Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Feeling


__ADS_3

Ethan berdecak kesal saat ia justru terjebak macet cukup lama. Berkali - kali membunyikan klakson mobil juga sangat percuma. Ia melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Menyandarkan punggungnya kebelakang saat mobil di depannya tak kunjung bergerak.


Kecelakaan lalu lintas yang cukup mengganggu arus lalu lintas yang membuat pria itu terjebak macet hampir membuat Ethan putus asa. Ia takut terjadi hal - hal yang tidak diinginkan pada Naina. Ia takut terlambat menolong gadis itu.


Mengingat Naina gadis yang begitu baik dan polos, rasanya Ethan tidak rela jika gadis itu terluka. Terutama mengingat bagaimana Zoya sangat menyayangi Naina seperti pada adiknya sendiri. Ethan tidak ingin gagal menyelamatkan gadis yang istrinya sayangi.


Pria itu bernapas lega saat mobil di depannya mulai bergerak perlahan. Ia mulai melajukan mobil, begitu mobil tiba di jalanan yang lengang, Ethan menambah kecepatan. Ia memarkir mobilnya dengan asal begitu tiba di pelataran hotel milik keluarga Maheswary.


"Mereka ada di kamar nomor 202, Pak." beritahu penjaga hotel yang menghubunginya begitu Ethan tiba. Pria itu mengangguk dan mengucapkan terimakasih, kemudian dengan cepat menuju lift untuk segera ke kamar di mana orang yang membawa Naina memesan kamar tersebut. Hati Ethan resah dan tidak tenang, meski wajahnya masih setenang air danau.


Ia mengernyit heran dengan langkah yang memelan begitu tiba di depan pintu kamar yang dimaksud, di mana pintu kamar hotel tampak rusak dan dua orang berpakain hitam tampak memegangi wajah masing - masing yang terlihat babak belur.


Ethan dengan cepat melangkah masuk. Ia melihat Naina yang sedang ditenangkan oleh seseorang. Tapi nampaknya gadis itu masih syok berat. Ethan segera menghampirinya.


"Naina," ia menyentuh bahu gadis itu. Naina menengadah dengan mata sembab karena terus menerus menangis. Air matanya jatuh kian deras saat mata keduanya bersitatap. Ethan tidak tau alasannya, tapi satu hal yang pasti jika psikis gadis itu terguncang saat ini.


"Ethan," seseorang yang tadi menenangkan Naina menegur pria itu yang membuat Ethan menoleh, kemudian mengernyit heran.


"Rival?"


"Kapan balik dari Swiss?"


"Satu minggu yang lalu."


"Dia siapa?" tanya Rival. Putra pertama saudara sepupu ayahnya itu. Putra dari Rayn Afgara Zeinn dan Mark Devina Adelia.


"Asisten istriku" sahut singkat Ethan. Rival tampak mengangguk.


"Dia syok karena hampir diperkosa. Kamu bawa dia pulang, biar aku yang urus sisanya." sahut Rival. Ethan mengangguk, tapi sebelumnya ia menoleh pada orang yang sudah hampir menodai Naina. Ethan smirk melihat pria yang bersandar pada lemari tiga laci di samping tempat tidur dengan darah yang mengucur di pelipis, hidung dan juga ujung bibirnya.


Ethan menoleh pada Rival dan mengangguk puas. Pria itu memang jago bela diri.


"Thanks, Val. Aku duluan," sahut Ethan, membantu Naina untuk berdiri dengan susah payah. Tubuh gadis itu tampak lemah. Begitu tiba di luar, ia memerhatikan keadaan Naina yang berantakan. Kondisi yang sangat kontras dengan apa yang ia lihat beberapa jam yang lalu di teras rumahnya saat mereka bertemu.


Pria itu menghela napas, kemudian tanpa aba - aba mengangkat tubuh Naina. Membuat gadis itu sedikit terkejut atas tindakan Ethan yang tiba - tiba.


"Biar cepat sampai, Zoya mengkhawatirkan keadaan kamu di rumah." sahut Ethan agar gadis itu tidak salah paham. Karena sungguh, Naina yang berjalan pelan akan cukup memakan waktu yang lama untuk mereka segera sampai di lantai dasar dan parkiran. Gadis itu pasrah, menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis tersedu - sedu. Membayangkan kilasan kejadian yang beberapa saat lalu menimpanya.


Di saat mana ia sudah sangat pasrah pada Tuhan dan juga keadaan. Tuhan justru dengan berbaik hati mengirimkan dua penolong sekaligus untuknya.


Naina terharu bisa lolos dari keadaan yang akan benar - benar menghancurkan kehidupannya andai saja Kevin berhasil melakukan hal menjijikan padanya.


**


Awalnya, Rival tidak perduli begitu ia tiba di hotel dan melihat seorang gadis diseret masuk. Ia sudah sering melihat hal tersebut dan faktanya selalu ada kesepakatan di antara mereka. Rival muak membayangkannya. Hingga tidak ada yang menjadi korban atau pun sesuatu hal yang disebut pemaksaan.


Tapi untuk kali pertama, hatinya yang keras dengan sesuatu hal yang bernamakan belas kasihan tergerak begitu saja melihat gadis itu. Sehingga yang ia lakukan adalah mengikuti gadis itu yang diseret dua orang bertubuh besar dengan diikuti pria yang berlaga bossy tersebut. Rival kenal dia siapa.


Kemudian Rival sampai pada kesimpulan jika gadis itu memang korban pemaksaan, dan calon korban pemerkosaan?


Pemerkosaan? Kenapa hal itu mengganggu pikirannya? Sehingga yang ia lakukan adalah bersikap heroik dengan niat menolong gadis itu, meski ia harus mendapat luka di ujung bibirnya dan juga di pelipis. Rupanya tidak mudah menumbangkan para bodyguard andal Kevib yang sudah terlatih dengan baik.


Rival menatap kepergian Ethan yang membawa gadis itu pergi. Bahkan gadis itu tak mengucapkan terimakasih padanya? Hell, Rival memaklumi karena kondisi psikis gadis itu pasti terguncang karena hal tadi.


Tatapan Rival beralih pada Kevin yang mendapat banyak bogem mentah darinya. Pria itu tak bisa melawan karena mendapat serangan tiba - tiba tanpa jeda.


Rival menendang kaki pria itu setelah memungut ponsel milik Kevin, menyodorkan ponsel agar pria yang sudah babak belur itu menggunakan sidik jarinya untuk membuka ponsel. Membuat Kevin mau tak mau akhirnya menurut dari pada mendapat pukulan lagi. Wajahnya sudah sangat nyeri dan kaku. Ketampanannya juga pasti mendadak berkurang.


"Kevin Raharasja." sahutnya. Ia cukup mengenali pria itu. Seorang player yang bahkan pernah jatuh hati dan mengincar kekasihnya. Kemudian sang kekasih yang gila materi itu jatuh ke pelukan Kevin dengan sangat mudah.


Rival berdecak mengingatnya, padahal ia sangat mencintai kekasihnya tersebut. Namun beribu sayang, sang kekasih pada akhirnya salah pilih dan dicampakan oleh Kevin.


Barangkali ini adalah pelampiasan Rival karena dulu tidak bisa menghajar Kevin karena beberapa alasan. Sekarang, pria brengsek itu bahkan babak belur oleh tangannya.


"Senyum kemari!" suruh Rival begitu ia membuka fitur kamera dan mengarahkan kamera ponsel pada wajah penuh luka itu.

__ADS_1


"Aku cuma bilang senyum! Apa susahnya?" protes Rival saat pria itu justru memalingkan wajah, menghindari bidikan kamera. Rival menarik dagunya agar Kevin mau melihat kamera.


"Bibirku sakit kalau pake senyum." sahut pria itu setengah menggerutu. Rival justru tersenyum, memakai kamera depan dan mengarahkan kamera pada mereka berdua, ia mengangkat dua jarinya membentuk huruf V dengan senyum tampan. Setelahnya, ia duduk di tepi tempat tidur. Melihat hasil potretannya dan juga hasil selfi mereka berdua.


"Bagaimana kalau kita kirim foto ini ke penyiar berita. Wajah itu–" ia menunjuk Kevin dengan jari telunjuk.


"– Akan muncul di tv dengan headline berita. ANAK TUNGGAL RUMAH PRODUKSI TERKENAL TERTANGKAP BASAH MENCURI JEMURAN?" wajah Rival tampak santai.


" Bagaimana?" Kevin membulatkan mata tidak terima.


"Apa kira - kira tanggapan orang - orang? 'Kevin Raharasja melakukan pesugihan?' Wow." ia membuat ekspresi seolah - olah terkejut. Membuat Kevin kesal dengan tingkahnya.


"Hmm, terlalu dangdut." sahut Rival, menggelengkan kepalanya samar - samar.


"Begini saja."


Pria itu mengotak - atik ponsel Kevin, sesekali tampak tersenyum bahkan menahan tawa. Kevin hanya diam, tak bisa mencegahnya. Setelah selesai dengan apa yang dilakukannya. Rival menaruh ponsel tersebut di lantai, kemudian menginjaknya dan membuat benda canggih itu hancur terutama pada bagian layar.


"Kamu sangat kaya untuk beli handphone baru lagi." sahut Rival, melambaikan tangan pada pria yang tak berdaya itu kemudian berlalu keluar. Kevin meludah ke arah kepergian pria itu, tapi tak lama ia meringis merasakan perih pada ujung bibirnya.


Rival melangkah keluar bersamaan dengan kedatangan beberapa orang petugas hotel. Salah satunya adalah manejer hotel.


"Mmm, Ethan yang akan bertanggung jawab untuk kerusakan ini." sahutnya, melihat pintu kamar hotel yang rusak karena ia dobrak, juga beberapa furniture dan fasilitas yang hancur di dalam. Mungkin itu usaha yang dilakukan gadulis yang ditolongnya untuk menyelamatkan diri.


**


Naina masih menangis dan menutup wajahnya meski mereka sudah berada di dalam mobil. Ethan merapikan jas yang dikenakannya pada tubuh Naina. Ia tahu gadis itu pasti merasa terpukul atas apa yang menimpanya.


"It's okey, Naina. Semuanya udah baik - baik aja."


"Ada saya." Ethan menenangkan.


Ragu, tangan pria itu akhirnya mengusap bahu Naina berulang - ulang. Tanpa Ethan sadar, jika apa yang dilakukannya justru membuat rasa sedih hlgadis itu semakin dalam. Bahunya berguncang dengan isakan yang terdengar memilukan.


"Mas– Kevin – dia ...," gadis itu tak kuasa untuk bercerita. Suaranya justru tersendat - sendat.


Ethan akhirnya meraih gadis itu dalam pelukannya. Naina kian histeris dengan tangan yang mencengkram kemeja bagian depan Ethan. Membuat pria itu serba salah di tempatnya. Sedangkan perlahan, isakan gadis itu berhenti, ia merasakan ketenangan dalam pelukan Ethan.


"Saya takut, Pak." suaranya terdengar sedikit jelas.


"Kamu aman."


"Sekarang kamu aman."


**


Zoya yamg duduk pada kursi di teras rumahnya segera bangkit begitu mobil suaminya memasuki pelataran rumah. Ia segera menghampiri mobil sang suami di mana Ethan juga segera turun.


"Di mana Naina?" wanita itu segera bertanya dengan nada cemas. Sejak tadi ia merasa tidak tenang, terutama saat ternyata Ethan meninggalkan ponselnya dan Naina juga tidak bisa dihubungi.


"Naina di dalam mobil. Dia tidur."


Sahut Ethan berjalan ke arah pintu penumpang. Zoya mengangguk saat Ethan hendak mengangkat tubuh gadis itu seolah meminta persetujuannya, Zoya juga merasa tidak tega jika membiarkan Naina bangun.


Wanita itu mengekori sang suami menuju kamar gadis itu, membaringkan Naina di atas tempat tidur. Tapi begitu Ethan meletakannya, justru gadis itu membuka mata, mengarahkan perhatian pada Zoya dengan tatapan sendu.


"Mbak Zoya,"


Zoya segera berhambur meraih kepala gadis itu ke dadanya guna menenangkan Naina, membiarkan Naina menangis dan menumpahkan kesedihannya di sana. Zoya mengusap - usap punggung gadis yang terisak itu. Padahal matanya sudah sangat sembab karena terlalu lama menangis.


"Saya keluar," sahut pelan Ethan pada sang istri seraya mengusap puncak kepalanya. Zoya mengangguk, Ethan pasti mengerti jika Naina butuh privasi.


"Mbak Zoya, saya takut." ucap gadis itu dengan nada lemah.


"Ada saya sekarang Naina, kamu tenang, yah."

__ADS_1


**


Ethan yang sudah berada di dalam kamar dan juga mandi malam untuk yang kedua kalinya hanya menyandarkan punggung pada kepala ranjang. Ia memijat pangkal hidungnya, kemudian menggapai ponsel begitu benda canggih itu berdering. Id Ayah menghiasi layar ponsel.


"Than, kamu buat masalah di hotel kita?" tanya sang ayan di ujung sana.


"Sedikit, Yah. Nanti. Ethan bereskan."


"Memang apa yang terjadi? Tidak ada hal buruk, bukan. Zoya aman, 'kan, Than?"


"Aman, yah, Zoya aman. Ceritanya panjang, nanti Ethan cerita."


"Baiklah. Tapi ingat, jangan diulangi. Ayah yang malu sama Opa Warry."


"Iya, Yah, iya." Panggilan terputus, Ethan diam sesaat, kemudian mendial nomor skretaris - nya dan menaruh benda pipih itu di telinga.


Lama Ethan menunggu. Sampai pada dering keempat, barulah panggilannya terhubung.


"Kenapa Than?" tanyanya di ujung sana dengan suara mengantuk. Randy pasti sudah tidur,


"Tarik semua aktris dan model kita yang bekerja sama dengan Eagle Pictures!"


"WHAT?!"


Ethan memejamkan mata dengan gerakan tangan yang menjauhkan ponsel dari telinga. Ia berdesis mendengar suara nyaring Randy di ujung sana yang hampir memecahkan gendang telinga.


"Gimana sama Ibu Rachel?"


"Aku yang urus!" Ethan segera memutus panggilan, ia sempat mendengar Randy menggerutu namun ia tak perduli. Selanjutnya ia meletakan ponselnya di atas meja di samping tempat tidur bersamaan dengan istrinya yang masuk ke dalam kamar. Berjalan perlahan dan mendaratkan diri di atas tempat tidur. Mulai memposisikan dirinya untuk berbaring, wanita itu terlihat tampak lelah, terutama waktu sudah sangat larut.


"Naina udah tidur?" tanya Ethan, membelai kepala istrinya. Wanita itu mengangguk dengan mata mengarah pada sang suami.


"Dia langsung tidur pas udah ceritain semuanya."


"Jadi yang bikin ulah Kevin?" Zoya tau siapa pria itu. Anak tunggal pemilik salah satu rumah produksi terkenal. Pria seenaknya yang bebas bergonta - ganti pasangan, kemudian mencampakan setelah mendapat apa yang diinginkannya. Kekuasaan sang papa membuatnya bebas melakukan apa saja karena papanya akan selalu berada di pihaknya. Menyogok pihak media agar tak membuat berita mengenai keburukan putranya. Begitulah cara kerja orang - orang berkuasa.


"Kasihan Naina," decak wanita itu. Ethan mengangguk.


"Tapi kamu nggak papa, 'kan?" ia baru mengingat sang suami, menilik keadaan suaminya tapi pria itu tampak baik - baik saja.


"Kan jagoan." Ethan menaikan alis. Membuat Zoya mencebikan bibirnya.


"Ada Rival yang nolong Naina." beritahu Ethan kemudian.


"Rival?" dahi wanita itu berkerut guna mengingat nama yang Ethan sebutkan barusan.


"Yang rambutnya cokelat kemerah - merahan itu. Dia nggak hadir di pernikahan kita, tapi enam bulan yang lalu kamu ketemu sama dia di rumah Nenek Shanty." terang pria itu dengan detail. Zoya hanya mengangguk - anggukan kepala meski dia benar -benar tak mengingatnya. Beberapa detik kemudian ia justru malah mengubah posisi, mengikuti apa yang Ethan lalukan. Yaitu menyandarkan punggung pada kepala ranjang.


"Apa?" tanya Ethan saat wanita itu menatapnya. Kepala Zoya menggeleng dengan senyum tipis di bibirnya.


"Seneng aja liat kamu."


"Ngidamnya liat saya?" pria itu hampir tertawa.


"Kayaknya."


"Calon jagoan, nih kayaknya." pria itu menyentuh perut Zoya, kemudian mengacak puncak kepala wanita itu.


TBC


Hmm, adem banget kayak .., kaya apa, yaah?πŸ˜…


Duuh, thor. Kok nambah pemain terus, sih? Ya, gimana orang porsinya begitu kokπŸ˜… Oh, dan lagi sejak zaman Agyan Freya, Rival mah kan udah ada. Coba, deh, cek eps 97 and 98 di part "ETHAN." and "Hanya Hari Ini.


Oghey guys, see youuuuπŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–

__ADS_1


__ADS_2