Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Menikah


__ADS_3

Seharusnya ikatan sebuah pernikahan, terjadi ketika dua insan yang saling mencintai mengucapkan janji suci. Namun yang terjadi hanya sebuah ikatan pernikahan dan janji suci yang diucapkan. Tidak ada dua insan yang saling mencintai. Sejatinya hal itu yang terjadi pada pernikahan antara Ethan dengan Zoya.


Di mana pesta megah itu hanya sebuah formalitas. Sebuah pernikahan yang terjadi karena ada hal yang harus mereka selesaikan melalui ikatan ini, bukan mempermainkan Tuhan. Karena sejatinya, Ethan tak main-main atas pernikahan ini, meski hatinya tak berkata jika dirinya mencintai wanita yang akan ia nikahi.


Begitu pula Zoya yang tak pernah memiliki bayangan menikah di usainya sekarang yang baru dua puluh empat tahun. Terlebih menikah dengan orang yang tak ia duga sedikit pun.


Jika boleh jujur hatinya pilu, mengingat jika ia akan hidup dengan orang yang tidak dicintainya untuk waktu yang ia sendiri pun tidak tau. Zoya merasa sedih, membiarkan sang kekasih yang ia cintai harus duduk di kursi para tamu undangan untuk menyaksikan ia menikah dengan pria lain.


Zoya tau Fahry tidak keberatan, hal itulah yang membuatnya semakin merasa sakit. Bagaimana Fahry dapat dengan mudah melepasnya menikah dengan Ethan, orang yang bahkan tidak pria itu kenal.


Para tamu undangan sudah hadir memadati area gedung pernikahan Ethan dan Zoya yang diadakan disalah satu gedung mewah di Jakarta. Beberapa media turut diundang untuk meliput acara sakral antara CEO agensi AE RCH Entr dan aktris cantik yang bernaung di agensinya. Pernikahan ini disiarkan di beberapa stasiun televisi.


Tamu undangan yang terdiri dari para pengusaha kalangan menengah atas, para aktris, juga kawan sekolah Ethan dengan Zoya turut hadir di sana.


Gedung yang didekor dengan sangat mewah itu juga amat membuat para tamu undangan terkagum-kagum. Berbalut nuansa putih dengan ornamen bunga-bunga yang berwarna putih pula. Memberi nuansa tenang bagi mereka yang ada di sana.


Alunan instrumenental Teman Hidup dari Tulus Mengalun dengan indah, menggema diseluruh ruangan. Para Tamu undangan dan pihak sanak saudara dari kedua keluarga juga sudah turut hadir dan siap menyaksikan prosesi akad nikah yang akan digelar sebentar lagi.


Ethan yang terlihat begitu tampan hari ini lebih dari hari-hari biasa. Ia nampak sedikit gugup meski tidak terlalu ketara dalam wajahnya. Arasy sudah menggodanya sejak tadi. Agyan yang melihat keusilan anak perempuannya menggelengkan kepala dengan tatapan memperingatkan, membuat Arasy menurut pada Agyan.


"Kamu tampan Ethan," Ucap Freya, lalu mencium kening putranya. Tidak menyangka, sang putra yang amat sangat tertutup dan nyaris tidak akrab dengan siapa pun itu anak menikah. Freya tau jika pernikahan ini terjadi bukan atas cinta antara putra dengan calon menantunya.


Tapi Freya percaya, Ethan akan hidup lebih baik lagi setelah pernikahan ini.


Ethan tersenyum, kemudian berlutut di depan Freya, dan Agyan. Hal yang langka terjadi padanya ketika tiba-tiba saja air menggenangi matanya, membuat perasaannya resah meski Ethan tidak begitu mengerti apa yang sebenarnya ia rasakan.


"Restui Ethan, Bunda. Do'akan kebahagiaan untuk Ethan dan Zoya. Maaf jika selama ini Ethan banyak Dosa kepada Bunda"


"Maaf jika Ethan jarang memperhatikan Bunda." Ucap Ethan, matanya Semakin berkaca-kaca. Sedangkan Freya sudah sedari tadi dengan air matanya. Membuat Agyan segera menggapai tisue diruangan itu untuk istrinya, mengusap air mata Freya dan menepuk punggung perempuan itu.


"Bunda merestui kamu, Bunda merestui kalian. Anak Bunda, jadi suami yang baik yah Nak. Bahagiakan istrimu" sahut Freya dengan isakan kecil, sambil mengelus tangan Ethan yang sedang menyalaminya. Hati Freya terasa sangat pilu.


Terutama ketika kenangan pahit pernikahannya dengan Agyan dulu berputar di kepalanya. Freya berharap, jika putra dan menantunya tidak akan mengalami masa sulit dalam pernikahannya.


"Jangan pernah membuat istrimu menangis!"


"Tidak akan Bunda."


"Jangan pernah membentaknya, ya. Bahagiakan istrimu, maka Bunda juga akan bahagia." imbuhnya.


Etghan mengangguk, bangkit. Lalu mencium kedua pipi sang bunda dan memeluknya. Hati kecilnya juga tak kuasa menahan tangis.


"Sebentar lagi kamu akan jadi kepala keluarga. Jadilah laki-laki sejati, yang lebih bertanggung jawab" Hanya itu yang dapat Agyan katakan sebagai ayah. Sama seperti Freya, ia pun ingat betapa pilu pernikahan mereka dulu yang terhalang restu. Dan Agyan berharap putranya tidak akan pernah mengalami hal yang


Ethan mengangguk, lalu ia memeluk sang ayah. Seorang Ayah memang tidak seperti seorang ibu dalam mengungkapkan cinta kepada putra putrinya.


Tapi percayalah, rasa sayang ayah kepada anak selalu melebihi rasa sayang seorang anak kepada Ayah.


-


Sedangkan di ruangan yang lain, Zoya juga sama. Memohon restu pada kedua orang yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya.


Resty–mama Selin–orang yang Zoya anggap sebagai ibu kandungnya sendiri bahkan sudah sedari pagi memendam haru. Hari ini ia benar benar harus melepaskan Zoya pada orang lain. Putri angkat yang sudah ia asuh selama tujuh tahun, orang yang sudah dianggapnya sebagai putri kandung.


"Tante, maafin Zoya kalau Zoya sering buat Tante marah. Maafin Zoya yang manja karena kekurangan kasih sayang. Maafin Zoya yang selama ini selalu merepptkan." Resty menggelengkan kepala mendengar kalimat Zoya. Selama ini, sedikit pun ia tidak pernah merasa kerepotan dan keberatan mengurus Zoya.


Selin yang mendengar hal itu juga menggelengkan kepala menolak kalimat Zoya.


Resty menyeka air mata Zoya, air. Sorot matanya seolah mengatakan 'Jangan nangis, nanti make'up nya luntur'


"Hari ini, Zoya akan menikah. Zoya akan menjadi seorang istri, dan menjadi seorang ibu nanti. Zoya memohon restu dari Tante yang sudah mengurus Zoya selama ini." Kali ini Zoya berucap dengan isakan, ia tak kuasa menahan tangis. Terutama mengingat kedua orang tuanya yang sudah tiada.


Andai mereka ada di sini dan menghadirinya. Menyaksikan bagaimana Zoya menikah.


Zoya tidak tau pasti apa yang ia katakan, seolah pernikahan ini terjadi atas cinta dan akan berjalan dengan normal. Namun satu hal yang mungkin tidak Zoya sadar, jika hatinya berharap yang terbaik untuk pernikahannya dengan Ethan.


"Zoya minta restu Tante."


"Tante merestui kamu sayang, jadi istri yang baik, yang nurut sama suami." sahut Resty dengan tulus, lalu mencium kedua pipi Zoya dan Zoya pun melakukan hal yang sama.


"Restui Zoya Om" Zoya beralih pada Wilan–papa Selin. Orang yang selama ini selalu memberi nasihat padanya. Membuat Zoya merasa memiliki seorang ayah.


"Kamu cantik sekali hari ini, Zoya. Calon suamimu beruntung mendapatkan kamu." Sahutnya dengan sangat tulus.


Hanya isakan yang terdengar dari mulut Zoya setelahnya. Ada banyak yang ingin Zoya katakan pada Wilan, tapi semuanya seolah lenyap begitu saja.


Wilan memberinya kecupan di kening. Setelahnya Zoya beralih pada Selin yang sudah berderai air mata, Adhel di sampingnya juga sama. Zoya tersenyum melihatnya, melihat dua orang yang sudah berada di belakangnya selama ia meniti karier.


**


Ethan sudah duduk berhadapan dengan Penghulu di ruang akad atau pemberkatan. Berharap-harap cemas menunggu pengantin wanita datang. Ia merasa sangat gugup sekarang.


Terutama melihat lensa kamera para awak media yang terus mengarah padanya. Dalam hidup, ini adalah kali pertama Ethan benar-benar merasa gugup.

__ADS_1


"Itu pengantin wanita,"


"Zoya Hardiswara."


"Zoya cantik banget." samar-samar Ethan mendengar bisikan dari arah belakang. Membuatnya dengan perlahan mengangkat pandangan.


Zoya berjalan dengan anggun dan cantik diapit oleh Wilan dan ..., Fahry menuju kursi kosong di samping Ethan. Ethan dapat melihat jika mata wanita itu berkaca-kaca dengan tangannya yang memegang erat tangan Fahry. Entah mengapa membuat perasaan Ethan tidak nyaman melihatnya.


Bagaimanapun, Ethan tau dua orang itu saling mencintai. Dan tidak mudah baginya sebagai orang yang sebentar lagi menyandang status sebagai suami Zoya Hardiswara melihat hal itu.


Seketika alunan istrumental A Thousand Year yang dimainkan oleh pianis profesional mengalun dengan indah mengiringi langkah Zoya.


Tapi Ethan tidak dapat mengelak, jika wanita itu amat cantik sekali dengan kebaya putih panjang dan siger yang terdapat di atas kepalanya. Membuat penampilan sang pengantin menjadi amat lebih memukau.


Tanpa sadar, satu sudut bibir Ethan terangkat tanpa ia sadar. Meski setelahnya memudar begitu melihat tatapan lekat Zoya pada Fahry yang akan beranjak saat Zoya sudah duduk di sampingnya.


"Kamu cantik," puji Ethan yang membuat wanita itu menoleh. Zoya tersenyum tipis. "Terimakasih." Zoya menyahut singkat, tidak terlalu fokus. Ia merasa tubuhnya menjadi ringan, setetes air mata berhasil jatuh, Ethan melihat hal itu.


Di mana tetes air mata Zoya jatuh ke tangan wanita itu. Setelahnya, Zoya menengadah menghalau air matanya. Meski tak bisa ia pungkiri, air matanya ingin jatuh deras begitu mengingat percakapannya dengan Fahry di ruang make up tadi.


"Fahry mau ngomong, kita keluar sebentar. yah." pamit Selin, mengusap punggung Zoya dan berlalu dari sana bersamaan dengan Fahry yang muncul dengan senyum tipis.


Hanya karena hal itu, mata Zoya berkaca-kaca. Ia merasa sesak di dadanya melihat pria yang ia cintai.


Fahry melangkah mendekat padanya, menyeka air mata Zoya yang berhasil jatuh. "Kamu cantik sekali, coba aja kalo aku yang calon suami kamu."


Dan perkataan Fahry membuat Zoya benar-benar menangis deras. Ia berhambur memeluk Fahry, tak perduli sekali pun ada media yang melihatnya. Meski Zoya cuku0 yakin jika Selin sudah mengurus semuanya.


Fahry membalas pelukan Zoya, menciumi dahi wanita itu berulang-ulang. "Aku gak mau menikah sama orang lain Fahry."


"Aku gak mau!"


Fahry tidak menyahut, ia hanya diam sembari mendekap tubuh Zoya dengan erat. "Bawa aku pergi, Fahry. Bawa aku pergi,"


"Nggak bisa, Sayang. Enggak akan bisa," Fahry mengurai pelukan, menatap wanita itu lekat. Menyeka air matanya yang sudah merusak sedikit riasan.


"Kamu dengerin aku, kamu dengerin aku, yah." memegang kedua pundak Zoya, wanita itu sedikit tenang dan memperhatikan apa yang akan Fahry katakan.


" Setelah ini, kamu akan menjadi seorang istri, jadi istri yang baik. Jangan lagi mikirin aku!"


Zoya menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Menolak perintah Fahry yang tidak bisa diterimanya. "Zoya,"


"Ethan udah sepakat, aku tetep bisa berhubungan sama kamu."


"Enggak bisa gitu, Zoya. Hal itu tidak diperbolehkan."


"Kamu nggak cinta sama aku. Sampe kamu dengan mudah biarin aku nikah sama orang lain, gitu Fah?"


"Kamu nggak cinta sama aku, 'kan?"


"Sayang,"


"Iya, 'kan Fahry?!"


"Enggak Zoya, enggak."


"Kamu dengerin aku. Ethan nanti akan jadi suami kamu, kamu harus menghargai dia Zoya."


"Maksud kamu hubungan kita berakhir?" tanya Zoya dengan air mata yang mengalir deras. Fahry mengelus satu sisi wajah Zoya, menggelengkan kepala.


Perlahan menarik wanita itu dalam dekapannya. "Zoya, aku mencintai kamu. Membiarkan kamu menikah dengan orang lain, adalah caraku mencintaimu."


"Aku nggak yakin bisa bikin kamu bahagia. Aku percaya Ethan bisa,"


"Berbahagialah."


Zoya tersadar begitu sebuah tangan menggenggam tangannya, membuyarkan Zoya dari kejadian beberapa menit lalu. Ia menoleh pada Ethan yang menggenggam tangannya.


"Kamu siap?" tanya Ethan dengan lembut. Ia terlalu lama melamun sampai tidak sadar jika ini adalah kali ketiga penghulu bertanya padanya.


"Kamu siap? Kalau tidak kita ...,"


"Aku siap." Zoya menyahut mantan, mengukir senyum setelahnya. Membuat Ethan juga tersenyum. Menatap penghulu dan menganggukan kepala jika mereka sudah siap melaksanakan sesi ijab.


**


"SAYA TERIMA NIKAHNYA ZOYA HARDISWARA BINTI DITO HARDISWARA DENGAN MAS KAWIN TERSEBUT, TUNAI." Hanya dalam satu kali tarikan napas, semuanya dengan mulus keluar dari mulut Ethan.


"Bagaimana, saksi?"


"Saahhh."


"Alhamdulilah"

__ADS_1


Para tamu undangan bernapas lega, terutama dari pihak keluarga. Salah satu proses sakral telah terlaksanakan dengan amat lancar.


Ethan menoleh pada Zoya. Wanita yang sekarang sudah resmi menjadi istrinya. Keduanya sama-sama tersenyum, meski baik Ethan maupun Zoya tidak mengerti arti senyuman mereka sendiri.


Keduanya bertukar cincin, lalu Zoya mengulurkan tangannya, menyalami Ethan dengan perasaan yang tak ia tau maksudnya. Sensasi aneh dan serba salah campur aduk di dalam sana.


Ethan mendekatkan wajah, meraih kedua pipi Zoya lalu mencium kening wanita itu. Menahannya cukup lama. Para awak media tidak ketinggalan mengambil setiap moment, juga sang fotografer yang mereka sewa selalu sigap mengambil potret bahagia pasangan pengantin.


Bahkan banyak dari para tamu undangan juga yang mengabadikan moment itu dalam kamera ponsel mereka. Entah sadar atau tidak, Ethan meraih tangan Zoya, mengecup punggung tangan wanita itu. Mengalirkan debaran aneh ke hati Zoya begitu mata keduanya bertemu dalam satu garis lurus.


Zoya baru sadar, jika orang yang sudah sah menjadi suaminya tampil begitu tampan hari ini.


"Pengen banget di halalin." decak Adhel setelah lama ia mengamati segala proses pernikahan Ethan dengan Zoya.


"Kamu punya pacar?" tanya Selin yang berada di sampingnya. Adhel tersenyum kikuk, lantas menggelengkan kepala dan membuat Selin memutar bola mata.


Selama para tamu undangan menikmati hidangan yang sudah disediakan pihak WO. Sementara itu, sang pengantin memasuki ruang ganti untuk mengganti pakaian mereka. Karena acara akan langsung disambung dengan respesi.


Zoya yang sudah selesai dirias oleh MUA terkenal dan bersiap kembali ke luar hanya diam mematung melihat Ethan dipintu masuk. MUA tersebut pamit keluar, meninggalkan pasangan pengantin baru itu di dalam sana.


"Pak Ethan ada apa kemari?" tanya Zoya saat Ethan melangkah mendekat dan berdiri di hadapannya.


"Cuma ingin melihat kamu. Kamu baik-baik aja?"


Zoya mengerutkan kening. "Maksud Pak Ethan?"


"Saya merasa kamu memiliki banyak beban. Kamu terbebani dengan pernikahan ini?"


Kali ini Zoya tersenyum. "Bukan cuma saya aja yang terbebani, 'kan? Bapak juga,"


Ethan menggelengkan kepala. "Bagaimana jika saya bilang saya jatuh cinta sama kamu?"


"Saya nggak akan percaya. Udah ah, para tamu lagi nunggu di luar."


Zoya berlalu setelah menepuk dada Ethan, berlalu begitu saja lebih dulu meninggalkan pria itu. Ethan mengangkat satu sudut bibirnya, ia menggeleng tidak mengerti. "Apa yang tadi aku katakan?"


**


Para tamu undangan berikut keluarga Ethan memberikan selamat padanya dengan Zoya. Mendoakan yang terbaik untuk pernikahan mereka.


Kedua kakek dan nenek Ethan juga turut hadir. Memberikan doa terbaiknya untuk cucu kesayangan mereka. "Pak Ethan pasti bahagia," sahut Zoya saat Andreas, Grrycia, Anna dan Warry berlalu setelah memberikan ucapan selamat padanya.


Ethan menoleh, "bahagia bagaimana?"


"Pak Ethan masih memiliki keluarga yang lengkap."


Ethan mengukir senyum. "Keluarga saya juga adalah keluarga kamu sekarang."


Sempat membeku, Zoya merasa canggung. Nyaris melupakan satu hal jika ia dengan Ethan sudah menjadi pasangan suami istri yang sah.


"Ethan," Arasy muncul dengan wajah berbinar. Wanita itu adalah orang yang paling berbahagia sekaligus orang yang paling sedih atas pernikahan saudara kembarnya.


Senang karena Ethan memiliki pasangan meski ragu pria itu memiliki perasaan, dan sedih karena tidak akan lagi seleluasa dulu untuk menjahili Ethan.


"Happy wedding," memeluk Ethan begitu erat sebagai ucapan selamat. Yang dipeluk hanya diam dengan tubuh yang sedikit condong ke depan, Arasy memiliki proporsi tubuh yang tidak setinggi Ethan meski memakai bantuan sepatu hak tinggi.


"Inget, yah. Malam pertamanya jangan maen kasar!"


Zoya membulatkan mata tidak percaya dengan gurauan Arasy, sedangkan beberapa teman Arasy yang sebagian juga adalah seorang aktris tersenyum tertahan mendengarnya.


Berbeda dengan Ethan yang hanya memutar bola mata. Malas meladeni kembarannya yang selalu berbicara dengan asal.


"Gimana, Zoy. Foto shirtless Ethan masih kamu simpen, 'kan?"


"Gimana, seksi, 'kan?"


Zoya tersenyum kikuk, menarik tangan wanita itu dan memeluknya. Cara halus agar Arasy segera berlalu meninggalkan mereka.


Setelah itu, beberapa rekan artis yang sebagian teman Zoya juga memberikan ucapan selamat. Arasy tak kunjung beranjak, tapi lebih baik saat ia hanya diam tanpa mengeluarkan kata-kata aneh apapun.


"Oh, yah, btw. Alexa ke luar kota, dia mulai syuting hari ini." Arasy memberitahu.


"Bukannya syuting dimulai minggu depan?"


"Dia minta dimajuin, katanya males kalo harus hadirin acara nikahan kamu!" setelahnya Arasy berlalu begitu saja. Membuat Zoya menatap Ethan penuh tanya.


"Alexa siapa?"


"Putri tunggal Momy Rachel."


Zoya menganggukan kepala, setelahnya hanya diam. Matanya fokus menatap para tamu undangan, rasanya sulit dipercaya. Jika saat ini, ia dengan Ethan sudah resmi menikah.


Sekarang, ia sudah menyandang status sebagai Nyonya Zeinn Ethan dan akan menjalani kehidupan yang pasti akan berbeda dari sebelumnya.

__ADS_1


TBC


Aku up tanpa edit, mohon maaf jika mengandung banyak typo dan kesalahan.


__ADS_2