Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Kejujuran Rival


__ADS_3

"Ethan tidak bisa dihubungi." Freya cemas sendiri saat putranya sama sekali tidak bisa dihubungi sedangkan keadaan benar-benar sedang kacau saat ini. Rachel memberikan komentar singkatnya dan berkata jika mereka akan menggelar konferensi pers begitu Zoya pulang dari Eropa setelah menyelesaikan proses syuting filmnya.


Freya juga sudah mencoba menghubungi Zoya namun nihil. Mereka seolah sudah saling bekerja sama untuk bersembunyi sementara waktu.


"Gyan, kamu tolong lakuin sesuatu!" Freya panik.


"Sayang, sebentar, kamu harus tenang. Kita tunggu sampai Ethan nehubungin kita duluan. Kita harus mastiin kebenarannya dulu dari Ethan."


"Ethan selalu aja seenaknya kaya gini!" Freya mendesah dan mendudukan dirinya di samping sang suami. Agyan menatap istrinya yang tampak frustrasi, ia hanya bisa merangkul bahu istrinya, tak bisa melakukan apa-apa.


Ia sudah meminta Aryo untuk menghapus semua situs pemberitaan, namun semua terlanjur menyebar, tidak bisa dihentikan. Agyan pikir, jika memang gosip yang beredar itu benar, maka sudah sepantasnya Ethan menanggung kesalahan yang ia buat.


****


Sementara itu, di rumah keluarga Rayn, orang rumah pun saling bertanya-tanya heran setelah melihat berita tentang Ethan. Rasanya sangat tidak mungkin Ethan melakukan hal sepertu itu.


"Padahal aku liat, Mas Ethan cinta banget sama Mbak Zoya seolah nggak ada wanita lain selain istrinya." Rafa pun ikut berkomentar, sekalipun ia tidak mengenal Ethan dengan akrab, tapi ia tahu pria itu dan cukup terkejut dengan berita tersebut.


"Iya, Mama juga heran. Padahal Ethan mati-matian buat sama-sama sama Zoya." Vina menyahut.


"Kasihan Freya, pasti sekarang lagi pusing banget sama masalah ini." sambungnya.


Sedangkan Rayn hanya diam di samping istrinya, memindahkan saluran televisi dari pemberitaan tersebut dan berusaha mencari tayangan lain karena Davika yang tiba-tiba saja muncul dari arah kamarnya bersamaan dengan kedatangan Rival yang baru saja pulang dari perusahaan.


"Ma, Davika laper." anak itu menghampiri Vina, Vina segera meraih tubuh anaknya.


"Sebentar yah, Sayang."


Rival hanya menatap anak itu dan memanggil asisten rumah tangga mereka. "Mbak, tolong bawa Davika ke dapur, yah."


"Baik Mas Rival."


"Mas, mau makannya di sini aja." anak itu merengek.


"Di dapur." Rival melayangkan tatapan datar pada Davika, membuat Davika mengalihkan tatapannya pada Vina dan Rayn, meminta bantuan, tapi dua orang itu pasrah pada keputusan Rival sekalipun belum paham apa maksud putra sulung mereka.


"Maaa," Davika kian merengek.


"Makan di dapur sama Mbak, yah. Mas perlu bicara sama Mama Papa." kali ini Rival membujuk sang adik, dengan bibir mengerucut, saat Vina menurunkan anak itu dari pangkuannya, akhirnya Davika pasrah dan menerima saja saat asisten rumah tangga mereka menggandeng tangannya berjalan menuju dapur.


Rival hanya menatap kepergian sang adik. hingga ketika ia menoleh pada orang-orang dewasa di ruang keluarga. Ia mendapati tatapan dari mereka penuh tanda tanya–kecuali Rafa tentunya yang sedikit sudah dapat menerka apa yang akan kakaknya itu sampaikan pada orang tua mereka.


Rival mendesah, lantas duduk dengan raut wajah yang sulit diartikan. Ia sudah mempersiapkan diri untuk mengatakan kejujuran pada orang tuanya namun hatinya benar-benar berdebar hebat. Tak dapat membayangkan bagaimana reaksi dari Vina dan Rayn nantinya.

__ADS_1


Rival mengingat kembali, beberapa jam yang lalu ia mendapat kabar dari Randy–asisten Ethan dan pria itu memberinya alamat keberadaan Naina. Rival yang khawatir atas keadaan gadis itu setelah melihat bagaimana orang-orang memperlakukan Naina di pusat perbelanjaan tentu saja segera mendatangi alamat yang Randy berikan.


"Aku akan jujur ke orang tuaku kalau kamu hamil anakku."


"Mas–"


"Saya akan bertanggung jawab Naina."


"Tapi gimana sama reaksi orang tua Mas Rival nanti?"


"Itu urusan belakangan. Ini bukan perkara kecil, kita nggak bisa sembunyiin ini terlalu lama."


"Gimana sama Mbak Zoya dan Mas Ethan." kali ini Naina menaikan nada bicaranya, membuat Rival diam sesaat, pria itu meraih tangan Naina dan menggenggam tangan mungil yang dingin itu.


"Bagaimanapun, aku harus memberitahu orang tuaku. Ethan dan Zoya juga tidak akan lagi membutuhkan kamu. Semua udah kebongkar, kamu nggak perlu lagi jadi istri Ethan,"


"Menikahlah dengan aku, Naina." Rival menatap dalam-dalam gadis di hadapannya yang menyiratkan tatapan ketakutan. Rival paham sangat tidak mudah bagi Naina dihadapkan dengan posisi saat ini. Tapi bagaimanapun, tanpa diselesaikan, masalah ini tidak akan selesai. Rival harus mengurusnya. Siap tidak siap mereka akan dihadapakan pada kondisi terburuk nanti.


"Tapi, Mas."


"Percayalah, aku nggak bisa telantarin kalian terlalu lama."


Sepulang mengunjungi Naina, Ethan sempat menghubungi Randy dan meminta bertemu dengan Ethan. Saat itu Ethan berada di rumah, bukan di perusahaannya.


Pria itu tampak memijat pelipis dan membuat Rival mau tak mau memerhatikannya. Ethan masih dengan pakaian kantornya. Kemeja putih dan rompi hitam, lengan kemejanya digulung sampai sikut sementara jasnya entahlah sudah melayang kemana.


Kacamata baca berwarna kuning keemasan melekat di mata pria itu, sedangkan rambutnya sedikit berantakan. Hanya dengan melihat hal tersebut Rival paham betul seberapa kacau berita skandal ini berdampak pada Ethan.


"Aku kesini mau minta izin sama kamu." Rival menyahut setelah lama hanya diam memerhatikan saudaranya itu.


"Izin?" dahi Ethan membentuk beberapa lipatan.


"Aku mau jujur ke orang tuaku kalau Naina sedang mengandung anakku."


"Keadannya sedang sangat kacau untuk sekarang." Ethan menentang.


"Justru itu, sekalian keadaan kacau aku ingin menuntaskan semuanya."


Ethan diam sesaat ketika Rival memasang wajah serius di hadapannya. Ethan tentu saja harus bisa memprediksikan ke depannya jika Rival mengatakan kejujuran pada orang tuanya sekarang. Ia tahu jika istrinya sudah mengetahui hal ini. Ethan cukup yakin Zoya tidak akan memaksa untuk mempertahankan Naina dan bayi dalam kandungan gadis itu.


Tapi Ethan juga harus mempertimbangkan pendapat dan keputusan istrinya. "Kita harus meminta izin dulu pada Zoya."


"Yasudah, hubungi istrimu."

__ADS_1


"Ponselnya tidak aktif seharian ini."


"Hubungi manajernya." Rival bersikeras.


"Aku sedang tidak ingin membahas ini." Ethan kembali memijat pelipis. Padahal beberapa waktu lalu Randy sudah memberinya obat pereda sakit kepala, namun rupanya tidak efektif sama sekali.


"Kalau begitu aku cuma butuh persetujuan kamu. Aku harus segera bilang ke orang tuaku Than, aku nggak mau nelantarin Naina dan calon anak kami lebih lama lagi."


"Naina butuh aku saat ini." Rival memohon. Ethan kembali terdiam, ia sempat mendesah sebelum kemudian menganggukan kepalanya.


"Ada apa, Mas?" tanya Vina. Membuyarkan lamunan Rival yang sejak tadi hanya diam mematung sementara orang tua dan adiknya menunggu apa yang akan pria itu katakan.


"Mm," Rival terlihat bingung, tapi kemudian pria itu mengeluarkan sesuatu dari balik saku jasnya dengan gerakan ragu.


Reaksi yang kedua orang tuanya perlihatkan sudah sesuai dengan prediksi Rival. Pria itu hanya diam menunggu Rayn maupun Vina bertanya, ataupun mencaci maki bahkan memukulnya.


Dengan raut penuh keterkejutan, Vina meraih sebuah alat tes kehamilan yang Rival taruh di atas meja. "Mas–" Vina tak sanggup berkata-kata melihat tanda positif di sana, ia menatap putra keduanya yang tampak hanya diam, lantas beralih menatap Rival.


"Mas ini–kamu jangan bercanda, Mas." kali ini Vina sedikit tertawa, berharap hal tersebut hanya guyonan lewat batas putranya. Tapi saat melihat reaksi Rival yang hanya diam dengan raut wajah tak terbaca, Vina merasa jika putranya memang sedang tidak bermain-main.


"Maaf, Ma." hanya itu yang dapat Rival katakan. Selanjutnya ia pasrah melihat raut wajah Rayn yang tak terbaca bahkan tak mengeluarkan suara.


"Bangun Mas!" intruksi Rayn yang kemudian bangkit. "Pah," Vina mencoba menghentikan suaminya melihat amarah di wajah Rayn yang seolah ingin menghabisi Rival.


Tak perlu perintah dua kali, Rival segera bangkit dari duduknya dan hanya berdiri tanpa menghindar saat sang papa melayangkan bogem mentah ke wajahnya. Tubuhnya terhuyung dan terduduk di lantai dengan punggung membentur sofa.


Sementara Vina hanya bisa menutup matanya, Rafa sendiri hanya diam menyaksikan hal itu. Ia tak bisa menghentikan Rayn karena bagaimanapun, ia tahu apa yang sang papa lakukan merupakan bentuk kekecewaan terhadap putranya berikut juga mendidik Rival guna menyadarkan pria itu jika apa yang dilakukannya adalah kesalahan.


"Besok, bawa wanita yang kamu hamili itu ke rumah untuk bertemu Papa!"


Rayn berlalu setelahnya dengan gurat kecewa yang teramat jelas di wajahnya. Meninggalkan Rival dengan luka di bibirnya.


Vina mendesah, menatap Rival dengan frustrasi, "bantu Mas Rival!" intruksinya pada putra keduanya, membuat Rafa segera bangkit membantu Rival untuk berdiri dan duduk di sofa.


"Kamu sama sekali nggak terkejut, apa jangan-jangan kamu sudah tahu hal ini?" pertanyaan dari Vina diajukan untuk Rafa, pria itu hanya menganggukan kepala dan membuat kepala Vina kian pusing rasanya.


"Astaga,"


"Aku nggak bisa bilang tanpa seizin Mas Rival, Mah." pria itu buka suara membela dirinya sendiri. "Maaf,"


Vina tak bisa berkata-kata, ia hanya bangkit dan memijat pelipisnya. "Mama ambil obat merah dulu." pamitnya pada Rival dengan tangan yang masih memijat pelipis, mengingat kembali kata-katanya untuk Freya beberapa waktu lalu.


"Sepertinya aku lebih perlu dikasihani daripada Freya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2