
Zoya hanya diam mematung begitu ia keluar dari mobol Ethan saat sudah sampai di rumah orang tua pria tampan itu. Zoya seperti sedang bermimpi saat ini.
Bertemu calon mertua? Dalam rangka bersandiwara atau apalah, Zoya tidak mengerti.
Ethan yang semula sudah melangkah pada undakan tangga di teras rumah lantas menoleh begitu sadar jika Zoya masih diam di tempatnya. Ia menatap wanita yang tengah memandang rumahnya. Membuat Ethan melakukan hal yang sama, menatap rumah yang jarang ditempatinya.
Ketika masuk Sekolah Menengah Pertama, Agyan membawa mereka pindah ke rumah yang jauh lebih besar. Alasannya karena anak mereka sudah tumbuh besar, sedangkan ternyata kedua anaknya sibuk dengan urusan masing-masing. Terutama Arasy yang memang sejak kecil selalu memiliki kegiatan syuting, berbeda dengan Ethan yang berhenti dari dunia entertaint saat ia duduk di kelas empat Sekolah Dasar.
Begitu masuk perguruan tinggi, Ethan memilih tinggal di apartement dan sesekali baru akan pulang, terutama jika saat Freya sedang memaksanya karena rindu dan ingin bertemu.
Lulus dari perguruan tinggi, Ethan tinggal di hotel jenis president suite yang tak lain adalah hotel milik Warry, kakeknya.
Jika dipikir-pikir, baik Ethan maupun Arasy. Keduanya lebih sering memberikan waktu untuk orangtuanya agar selalu bisa bersamaan. Meski Agyan dan Freya tidak terlalu menerima hal itu karena mereka jauh dengan putra-putrinya.
"Apa yang kamu lakukan? Kedua orangtua saya sudah menunggu."
Zoya terkesiap begitu sebuah suara menyapa indera pendengarannya. Matanya fokus pada objek di sampingnya. Rambut pria itu tertiup angin malam, matanya menyipit. Dia tampan.
"Kamu masih akan berdiri di sana?" sekali lagi Ethan menyadarkan wanita di hadapannya. Kali ini Zoya benar-benar tersadar, ia melangkahkan kaki mendekat pada Ethan. Menganggukan kepala dan berjalan sejajar dengan pria itu.
"Ayah, Bunda. Ethan pulang," adalah kalimat pertama Ethan begitu ia membuka pintu rumah. Freya yang memang sejak sore tadi menunggu kedatangan putranya lantas menyambut.
Berjalan ke arah Ethan dan memeluk putranya setelah mendaratkan kecupan di pipi, Ethan melakukan hal yang sama. Mengecup kedua pipi sang bunda yang sangat sering menelponinya.
Zoya yang berada di samping Ethan hanya tersenyum. Sedangkan hatinya merasa kagum pada kehangatan pelukan dua orang di hadapannya.
Tak lama, Agyan muncul dengan senyum cerah melihat kedatangan putra mereka yang sangat sulit sekali ditemui.
"Ethan,"
"Ayah," Mengurai pelukannya dengan Freya dan beralih pada Agyan. Memeluk sang ayah.
Zoya hanya diam di tempat sebelum menerima intruksi apapun dari Ethan. Sampai tatapan Freya berpusat padanya. "Zoya?"
"Tante," Menyalami Freya dengan sopan, lantas beralih pada Agyan dengan senyum ramah yang ia pamerkan. Beruntung, sambutan kedua orang tua Ethan juga sangatlah ramah.
"Arasy di mana? Dia sibuk?" Ethan bertanya begitu menyadari jika keadaan rumah begitu sepi.
"Dia ada pemotretan, mungkin akan pulang malam." Agyan menyahut.
"Atau mungkin tidak akan pulang." Freya menambahi dengan raut kecewa. Agyan menggandengnya menuju meja makan. Sedangkan dua orang itu hanya diam, Ethan menoleh sebentar pada Zoya. Lantas berjalan ke arah kamarnya, Zoya mengikuti.
Mengutuki dirinya sendiri yang mau-mau saja diajak ke rumah Ethan, Zoya tidak percaya hidupnya berada pada posisi saat ini. Kepercayaan dirinya seolah hilang sekarang.
Sontak wanita itu menghentikan langkah saat pria di hadapannya juga berhenti dan berbalik badan padanya begitu mereka ada di undakan tangga.
"Kamu mau kemana?" Ethan bertanya.
"Saya ngikutin Bapak!"
"Saya mau ke kamar!"
Lagi-lagi Zoya mengutuki dirinya sendiri, menggaruk kepala dengan jari telunjuknya. "Kamu tunggu saya di meja makan!" setelahnya berlalu begitu saja tanpa perasaan, meninggalkan Zoya yang merasa kebingungan. Mengingat ini kali pertama dirinya berkunjung ke rumah Ethan dan bertemu dengan kedua orang tua pria itu.
"Zoya, kemari."
Freya memanggilnya. Ia menoleh dan tersenyum, lantas melangkah menghampiri Freya dan bergabung dengan dua orang itu di meja makan.
"Tidak perlu sungkan, duduklah." Freya menggandeng Zoya dan menarik salah satu kursi untuk calon menantunya. Lagi-lagi Zoya hanya bisa tersenyum di sana.
"Saya menonton film terbaru kamu, akting kamu bagus." Agyan membuka percakapan, sedangkan asisten rumah tangga menghidangkan menu makan malam.
"Terimakasih, Om."
__ADS_1
"Kamu suka akting sejak kecil?"
"Mm, sedikit."
Agyan dan Freya kompak mengernyit mendengar jawaban Zoya. Keduanya bertukar pandang dan menatap Zoya setelahnya. "Awalnya cita-cita saya jadi arsitek. Tapi sepertinya saya jauh lebih cocok dengan dunia entertaint." Mengukir senyum selebar mungkin di akhir kalimatnya.
"Orangtua kamu, mereka juga tinggal di Jakarta?"
"Mm, orangtua saya sudah meninggal."
Freya menyentuh bibir, tidak enak sudah mengajukan pertanyaan tersebut pada Zoya. "Enggak papa, Tante. Enggak masalah kok,"
Setelahnya, obrolan mengalir begitu saja. Sampai Ethan muncul di hadapan mereka dengan wajah yang terlihat segar. Rambut yang biasa naik dan memperlihatkan dahi sekarang tampak jatuh dan basah menutupi dahinya.
T shirt putih dan celana hitam yang membuat Zoya merasa sedang syuting film sekarang saat melihatnya. Pria itu duduk tepat pada kursi di samping Zoya.
"Ayo, silakan makan." Agyan mempersilakan. Mereka melangsungkan makan malam. Ethan tampak menikmati makannya dengan acuh tanpa perduli keadaan sekitar.
Agyan masih menyusun diksi yang tepat untuk berbicara pada putranya. Karena alasan utama ia menyuruh Agyan mengajak Zoya adalah untuk membicarakan hubungan mereka.
"Ethan dan Zoya secepatnya akan menikah." tiba-tiba saja Ethan berbicara dan membuat Zoya tersedak. Wanita itu terbatuk-batuk, Freya menyerahkan segelas air padanya.
"Kamu nggak apa-apa?"
"Enggak Tante, saya nggak apa-apa."
Agyan terlihat mempertimbangkan. Ethan menoleh sebentar pada Zoya yang sudah meredakan batuknya. Lantas menatap Agyan meminta tanggapan.
"Apa kamu mencintai Zoya?" Agyan bertanya.
"Tidak." Ethan menyahut spontan, spontan pula Zoya menoleh dengan raut kesal. Heran dengan Ethan yang berbicara seenaknya tanpa menggunakan filter sedikit pun.
"Ethan," Freya merasa tidak enak dengan sikap jujur putranya di hadapan Zoya.
"Hal tersebut tidak bisa begitu saja ditunda, apalagi jika tiba-tiba dibatalkan!"
"Kami tidak bisa menghindar, dan Zoya Hardiswara juga turut andil dalam kasus yang membuat perusahaan hampir jatuh."
Perkataan Ethan yang secara gamblang menyindir Zoya membuat wanita itu hanya mendesah pasrah. Sepertinya ia mulai tau bagaimana karakter seorang Zeinn Ethan.
"Kalau begitu Bunda mau tanya." Freya terlihat serius. Ethan menatap dan mempersilakan sang bunda untuk berbicara.
"Apa yang terjadi pada kalian berdua di kamar hotel kamu?"
Agyan membulatkan mata mendengar pertanyaan gamblang istrinya, begitu juga Zoya yang mendengarnya. Sedangkan Ethan tampak santai seperti biasanya.
"Apa Ethan benar-bebar harus mengatakannya pada Bunda?" Ethan bertanya serius, membuat Freya berpikir yang tidak-tidak pada putranya.
"Ethan ...," Freya menghela napas.
"Tapi kenapa harus menikah? Hal itu tidak mudah, Sayang."
Ethan menatap sang bunda dengan tatapan teduh. Ia tau jika Freya mengkhawatirkannya, mengkhawatirkan masa depannya.
"Tidak ada apapun yang terjadi di antara kami. Ethan mabuk dan tidak mengingat apa-apa." Ethan berkata jujur, Zoya mengangguk mengiyakan.
"Benar begitu?" Freya tampak ragu. Kali ini Ethan mendesah. "Itulah kenapa Ethan memutuskan menikah di depan media, mereka tidak akan percaya jika tidak terjadi apa-apa di antara kami."
"Bahkan Bunda saja tidak percaya bukan?"
Freya hanya diam. "Baiklah, lalu kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" Agyan menengahi dan bertanya.
"Ethan akan atur secepatnya!"
__ADS_1
Agyan mengangguk-anggukan kepala. Matanya mengarah pada Zoya yang terlihat pasrah pada keputusan yang diambil Ethan
"Lalu bagaimana dengan Zoya, dia setuju?" memilih untuk bertanya.
Ethan menoleh pada Zoya, lantas ia mengangguk.
**
Begitu acara makan malam selesai, Zoya pamit pulang. Freya menahannya agar Zoya berada di sana cukup lama. Tapi Ethan mencegah karena wanita itu juga butuh beristirahat setelah melewati hari yang tidak mudah.
Keduanya berjalan keluar dari rumah, Ethan berjalan di depan sementara Zoya mengikuti di belakang.
"Pak Ethan,"
"Hmm," menyahut tanpa menoleh. Begitu sampai di teras, Ethan baru berbalik dan menutup pintu, membuat wanita yang berada di depan pintu itu terkungkung olehnya. Zoya menatap mata pria itu ragu, sedangkan Ethan tampak cuek dan menyingkir setelah pintu tertutup.
"Ada yang ingin kamu bicarakan?"
"Ada!" menjawab cepat selagi Ethan memberinya kesempatan.
"Katakan!"
"Karena Pak Ethan tidak mau kita membuat kontrak perjanjian, jadi bagaimana jika saya mengajukan beberapa persayaratan, dan Pak Ethan harus memenuhinya!"
Ethan melipat tangan di dada. Raut wajahnya mempersilakan Zoya untuk berbicara. Mengajukan persayatan untuknya.
"Saya hanya akan mengajukan tiga persayaratan setelah kita menikah nanti!" Ethan mengangguk samar. Zoya menghela napas sebelum berbicara.
"Yang pertama, saya mau memberi tahu Bapak kalau saya memiliki pacar."
Ethan tampak tidak terkejut seolah dia sudah mengetahui hal tersebut. Melihat Ethan tak memberi respon apa-apa lantas Zoya melanjutkan pembicaraannya. "Jadi, saya mau Pak Ethan tidak perlu mencampuri hubungan pribadi saya."
"Bapak sanggup?"
Ethan tidak menyahut.
"Sekalipun Pak Ethan nggak sanggup, itu akan tetap menjadi persayaratn yang harus Bapak penuhi." Zoya bersikukuh.
"Syarat kedua, Pak Ethan juga tidak perlu mencampuri karier saya."
"Apalagi melarang saya syuting atau yang lainnya."
"Dan yang ketiga ...," Zoya menjeda kalimatnya, menatap Ethan dalam-dalam kemudian melanjutkan. "Enggak ada sex di antara kita."
"Saya tidak setuju!" seketika Ethan keberatan dan membuat Zoya membulatkan mata tidak percaya.
"Ma ..., maksud Pak Ethan?"
Ayolah, kepala Zoya sudah menduga hal-hal yang sesungguhnya tidak ingin ia pikirkan. Tapi mereka melintas begitu saja.
"Saya tidak setuju dengan syarat ketiga!"
"Pak Ethan gila?"
"Saya waras, maka dari itu tidak ada syarat ketiga!" ucap Ethan tegas.
"Aaargh!"
Zoya menatap Ethan tidak percaya. Tidak menyangka juga heran yang tiada terkira pada CEO agensinya. "Pak Ethan!"
"TIDAK ADA SYARAT KETIGA!" sekali lagi Ethan menegaskan.
TBC
__ADS_1