Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Hopeless


__ADS_3

"Aku akan ngehubungin Pak Chen."


Ethan menatap wanita itu yang enggan melakukan eye contact dengannya. Ethan tentu tahu siapa nama pria yang sang istri sebutkan. Pengacara Zoya.


"Aku akan minta dia urus perceraian kita."


Sesaat Ethan terdiam, senyum smirk terbit di bibirnya. Ia menaikan resleting dress wanita itu, Ethan berhasil mengganti pakaian Zoya. Beberapa saat berlalu Ethan hanya menatap sang istri namun Zoya masih konsisten memalingkan wajah. Sama sekali tidak ingin melihat sang suami.


"Kamu pikir akan mudah bercerai dengan saya Zoya?" tanya Ethan dengan nada bicara tak biasa. Pria itu sudah memasuki mode marahnya. Ia sadar ia salah, Zoya bebas melakukan apapun padanya. Namun bercerai jelas saja bukan solusi Ethan tidak akan melepaskan Zoya dengan mudah.


"Perceraian bukan jalan, Sayang." nada bicara Ethan kali ini terdengar sendu di telinga Zoya. Wanita itu masih enggan menatap Ethan saat pria itu mencoba meraih tangannya dan menggenggamnya. Sementara Zoya menundukan pandangannya dalam-dalam.


"Sayang, saya tau saya salah. Saya sudah bilang kamu bebas marah, lalukan apapun yang mau kamu lakukan–kecuali bercerai!" ujar Ethan lantang.


"Bukannya tujuan kita menikah adalah untuk Blberumah tangga? Berkeluarga dan memiliki anak? Sedangkan aku nggak bisa kasih kamu anak, jadi apa yang harus kita pertahankan dalam pernikahan kita Ethan?" pekik Zoya, kian terluka. Ethan tidak pernah mau mengerti perasaannya.


"Tidak Zoya, tujuan pernikahan bukan hanya itu." Ethan menyahut cepat.


"Lalu apa?" Zoya melemparkan pertanyaan tak kalah cepat.


"Ketika salah satu pasangan tetap mau bertahan begitu tau kekurangan pasangannya. Saya dengan kamu Zoya, tujuan menikah juga untuk saling melengkapi "


"Seperti kamu yang menerima saya meski saya adalah anak di luar pernikahan. Saya juga akan tetap menerima kamu apapun yang terjadi."


Pada dasarnya, cinta Ethan untuk wanita itu sudah ada bahkan mungkin ketika Ethan belum mengenal arti cinta. Baginya, Zoya adalah tempatnya berlabuh dan ia tidak memiliki alasan untuk meninggalkan wanita itu bagaimanapun keadaannya.


"Saya tidak perduli bahkan walau kamu tidak bisa memberi saya anak. Kamu untuk saya sudah sangat cukup Zoya." kali ini suara Ethan melemah, pria itu menjatuhkan kepalamya di paha Zoya.


"Saya mohon Zoya, jangan meminta cerai dari saya." sahut pria itu, sarat akan makna.


"Jangan bercerai Zoya."


Apa yang Ethan katakan berhasil membuat pertahanan Zoya kian runtuh. Air matanya terus bercucuran seolah lupa bagaimanaa caranya untuk berhenti.


**


Dalam perjalanan pulang, Randy yang tengah menyetir hanya menoleh ke samping, melihat bagaimana raut kacau Ethan dengan kemeja bagian depan yang berantakan meski tampak sudah berusaha untuk coba dirapikan. Lantas ia menoleh ke belakang di mana Zoya berada di sana dengan mata terpejam dan kepalanya yang bersandar di bahu Freya, wanita itu tidak tidur, mungkin hanya lelah. Freya menggandeng wanita itu dengan sesekali mengusap rambut Zoya.

__ADS_1


Randy hanya mendesah pelan, dari yang ia amati. Tampaknya semua akan berjalan sedikit rumit dari apa yang ia bayangkan, Ethan terlihat tak memikiki solusi apapun. Terlebih lagi pria itu memang di posisi yang salah, mungkin seharusnya jika Ethan mengatakan sejak awal pada Zoya jika wanita itu tak bisa memiliki anak, semua tidak akan berbuntut panjang.


Meski resikonya akan tetap sama, antara Zoya kecewa dengan dirinya sendiri atau bahkan mungkin meminta cerai dari Ethan karena merasa tidak pantas bersanding dengan pria itu.


Karena dia tak bisa memberikan Ethan keturunan.


Kedatangan Zoya dengan Ethan ke rumah disambut oleh Naina begitu gadis itu mendengar deru mesin mobil, tentu saja ia segera mengukir senyum menyambut kedua majikannya. Namun pemandangan yang ia lihat justru membuat senyumnya perlahan luntur.


Semoga orang tampak datang dengan wajah datar, terutama Ethan, sementara Zoya tampak muram. Wanita itu masuk digandeng oleh Freya sementara Ethan mengikuti di belakang. Randy hanya tersenyum pada Naina sekilas kemudian pamit mengundurkan diri dan kembali masuk ke dalam mobil, melajukan mobil meninggalkan pelataran rumah.


Naina tidak bertanya apapun atau sekedar beesuara, dia cukup sadar jika ada yang sedang tidak beres. Ia lebih memilih untuk mengambil minum ke dapur, sedangkan ketiga orang itu duduk di sofa ruang utama rumah.


Yang paling kentara kacau adalah Ethan. Bahkan ia melihat bagian depan kemeja pria itu yang berantakan, sekilas ia melihat ada bercak darah di dadanya. Naina cukup bingung dengan apa yang terjadi, terlebih mengingat Zoya dan Ethan masih baik-baik saja saat akan menginap ke rumah Freya, namun begitu Naina menahan diri, ia tidak berhak mencampuri urusan majikannya.


***


Tidak ada yang buka suara di ruang utama, yang pertama terdengar adalah ******* napas Freya, lantas menatap putra dan menantunya secara bergantian.


"Bunda nggak akan ikut campur, semua masalah kalian silakan kalian selesaikan sendiri. Tapi kalian harus ingat, bercerai bukanlah solusi." sahut Freya setelah hening cukup lama di sana.


"Tidak boleh ada perceraian di antara kalian. Bunda tidak setuju Ayah juga tidak akan setuju. Dan Arasy pasti akan marah saat mendengarnya nanti jika kalian mengambil perceraian sebagai solusi." treatment Freya tak bisa dibantahkan.


"Sekarang, tenangkan diri kalian dulu. Jangan berbicara hal yang macam-macam." sambung Freya pada dua orang yang hanya saling terdiam itu. Ethan mengangguk samar. Sementara Zoya masih menundukkan pandangannya dalam-dalam.


Ethan juga tak buka suara, ia justru kembali mendesah, lantas pamit kepada sang bunda untuk mengganti pakaian, ia menatap Zoya sebelum berlalu namun wanita itu tetap tak mau balik menatapnya. Zoya benar-benar menghindar darinya.


Begitu Ethan terlalu, tinggal hanya ada Zoya dengan sang mama mertua di sana. Wanita kembali terisak, sesak di dadanya terus saja mengganggu. Freya menepuk pelan bahu menantunya, mengelus punggung Zoya dengan lembut. Meraih tubuh wanita itu kemudian memeluknya. Membbiarkan Zoya menangis dengan leluasa. Memang tidak boleh ada yang ditahan di dadanya.


"Menangis saja Zoya." bisik Freya. Hingga setelah beberapa saat, Freya kembali berbicara.


"Sayang, dengarkan Bunda. Apapun yang terjadi dengan kamu, tidak peduli apapun kekurangan yang kamu miliki. Ethan tidak akan pernah meninggalkan kamu."


"Bunda juga tidak akan membiarkan kamu pergi, jadi tolong jangan mengambil keputusan yang nantinya akan membuat kalian berdua menyesal."


"Semuanya sudah takdir Tuhan Zoya, dan kita tidak bisa berbuat apa-apa selain menerimanya. Semuanya sudah Tuhan atur dengan sedemikian rupa, ini bukan kebetulan Sayang, bukan." Freya mengulang apa yang sebelumnya sudah ia sampaikan.


"Sekarang kamu istirahat. Tenangkan diri kamu dan jangan memikirkan perceraian dengan Ethan. Demi Tuhan Bunda tidak akan izinkan, tidak akan." Freya tidak main-main dengan perkataannya.

__ADS_1


Bukan saja karena ia sudah terlanjur menyayangi menantunya, tetapi juga karena Freya tahu bagaimana putranya sangat mencintai wanita itu. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Ethan seandainya Zoya meminta bercerai dan pergi meninggalkan Ethan.


Sementara di dalam kamar di lantai atas, Ethan melihat pantulan dirinya di dalam cermin. kemeja hitam yang baru saja ia beli tidak dapat dipakai lagi. Ia mengamati tubuh shirtless di mana di bagian dadanya terdapat beberapa cakaran. Ya, itulah ulah tangan Zoya. Perih memang, tapi tidak sebanding dengan perasaannya saat ini maupun perasaan Zoya. Cakaran itu tidak berbekas sama sekali.


Ethan memilih untuk mendaratkan dirinya di tepi tempat tidur, memijat pelipis memikirkan bagaimana caranya agar keadaan menjadi normal, agar Zoya tidak perlu mengingat masalah ini dan agar pernikahan mereka kembali harmonis.


**


Freya memutuskan untuk menginap di rumah anak dan menantunya. Usai menikmati makan malam yang berlangsung dengan penuh keheningan, semua orang beristirahat termasuk juga Ethan dengan Zoya meski dua orang itu sama sekali tidak saling bertegur sapa dan berbicara seperti biasanya.


Zoya masih hanya terus terdiam kepada sang suami sementara Ethan hanya memperhatikan setiap gerak wanita itu.


Malam sudah begitu larut ketika Ethan menyadari jika sang istri tidur dengan jarak sangat berjauhan dengannya, bahkan ada bantal guling di antara mereka yang sengaja wanita itu jadikan sekat agar Ethan tidak mendekat.


Pada awalnya Ethan hanya memperhatikan tubuh Zoya yang menghubunginya, sampai ia tersadar jika bahu wanita itu bergerak naik turun, tak lama setelahnya ia mendengar isakan.


Zoya masih menangis.


***


Semua bagai mimpi buruk bagi Zoya, kehidupan yang dirasa sudah sempurna sebagai seorang artis terkenal, public figure yang paling dicari dan dicintai, memiliki banyak penggemar yang mau memberi dan melakukan apa saja, memiliki seorang suami super kaya yang sangat mencintainya, memiliki mertua penuh kasih sayang.


Adik ipar yang menyukainya dan dikelilingi oleh orang-orang yang baik. Namun semua itu begitu tak berarti apa-apa baginya begitu ia dihadapkan pada permasalahan sekarang yang seolah membuat Zoya memutus harapan untuk hidupnya.


Ia sudah tertidur, namun begitu terbangun Zoya merasa sesak di dadanya masih utuh. Semua masih membekas, dan yang bisa dilakukannya hanyalah menangis.


Isakan wanita itu berhenti saat sebuah tangan besar melingkari pinggangnya, Zoya mematung hingga ia merasakan jika tubuh Ethan bergeser mendekat padanya setelah menghempas bantal guling entah kemana. Hingga tak lama, pria itu menaruh dagunya di pundak Zoya. Membuat pipi mereka saling bersentuhan.


Yang pertama kali ia dengar dari Ethan adalah ******* napas berat pria itu. "Inilah alasan kenapa saya merahasiakan ala yang terjadi dengan kamu Zoya." pria itu buka suara.


"Saya tidak ingin kamu bersedih."


"Saya tidak ingin kamu terluka." sahut Ethan, sedangkan Zoya hanya mendengarkan, sesekali air matanya masih terus saja berjatuhan.


"Saya tidak pernah suka melihat kamu menangis. Saya tidak pernah senang melihat kamu bersedih, Zoya." sambung pria itu, terdengar nada ketulusan di sana. Apapun yang Ethan katakan pada Zoya, pada dasarnya semua memang tulus dan penuh kasih.


Namun, dengan keterbatasan Zoya yang wanita itu anggap sebagai cacat. Akankah rumah tangga yang mereka jalani tetap sama seperti sebelumnya?

__ADS_1


TBC


Berikan cinta kalian untuk Ethan dan Zoya. Jadi gimana nih, apa Ethan ganti istri saja kah?🤣


__ADS_2