
"Gimana, Zoy?" Selin bertanya begitu Zoya keluar dari ruangan Ethan. Wanita dengan rambut panjang itu hanya mendesah dan menggelengkan kepalanya dengan pasrah. Tangannya menyodorkan sebuah kotak yang tadi diberikan Ethan.
Selin menerima dengan alis terangkat penuh keheranan. "Zoy, ini–?"
"Pak Ethan beneran mau nikahin kamu?" bertanya dengan suara pelan dan tatapan mata tak percaya.
"Mana aku tau, Mbak. Kepalaku aja pusing tau, gak. Gila, yah, aku gak nyangka kalo ternyata titik rendah dalam hidup aku itu berurusan sama Pak Ethan." Zoya mengeluarkan unek-uneknya.
"Selama ini aku taunya dia kaku sama serem aja. Ternyata selain itu dia juga nyebelin dan nggak berperasaan."
"Kok bisa, sih, sampe aku berurusan sama dia? Dia pikir nikah gampang. Dia pikir–"
"Apa?"
Zoya seketika membulatkan matanya dengan mulut yang terbuka. Perlahan menoleh ke belakang sedangkan Selin hanya memijit pelipis heran. Ia tidak mengerti mengapa bisa Zoya tidak mendengar suara pintu ruangan Ethan yang terbuka.
Meringis, setelahnya Zoya memilih tersenyum manis. "Saya tidak bermaksud–"
"Kamu melihat Skretaris saya?" Ethan bertanya pada Selin tanpa mau perduli dengan apa yang akan disampaikan Zoya. "Tadi sedang berbicara dengan Ibu Rachel setelah selesai acara konferensi pers."
Melangkah setelah mendengar pernyataan Selin. Berlalu begitu saja setelah melihat arloji pada pergelangan tangannya. Zoya mencibir, mengibaskan baju bagian depannya agar angin masuk ke tubuh. Ia selalu merasa kepanasan setiap berhadapan dengan Ethan selama seharian ini.
"Liat sendiri, 'kan, Mbak?"
"Pak Ethan, tuh, nyebelin."
Selin mengangguk-anggukan kepala. Mengiyakan perkataan Zoya tanpa bersuara. Matanya mengarah pada Ethan yang sudah menghilang di belokan koridor. Selin tau betul jika seorang Zeinn Ethan adalah orang yang sangat irit berbicara.
Dia mengatakan apapun dengan seperlunya. Menyuruh orang yang mendengarkan menerjemahkan sendiri apa yang dimaksud olehnya.
Rachel dan Randy, juga beberapa orang yang sedang berdiskusi di ruang rapat menoleh kala pintu terbuka. Orang yang menjadi bahan pembicaraan muncul dan duduk pada kursi dekat Rachel.
Wanita yang selama ini ia anggap sebagai ibu angkat itu tersenyum. Ethan tidak mengetahui apa maksudnya, ia hanya menatap dengan mata teduh pada Rachel.
"Pernyataan kamu lumayan, sepertinya media otomatis tersihir. Beberapa headline di media online sudah muncul dan kalian masih menjadi berita terpanas."
"Tapi itu jauh lebih baik setelah klarifikasimu." sahut Rachel, ia tau Ethan tidak akan bertanya apapun, sehingga ia segera mengatakannya.
"Jadi, bagaimana selanjutanya?" seorang produser yang sedang bekerjasama dengan AE RCH saat ini dan menggarap film yang dibintangi Zoya Hardiswara bertanya.
Ethan melipat tangannya di dada, menghela napas pelan dan selanjutnya kembali menegakan duduk. "Seperti apa yang sudah saya katakan pada media."
"Pak Ethan sungguh akan menikah dengan Zoya?"
Ethan mengangguk tanpa ragu. Rachel terlihat mempertimbangkan, tak lama ia hanya bisa mengangguk sebagai tanda persetujuan.
**
"Fahry masih tidak bisa dihubungi?" Selin bertanya saat Zoya mengotak atik ponselnya tanpa minat. Ia tidak memiliki kegiatan apapun hari ini karena semua jadwal yang sudah tersusun mendadak dibatalkan begitu berita skandal antara ia dan Ethan menyebar.
Zoya yang semula hanya menatap ponsel menoleh dengan malas, ia menganggukan kepala. Mereka masih berada di studio make up setelah tadi Ethan meninggalkan mereka begitu saja, tapi menyuruh Skretarisnya untuk mencegah Zoya pulang.
__ADS_1
"Apa dia sakit?" Zoya seperti bertanya pada dirinya semdiri.
"Siapa?"
"Fahry."
"Dia sakit? Mana mungkin, Adel sudah mengecek apartementnya dan dia tidak ada di sana."
Zoya diam, menatap potret dirinya dengan Fahry. Orang yang sudah satu tahun menjalin cinta dengannya tanpa diketahui media.
"Kita nggak langsung pulang?" Zoya sudah bosan menganggur.
"Pak Randy sudah bilang untuk menahan kamu di sini sebentar."
"Mau apa lagi, sih?"
Selin mengangkat bahu. Menoleh pada pintu ruangan yang terbuka. Ethan muncul dengan wajah datar, lantas duduk pada kursi yang berhadapan dengan Zoya.
Zoya terkesiap, menatap pria misterius di hadapannya yang sangat ingin ia hindari. Tapi mustahial ketika sekarang ia terjebak dengan Ethan.
"Permisi, Pak." Selin pertamakali buka suara. Ia sudah merencanakan semuanya dalam kepala untuk membicarakan rencana Ethan yang akan menikahi aktrisnya.
Ethan hanya mengalihkan tatapannya pada Selin tanpa bertanya. Tapi gestur tubuhnya menunggu Selin berbicara.
"Apa Bapak akan benar-benar menikahi Zoya?" tanyanya. Ethan mengangguk tanpa ragu.
"Saya sudah menyiapkan kontrak perjanjian." ucap Selin percaya diri.
"Saya tidak butuh!" Ethan menyahut spontan. Zoya menatapanya pasrah dengan hati yang menahan emosi.
"Kita butuh kontrak perjanjian untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan."
"Apalagi Zoya belum siap untuk menikah."
"Saya tidak akan mengganggu karier Zoya."
"Hanya berbicara tidak akan membuktikan apa-apa."
"Jadi apa yang harus saya jadikan jaminan?" tanya Ethan dengan serius.
"Perusahaan kedua kakek saya? Atau gedung agensi ini?"
Zoya mengalihkan tatapannya ke arah lain, mengembuskan napas kesal. Ethan manganggapnya seperti apa memangnya? Mentang-mentang dia lahir dari keluarga kaya yang terpandang? Begitu.
Memilih mengambil botol air, Zoya melegutnya, mendadak kerongkongannya sangat kering berhadapan dengan Ethan.
"Kita butuh kontrak perjanjian!" Selin menegaskan.
"Kontrak perjanjian tidak akan ada gunanya ketika saya dan Zoya saling jatuh cinta!"
Zoya seketika menyemburkan air di mulutnya, tepat pada wajah Ethan. Dalam sekali kedipan wajah tampan pria itu basah dengan rambut lepek. Randy meringis, segera meraih tisue dan mengelap wajah Ethan. Sementara Zoya mengelap bibirnya dengan punggung tangan.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Saya tidak sengaja!" ucap Zoya penuh sesal. Ethan sangat menyebalkan, dan menempatkan Zoya pada kesialan. Sehingga membuatanaya sering melakukan kesalahan tiap berhadapan dengannya.
"Begini sopan santun kamu sebagai seorang publik figure?"
"Mana saya tau kalo omongan Bapak bakal bikin kaget?"
Mengambil tisue di tangan Randy. Ethan mengelap wajahnya sendiri, Zoya hanya menatapnya dengan senyum terpaksa.
"Kita ke rumah saya. Bunda saya ingin bertemu,"
Ethan bangkit, sedangkan lagi-lagi Zoya dibuat terkejut dengan kalimat Ethan yang terdengar tanpa basa-basi sedikitpun.
"Maksud Bapak?" Zoya juga bangkit.
"Kamu tidak dengar?" menatap Zoya setengah kesal.
"Saya dengar, tapi ...," Meraih tangan Ethan dengan senyuman. "Saya belum siap!"
Ethan menatap Zoya, beralih pada tangan wanita itu yang memegang tangannya. Ethan menepis dan mengusap bagian yang tadi dipegang Zoya. "Saya tunggu kamu di parkiran!"
Beranjak begitu saja diikuti Randy. Sementara Zoya mendesah, menoleh pada Selin dan perempuan itu hanya menggeleng. Saat ini, tidak ada yang bisa dilakukannya kecuali mengikuti rencana Ethan yang seolah ringan baginya.
"Kamu percaya dulu aja sama Pak Ethan. Mbak tunggu kamu di apartement. Sekarang. kamu ikutin Pak Ethan."
Lagi. Zoya mendesah, Selin bangkit dan merapikan rambut Zoya yang sedikit berantakan. "Ke sana, gih."
Zoya mengangguk. Berjalan dengan lesu ke arah pintu keluar. Begitu ia keluar dari gedung, Randy sudah berdiri di samping mobil yang Zoya tau adalah mobil Ethan. Ia dapat melihat pria itu sudah duduk di dalam pada kursi belakang.
"Silakan Zoya." Randy tersenyum ramah, seperti biasanya.
Zoya mengangguk, masuk begitu Randy membukakan pintu mobil. Ia duduk di samping Ethan yang tengah fokus melihat layar iPad. Wanita cantik itu hanya duduk tanpa mengganggu Ethan, sesekali menghela napas begitu mengingat masalah yang saat ini sedang terjadi dalam hidupnya, sampai Ethan menoleh padanya.
"Ada apa?" pria itu bertanya.
"Ada apa? Tiba-tiba saja beban hidup saya menjadi banyak kurang dari dua puluh empat jam." menyahut pelan tanpa menoleh sedikit pun pada Ethan yang berada di sampingnya.
Ethan tidak perduli apa yang wanita itu katakan. Ia terfokus pada kedua tangan Zoya yang cantik, selanjutnya beralih pada wajah wanita itu yang tak kalah cantik. Zoya menoleh dan membuat mata mereka bertemu.
"Di mana cincin yang saya kasih?" Ethan bertanya tanpa mengalihkan pandangan.
Zoya menggelengkan kepala enggan. "Di mana?" Ethan bertanya sekali lagi.
Zoya merogoh tasnya dengan gerakan malas. Menyerahkan kotak cincin pada Ethan. Pria itu menerima dan membukanya. Lantas meraih tangan Zoya dan membuat wanita itu terkejut.
"Saya sudah bilang untuk memakaianya." memasangkan cincin tersebut pada jari manis Zoya. Wanita itu hanya terfokus pada wajah tampan Ethan.
Pria misterius yang tiba-tiba saja terlibat skandal dengannya. Dari banyak orang yang Zoya kenal. Wanita itu mempertanyakan, mengapa harus Ethan?
Orang yang bahkan nyaris tidak pernah bersalam sapa dengannya sekalipun keduanya tidak sengaja bertemu.
"Saya tidak suka orang lain melihat wajah saya lebih dari sepuluh detik!" Ethan sadar Zoya terus menatapnya. Ia mengangkat wajah, matanya bertemu dengan mata sayu wanita cantik di hadapannya.
__ADS_1
"Tapi saya bukan orang lain, saya calon istri kamu." Zoya menyahut spontan tanpa ia sadar.
TBC