Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Gosip murahan.


__ADS_3

Devid sudah berangkat ke Rumah Sakit. Syfa pun sedang tertidur pulas. Airin memindahkan Syfa ke dalam box bayi yang sudah ada dikamar itu. Box bayi itu cantik sekali. Sepertinya Ibu mertuanya benar benar telah menyiapkan segalanya untuk kedatangannya.


Kemudian Airin berjalan jalan menyuusuri kamar barunya itu. Seperti anak kecil yang takut kalau kalau nanti dia akan menyenggol sesuatu barang dan pecah, Airin berjalan pelan dan sangat hati hati.


Ada meja rias yang cukup besar. Diatasnya tersusun rapi segala pernak pernik seperti parfhum dan lainnya. Sudah pasti itu semua kepunyaan Devid. Dikamar itu juga ada kamar mandinya. Airin membuka pintunya, kamar mandi juga cukup luas. Jangan dibandingkan dengan kamar mandinya di rumah. Airin tersenyum membayangkannya.


Ada walk in closet juga. Disana ada lemari, Airin mencoba membukanya. Banyak jas pria dan juga seragam Dokter disana. Dan juga pakaian lainnya kepunyaan Devid. Saat Airin membuka lemari yang lain. Ada baju baju wanita juga. Airin heran, bukankah ini kamarnya Dokter Devid. Kenapa ada pakaian wanita disini. Tapi pakaian ini semua seperti masih baru, karena masih ada labelnya. Kemudian Airin membuka lemari yang lain, disana juga tersusun pakaian anak2 perempuan. Airin pun mencoba menyentuhnya. Dari ukurannya seperti ukuran Syfa.


"Apa mungkin semua ini baju baju untuk aku dan Syfa ?" fikir Airin dalam hati tak percaya.


Kemudian Airin berjalan lagi, dikamar itu ada pintu kaca yang membukanya dengan cara digeser. Pintu kaca itu menghubungkan kamar dengan balkon.. MasyaAllah, Airin sangat takjub berdiri balkon itu. Dia bisa menyaksikan pemandangan darii atas sini.


"Tok... tok.. tok.." Ada yang mengetuk pintu.


"Iya,, siapa.." Tanya Airin.


"Saya Nyonya, Bik Ros" Suara Art Bunda Anita.


"Masuk Bik, tidak dikunci." Sahut Airin. Dan Bik Ros pun masuk.


"Nyonya Muda dipanggil sama Ndoro ke bawah." Kata bik Ros.

__ADS_1


"Oiya Bik. Tapi Syfa masih tidur." Ujar Airin ragu.


"Biar saja Nya, saya disuruh Ndoro untuk jagain Non Syfa disini." Jawab Bik Ros.


"Ooo,, baiklah. Titip Syfa Ya Bik." Ujar Airin. Kemudian dia pun keluar menemui Ibu mertuanya.


"Sini sayang, kita makan siang sama sama. Devid memang begitu, selalu sibuk dengan pekerjaannya. Padahal kemaren dia bilang sudah ambil cuti tiga harian.. Eh, ini baru sehari sudah kerja lagi." Ujar Anita saat melihat Airin menuruni anak tangga. Airin hanya tersenyum mendengarkannya. Dan mereka pun makan bersama.


Sementara itu di rumah Syahdan. Terlihat Syahdan baru saja terbangun dari tidurnya. Dia merasakan kepalanya sangat pusing sekali. Seperti orang yang habis mabuk karena miras. Dia mencoba mengingat ingat kejadian kemaren. Dan setelah mengingat semuanya. Kembali hatinya dipenuhi amarah.


"Devid..." Ujarnya lirih. Kembali rasa sakit dan amarah itu menguasai hatinya. Syahdan mengebpalkan tangannya. Rasa bencinya benar benar membuncah. Ingin sekali dia menghajar Devid.


"Aaaaaarrrgggghhhhhhh.... Aaaaarrrggghhhhhhh" Syahdan berteriak sekuat kuatnya melepaskan rasa sesak di dadanya.


"Sebegitu hancurkah kamu mas.." Ucap Luna lirih. Airmata Luna pun menetes kembali.


"Maaasss..." Panggil Luna lembut.


Syahdan mengangkat wajahnya. Dia menatap Luna yang menangis didepan pintu. Dia tersadar, seharusnya dia tidak boleh seperti ini. Tampak lemah didepan Luna. Sementara hanya tinggal dia lah tempat Luna berlindung sekarang. Syahdan pun melambaikan tangannya, seraya menyuruh Luna mendekat. Luna pun perlahan berjalan mendekati Syahdan. Kemudian duduk disamping Syahdan.


"Maafin mas ya, seharusnya mas tidak boleh seperti ini." Ujar Syahdan sambil memeluk Luna adik semata wayangnya.

__ADS_1


Tangis Luna pun makin pecah, bahunya naik turun menahan isak tangis. Dia tak mampu berkata kata. Dia hanya sanggup berdo'a dalam hati agar mas nya kembali seperti dulu lagi. Seorang pengacara yang tangguh, percaya diri dan pantang untuk dikalahkan.


Syahdan membelai rambut Luna, seakan memberikan ketenangan untuk adiknya itu. Karena masalah pribadinya dia jadi lupa dengan perasaan Luna. Mereka baru saja berduka, Luna pun masih terlihat sedih. Tapi sudah menyaksikan kehancuran hatinya.


"Sudah, jangan nangis lagi. Mas nggak selemah itu kok. Kamu tau kan siapa mas mu ini." Ujar Syahdan membujuk Luna agar berhenti menangis.


Sementara itu Devid baru saja menyelesaikan tugasnya di Rumah Sakit. Dari siang tadi ada beberapa pasien yang harus ditanganinya. Karena tidak bisa digantikan oleh Dokter lain. Sekarang Devid sedang bersiap siap untuk pulang. Dia tak ingin memberikan image yang buruk pada Airin. Baru hari pertama dia menjadi istri sudah diabaikan. Meskipun rasa Cinta itu belum ada, setidaknya jangan sampai Airin berfikir negatif akan dirinya. Apalagi dia tau kalau Airin punya masa lalu yang kelam tentang pernikahan.


Devid berjalan menyusuri koridor Rumah Sakit. Sudah biasa baginya menjadi pusat perhatian para perawat ataupun tenaga Medis lainnya. Bukan hanya karena dia presdir Rumah Sakit ini. Tapi juga karena ketampanan dan kharismanya yang memang membuat para wanita banyak memendam rasa.


Tetapi sore ini Devid merasakan berbeda. Ada beberapa pandangan mata tak suka menatapnya. Ingin devid behenti dan bertanya kenapa menatap seperti itu padanya. Tapi fikir Devid itu hanyalah buang buang waktu saja.


"Iya, banyak yang nggak percaya sih dengan gosip itu. Apa mungkin Dokter Devid setega itu. Apa yang kurang sih darinya, sudah tampan, kaya, presdir lagi. Masa setega itu mengambil pacar sahabat sendiri." Tak sengaja Devid mendengar suatu obrolan. Saat dirinya akan melewati meja perawat. Mungkin saking asyiknya bergosip mereka tidak menyadari kalau orang yang mereka bicarakan itu lewat didepan mereka langsung.


Devid sedikit terkejut, bagaimana bisa berita itu langsung tersebar di Rumah Sakit ini. Pasti ada yang memulai nya. Tapi siapa ? Karena Devid masih belum mempublikasikan langsung tentang pernikahannya dengan Airin.


Devid berusaha untuk tetap nampak tenang. Dia meneruskan langkahnya. Sambil mengambil ponsel dibalik jas. Devid langsung menghubungi orang kepercayaannya.


"Hallo, Anton. Kamu dimana ?" tanya Devid. Dan orang diseberang sana pun menjawabnya.


" Apakah kamu juga sudah mendengar gosip itu."

__ADS_1


" Saya mau kamu segera selesaikan. Cari siapa dalangnya." Perintah Devid. Tak lama devid mematikan ponselnya. Dan melanjutkan perjalanannya.


Devid masih berfikir siapa yang telah menyebarkan gosip murahan itu. Apakah Fiona., di Rumah Sakit ini yang tau persahabatan nya dengan Syahdan hanyalah Fiona. "Tapi tak mungkin Fiona, kan Fiona belum tau siapa istriku." Ucap Devid dalam hati.


__ADS_2