Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Cuma Satu Bulan


__ADS_3

Seorang pria tertawa terbahak-bahak dengan nada meremehkan terhadap wanita yang saat ini tengah duduk manis pada salah satu kursi di basecamp setelah produser film mereka menyuruhnya untuk beristirahat dan bergabung dengan yang lain.


Wanita yang ditertawakan hanya diam, menatap Edrin dengan tatapan penuh jiji pada pria itu. Menganggap seolah Edrin adala orang gila yang tengah menertawakannya tanpa maksud apapun karena pria itu memang gila.


"Kamu bilang tidak ingin melihatku, kamu juga bilang jika kamu tidak ingin terlibat kerja sama, sama aku tapi ternyata kamu menerima tawaran Pak Arfat saat jelas-jelas kamu tau aku pemeran utama di film ini!"


"Kamu sengaja melakukannya kan Alexa? Biar kamu bisa terus ketemu sama aku. Setiap harix setiap malam." oceh pria itu yang terdengar sangat tidak masuk akal di telinga Alexa. Bukankah sadar diri itu perlu sekalipun tinggi rasa percaya dirinya?


Namun begitu, wanita itu hanya memilih untuk diam. Selain sebagai anggota baru yang harus menunjukan rasa hormat dan sopan santunnya, ia juga sedang sangat lelah saat ini sehingga melawan Edrin rasanya hanya akan membuang buang tenaganya dengan percuma.


"Okay, baiklah. Anggap jika kamu benar-benar melakukannya agar kita bisa bertemu setiap waktu." sahut pria itu yang kemudian duduk di kursi miliknya tepat di samping Zoya.


Sedangkan Alexa masih bertahan untuk mengendalikan amarahnya. Wanita itu masih mencoba untuj sabar dari keinginan untuk mencaci maki Edrin bahkan mencakar wajah pria itu.


Andai, andai wajah Edrin untuk film ini tidaklah mahal, mungkin Alexa benar-benar ingin meninggalkan jejak kukunya di wajah pria itu.


"Sepertinya aku harus mencari pacar agar tidak ada yang mengganggu apalagi berharap diperhatikan." oceh pria itu lagi dengan penuh percaya diri. Hampir membuat Alexa memuntahkan seluruh isi perutnya saat itu juga melihat kelakuan Edrin.


Alexa ingin bilang jika dia tidak ingin bergabung dalam film ini karena Edrin ada di sana. Alexa ingin bilang jika ia sama sekali tidak ingin bertemu Edrin setiap hari apalagi berharap diperhatikan oleh pria itu. Alexa ingin bilang jika ia terpaksa ikut dengan Arfat dan bergabung dalam film karena Rachel sudah menandatangani kontrak kerjasama tanpa berdiskusi lebih dulu dengannya.


Alexa ingin mengatakan hal itu agar Edrin tak perlu berlebihan apakagi sampai jadi anak megalow mania karena perkara ini. Namun rasanya sia-sia sana jika mengatamkan sebuah kejujuran pada pria itu.


Toh rasanya tidak penting untuk mengatkan hal tersebut pada Edrin. Memang pria itu siapa?


Zoya mendesah mendengar keributan yang Edrin ciptakan hanya karena Alexa ikut bergabung dengan film mereka. Pada dasarnya, Zoya menilai jika Alexa layak, bahkan sangat layak menjadi penggangi Yara Narasatya untuk memerankan tokoh Selia.


"Kalau kalian mau ribut silakan di luar!" usir Zoya yang membuat Edrin menahan kalimatnya di udara saat pria itu hendak kembali berkata-mata pada Alexa.


Edrin mengalah dan bangkit dari duduknya, sang asisten segera beranjak mengikuti pria itu dengan kipas angin portable di tangannya. Edrin yang melewati Alexa memutas bola matanya jengah, berbeda dengan Alexa yang memilih membuang pandangannya ke sembarang arah, kemanapun asalkan tak bertemu dengan pria itu.


Ia tidak ingin, dengan melihat wajah Edrin membuatnya akan marah dan menciptakan masalah. Alexa tidak ingin keributan apapun.


Setelah kepergian Edrin, hanya tinggal Alexa dengan Zoya di dalam ruangan tersebut, yang lain berada di luar untuk melihat pemain lain melakukan pengambilan adegan. Sementara Zoya sendiri memang sengaja menikmati waktu break syutingnya di basecamp karena di luar begitu panas.


"Dasar pria gila!" Alexa memaki setelah Edrin benar-benar meninggalkan ruangan tersebut.


Zoya menoleh pada wanita itu. "Kenapa kamu ngomongnya nggak tadi aja pas orangnya ada di sini." sahut Zoya tanpa menatap wanita itu.


"Aku nggak mau buat masalah." Alexa menyahut seperlunya dengan nada tak ramah.


"Hmm, bagus. Anak baru, jadi harus tahu diri." ucap santai Zoya yang mengundang kekesalan Alexa, ia menatap Zoya tajam. Zoya yang merasa ditatap lantas menoleh dan balik menatap wanita itu tak kalah tajam.


"Shhh, aku nggak suka kamu." jujur Zoya tanpa pertimbangan. Spontan membuat Alexa membulatkan mata, tak percaya jika Zoya akan blak-blakkan dalam berbicara.

__ADS_1


"But, karakter tokoh Selia cocok sama kamu. Kamu layak." sahut wanita itu, kali ini membuat Alexa mematung tidak percaya. Apa saat ini wanita itu tengah memberi pujian padanya?


Zoya? Bagaimana bisa?


***


"Mbak nggak nyangka, kalau Alexa yang Pak Arfat pilih." sahut Selin ketika mereka dalam perjalan pulang usia syuting selesai. Zoya mengangguk setuju.


"Tapi Alexa emang pernah beberapa kali terlibat dalam project film Pak Arfat, sih. Singkatnya mereka uda akrab. Ibu Rachel juga berteman baik sama Pak Arfat." sahut wanita itu lagi panjang lebar.


"Tapi menurut kamu, Alexa cocok meranin tokoh Selia? Dia ketinggalan pembacaan skrip di hari pertama sebelum syutiing." sambungnya.


"Aku kira Alexa layak, aku juga tahu gimana bakat akting dia. Tapi kami sempet latihan di basecamp, dan yaah ..., Alexa nggak perlu diragukan." Zoya menyahut santai, tak sadar sudah membuat Selin mengerutakan kening atas apa yang wanita itu katakan.


"Kamu latihan berdua sama Alexa?"


"Hmm."


"Kok bisa?"


"Bisalah," Zoya lagi-lagi mrnyahut santai, Naina di sampingnya hanya terdiam.Ia menyaksikan sendiri saat Zoya berlatih dengan Alexa tadi. Naina mengangkat kedua jempolnya untuk dua wanita itu.


Setelah mengatakan hal jujur pada Alexa mengenai penilainnya jika wanita itu layak mengambil peran, Zoya menyerahkan lembaran naskah milik Alexa yang dititipkan oleh Irpan padanya.


"Kedua?"


"Hmm, kedua?"


"Kamu masih cemburu kan karena dia pernah naksir suami kamu?"


"No. Aku nggak cemburu, aku nggak pernah mau cemburu sama siapapun, karena aku tahu Ethan cuma milik aku." sahut wanita itu dengan percaya diri dan membuat Selin berdecak bangga. Berbeda dengan Naina yang mematung di tempatnya. Tidak ada yang salah dari apa yang Zoya katakan. Tapi ada sesuatu di hatinya. Perasaannya merasa sakit,sakit yang tak bisa ia jelaskan.


Zoya bukan ingin egois, tetapi ia harus selalu menginhatkan Naina jika Ethan hanya miliknya dan hanya akan menjadi miliknya.


"Besok pemotretan ulang buat poster film-nya. Mbak jemput kamu jam sembilan pagi." sahut Selin ketika mobil sudah berhenti di depan gerbang rumah Zoya.


"Okey Mbak." Zoya sudah bersiap untuk turun dari mobil.


"Inget, badan Mbam Selin jangan terlalu di forsir. Jangan terlalu khawatirin aku sama pekerjaan aku. Aku bisa urus semuanya."


"Nggak bisa lah, Zoy."


"Hmm, aku nggak mau calon keponakanku kenapa-napa, Mbak."

__ADS_1


"Kamu nggak usah khawatir, ada papanya yang selalu stand bye buat jagain." Selin berkata diakhiri tawa. Zoya juga tertawa, berbeda dengan Naina yang hanya mampu mengukir senyum tipisnya.


***


Zoya hanya mendesah dengan kekesalan di dadanya melihat dan mendengar perdebatan dua orang itu yang membuat proses pemotretan memakan waktu cukup lama dari seharusnya.


Beberapa kru juga sudah terlihat lelah melihat Edrin dengan Alexa yang terus saja berdebat dan membuat semua terhamnat.


"Dengar ini, kalian nggak bisa egois, okay. Tolong profesional." pinta Zoya dengan raut lelah penuh permohonan.


"Zoya, bukan aku yang mulai duluan." Alexa tak ingin disalahkan, Edrin". berkacak pinggang. Apa maksud Alexa yang salah adalah dirinya? Jelas saja Edrin merasa tidak terima.


"Kalau kalian berdua masih seperti ini. pemotretan kita sambung besok. Kemungkinan keberangkatan ke luar kota akan diundur dan jadwal yang sudah Ibu Sena buat akan berantakan." Hans, seorang operator kamera buka suara, raut wajah pria itu sama seperti Zoya saat menatap dua orang pembuat kekacauan di sana.


Sementara Ibu Sena sendiri adalah seorang manajer lokasi.


Edrin dengan Alexa sama-sama saling terdiam, keduanya mendesah dan bersiap menyelesaikan pemotretan. Seseali masih terus terjadi perdebatan hanya karena masalah pose dan hal remeh temeh lainnha. Tapi fidak separah beberapa saat lalu.


Setidaknya, semua selesai hari ini dengan hasil yang tidak mengecewakan.


***


Suasana sunyi menemani Ethan dengan Zoya yang tengah mempacking pakaian Zoya yang besok pagi akan berangkat ke luar kota dalam waktu yang cukup lama. Beberapa saat lalu, ia juga sudah berpamitan dan meminta doa pada mama dan papa mertuanya sekaligus meminta maaf karena merada kau tidak pernah.


Zoya tersenyum melihat faut sendu sang suami yang tampak tidak rela karena akan ditinggalkannya. "Aku cuma satu bulan," sahit Zoya yang membuat pria itu menengadah dan mempertemukan tatapan mereka.


"Kamu pikir satu bulan tidak lama?" Ethan bersuara dan tampak putus asa. Zoya hanya tersenyum dan terus memasukan pakaian ke dalam kopernya, sampai tiba-tiba, tangan besar Ethan melingkari pinggangnya, menaruh dagunya di pundak Zoya dengan manja.


"Kamu berdoa aja, semoga dalam waktu tiga minggu udah selesai dan aku bisa pulang." sahut Zoya seraya terus melanjutkan pekerjaannya.


"Kalau dalam satu minggu? Kira-kira bisa selesai atau tidak?"


Zoya tertawa, ia menutup kopernya dan membalikan tubuhnya untuk berhadapan dengan Ethan, sementara tangan pria itu terus melingkari tubuhnya.


"Satu minggu? Hmm, mungkin bisa, paling kami pulang nanti hanya tinggal nama." sahut Zoya, Ethan tergelak, memdekap tubuh wanita itu dengan erat seraya memejamkan mata.


Entah mantra seperti apa yang Zoya punya hingga membuat Ethan terus jatuh cinta pada wanita itu tanpa mengenal batas waktu setiap harinya.


"Zoya, apa saya bisa jika tanpa kamu?"


TBC


Hmm, lebay amat cuma ditinggal satu bulan doang Babang Ethaan.

__ADS_1


__ADS_2