
"Kamu beneran nggak papa?" tanya Zoya memastikan keadaan Naina. Ia sudah lebih dari tiga kali menanyakan hal tersebut kepada gadis itu setelah sebelumnya Naina sempat setengah berlari menuju toilet.
"Saya nggak apa-apa Mbak." Naina meyakinkan dengan senyum yang terukir di bibirnya. Tapi Zoya masih menatapnya dengan tatapan khawatir. Ia takut jika inseminasi yang gadis itu lakukan berpengaruh pada kesehatan tubuh Naina.
"Saya baik-baik aja." Naina meyakinkan begitu melihat Zoya yang masih menatapnya dengan sorot iba. Gadis itu memang merasa sudah jauh lebih baik setelah memuntahkan isi perutnya. Meski ia masih merasakan pusing di kepalanya. Tapi hal itu jauh lebih baik dari beberapa saat lalu ketika ia merasakan jika perutnya seperti diaduk-aduk.
Begitu makanan yang Freya pesan tiba. Ketiganya menikmati makan siang. Tetapi Naina tampak tak menikmati, ia tampak tidak berselera menghabiskan makanannya padahal lobster saus asam manis yang Freya pesan sangat menggiurkan bagi siapa saja yang melihatnya. Namun Naina benar-benar tak ingin memasukkan makanan tersebut ke mulutnya. Hal tersebut membuat Freya memperhatikan gadis itu.
"Naina, kamu tidak suka lobster?" tanya Freya yang membuat Naina merasa tidak enak jika ia harus menganggkkan kepala.
"Kalau kamu tidak suka, kamu bisa pesan yang lain." sambung wanita itu, sementara Naina hanya tersenyum canggung membuat Zoya juga memerhatikannya, untuk kali ini Zoya juga tidak tahu apakah Naina suka atau tidak pada lobster.
"Kamu mau makanan lain, kalau begitu biar saya pesankan." Zoya buka suara. Cukup paham jika barangkali Naina merasa canggung pada Freya. Sedangkan Zoya tak ingin membawa gadis itu dalam situasi canggung seperti ini.
"Tidak perlu, Mbak. Saya suka kok. Cuma, rasanya agak gimana gitu. Lobsternya terlalu besar, saya nggak akan bisa abisin kayaknya." gadis itu menjawab dengan senyum polos, membuat Zoya dengan Freya hanya beradu pandang dan tersenyum lembut melihat tingkah Naina.
Setelahnya, mau tidak mau Naina akhirnya menghabiskan makanannya. Obrolan yang terjadi di meja makan hanya seputar bagaimana kegiatan syuting yang Zoya lakukan beberapa hari ini.
Tampaknya ia sengaja membahas hal itu, karena jika membahas perihal Zoya dengan Ethan. Maka bahasanya akan merambat pada keturunan, hal yang sangat tidak bisa dihindari jika membahas pasangan suami istri. Freya memang mertua yang pandai menjaga perasaan menantunya.
Ia sempurna, terlalu sempurna bahkan. Naina mengaguminya.
Naina lantas mengalihkan tatapannya pada Zoya yang selalu tersenyum sepanjang perjalanan hingga saat ini sedang menikmati makanan. Naina terkesiap saat wanita itu tidak sengaja menumpahkan minuman hingga membuat pakaian yang dikenakannya sedikit basah.
"Astaga, Zoya." Freya ikut terkejut. Sedangkan Zoya mengangkat tangannya ke udara. Meminta Freya agar tenang saja.
"Enggak papa, Bunda. Cuma basah sedikit aja." sahut Zoya agar Freya tidak khawatir dengan keadaannya. Toh hanya minuman dingin dan Zoya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Naina segera menyodorkan tissue pada wanita itu.
"Tapi bagaimana kalau kamu masuk angin, Sayang?"
Zoya tersenyum lebar pada Freya, kemudian menggelengkan kepala. "Enggak apa-apa, Bun."
"Zoya ke toilet sebentar, yah." pamitnya kemudian, Freya hanya bisa mengangguk. Sedangkan Zoya segera berlalu ke arah menuju toilet. Meninggalkan dua orang itu di sana. Freya dengan Naina sama-sama menatap kepergian Zoya hingga punggung wanita itu menghilang dari pandangan.
Lantas Freya mengalihkan tatapannya pada Naina yang mulai kembali melanjutkan makan itu, hingga kemudian Naina yang sadar jika Freya tengah memerhatikannya lantas mengangkat pandangan, ia terdiam mendapati pria yang tengah menatapnya.
"Mohon maaf, ada apa ya, Bu?" gadis itu bertanya gugup.
"Tidak ada apa-apa, tapi saya perhatikan tampaknya Zoya sangat baik sekali sama kamu. Karena kalau enggak, dia tidak akan mau ngajak kamu jalan sama saya." sahut priaFreyadengan senyum lembut. Naina balas tersenyum. Apa yang Freya katakan sudah benar-benar terbukti. Bagaimana kebaikan wanita itu selama ini padanya selama ia bekerja dengan Zoya.
"Ibu benar, Mbak Zoya baik sama saya. Sangat baik sekali." sahut Naina mengingat fakta tersebut. Ia tersenyum dengan kenangan di kepalanya yang berputar bagai roll film mengenai bagaimama kebaikan Zoya selama ini.
Dan juga Ethan.
**
__ADS_1
Usai makan siang tersebut, Freya mengajak Zoya ke sebuah tempat setelah mereka membeli banyak sekali mainan dan juga camilan. Wanita itu tidak memberitahukan mereka tempat tujuannya, membuat Zoya hanya sabar menunggu tiba dengan hati yang bertanya-tanya kemana kira-kira Freya akan membawanya.
Hingga kemudian mobil berhenti di depan sebuah bangunan sederhana. Sebuah gapura bertuliskan Panti Asuhan membuat rasa penasaran Zoya sirna seketika. Sekarang ia tau alasan kenapa Freya membeli banyak mainan dan juga camilan.
Ia tersenyum canggung pada mama mertuanya tersebut, Freya menoleh dan tersenyum lembut pada menantunya setelah menghentikan mobil di depaan gerbang, Freya menyentuh punggung tangan Zoya.
Sedangkan di bangku belakang, Naina juga bertanya-tanya alasan Freya membawa Zoya ke pantai asuhan. Bukankah hal tersebut akan sangat sensitif bagi Zoya?
"Sayang, kamu tidak perlu bersedih lagi. Di sini tempat berkumpulnya para malaikat kecil, mereka akan membuat kamu terus tersenyum." kalimat singkat itu keluar dari bibir Freya. Bagai sebuah sihir, apa yang wanita itu katakan benar-benar membuat hati Zoya tenang. Tetutama saat mereka masuk dan bertemu dengan banyak anak-anak.
Freya mengajaknya untuk bertemu dengan pengurus panti. Sepanjang perjalanan menuju sebuah ruangan paling belakang bangunan, Zoya banyak menemui anak kecil yang tampak menggemaskan. Sesekali Zoya juga meraih tangan dan mengusap puncak kepala mereka yang pastinya haus akan sentuhan kasih sayang.
Rasanya ...., menyenangkan.
Ketika Freya mengobrol dengan ibu panti. Zoya memilih untuk pergi dan menunggu di luar, ia ikut bergabung, bermain dengan anak-anak.
"Siapa namamu?" Zoya bertanya pada salah satu anak lelaki yang terlihat begitu tampan dan tampak aktif sekali. "Zayn." bocah itu menyahut singkat.
"Zayn?" wanita itu memastikan. Bocah tersebut mengangguk, membuat Zoya mengukir senyum, tangannya meraih puncak kepala Zayn yang sedang bermain eskavator. Bocah itu menatapnya dalam-dalam.
Sedangkan dalam jarak yang cukup jauh. Naina mengambil ponsel, membuka fitur kamera dan mengambil beberapa gambar Zoya.
"Mami." bocah itu tiba-tiba saja berucap. Sejenak membuat Zoya mengerjap gugup. tubuhnya kaku. Ketika anak itu menatapnya dengan senyuman, justru Zoya memaku di tempatnya.
**
Anak-anak panti balas melambaikan tangan padanya dengan senyum mengembang di wajah mereka. Tatapan Zoya jatuh pada Zayn yang tersenyum dengan tulus padanya. Membuat Zoya terpana dengan tatapan anak itu.
Sekilas bayangan wajah Zayn saat memanggilnya Mami terlintas di kepala Zoya.
"Kenapaa kamu memanggil saya Mami?" tanya Zoya begitu ia mengendalikan perasaannya pada anak kecil itu.
"Hanya ingin." Zayn menyahut singkat.
"Hanya ingin?" Zoya mengulang perkataan Zayn dengan dahi berkerut.
"Senyummu tulus. Aku berharap diadopsi oleh orang sepertimu."
Ketika Freya mulai menghidupkan mesin mobil dan keluar dari gerbang panti asuhan. Sebuah mobil sedan putih tiba dan memasuki gerbang panti. Zoya menoleh ke belakang. Sekali lagi melihat Zayn yang ia tinggalkan.
"Terimakasih, Bunda." ucap Zoya setelahnya, menoleh pada Freya yang tengah fokus menyetir. Freya tersenyum, menganggukan kepalanya. Mengalihkan pandangan ke depan untuk memastikan jika jalanan aman, kemudian menoleh pada menantunya.
"Kamu senang?" tanyanya, Zoya segera menganggukan kepalanya penuh antusias. Ia senang, bahkan sangat senang sekali bertemu para malaikat kecil itu.
"Bunda sudah kasih tahu Ethan kalau Bunda ajak kamu ke sana." Freya bercerita. Zoya mendengarkan dengan mata memerhatikan mama mertuanya.
__ADS_1
"Dia marah." sambung Freya dengan raut wajah yang pasrah.
"Marah?" heran Zoya dengan dahi berkerut mendengar pengakuan Freya. Freya mengangguk. Berbeda dengan Zoya yang terdiam, sampai kemudian ia mengerti alasan mengapa Ethan bisa marah hanya karena Freya membawanya ke panti asuhan.
"Bilang ke Ethan Bunda, kalau Zoya baik-baik aja." sahutnya, Freya lagi-lagi hanya mampu tersenyum.
"Nanti kamu sendiri yang bilang ke Ethan, yah. Sayang. Mantu Bunda, 'kan hebat." Freya menanjung, membuat Zoya tersipu. Ia menoleh ke bangku belakang di mana Naina duduk di sana, gadis itu juga ikut tersenyum dengannya.
***
Zoya dengan Naina segera turun dari mobil begitu mobil yang dikemudikan Freya berhenti di depan gerbang rumah. Zoya mengajak wanita itu untuk mampir dan menginap namun Freya menolak dengan alasan Agyan. "Ayah kamu pasti lagi nungguin Bunda sekarang di rumah."
Zoya dengan Naina berjalan memasuki gerbang dengan langkah santai. Senyum di bibir Zoya terus terukir, faktanya nikmat Tuhan padanya begitu besar dari segi apapun. Terkadang, memang Zoya sendirilah yang tidak pandai bersyukur.
"Naina." tegur Zoya karena gadis itu hanya terdiam.
"Naina." Zoya memanggil gadis itu sekali lagi. Naina tampak menoleh dengan tatapan kosong, tak lama gadis itu segera memegangi kepalanya. Zoya mendekat pada gadis itu, ikut memegangi dahi Naina memastikan jika suhu tubuh gadis itu normal.
"Kamu sakit?" tanyanya. Naina menggeleng pelan. Meski sejujurnya ia merasa sedikit pening, padahal sebelumnya sakit di kepalanya sudah reda.
"Enggak papa, Mbak."
"Beneran?" Zoya memastikan, merasa tidak yakin atas jawaban Naina sedangkan wajah gadis itu tampak pucat sekali.
"Saya baik-baik aja." Naina memaksakan senyumnya demi meyakinkan Zoya agar wanita itu tidak khawatir dengan keadaannya.
Lanjut berjalan, Zoya mengikuti langkah Naina dari belakang sambil memastikan keadaan gadis itu jika Naina benar- benar baik - baik saja sesuai apa yang dikatakannya.
Begitu keduanya tiba di teras rumah, pintu terbuka. Zoya baru sadar jika mobil sang suami sudah terparkir di garasi. Ethan berdiri di sana menyambut kedatangan keduanya. Wajahnya tampak khawatir begitu melihat Zoya.
Jujur Ethan memang cukup terkejut saat Greya mengabarinya jika ia mengajak Zoya ke panti asuhan. Ethan hanya takut jika ambisi Zoya untuk memiliki anak kambuh lagi.
"Ethan." Zoya setengah berlari memeluk Ethan, membuat pria itu terkesiap menahan tubuhnya sendiri saat Zoya menubruk tubuhnya. Ia tersenyum saat Zoya memeluknya dengan erat, ia bernapas lega mendapati keadaan sang istri yang tampaknya baik-baik saja
. Ethan membalas pelukan Zoya setelah sekilas mengecup puncak kepala wanita itu.
"Bagaimana hari ini?" tanyanya tepat di telinga Zoya.
"Menyenangkan." wanita itu menyahut seraya mempererat pelukannya, menenggelamkan wajahnya di pundak Ethan kian dalam, terutama saat pria itu juga mempererat pelukan di pinggang Zoya.
Keduanya terlalu terlena, hingga suara jatuh dari arah belakang punggung Zoya membuat keduanya mematung. Kemudian mengurai pelukan dan melihat Naina yang tergeletak di lantai.
"Naina."
TBC
__ADS_1