
Sudah satu minggu sejak foto Ethan dan Zoya memasuki kamar hotel tersebar di berbagai media, dan hari ini Zoya tengah menikmati camilan di ruang utama apartement dengan penampilan yang berantakan.
Satu minggu ini ia sibuk dengan semua kegiatan syuting termasuk mengisi beberapa acara gosip dengan Ethan. Hari ini adalah hari liburnya karena harus melakukan fitting baju pengantin.
Zoya masih tidak percaya dengan hal ini. Ia merasa jika kehidupannya benar-benar sudah berakhir. Sampai detik ini pula sang kekasih masih tidak bisa dihubungi, membuat Zoya kian frustrasi.
"Belum siap-siap?" tanya Selin yang muncul dari arah kamar yang sering ditempatinya, terlihat wanita itu sudah berpakaian rapi dan kemudian duduk di samping Zoya.
"Zoy, berat badan kamu jangan sampe naik pas nikahan nanti!" Mengambil toples camilan dari pangkuan Zoya. Wanita itu memasang raut memelas, tapi Selin mencoba tak memperdulikan.
"Jangan ingetin aku masalah pernikahan, deh, Mbak." Memangku bantal sofa kemudian merebahkan kepalanya di sana.
"Aku mimpi nggak, sih?" Zoya masih enggan untuk percaya.
"Ini kenyataannya, Zoya. Kamu gak bisa lari kemana-mana!"
"Mending sekarang kamu siap-siap, sebentar lagi Pak Randy akan datang menjemput kamu untuk fitting gaun pengantin!"
"Pak Randy?" tanya Zoya seraya menegakan duduknya, Selin menoleh padanya dengan raut heran. "Ada apa?" Selin balik bertanya karena tidak tau maksud ekspresi Zoya.
"Aku nikah sama Pak Ethan, kenapa harus Skretarisnya yang jemput?"
"Kamu tau sendiri calon suamimu itu sibuk." Selin menekan kata calon suami. Membuat Zoya memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya, ia tau jika Ethan memang selalu sibuk. Bahkan saat beberapa kali menghadiri beberapa acara dengannya, pria itu tidak pernah lepas dari layar iPad yang berisi progres pekerjaannya.
Zoya benci mengingatnya, terutama kejadian satu minggu yang lalu di pelataran rumah pria itu saat Zoya mengajukan persyaratan usai acara makan malam.
"Terserah, saya tidak ingin ada syarat ketiga!" Ethan bersikeras menentangnya. Zoya frustrasi, mengguyur rambutnya ke belakang dengan perasaan tak karuan.
"Tapi saya nggak mau ngelakuin hal itu!"
"Kamu nanti akan jadi istri saya!"
"Tapi saya menikah sama Pak Ethan karena terpaksa. Bukannya Pak Ethan juga bilang terpaksa akan menjalani pernikahan ini." Zoya berapi-api. Sedangkan Ethan tampak santai seperti biasanya.
"Saya memang terpaksa, tapi saya bersungguh-sungguh di hadapan Tuhan sebagai orang yang akan menjadi imam dalam hidupmu."
"Saya tau pernikahan bukan untuk bermain-main. Jadi kenapa kita tidak saling coba menerima satu sama lain?" Ethan berkata serius, Zoya dapat membaca tatapan mata pria itu.
"Saya sudah bilang jika saya punya pacar."
"Saya tidak perduli. Dia hanya pacar, sedangkan saya akan jadi suami kamu nanti!"
Zoya mengacak rambut sambil menggeleng-gelengkan kepala. Menolak mengingat hal itu meski tanpa ia ingin kenangan tersebut selalu berputar di kepalanya.
Selin yang melihat hal itu berdecak. "Bersiap sekarang, Pak Randy sebentar lagi akan datang."
__ADS_1
Zoya bangkit dengan malas. Berjalan ke arah kamarnya, Selin menatap kepergian Zoya dan menggelengkan kepala. Lantas membereskan sofa yang berantakan dengan banyak remah camilan.
Ia tau, jika saat ini Zoya memang sedang mengalami hal sulit sejak skandal antara dirinya dengan Ethan tersebar luas.
Kurang dari setengah jam, Randy tiba di apartement Zoya. Menjemput wanita itu untuk melakukan fitting gaun pengantin. Sepanjang perjalanan dua orang di dalam mobil itu hanya terdiam, banyak yang Zoya pikirkan sementara Randy fokus saja menyetir.
Begitu tiba di sebuah butik yang Ethan percayakan untuk mengurus baju pernikahan mereka , Zoya turun begitu Randy membukakannya pintu dan memastikan tidak terlalu banyak orang yang bisa saja membuat kehebohan saat mengetahui Zoya Hardiswara ada di sana.
"Bossmu itu benar-benar tidak akan datang?" tanya Zoya sebelum melangkah masuk pada pintu kaca di depannya.
"Dia bilang sedang sibuk, sepertinya tidak akan datang. Perlu aku temani ke dalam?"
"Tidak usah, aku akan ke sana sendiri."
"Hati-hati!" Randy melambaikan tangan, Zoya menoleh dan mengukir senyum tipis, lantas berjalan dengan langkah yang sedikit cepat.
"Seolah-olah hanya aku yang akan menikah!" Zoya menggerutu begitu ia melangkah masuk ke dalam butik, beberapa manequin tertata rapi dengan gaun pengantin yang terlihat cantik di sana.
Zoya melangkah pada salah satu manequin yang menarik perhatiannya, tangannya menyentuh gaun berwarna putih tulang dengan swarovski yang tampak berkilauan. Senyumnya terukir, membayangkan seandinya pernikahannya adalah sebuah pernikahan yang normal. Yang terjadi karena dasar saling mencintai, bukan terpaksa demi sesuatu hal.
"Mbak Zoya Hardiswara?" seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahunan menghampiri Zoya dengan beberapa orang wanita yang mengikutinya.
Zoya mengangguk dan tersenyum. "Selamat siang, dan selamat datang."
"Pak Ethan sudah menghubungi saya jika Mbak Zoya akan segera tiba,"
"Ini adalah beberapa gaun yang dipilih langsung oleh Pak Ethan dua hari yang lalu." Menunjuk tiga manequin dengan design gaun yang terlihat berbeda dari yang lain. Termasuk gaun yang tadi sempat menarik perhatian Zoya.
"Pak Ethan bilang untuk menyuruh Mbak Zoya memilih sendiri gaun mana yang Mbak Zoya sukai." ujarnya, mempersilakan Zoya melihat satu persatu dari tiga gaun.
"Yang pertama adalah gaun jenis Ball Gawn," salah satu asisten Lily menggeser manequin yang dimaksud, sebuah gaun yang memiliki rok yang tampak mekar dan cantik.
Zoya tersenyum melihatnya, sepertinya pinggul dan pahanya tidak terlalu besar untuk mengenakan gaun tersebut.
"Tapi Pak Ethan tidak menyukainya karena bagian punggung yang terlalu terbuka." Zoya menoleh pada Lily yang berbicara.
"Tapi terserah Mbak Zoya," sambungnya dengan cepat.
"Karena menurut Pak Ethan, Mbak Zoya suka ..., berpenampilan seksi, barangkali Mbak Zoya akan menyukainya." Lily terlihat tidak enak mengatakannya. Tapi ia mendengarnya langsung dari Ethan dua hari yang lalu, dan ia juga sedikit terkejut entah Ethan mengatakannya secara sadar atau tidak.
Zoya meringis, mengutuki Ethan yang sudah berkata hal yang macam-macam.
"Bagaimana Mbak Zoya?" Lily bertanya setelah membiarkan Zoya terdiam cukup lama untuk berpikir.
Tangan Zoya menunjuk gaun yang sejak awal sudah membuatnya jatuh cinta. Lily tampak tersenyum dan melangkah sendiri mendekat pada manequin yang Zoya tunjuk.
__ADS_1
"Ternyata selera Mbak Zoya dengan Pak Ethan sama. Pak Ethan juga menyukai gaun yang ini."
Lily tersenyum ceria, berbeda dengan Zoya yang meringis. Tapi mau diapakan, ia tidak bisa berbohong jika dirinya memang jatuh cinta pada gaun tersebut.
"Mari ikut dengan saya." Lily menggandeng Zoya ke arah gorden fitting room. Diikuti dua asisten yang membawakan gaun. Zoya hanya menuruti intruksi sang designer.
Meski dalam hati tetap mengutuki Ethan yang membiarkannya datang dan sendirian di sana seolah-olah hanya Zoya yang akan menikah.
Sedangkan di luar butik, Randy yang semula duduk santai di sebuah rest area sambil bermain ponsel bangkit begitu sebuah mobil berhenti di belakang mobilnya.
"Kamu kemari?" tanyanya saat pengemudi mobil keluar dengan stelan rapi.
"Zoya ada di dalam?" ia justru bertanya tanpa menjawab apa yang tadi Randy tanyakan. Toh pertanyaan pria itu memang tidak membutuhkan jawaban.
"Iya."
Ethan melangkah masuk setelah mendengar jawaban Randy, Randy hanya menatap sampai pria itu menghilang di balik pintu kaca. Setelahnya menggelengkan kepala. Sedangkan Ethan masuk ke dalam, bersamaan dengan gorden yang terbuka dan menampilkan Zoya di sana sudah mengenakan gaun pengantinnya.
Sementara Zoya yang semula menatap gaun yang melekat ditubuhnya mengangkat pandangan, matanya dengan mata Ethan bertemu. Keduanya hanya bisa mematung tanpa mengeluarkan suara.
Lily yang melihat kedatangan Ethan lantas menghampiri pria itu. "Holla Pak Ethan, anda juga datang?"
Ethan mengalihkan tatapannya dari Zoya, sementara asisten Lily merapikam tatanan rambut Zoya yang disanggul acak.
"Bagaimana, calon istri Bapak cantik bukan?"
Lagi. Ethan mengangguk, ia tidak naif untuk mengkauinya jika Zoya memanglah cantik.
"Yah, kalian pasangan yang begitu serasi. Pak Ethan mau sekalian mencoba tuxedonya?"
"Kemarin kita sudah mencobanya Lily,"
Lily tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, sekarang kita mendekat pada calon pengantin wanita." Lily melangkah mendekat pada Zoya, Ethan mengikuti di belakangnya.
"Bagaimana Pak Ethan, gaunnya cocok bukan?"
Ethan mengamati Zoya, termasuk gaun pilihan wanita itu yang sesuai dengan keinginannya.
"Sepertinya ini sudah sangat cocok."
"Allright." Lily mengangguk, menyuruh dua asistennya untuk melepas gaun yang Zoya kenakan. Sementara ia dan Ethan pergi dari sana.
Gorden yang perlahan tertutup hanya mampu membuat Zoya melihat punggung calon suaminya dari belakang.
TBC
__ADS_1