
Bagi Zoya, Selin itu seperti cahaya dalam hidupnya. Orang yang menunjuk jalan terang pada Zoya dikegelapan saat Zoya membutuhkan jalan keluar untuk kembali pulang.
Selin itu penasihat terbaiknya, orang yang banyak memberikan motivasi dan kekuatan pada Zoya. Orang yang membantunya bangkit saat ia mengalami masa sulit.
Pernah suatu waktu, Zoya yang baru kembali berakting setelah cukup lama vakum mengalami kesulitan karena belum memiliki banyak kesiapan untuk mengeluarkan emosi.
Selin dengan penuh keyakinan menenangkan Zoya. Bahkan tidak memaksa Zoya untuk melanjutkan syuting pada hari tersebut jika Zoya merasa masih belum siap.
Pada intinya, Selin sudah terlanjur Zoya anggap sebagai kakaknya. Bekerja sama dengan Selin selama tujuh tahun ini, membuat Zoya merasa jika hubungan persaudaraannya dengan Selin semakin kental.
Meski orang lain bilang darah lebih kental daripada air, nyatanya tidak semua orang mengalami hal yang sama seperti apa yang Zoya rasakan. Jika tanpa ada aliran darah yang sama pun dengan Selin, Zoya tetap merasa jika mereka benar-benar bersaudara.
Sedangkan Fahry. Pertemuannya dengan pria itu sederhana, berawal dari pertemuan keduanya pada acara launching sebuah produk perusahaan besar, Zoya yang saat itu menjadi brand produk bertemu dengan Fahry saat ia mengalami hal memalukan di toilet.
Di mana ia yang dalam keadaan buru-buru merobek gaun yang dikenakannya dibagian bahu. Fahry seolah menjadi pahlawan baginya, meminjamkan jasnya pada Zoya untuk wanita itu kenakan.
Saat semua pria menganggap Zoya adalah wanita tercantik dan menjadi sasaran empuk untuk dikencani, Fahry memberikan tatapan berbeda. Ia menghormati Zoya sebagai wanita biasa, dan Zoya terkagum akan hal itu.
Dengan modus jas yang ia kenakan untuk dikembalikannya pada Fahry, Zoya yang selama ini menutup hati untuk pria manapun mulai membuka hatinya. Setelah pendekatan selama tiga bulan, ia berpacaran dengan Fahry. Seorang pria sederhana yang notabenya hanyalah karyawan biasa.
Dengan Fahry, Zoya merasa diistimewakan, di mana Fahry begitu mencintai dan menghormatinya. Meski tak jarang, pria itu seringkali menghilang saat Zoya sedang membutuhkannya.
"Kamu cinta banget sama Fahry?" Selin pernah bertanya tepat setelah Zoya dan Fahry merayakan hari jadian mereka yang ke satu tahun.
"Kalau nggak sayang banget ya gak mungkin mau bertahan sampe sejauh ini lah." Zoya menyahut sambil menatap kalung yang Fahry berikan sebagai hadiah di hari jadi mereka yang ke satu tahun.
"Kenapa harus Fahry?"
Zoya menoleh, merasa heran dengan pertanyaan Selin. "Ya, maksud aku. Yang mau sama kamu banyak," Selin memperjelas pertanyaannya agar Zoya tidak salah paham.
"Iya. Tapi akunya yang nggak mau!"
Setelahnya Selin terdiam. Zoya yang tidak mendengar suara wanita itu menoleh, tapi ia hanya mengangkat bahu acuh. "Ini skrip baru, hafalin!" Menyerahkan beberapa kertas yang sudah di-print rapi ke pangkuan Zoya, setelahnya Selin berlalu meninggalkan Zoya sendiri di ruang utama apartementnya.
"Oke," Zoya menyahut setengah berteriak saat Selin sudah berada si pintu masuk kamarnya.
**
"Followers kamu di instagram berkurang, Zoy." beritahu Selin.
"Aku nggak perduli, aku cuma mau cepet keluar dari sini!" Zoya sudah tidak tahan berada di dalam mobil berlama-lama. Adhel-asisten yang duduk di sampingnya merapikan rambutnya yang mulai lepek.
"Sebentar lagi, sabar."
"Aku udah sabar selama lebih dari dua puluh menit di sini." Zoya menggerutu. Sampai tak lama, lima orang bodyguard tiba dan membukakan pintu mobil. Selin dengan cepat segera turun dan menggandeng Zoya menembus kerumunan.
"Mbak Selin, apa benar Zoya Hardiswara memiliki hubungan khusus dengan Pak Zeinn Ethan?" salah satu wartawan mengarahkan alat perekam suara digital padanya.
"Apa diam-diam mereka sudah bertunangan?"
__ADS_1
"Permisi, yah, permisi." Selin tak menyahuti pertanyaan wartawan, ia belum berdiskusi apapun dengan pihak perusahaan mengenai tanggapan seperti apa yang harus dikatakan pada media.
"Mbak Zoya, apa benar Mbak berpacaran dengan CEO AE RCH?"
"Kalian sudah lama menjalin hubungan?"
Para wartawan berdesak-desakan meluncurkan pertanyaan pada Zoya yang gandeng oleh Selin dan asistennya. Lima bodyguard dengan beberapa petugas membuat pagar besi untuk memberi batas agar Zoya dapat berjalan dengan leluasa.
Zoya hanya menebar senyum tanpa bersuara, ia ingin segera lolos dalam situasi yang saat ini sedang dialaminya.
"Mbak Zoya, berikan komentarnya sedikit Mbak."
"Mbak, sedikit aja Mbak. Jawab iya atau enggak Mbak."
"Mbak memiliki hubungan dengan Pak Ethan?"
"Kalian tidur di dalam kamar hotel yang sama?"
"Mbak Zoya sudah sering menginap di kamar hotel Pak Ethan?"
Zoya menoleh dan tersenyum, ia tetap mempertahankan keramahannya sebagai publik figure pada awak media. Ia tidak ingin citranya semakin jatuh jika sampai ada artikel lain yang bersifat merugikan dirinya sendiri.
"Apa benar Mbak Zoya menggoda Pak Ethan?"
"Mbak sengaja membuat sensasi agar semakin terkenal?"
"Terkenal karena sensasi bukan prestasi?"
"Mbak, apa benar Mbak Zoya dan Pak Ethan diam-diam sudah memiliki anak?"
**
"Anak?" Zoya tertawa tak percaya. "Anak dari mana coba?"
"Gila aja!"
"Aku ketemu Pak Ethan aja jarang, apalagi buat dan sampe punya anak?"
"Ya, maksudnya ..., kalo ngasih pertanyaan yang masuk akal aja. Ini ...?"
Zoya mendesah, mengempaskan tubuh pada sofa putih di ruang utama apartemennya. Sedangkan Selin dan asistennya meringis melihat kesabaran Zoya yang sudah habis.
Adhel, mengambil minuman pada lemari pendingin, menyerahkannya pada Zoya yang langsung diterima dan ditenggak wanita itu. Napasnya memburu, sepanjang meniti karier di dunia hiburan, Zoya memang tidak terlepas dari pemberitaan.
Tapi hal seperti ini yang menjurus pada skandal panas adalah yang pertama baginya dan itu terasa sangat sulit. Selin menggapai ponsel begitu satu pesan masuk membuat benda canggih itu bergetar.
"Zoy, siap-siap sekarang. Dandan yang cantik," sahutnya sesaat setelah membaca isi pesan.
"Apalagi?"
__ADS_1
"Pak Ethan akan menggelar konferensi pers."
Zoya mendesah, memijit pelipis sementara Adel menyentuh lengannya untuk mengajaknya bersiap-siap.
**
"Jadi bagaimana, apa menurut kamu aktris itu bukan pacar kakak kamu?" seorang wanita dengan dress selutut berwarna hitam tampak bertanya pada wanita muda di hadapannya. Bertahun-tahun berlalu, parasnya masihlah sama. Ia tetap cantik dengan gaya modisnya.
"Bunda, Arasy tau Ethan. Dia gak mungkin punya pacara Bun,"
"Kamu!" Freya mengancam putrinya yang berbicara sembarangan.
"Arasy yakin mereka dijebak." tak menghiraukan omelan sang bunda.
"Kenapa kamu bisa seyakin itu?"
Seorang pria dengan kemeja berwarna putih muncul dan duduk di samping Freya, menggandeng wanita itu setelah mencium pipinya. Arasy hanya memutar bola mata melihat kedua orang tuanya yang memamerkan kemesraan.
"Tapi nggak mungkin Zoya yang ada dibalik semua ini."
"Maksud kamu?"
"Arasy pernah beberapa kali ada project iklan sama dia. Menurut Arasy dia baik, gak terlihat macam-macam apalagi sampe tertarik bikin sensasi."
"Kaya gini misalnya."
"Yang jadi pertanyaan, kenapa bisa mereka masuk ke kamar hotel? Lebih tepatnya kenapa bisa Ethan bawa wanita ke kamar hotelnya?" Freya tampak tidak habis pikir. Pasalnya, ini kali pertama ia melihat putranya bersama dengan seorang wanita bahkan membawanya ke kamar hotelnya yang tidak bisa dimasuki sembarang orang.
Freya tau, tidak banyak orang yang bisa masuk ke kamar hotel putranya.
"Kamu kaya gak pernah muda aja," Agyan bersuara.
"Gyan," Freya menatapnya horor. Agyan tersenyum dengan menawan.
Lagi, Arasy memutar bola matanya. Ia lantas beranjak dari duduk. "Arasy, kamu mau kemana?"
"Arasy ada pemotretan di puncak."
"Ayah, Bunda, jangan nyariin yah."
Agyan menggeleng, rupanya manejer dan asisten putrinya sudah menunggu di luar.
"Jadi ini Ethan gimana, Gyan?" suara Freya mengakihkan perhatian Agyan dari putrinya.
"Ya gimana?" Agyan menyahut bingung.
"Dia kalo apa-apain anak orang gimana? Kamu jangan biarin gitu aja lah."
"Sayang, kalau mamang bener. Ethan akan bertanggung jawab."
__ADS_1
TBC