyerbunya ketika hujan turun dengan begitu deras.
Ethan yang muncul dari arah dapur dengan segelas susu di tangannya dan juga handuk berwarna putih yang tersampir di pundaknya lantas duduk di samping gadis itu, menyerahkan segelas sudu yang dibawanya pada Naina.
"Kenapa kamu malah hanya berdiri di sana, sudah tahu gerimis tapi tidak buru-buru masuk." Ethan mengomeli gadis itu, tangannya menyampirkan handuk ke atas kepala Naina.
Naina yang tengah meminum susunya tak menyahut, ia bahkan hanya pasrah saat Ethan menggosok rambutnya dengan handuk.
"Mas Ethan, biar aku aja." sahut Naina usai menghabiskan segelas susu yang belakangan rajin dikonsumsinya. Ia sedikit menjauh dari jangkauan Ethan dengan tangan yang memegang handuk di kepalanya.
Ethan mengangguk, membiarkan gadis itu mengeringkan rambutnya sendiri.
"Rival menitipkan kamu pada saya. Jadi saya harus menjaga kamu dengan baik." sahut Ethan barangkali Naina salah paham dengan perhatiannya. Naina hanya diam penuh pemahaman, tak berkomentar apapun. Ketika tidak ada reaksi daru gadis itu, Ethan menatap Naina.
"Selain itu, kamu juga masih istri saya, jadi sudah tanggung jawab saya merawat kamu." sambungnya yang membuat Naina sesaat menahan gerakan tangannya.
"Tapi–"
"Aku tahu." Naina menyela kalimat pria itu, saat Ethan menatapnya, ia mengukir senyum. "Mas Ethan nggak perlu khawatir, aku nggak akan salah paham lagi."
Kalimat yang gadis itu katakan membuat Ethan terdiam di tempatnya. Naina sendiri menaruh handuknya setelah rambutnya dirasa kering.
"Ternyata, setelah aku ungkapan gimana perasaan aku sama kamu, semuanya memudar begitu aja. Aku sadar kalau perasaan cinta aku ke Mas Ethan cuma sesaat, sisanya hanya kagum yang mendalam."
"Mas Ethan laki-laki yang baik, setia sama Mbak Zoya. Sepertinya siapapun nggak ada yang akan bisa bikin kamu berpaling dari Mbak Zoya." Ethan mengangguk mengiyakan kalimat yang gadis itu katakan.
"Sangat wajar kalau setiap wanita menjadikan Mas Ethan kriteria idamannya. Begitu juga aku, aku ingin yang seperti Mas Ethan. Tapi bukan berarti harus kamu."
***
Dua hari sebelum berangkat ke Eropa untuk syuting terakhir, para staf berinisiatif untuk menggelar acara jumpa fans di lokasi syuting usai mereka take singkat di hari tersebut.
Semua para pemain tampak begitu antusias bertemu para fansnya, termasuk juga Zoya. Acara jumpa fans tersebut dihadiri oleh banyak fans dari masing-masing aktris dan aktor. Sekalipun jumlah mereka dibatasi, namun yang hadir cukup memenuhi area lokasi.
Selain itu, digelar pula siaran langsung dari acara tersebut agar para fans yang tak bisa datang mendapat sapaan dari para idolanya melalui media online.
Hal tersebut dilakukan para staf agar semangat para pemain kian memanas. Juga apresiasi pada para fans yang sudah dengan setia mendukung kelancaran syuting selama ini.
"Zoya."
__ADS_1
Zoya melepas gandengan tangan Ethan begitu mendengar suara dari belakang yang memanggil namanya. Ia menoleh dan melihat seorang anak kecil dengan pakaian formal yang tampak rapih.
Pria kecil itu melangkah menghampiri Zoya seraya menyerahkan sebuah pena. Zoya meraihnya, "mau minta tanda tangan?" tanya Zoya. Pria kecil itu mengangguk.
"Kamu tertinggal?" tanya Zoya lagi karena acara jumpa fans sudah selesai sejak setengah jam yang lalu. "No, aku sengaja datang terakhir. Asistenku sudah menghubungi salah satu staf jika aku akan datang terakhir." ocehnya.
Zoya tersenyum, ia berjongkok guna menyeimbangkan tinggi tubuh mereka. "Di mana aku harus tanda tangan?" tanyanya karena anak itu tidak membawa apapun kecuali hanya pena.
"Di sini." seseorang dari arah belakangnya menyahut. Seorang wanita yang tampak kerepotan membawa buket bunga, poster wajah Zoya dan sebuah paper bag.
"Asistenku." anak kecil itu memberitahu. Zoya tersenyum menatap pria kecil yang tampan itu. Kulitnya putih, saat tersenyum ia memiliki lesung pipit di pipi bagian kiri dan matanya akan spontan menyipit. Rambutnya hitam legam dengan gaya rambut curtain haircut yang serasi dengan penampilannya, bibir mungilnya merah dan basah. Sangat tampan.
"Tuan Muda Keenan, putra pertama pemilik Rumah Produksi." asistennya memperkenalkan. Zoya mengangguk paham, rupanya pria kecil di hadapannya adalah calon pewaris tahta sang ayah.
"Tandatangan di sini, Tuan Muda Kenan sangat tertarik dengan anda. Yang dia tahu, anda adalah aktris cantik pujaannya karena sering melihat iklan anda di layar televisi." asisten Tuan Muda itu berbisik pada Zoya diakhir kalimatnya dan menyerahkan poster pada Zoya setelahnya.
Zoya mengangguk mengerti, segera membubuhkan tandatangannya di sana dan menerima sebuket besar bunga dari Kenan juga paper bag berisi hadiah dari sang Tuan Muda kecil itu.
"Terimakasih." ucapanya begitu Zoya selesai membubuhkan tandatangannya. Zoya mengangguk dan mengusap lembut puncak kepalanya.
"Sekarang, boleh aku yang kasih tandatangan?"
Pertanyaannya membuat Zoya mengerutkan kening dengan senyum tertahan. Terlebih, saat Tuan Muda itu menunjuk pipi kanan Zoya.
Zoya menoleh pada sang suami. "Boleh?" Kenan bertanya pada Ethan, Ethan melipat tangannya di dada dengan senyum tipis di bibirnya, kemudian mengangguk.
Mungkin, pria kecil itu mengira dirinya adalah bodyguard Zoya. Asisten Keenan mengangguk samar pada Ethan guna meminta maaf atas apa yang Tuan Mudanya katakan.
Zoya hanya tersenyum dan mengangguk-anggukan kepala, lantas mendekatkan wajahnya pada Keenan, membuat pria kecil itu mendaratkan bibirnya dengan sempurna di pipi Zoya.
Zoya tertawa setelahnya melihat sorot puas di wajah Keenan. "Terimakasih." ucapnya. "Sama-sama." Zoya mengangguk dan mengusap puncak kepala anak itu untuk terakhir kali karena setelahnya Keenan pamit setelah berhasil mendapat tandatangan Zoya juga bonus mengecup pipi wanita itu.
"Saya ingin cemburu, tapi dia terlalu menggemaskan." Ethan berseru dan membuat pandangan Zoya yang semula menatap kepergian Keenan menuju sebuah limosin putih teralihkan pada Ethan.
"Iya, dia sangat menggemaskan." Zoya menyahut, Ethan tersenyum, mengusap puncak kepala wanita itu dan menggandeng tangan Zoya untuk kembali melanjutkan langkah mereka menuju mobil dan pulang.
Di dalam mobil, Zoya membuka hadiah dari Keenan. Sebuah jam tangan mewah yang terbuat dari perak dengan ukiran inisial nama Zoya di dalamnya. Sangat cantik, Zoya dapat menebak jika pembuatan jam tangan tersebut pasti cukup memakan waktu yang lumayan.
Keenan pasti sangat mempersiapkan diri dengan baik untuk bertemu dengan Zoya.
***
Zoya mendapat jatah libur usai acara jumpa fans, selain itu semua anggota tim juga harus beristirahat sebelum keesokan harinya harus berangkat menuju luar negri untuk syuting adegan terakhir film.
Pada malam hari, Zoya cukup sibuk mempersiapkan barang-barang yang akan diperlukannya nanti. Terlebih, menjelang siang ia dijemput oleh Freya untuk diajak ke rumah Grrycia dalam acara arisan keluarga.
Ditengah-tengah acara arisan yang masih berlangsung, Zoya harus buru-buru pulang saat Ethan mengiriminya pesan jika Naina mengalami pendarahan. Tentu saja hal tersebut membuat Zoya sangat terkejut, ia bahkan begitu panik disaat seharusnya mampu menyembunyikan kekhawatirannya pada Naina saat Freya bertanya alasan mengapa ia ingin buru-buru pulang.
__ADS_1
"Bunda antar aja, yah, Sayang." bujuk Freya saat wanita itu berpamitan. "Nggak usah Bunda, Zoya udah pesan taksi online, sebentar lagi datang." tolak halus Zoya. Tak lama, ia memeriksa ponselnya. "Taksinya udah nunggu di depan Bunda. Zoya duluan, yah." pamitnya sekali lagi pada semua orang yang ada di ruang utama rumah Grrycia.
"Ada apa?" Grrycia bertanya begitu cucu menantunya berlalu.
"Enggak tahu, Mi. Bilangnya Ethan udah nyampe rumah dan minta Zoya buru-buru pulang." Freya menyahut dengan raut bingung.
"Biasanya juga dia pasti jemput istrinya." sambung wanita itu, tak mengerti.
"Biasalah, pengantin muda." Grrycia menenangkan.
***
Ethan pulang ke rumah lebih cepat begitu pekerjaannya usai. Setibanya di rumah, ia justru mendapat kejutan tak terduga ketika mendengar jeritan Naina dari arah dapur. Ethan tentu saja buru-buru memeriksa keadaan Naina dan melihat gadis itu yang terduduk di lantai kamar mandi. Rupanya Naina terpeleset saat buru-buru memeriksa sayur yang dibuatnya.
Semula gadis itu mengatakan baik-baik saja dan menolak saat Ethan akan menelpon dokter kandungan pribadi Naina yang sudah Ethan dan Zoya sewa.
Namun saat melihat darah segar mengaliri betis gadis itu, Ethan tak bisa lagi mendengarkan Naina, ia segera menghubungi dokter dan juga Rival. Pria itu tentu saja harus tahu keadaan Naina.
Orang yang terakhir Ethan hubungi adalah istrinya. Ethan hampir lupa mengabari wanita itu.
"Kamu bahkan tidak bisa menjaga Naina?" Rival tampak kesal saat mengetahui Naina mengalami pendarahan. Beruntung, kata dokter, janin gadis itu dalam kondisi yang baik-baik saja.
"Aku bahkan baru pulang dari perusahaan saat itu." Ethan enggan disalahkan karena memang ia tidak salah. Seharusnya Rival berterimakasih karena hari ini Ethan pulang cepat dan dapat menemukan Naina dengan cepat pula.
"Kamu bisa menyuruh Naina untuk tidak perlu mengerjakan pekerjaan rumah."
"Bagaimana jika terjadi apa-apa dengan calon anakku, Ethan?" emosi Rival masih tak dapat dibendung.
Ethan memijat pelipisnya, ia bahkan belum beristirahat usai pulang dari perusahaan dan menemukan Naina yang terjatuh dari kamar mandi serta mengalami pendarahan. Tetapi Rival datang dan memaki, bebar-benar menyulut emosi yang Ethan miliki.
"Aku tidak pernah menyuruhnya mengerjakan pekerjaan rumah sejak dia hamil."
"Aku juga sudah katakan, aku baru saja pulang dari perusahaan dan menemukan Naina sudah terjatuh." Ethan menegaskan, sstengah tak bisa menahan amarahnya.
Kali ini Rival terdiam, ikut memijat pelipisnya. Sekalipun Naina baik-baik saja begitu juga janin yang dikandungnya, ia tetap saja merasa kesal. Kesal pada Ethan yang tak bisa menjaga Naina dengan baik. Juga kesal pada dirinya sendiri karena bahkan tak bisa menjaga gadis itu dan calon anaknya.
"Ada apa kalian ribut-ribut?"
Dua orang yang sama sama saling terdiam setelah beradu mulut itu menoleh ke sumber suara. Air muka Ethan tampak berubah saat melihat kehadiran Zoya, pria itu tampak terkejut mendapati sang istri.
"Ka–kamu,–Sayang sejak kapan kamu datang?" tanya Ethan, berharap Zoya tak mendengar perdebatannya dengan Rival tadi.
"Barusan, gimana keadaan Naina?" Zoya memilih mengabaikan dua orang itu dan memastikan keadaan Naina. Ia melangkah cepat menuju kamar Naina dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya.
Zoya mendengar apa yang Ethan dan Rival ributkan. Ia mendengar semuanya.
Ia mendengar kalimat pertama yang Rival katakan. Begitu juga pengakuan Rival atas anak yang tengah Naina kandung.
__ADS_1
TBC