
Zoya mengerjapkan matanya beberapa kali, menyesuaikan cahaya lampu yang menembus indera penglihatannya, sampai sebuah senyum dari wajah yang beberapa hari ini ia rindukan terlihat jelas oleh matanya.
"Hay," Ethan menyapa sang istri. Sudah sejak lama Ethan menunggu mata indah wanita itu terbuka.
"I hate you!" gumam Zoya dengan kesal. Berbalik hendak memunggungi Ethan tapi tangan pria itu sudah lebih dulu menahan pinggang Zoya. Membuat wanita itu memilih pasrah karena tidak memiliki tenaga.
"'Bagaimana rasanya merindukan saya?" tanya Ethan, dahi Zoya membentuk beberapa lipatan dengan mata yang mengarah tajam pada Ethan, pria itu terlihat tampan dengan rambut yang jatuh di keningnya. Satu hal yang Zoya yakini, pria itu sudah pasti mandi, dan Zoya tidak tau sudah jam berapa sekarang.
"Rindu sama kamu? Mimpi!" Zoya meruntuhkan harapan pria itu, tapi Ethan tampak tidak masalah, ia hanya tersenyum dan membuat Zoya kembali berbicara.
"Kenapa kamu nggak ngasih kabar? Kenapa nggak pernah nelpon atau seenggaknya ngirim pesan ke aku?" tanyanya dengan raut wajah kesak yang tidak dapat disembunyikan.
"Kamu sesibuk apa? Ayah aja bisa kok telpon Bunda setiap pagi, kenapa kamu nggak?"
"Kamu emang sengaja, 'kan nggak kasih kabar?" pada akhirnya Zoya emosi sendiri mengingat betapa menyedihkan dirinya selama beberapa hari menunggu kabar dari sang suami.
"Kalau iya, kenapa?"
"Kamu nggak tau, 'kan kalau aku nungguin kabar dari kamu?"
"Kenapa nungguin kabar dari saya?"
"Karena–" Zoya semakin menatap kesal pria itu. Rupanya Zoya sudah terpancing perangkap yang Ethan pasang.
"Karena kamu sangat merindukan saya?" tanya Ethan lagi saat wanita itu hanya diam.
"Enggak!"
"Kenapa sulit sekali buat mengakui perasaan kamu sendiri?"
"Ya karena aku nggak merasa memiliki perasaan yang kamu sebutkan."
"Enggak ada yang namanya rindu. Apalagi rindu ke kamu!" sahut Zoya dengan mantap, Ethan hanya menatap wanita itu santai. Satu tangan menopang kepala sedangkan tangan yang lain menahan pinggang wanita itu.
"Jadi kamu nggak usah kegeeran!"
Cup.
Satu kecupan justru mendarat singkat di bibir wanita itu, membuat Zoya membulatkan matanya. "Kamu!"
Cup.
Satu kecupan kembali mendarat di bibir Zoya. "Ethan!"
Ethan kembali mendaratkan bibirnya di atas bibir wanita itu. Kali ini Ethan menahan ciumannya. Merasa jika wanita itu hanya diam dab tidak berontak, maka Ethan memulai permainannya. Sudah Ethan katakan ia akan membayar lunas rasa rindu yang ditahannya selama beberapa hari kemarin.
__ADS_1
Pada dasarnya sifat gengsi wanita itu tinggi. Mereka tidak hanya mengandalkan kata. Tidak membutuhkan pertanyaan dan tidak akan menjawab pertanyaan dengan jujur. Satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah dengan menyentuh hati dan memahami perasaannya. Begitulah seharusnya cara pria memperlakukan wanita untuk mengetahui perasaannya.
Selin yang sedang melegut segelas susu dengan sandwich di tangannya hanya mengangkat bahu acuh menatap pintu kamar di lantai atas yang tertutup rapat, kemudian matanya melirik jam dinding. Waktu sudah menunjukan pukul sembilan pagi, tapi dua orang di dalam kamar tidak menunjukan tanda-tanda akan keluar dari persembunyian.
Memilih duduk pada sebuah single sofa, Selin menaruh gelas susunya di atas meja bulat yang terbuat dari kayu dengan cat mengkilat. Mengotak atik ponsel guna mengatur ulang semua jadwal kegiatan Zoya, juga menolak beberapa tawaran iklan, karena Ethan bilang mereka akan cukup lama berlibur di sini.
Liburan dadakan bagi Selin dan bahkan ia hanya menjadi obat nyamuk bagi pasangan suami istri itu.
**
Berkali-kali Ethan mendaratkan kecupannya di puncak kepala Zoya yang kembali memejamkan mata setelah pergumulan panas mereka. Sudah lebih dari lima belas menit setelah Ethan mengakhiri semuanya dan Zoya tampak enggan beranjak dari atas tempat tidur. Juga menahan agar Ethan tidak pergi meninggalkannya.
"Zoya," Ethan ingin melihat mata wanita itu terbuka. Zoya hanya bergumam, kemudian menutupi wajahnya dengan satu tangan. Sejak tadi Ethan memang mengganggunya dan Zoya berusaha untuk tidak memperdulikan.
"Kapan kamu akan bangun?" tanya Ethan, menusuk-nusuk pipi Zoya.
"Sepertinya kamu makan dengan baik selama beberapa hari ini saya tinggalkan." sahut Ethan lagi, melihat pipi wanita itu yang memang sedikit berisi.
"Tubuh kamu juga berisi." kali ini Ethan berbisik dengan nada sensual, Don Juan mode on, membuat zoya merinding ketika napas pria itu menerpa kulit lehernya. Perlahan wanita itu membuka mata. "Cewek sensitif loh kalau masalah berat badan." Zoya melayangkan tatapan penuh ancaman.
Ethan tersenyum. Menyingkap sebagian rambut Zoya yang menutupi wajah wanita itu.
"Saya mau ajak kamu jalan-jalan, kita mandi, yah." Ethan seperti sedang membujuk mandi anak kecil.
Kepala Zoya menggeleng. Membuat Ethan mengerutkan kening menatap istrinya. "Saya harus mandi Zoya," nyaris putus asa membujuk wanita itu.
"Kamu juga nggak telpon saya!" Ethan menyahut tanpa beban.
"Aku, 'kan cewek. Masa cewek yang hubungin duluan, sih."
"Apa salahnya, selama ini banyak cewek yang mengbubungi saya lebih dulu." Ethan berkata polos, sementara Zoya memutar bola matanya dan menjauhkan tubuhnya dari Ethan. Sampai kemudian wanita itu membulatkan mata begitu tubuhnya melayang ke udara.
Ethan menggendongnya ke arah kamar mandi, juga menyeret selimut yang membungkus tubuh wanita itu. "Ethan!"
"Sepertinya kamu tidak akan mandi jika terus saya biarkan!"
"Tapi–hey!"
**
Zoya turun ke lantai bawah lebih dulu. Duduk di samping Selin yang berkutat dengan laptopnya. Selin menatap wanita yang menyanggul acak rambutnya itu.
"Mbak kira nggak akan keluar kaamar."
"Abis rindu-rinduan?" Selin bertanya pelan, Zoya menoleh kesal. Memilih tidak menjawab pertanyaan Selin sampai Ethan muncul dari arah kamar dan menuruni satu persatu anak tangga. Pria itu tampak tampan dengan stelan gaya sporty dan senyuman manisnya.
__ADS_1
Membuat Selin di samping Zoya mendehem pelan. "Suami kamu tadi senyum?" bertanya tak kalah perlahan. Zoha hanya diam, terlalu fokus pada suaminya sampai tidak sadar jika Ethan sudah ada di hadapannya dan mengulurkan tangan.
"Ayo."
Selin menyentuh bahu Zoya agat wanita itu sadar. Zoya mengerjap pelan, kemudian menerima uluran yangan Ethan dan beranjak dari duduknya.
"Mbak, aku sama Ethan mau jalan-jalan, Mbak nggak papa kalau sendirian di sini?" Selin tersenyum dan menggelengkan kepala mendengar penuturan Zoya, ia sangat tidak masalah dengan hal itu.
"Enggak papa. Kamu pergi aja, have fun yah."
Zoya mengangguk, lantas beranjak dengan tangan yang saling bergenggaman dengan Ethan. Ptia itu tersenyum, mengayunkan tangan mereka dengan perasaan bahagia. Setidaknya Zoya sudah membuka peluang besar pada Ethan untuk masuk ke hatinya. Zoya hanya belum menyadari perasaannya pada Ethan. Hanya belum.
"Hah, sejak kapan ada mobil ini di sini?" heran Zoya begitu melihat Jeep Wrangler Rubicon berwarna silver terparkir di pelataran vila.
"Sejak samalam, dari Surabaya saya langsung ke sini."
"Surabaya?" tanya heran Zoya.
"Hmm, Ayah mengunjungi Om Jordan sama Nenek Shanty, saya tiba di sini pukul dua pagi."
Zoya membulatkan mata tak percaya, artinya Ethan hanya tidur beberapa jam sejak datang. "Kamu mending istirahat aja, deh." kasihan jika sampai suaminya tidak beristirahat dengan cukup.
"Saya udah nggak papa, lelah saya hilang setelah melihat kamu." Ethan berkata santai. Kemudian berjalan ke arah Rubicon itu dan membukakan pintu untuk sang istri. Sementara Zoya mengulum senyum, mendadak terbawa perasaan atas apa yang baru saja Ethan katakan.
Tak lama, ia melangkah ke arah mobil. "Hati-hati!" Ethan menaruh telapak tangan di atas kepala Zoya agar kepala wanita itu tidak terbentur saat akan naik tadi. Setelah menutup pintu mobil, Ethan sedikit memutari mobil dan duduk pada bagian kemudi.
"Kita ke mana?" tanya Zoya saat pria itu mulai melajukan mobilnya meninggalkan pelataran vila. Ethan hanya menoleh, kemudian mengenakan kacamata hitamnya.
"Ke suatu tempat."
Zoya memiringkan kepala. Memperhatikan raut wajah Ethan yang tampak sangat bahagia, entah apa alasannya. Mungkin karena pria itu sedang bersama dengan Zoya. Mungkin.
Sepanjang perjalanan, Zoya hanya menatap wajah Ethan. Melihat ketampanan Ethan dari samping, hidung mancung dengan bibir seksi yang merah alami. Sepertinya mulai hari ini Zoya harus yakin jika ia sudah jatuh cinta pada Ethan.
Ketika menikah bahkan saat pertamakali berbicara dengan pria itu di kamar hotelnya. Sedikit pun Zoya tidak pernah terpikirkan untuk jatuh cinta pada Ethan. Pria kaku menyebalkan yang sangat angkuh, tapi pada kenyataannya baik Zoya maupun Ethan bukanlah peramal yang dapat memprediksikan apa yang akan terjadi dalam sebuah kebidupan.
Cinta.
Tidak disangka dan tidak diduga, datang begitu saja. Entah itu hanya menyiratkan luka atau melukis bahagia.
TBC
Tadi sore aku udah up lebih dari 2200 word, dan ini bonus up.
Zoya bakalan ketemu Fahry. Tapi bukan hari ini.
__ADS_1
Btw, anyway, baswey. Kenapa cowok ganteng banget kalo bawa Rubicon, sih?😂🙈❤ Jadi inget Arya, hmm.