
Kamipun sampai dirumah sakit, aku langsung menggendong Airin kembali dan membawanya ke igd. Segala pemeriksaan kulakukan dibantu oleh beberapa perawat. Aku bersyukur Airin hanya geger ota ringan karena hantaman keras dikepalanya. Tidak ada masalah serius yang terjadi. Airin dibawa keruang perawatan.
Airin masih belum sadarkan diri, mungkin karena shock menerima pukulan keras itu. Sedetikpun tak kutinggalkan Airin. Aku duduk disamping ranjangnya, sambil menggenggam tangannya. Aku ingin saat dia sadar nanti akulah yang pertama dilihatnya. Ku belai lembut wajah ayu nya, aku sangat berharap Airin segera bangun dari pingsannya.
Kembali ku teringat saat sebelum Airin pingsan tadi. Dia bilang dia mencintaiku dan tak pernah selingkuh. Ya Allah, benarkah. Benarkah istriku sudah mencintaiku. Aku sangat bahagia sekali, tapi kenapa harus dengan cara seperti ini pernyataan cinta ini terucap. Aku sangat berdosa sekali, kenapa aku begitu bodoh. Kenapa aku tak bisa menyadari kalau Airin juga mencintaiku. Aku menangis mencium jemarinya. "bangunlah sayang,, mas mohon bangunlah." ucapku lirih.
Tangan Airin bergerak perlahan, dan Airin membuka matanya. Alhamdulillah, aku sangat bersyukur sekali akhirnya Airin bangun. Dia seperti berusaha untuk duduk.
"Jangan banyak gerak dulu sayang, kalau kamu masih pusing lebih baik rebahan saja." Ujarku sambil membantunya.
"Mas nggak apa apa kan,,?" Ujarnya balik bertanya sambil meraba tanganku. Ya Tuhan, dalam keadaannya seperti ini dia masih saja mempedulikanku.
"Nggak sayang, mas nggak apa apa.. Kamu harus banyak istirahat ya, agar pusingnya segera hilang." Kataku sambil tersenyum.
"Alhamdulillah, syukurlah.." Ucap Airin tersenyum tanpa melepaskan genggaman tangannya.
Aku kembali duduk disamping ranjangnya, kami masih saling berpegangan tangan. Mata kami saling berpandangan, sesekali ku kecup jemarinya. Wajah Airin pun merona.
"Jangan pernah lakukan hal seperti tadi lagi ya. Mas tidak mau terjadi apa apa denganmu. Mas benar benar takut tadi." Kataku.
"Tas Airin mana.." Tanya Airin. Kemudian aku pun membantunya mengambilkannya, dan memberikannya pada Airin. Airin lalu membuka tas daa mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Sesuatu yang membuatku sangat terkejut.
__ADS_1
"Apakah ini yang membuat mas berubah, apakah ini yang membuat mas mendiamkanku." Tanya Airin sambil menyerahkan foto foto itu padaku. Aku memegang foto foto itu. Aku tak tau harus berkata apa. Karena memang gara gara foto ini membuat hatiku terbakar cemburu.
"Mas..." Panggil Airin yang melihatku terdiam.
"Apa pernah mas lihat Airin memakai gamis seperti di foto foto itu." Tanya nya kemudian.
"Airin ngk punya gamis gamis seperti di foto itu mas. Dan Airin tidak pernah pergi ke tempat tempat yang ada di foto foto itu. Airin ngk tau itu dimana." Ujar nya lagi. Apa makdsudnya, apakah yang di foto foto itu bukan dirinya.
"Lalu kenapa kamu bertemu dengan Syahdan di cafe xxxxxxxx sore itu" Akhirnya aku pun bertanya. Agar penasaranku selama ini jelas. Airin tampak tersenyum.
"Jadi mas tau, apa mas juga ada disana waktu itu. Kenapa mas ngk menghampiri kami." Ujar Airin.
"Oooooo,,,, jadi mas lihatnya ketika itu." Kata Airin tersenyum.
"Benarkan kalian berpelukan mesra." Kataku lemah, ya sudahlah. Mungkin kenyataan nya begitu.
"Benar..." Jawab Airin singkat. Aku hanya terdiam sambil melepaskan genggaman tangannya. Hati ku terluka. Airi kembali meraih tanganku dan menggenggam nya kembali.
"Benar kami berpelukan, itu karena pas Airin mau pamit dan hendak berdiri. Tiba tiba ada seseorang menyenggol Airin sampai Airin hampir jatuh kedepan. Dan tepat mas Syahdan langsung tangkap Airin biar ngk jatuh. Jadi kesannya kami seperti berpelukan ya." Airin pun menceritakan semuanya padaku.
Airin juga cerita kalau dia menerima ajakan Syahdan untuk ketemuan karena ingin bicara dengan Syahdan, agar Syahdan bisa melupakannya. Agar Syahdan bisa melanjutkan hidupnya tanpa harua memikirkan Airin lagi. Dan Airin juga sudah mengatakan pada Syahdan. Kalau dia sudah mencintaiku.
__ADS_1
Aku sangat bahagia sekali, ketakutanku selama ini tak terbukti. Dan mengenai foto foto itu, mungkin itu adalah hasil editan kemudian sengaja dikirimkan seseorang padaku. Nanti akan ku mita Anton mengecek foto foto itu.
Ternyata aku baru tau kalau tadi siang Airin ke Rumah sakit. Dan dia yang mengambil foto foto itu dari laci mejaku.
"Berani ya mengambil barang mas tanpa izin." Ujarku sambil mencubit hidungnya.
"Habisnya penasaran, karena terlihat seperti foto. Airin ingin tau foto siapa. Ternyata malah foto foto itu. " Jawab Airin sambl mengusap hidungnya yang aku cubit tadi.
"Apa mas sekarang masih mencurigaiku ? masih akan mendiamkanku, ya sudahlah kalau begitu. Aku memang tidak ada arti apa apa kan buat mas. Anggap saja pernyataanku tadi ngk pernah terucap. Anggap saja,,," Tak ku izinkan Airin melanjutkan kalimatnya. Ku tutup bibirnya dengan ciuman.Kucium bibir tipis itu, ini ciuman kedua setelah malam itu aku menciumnya secara diam diam saat dia tertidur.
"Mas juga mencintaimu dek. Sangat mencintaimu." Ucapku lembut. Kemudian kembali ku cium bibir indah itu. Awalnya hanya ciuman biasa, aku merasa kurang. Kuhisap bibirnya lama,, kemudian ku mainkan lidahku didalam mulutnya. Sesaat kamipun bermain lidah. Sampai Airin kesulitan bernafas, dan kemudian dia mendorongku. Kami pun terdiam, tak tau hendak berkata apa lagi. Hanya mampu saling pandang dan tersenyum. Genggaman tangan yang semakin erat, tak ingin lagi rasanya melepaskan genggaman tangan ini.
"Mas pulang yuk. Sudah malam. Nanti Bunda cemas. "Ujar airin padaku.
"Malam ini kita istirahat disini saja, besok baru kita pulang ya." Jawabku. Aku juga bilang kalau tadi saat Airin di pindahkan keruang perawatan VIP. Aku sudah mengabari Bunda. Kalau Airin mengalami kecelakaan kecil. Dan harus istirahat dulu malam ini di rumah sakit. Aku meyakinkan Bunda bahwa Airin tidak kenapa kenapa.
Aku meminta Airin untuk istirahat dulu, agar pusing di kepalanya segera hilang. Dan karena pengaruh obat, Airin tertidur lelap. Ku pandangi wajah lembut itu, akhirnya aku bisa memilikinya seutuhnya. Akhirnya cinta telah menyatukan kami. Semakin melengkapi pernikahan kami. Aku berjanji akan selalu membahagiakannya. Aku akan melindunginya, tak akan kubiarkan siapa pun menyakitinya. Dan Syfa adalah anakku, anakku dan Airin. Tak akan ku biarkan siapapun menghancurkan kebahagian kami.
Aku pun merebahkan kepalaku disamping Airin. Rasa kantuk pun datang menyapa. Aku tak mau meninggalkan dia semenitpun. Aku ingin selalu berada disisinya.
Padahal diruang ini juga ada ranjang lain yang memang disediakan untuk keluarga pasien yang menginap menemani pasien. inilah salah satu kelebihan ruang VIP yang aku siapkan di rumah Sakit. Agar keluarga pasien tidak susah tidur disofa Tapi aku memilih tidur dikursi sambil terus menggenggam tangannya. Istriku, wanita yang sangat kucintai. Dan kini juga mencintaiku... Semoga cinta kami abadi selamanya sampai ke syurga Allah...
__ADS_1