
Syuting berjalan dengan lancar selama tiga belas hari. Cuaca yang terkadang hujan tidak menjadi hambatan, tidak mematahkan semangat semua anggota. Semangat juang semua anggota tim membara dan menghasilkan kerjasama dengan hasil yang patut diacungi jempol.
Selama beberapa hari sebelumnya, duka masih terasa di antara mereka mengingat anggota tim yang sudah tiada. Namun begitu, semua tak mesti menghalangi langkah mereka untuk terus mensukseskan project film yang sudah dirintis dengan harapan besar.
Semua orang bekerja keras. Para kru bekerja semaksimal mungkin, begitu juga para pemain yang begitu totalitas dalam berakting. Tidak ada yang berleha-leha di antara mereka, semua bekerja sama, tetapi Arfat berpesan agar mereka tidak perlu buru-buru. Karena hasil yang maksimal adalah yang paling diharapkan, jangan sampai karena terburu-buru, hasil yang didapat tak sesuai harapan dan perjuangan yang telah mereka lakukan.
Selama itu pula, Zoya tak banyak berkomunikasi dengan sang suami. Ia sibuk dengan kegiatan syutingnya dan Ethan juga sibuk dengan pekerjaannya.
Namun, Zoya tahu pria itu. Ethan tak akan bisa jauh darinya dalam waktu yang lama, sehingga dua atau tiga hari sekali, tak perduli waktunya, pria itu selalu datang ke villa ataupun ke lokasi syuting baik siang atau pun malam hari.
"Maaf kalau saya sering mengganggu waktu istirahat kanlmu." adalah kalimat yang seringkali Ethan katakan saat mendatangi Zoya, bahkan wanita itu merasa bosan mendengarnya.
Saat pertama kali pria itu datang dan menemukannya tengah bersama dengan Edrin, Ethan kembali ke Jakarta pada keesokan harinya. Apa yang ia takutkan malam itu beruntung tidak terjadi, Ethan sama sekali tidak marah pada Edrin apalagi sampai memukuli pria itu. Ethan tidak melakukannya, ia hanya melayangkan tatapam tajam dan menyiratkan sorot tak suka pada Edrin, hanya itu.
"Dua hari lagi kita berangkat ke luar kota." sahut Irpan sore itu ketika mereka baru saja menyelesaikan take di hari tersebut.
"Kerja bagus untuk kita semua." pujinya penuh apresiasi.
"Kita lanjut syuting untuk besok, hari terakhir." sahutnya lagi pada senua anggota tim, mereka yang tengah membereskan peralatan dan sebagian sedang mengistirahatkan diri tersenyum dan mengangkat jempolnya.
Zoya meregangkan tubuhnya, lantas duduk pada kursi lipat outdoor berwarna hitam dan memejamkan mata. Tubuhnya sudah sangat lelah namun ada kepuasan tersendiri baginya setiap kali memerankan tokoh Rain. Zoya tersenyum, ia sudah sangat totalitas memerankan tokoh Rain, ia harap perjuangannya sesuai dengan ekspektasi para penonton nanti.
"Nih."
Zoya membuka matanya saat Selin menyodorkan secangkir minuman hangat padanya.
"Kerja bagus. Mbak puas liat akting kamu." puji wanita itu yang kemudian duduk pada kursi lipat lain di sebelah Zoya.
"Memuaskan, Mbak?" tanya Zoya dengan mata berbinar penuh harap, kemudian menyesap minuman hangatnya. Selin mengangguk dengan raut yakin.
"Hmm, Mbak yakin penonton akan puas ngeliat akting kamu sama Edrin nanti. Totalitas." decaknya dengan kepala mengangguk-angguk.
"Karakter Rain sama Angkasa bakalan melekat diingatan para penonton." sambungnya. Terdengar begitu hiperbola.
Zoya tersenyum puas, menyesap minuman hangatnya dengan pandangan ke depan dan melhat Alexa bersama Edrin yang tengah duduk di kursi lain di bawah sebuah pohon.
Zoya tersenyum, kapan terakhir kali ia melihat dua orang itu berdebat? Rasanya sudah sangat lama. Alexa dengan Edrin justru terlihat semakin akrab setiap harinya. Bahkan beberapa hari kemarin ketika Alexa sempat jatuh sakit, Edrin yang dengan telaten merawat wanita itu.
Jika saat syuting chemistry antara Zoya dengan Edrin begitu kuat sebagai Rain dan Angkasa, maka di luar lokasi syuting, justru chemistry Alexa dengan Edrinlah yang kuat, sebagai diri merka sendiri.
Bahkan belakangan diketahui jika dua orang itu saling mengetahui pasword ponsel satu sama lain. Mungkin dua orang itu memiliki something yang masih dilihat fifty-fifty oleh orang lain.
"So akrab sekali, anda!" decak Alexa saat Edrin menunjuk sepatunyan dengan kaki. Edrin berdecih, padahal niatnya baik memberitahu wanita itu jika tali sepatunya lepas.
Alexa memutar bola matanya lantas memperbaiki tali sepatunya yang lepas. Sementara Edrin meraih ponsel wanita itu dan membuka salah satu aplikasi chat. Pria itu berdecak melihat kontak namanya di ponsel Alexa.
Jari tangannya bergerak lincah mengetik dalam keyboard ponsel, begitu Alexa selesai mengikat tali sepatunya, Edrin meletakan kembali ponsel wanita itu. Alexa yang menyadari hal tersebut menatap ponselnya, meraihnya dan memasukannya ke dalam saku celana setelah memastikan jika tak ada apapun yang berubah pada ponselnya.
Sedangkan matanya memicing menatap Edrin yang tengah asik dengan ponselnya.
"Beres syuting besok gimana kalau jalan-jalan?" tanya pria itu yang kemudian juga memasukan ponselnya ke saku celana, raut wajah pria itu begitu santai.
"Big no. Beres syuting besok kayaknya istirahat lebih penting buat siap-siap ke luar kota." sahut wanita itu acuh tak acuh. Ia menyipitkan matanya menatap Alexa, sementara Edrin mengerutkan dahi.
"Tantangan sama cobaannya nanti akan lebih dahsyat!" suara wanita itu merendah, sialnya saat wanita itu mengedipkan mata, kinerja jantung Edrin berdetak lebih cepat dari biasanya.
Sialnya lagi, wanita itu berlalu begitu saja dari hadapannyandan membuat Edrin hanya mampu menatap punggung wanita itu.
***
Selama lebih dari seminggu ini, saat Zoya berada jauh darinya, Ethan terbiasa tidur di kamar Naina. Ia hanya sesekali tidur di kamarnya jika banyak pekerjaan dan mengharuskanya untuk lembur di ruang perpustakaan hingga larut malam.
Naina banyak menghabiskan waktu dengan pria itu. Bahkan hampir setiap pagi ia menyiapkan pakaian kerja Ethan. Hal yang sangat menyenangkan untuk dilakukan.
Namun begitu, Naina tak bida seutuhnya merasakan posisi nyaman sebagai istri, karena sikap Ethan seringkali masih mengarah penuh perhatian pada Zoya sekalipun wanita itu berada jauh dari mereka.
Pria itu yang rutin mendatangi lokasi syuting Zoya sekalipun harus menempuh perjalanan yang memakan waktu lebih dari tiga jam, membuat Naina merasa terganggu. Membuatnya seolah tak dianggap oleh pria itu.
Tentunya hal itu membuat perasaan Naina terluka, sedangkan ia tidak bisa memberitahukan pria itu bagaimana perasaannya saat Ethan lebih memilih mendatangi Zoya usai bekerja daripada menikmati makan malam dengannya.
__ADS_1
Waktu menunjukan pukul dua dini hari saat Naina membuka matanya ketika merasakan pergerakan di belakangnya. Ia berbalik dan melihat Ethan yang sudah berbaring di sana. Pria yang tidur terlentang itu menoleh.
"Saya mengganggu tidur kamu?" tanya pria itu, Naina menggelengkan kepala. "Aku belum tidur."
"Kerjaan Mas sudah selesai?" tanya Naina mengingat jika beberapa waktu lalu pria itu pamit padanya untuk ke perpustakaan menyelesaikan pekerjaannya.
"Sudah." pria itu menyahut singkat. Naina memiringkan tubuhnya, menatap pria itu. Membuat Ethan menoleh pada gadis itu saat Naina hanya menatapnya.
"Kamu tidak bisa tidur?" tanya Ethan. Naina mengangguk. Ethan ikut memiringkan tubuhnya, mata keduanya saling bertatapan dalam satu garis lurus, sampai perlahan tangan Ethan terulur merapikan rambut gadis itu, sementara Naina memejamkan mata. Ketika merasa aliran darahnya menghangat seketika.
Kemudian, mata gadis itu terbuka perlahan. Tangannya menahan tangan Ethan yang menyentuh setiap inci wajahnya. "Mas Ethan belum ngantuk?" tanyanya tetapi Ethan diam tak menyahut, hanya menatap gadis itu hingga jarak di antara keduanya perlahan terkikis.
Namun, suara dering telpon yang berbunyi dengan nyaring menginterupsi keduanya, membuat Ethan spontan bangkit dari posisinya dan meraih ponsel.
"Siapa?" tanya Naina yang juga ikut duduk dari posisi berbaringnya.
Ethan menatap layar ponsel, kemudian menatap Naina. "Zoya."
Sesaat Naina hanya mematung, sampai matanya bergerak begitu melihat Ethan hendak beranjak dari tempat tidur.
"Saya angkat telpon dulu. Kamu tidur duluan saja." sahutnya seraya mengusap puncak kepala gadis itu dan berlalu keluar dari kamar.
"Hallo, kamu belum tidur?" Naina masih dapat mendengar suara pria itu saat Ethan menutup pintu kamar.
Naina hanya mampu mendesah. Ia menenggelamkan wajahnya di bantal dengan perasaan dongkol. Selalu Zoya yang menjadi pemenang di hati Ethan. Naina tak bisa menandinginya, ataupun menyingkirkannya.
Apa yang bisa Naina harapkan dari pernikahannya dengan Ethan? Sama sekali tidak ada.
Gadis itu sudah terjrbak dengan perasaannya sendiri, ia melupakan satu hal jika alasannya menikah dengan Ethan karena ingin menolong Zoya dan Ethan. Ia ingin membalas budi karena Zoya sudah menyelamatkan nyawanya.
Naina lupa diri dan justru menjadi serakah ingin mendapatkan perhatian Ethan.
Ia tidak bisa tidur dan menunggu Ethan kembali ke kamar, namun sampai pagi tiba, Ethan sama sekali tidak kembali. Naina mendapati pria itu tertidur pada sofa di ruang utama dengan ponsel di dadanya.
Kemudian, saat ponsel pria itu menyala karena sebuah pesan masuk. Layar depan ponsel pria itu membuat hatinya kalut karena yang ditampilkannya adalah Zoya dan Etha yang tengah berpose dengan penuh kebahagiaan.
Di sisi lain, Rival masih terus menagih jawaban Naina atas pilihann yang pria itu berikan.
Berbeda dengan Rival yang sangat menghargai keberadaannya. Naina mengingat baik-baik bagaimana awal perjumpaan mereka. Naina mengingat lagi bagaimana pria itu selalu ada disaat ia butuh membutuhkannya.
Naina mengingat lagi jika yang ia butuhkan bukan hanya sekedar orang yang ia cintai. Tapi yang benar-benar dibutuhkannya adalah orang yang mencintainya.
Sehingga saat Ethan tengah sibuk berkutat dengan pekerjaannya usai mereka makan malam dan Naina kembali ke kamar. Ia memutuskan untuk menghubungi Rival dan memberikan jawabannya.
Naina sudah mempertimbangkannya dan ia merasa yakin dengan pilihannya untuk bersama dengan Rival. Bersama dengan orang yang ingin kepadanya.
"Hallo, Naina." suara khas Rival yang ceria saat mengangkat panggilan darinya membuat Naina mengukir senyum tipis di bibirnya secara refleks.
"Hay Mas Rival. Mas lagi dimana?"
"Hmm, saya sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat. Ada apa?"
"Hmm."
"Ada apa Naina?" pria itu tampak penasaran.
"Ada yang mau saya bahas."
"Hmm, okay. Saya mendengarkan. Apa?"
"Apa tawaran Mas Rival saat kita di gedung bioskop masih berlaku?" tanyanya. Naina tak dapat melihat bagaimana raut wajah Rival saat ini. Tapi yang pasti, Naina cukup merasa yakin jika pria itu saat ini tengah tersenyum.
"Tentu saja masih, kamu sudah punya jawaban?"
"Hmm, sebentar lagi saya sampai ke tempat tujuan." beritahunya.
"Sudah, Mas."
"Jadi apa jawaban kamu?'
__ADS_1
"Mm, saya bersedia–"
Naina membulatkan mata ketika ponsel yang semula berada di tangannya berpindah tangan, dan ia melihat Ethan di hadapannya dengan raut keruh dan sorot mata yang menyeramkan.
"Hallo, Naina. Bersedia apa?"
"Naina, hallo. Apa terjadi sesuatu?"
Ethan segera memutus sambungan telpon dan melempar ponsel Naina ke atas ranjang. Membuat gadis itu hanya mematung di tempatnya.
"Kamu gila, Naina?" Naina tahu itu bukan pertanyaan, sehingga ia hanya diam menatap pria itu dengan dada berdebar, matanya sudah berkaca-kaca. Ia takut pada tatapan mematikan yang Ethan berikan.
"Kamu mau nerima tawaran Rival buat ketemu sama keluarganya? Apa yang ingin kamu lakukan untuk hal itu?"
"Apa aku salah?" Naina berteriak marah atas protes yang Ethan berikan.
"Aku ngelakuin hal itu buat kebahagiaan aku sendiri. Apa aku salah!"
"SALAH!" Ethan balik berteriak.
"Salah karena kamu adalah istri saya!" pria itu berkata dengan penuh tekanan.
Naina mengalihkan perhatiannya ke arah lain dengan senyum smirk, air matanya sudah mengalir deras dan membanjiri pipi mulusnya. Setelah beberapa saat, ia menelan ludah, cukup yakin sudah menguatkan diri untuk berargumen.
"Aku memang istri Mas Ethan. Tapi Mas Ethan bukan suami aku sekalipun Mbak Zoya nggak ada di rumah ini!" Naina berteriak. Ethan hanya diam.
"Mas Ethan pikir aku nggak sakit hati saat ngeliat kamu sama Mbak Zoya yang sering mesra-mesraan di depan aku? Mas Ethan pikir aku nggak pernah cemburu kalau ngeliat kalian sama-sama, huh?"
"Pernah, Mas Ethan mikirin gimana perasaan aku. Pernah Mas Ethan mikirin aku, huh?"
Ethan memaku di tempatnya. Ia menggelengkan kepala, menepis apa yang Naina katakan dengan raut berbeda.
"Tapi saya menikahi kamu bukan karena cinta, Naina. Saya menikahi kamu atas kesepakatan yang sudah kita buat bahkan di atas tandatangan yang kamu bubuhkan!"
"Saya pikir kamu sudah salah paham."
"Bukankah syarat yang Zoya ajukan jangan sampai di antara kita ada cinta?" panjang lebar Ethan yang mulai tak mengerti arah pembahasan Naina.
"Mungkin Mas Ethan bisa seperti itu. Tapi aku nggak Mas. Dengan kita tidur dan menghabiskan waktu bersama, Mas Ethan pikir aku nggak akan jatuh cinta?" Naina memberanikan diri mengutarakan perasaannya. Emosi yang tak bisa ia kendalikan membuatnya bebas mengatakan apapun yang ia inginkan.
"Aku terlanjur jatuh hati sama kamu." gadis itu menyeka air matanya saat Ethan masih menatapnya dengan tatapan tidak mengerti.
"Tapi aku cukup tahu diri Mas. Aku enggak bisa milikin kamu sampai kapanpun, itu kenapa aku butuh Mas Rival."
"Karena aku sadar, aku butuh orang yang benar benar ingin dan mencintai aku."
"Mas Ethan tenang aja, aku nggak akan bilang ke Mas Rival perihal pernikahan kontrak kita. Aku cuma akan bilang ke Mad Rival kalau aku siap dikenalin ke keluarganya, kalau Mas Rival yakin mau nikahin aku. Aku bakal ngulur waktu sampai perjanjian kita selesai." panjang lebar gadis itu dengan penuh keyakinan. Sementara Ethan di hadapannya mengepalkan tangan, mata pria itu memerah dengan raut datar yang tengah memendam amarah.
"Jadi, apa yang kamu inginkan dari saya Naina?" tanya Ethan, tatapan pria itu membuat Naina mengambil langkah mundur. Smirk yang Ethan tampilkan membuatnya mundur hingga terduduk di tepi tempat tidur saat ia tak lagi memiliki pijakan.
"Apa yang kamu inginkan?"
Ethan mendekat pada gadis itu dan memajukan wajahnya hingga nyaris tak berjarak dengan Naina.
"Mas Ethan!" Naina memberk peringatan dengan tangan yang menahan dada pria itu agar mundur. Tapi yang Ethan lakukan justru menyerang bibir Naina dengan brutal, membuat gadis itu berontak dan memukuli Ethan, namun Ethan seolah tuli hingga pria itu disadarkan oleh dobrakan pintu kamar Naina yang menciptakan bunyi hantaman pintu dan dinfing yang begitu keras.
Naina mendorong pria itu hingga Ethan beringsut menjauh darinya begitu pria itu lengah.
Belum Naina mengatur napasnya yang berantakan, kehadiran seorang pelaku pendobrak pintu membuat ia dan Ethan mematung di tempat dengan dada berdebar tak karuan.
Ia dengan Ethan tertangkap basah.
"Mas Rival."
Sama halnya dengan Rival yang juga hanya mematung melihat apa yang terjadi antara Naina dengan Ethan.
"Kalian?"
TBC
__ADS_1
Waah, daebaak.