
BACA! Kenapa ada beberapa yang nggak tau Arya? Okeh, aku kenalin. Bukan Arya Saloka guys, atau Mas Aldebaran dan sejenisnya. Tapi, Davidson Aryawiguna. Kalau penasaran, coba aja deh, baca novelku yang My Eternal Enemy. Dijamin nagih season 2 pokoknya. Wk sekalian promosi, 'kan.
Oh, yah Btw, Maybe Mine dilapak sebelah belum up. Pasti bakal ngaret selama beberapa hari ini. Karena aku fokus di BCB S2 ini, so kalian yang baca, kumpulin Tugas Harian yang rajin aja, biar koinnya ke kumpul pas VinsenAdisty up nanti😍
**
Rubicon yang dikemudikan Ethan terus melaju menyusuri jalan kerikil sepanjang perkebunan teh hijau. Panorama yang indah dan menyejukan akan memanjakan siapa saja yang menikmatinya. Cuaca juga terasa sangat mendukung bagi dua orang di dalam Rubicon tersebut. Di mana langit begitu cerah sedangkan matahati sesekali tertutup awan dan menciptakan teduh untuk beberapa saat.
"Sebenernya ngapain, sih, kita nginep di vila?" tanya Zoya, sejak awal ia memang penasaran. Karena rasanya terlalu berlebihan jika hanya sekedar kejutan, terutama pada kenyataannya tidak ada hal romantis apa pun yang pria itu siapkan untuknya.
"Bulan madu." Ethan menyahut spontan. Membuat Zoya menoleh padanya dan menggeleng pelan.
"Karena rencana saya waktu itu tidak jadi, dan beberapa hari kemarin kita tidak bertemu. Saya hanya ingin menikmati waktu sama kamu." Ethan berterus terang, sedangkan Zoya tersenyum melihat pria itu.
"Kenapa, sih, mudah banget buat kamu jujur mengenai hal apa pun sama aku?"
Laju speed mobil Ethan berkurang, ia menatap wanita yang dicintainya kemudian tersenyum. "Karena saya mencintai kamu, dan saya ingin terbuka dengan kamu mengenai hal apa pun."
"Saya menaruh kepercayaan kepada kamu. Dan saya tidak ingin merahasiakan apa pun dari kamu."
Kali ini tangan Ethan meraih tangan Zoya, tersenyum lembut dan mengecup punggung tangan wanita itu sudah menjadi kebiasaan bagi Ethan sekarang.
"Jangan kecewakan saya!" Ethan mengakhiri kalimat panjangnya. Zoya hanya terdiam, kemudian mengalihkan tatapannya ke depan tanpa memberikan jawaban apa pun atas apa yang sang suami katakan, tapi yang pasti, wanita itu balas menggemggam tangan Ethan.
Ethan hanya tersenyum melihat wanita itu. Kembali menaikan speed mobil sampai kemudian mobil yang dikemudikannya berhenti di sebuah tempat.
Ethan segera turun, kemudian membukakan pintu mobil Zoya. "Kita kemana, sih?" tanya Zoya, setengah kesal karena nyatanya tempat yang mereka datangi adalah sebuah tanah lapang di mana Ethan memarkirkan mobilnya.
"Kita jalan!" sahut Ethan yang melangkah lebih dulu melalui jalan setapak yang tampak tidak bisa dilalui kendaraan, karena banyaknya pohon yang berdempetan.
"Jauh, nggak?" masih berdiri dan enggan melangkahkan kakinya mengikuti sang suami.
"Mm, lumayan." Ethan terlihat ragu dan mempertimbangkan.
"Ihh, nggak mau, ah, aku gak mau jalan!"
"Aku balik ke mobil aja!" Zoya berjalan ke arah mobil, bersiap membuka pintu tapi Ethan menahannya, wanita itu menatap kesal sang suami. Sedangkan Ethan menggelengkan kepala. Melarang Zoya kembali ke mobil. Zoya mendesah, menyandarkan punggungnya pada body mobil.
"Aku nggak mau kalau jauh." tolaknya dengan bibir yang mengerucut.
"Kenapa nggak pake mobil aja, sih, kenapa mobilnya malah ditinggal di sini?"
"Mobil ngak bisa masuk, Zoy." Ethan memberitahu dengan sabar. Zoya lagi-lagi mendesah, jika tau akan seperti ini jadinya, Zoya lebih memilih untuk tetap tinggal di vila, atau bahkan tetap di atas tempat tidur dengan pria itu.
"Enggak ada jalan lain?"
Ethan menggelengkan kepala.
"Ayo," Ethan menggandeng bahu wanita itu, Zoya sempat menolak dan kemudian pada akhirnya menuruti saja suaminya. Menggandeng pinggang Ethan dengan kepala yang bersandar pada dada Ethan. Sedikit mengganggu langkah kaki pria itu tapi Ethan tampak tidak mempermasalahkannya.
"Masih jauh nggak?"
"Kita baru jalan beberapa langkah."
Zoya mencebikan bibir, namun tetap pasrah dan melanjutkan perjalanan.
Setelah drama yang panjang itu.dan Zoya mau mengikuti sang suami, pada akhirnya Ethan menawarkan diri untuk menggendong Zoya di punggungnya. Berjalan dengan beban yang bertambah berat karena Zoya.
__ADS_1
"Kenapa nggak dari tadi aja, sih?"
"Kalau sedari tadi, saya yang cape Zoya."
"Salah siapa bawa-bawa ke sini." sahut acuh Zoya, mengalihkan tatapannya ke arah lain. Ethan menoleh sekilas. Senyumnya terukir.
Begitu hampir sampai di tempat tujuan, Ethan menurunkan Zoya. Menutup wanita itu dengan telapak tangannya. "Kamu mau kasih aku surprise apa, sih, aku udah liat danau, loh." sahut Zoya saat Ethan menuntunnya berjalan.
"Hmm, ada buaya air tawar." spontan langkah kaki Zoya terhenti mendengarnya.
"Aku nggak mau!"
"Kamu mau aku jadi makanan buaya?" kesal Zoya yang membuat Ethan justru tertawa.
"Enggaklah. Enggak mungkin saya kasih orang tersayang saya jadi makanan buaya."
"Beneran?"
"Hmm."
Mau tidak mau akhirnya Zoya melanjutkan langkah. Sampai Ethan menyuruhnya berhenti tetapi melarang Zoya untuk membuka matanya. "Buka sekarang nggak?" tanya Zoya yang sudah tidak sabar dan penasaran. Ethan menoleh, ia sempat tertawa.
"Buka apa? Ini tempat umum, Yang."
Spontan Zoya menutup wajah dengan telapak tangan. Kenapa rasanya tak karuan saat Ethan memanggilnya berbeda? Sedangkan Ethan yang melihat wanita itu hanya tersenyum. Mengambil sesuatu dari tangan Randy dan mendekat pada Zoya. Berdiri di hadapan wanita itu. Tapi sebelumnya, Randy bertanya. "Kita tidak sekalian mengundang media untuk mengabadikan moment ini Than?"
"Kamu pikir rumah tanggaku untuk konsumsi publik?"
Randy tersenyum kaku. Membiarkan Ethan berlalu. Sedangkan dua orang yang mendapat tugas mengabadikan moment tersebut sudah stand by sejak Ethan dengan Zoya tiba di sana. Juga satu orang yang mengendalikan drone sejak Ethan memarkirkan mobilnya di tanah lapang.
Perlahan Zoya membuka mata, matanya bersitatap dengan mata Ethan dalam satu garis lurus. "Hay," pria itu menyapanya. Ethan menyerahkan buket bunga besar pada sang istri, Zoya menerimanya bagai terhipnotis tanpa banyak bertanya atau pun berbicara.
"Zoya,"
"Hmm."
Ethan meraih satu tangan Zoya. Membiarkan wanita itu mengedarkan pandangannya. Zoya tanpa sadar tersenyum. Mereka ada di tepi danau, dekat dengan sebuah pohon di mana di atasnya terdapat rumah pohon berukuran besar yang didekor dengan sangat cantik, juga terdapat ayunan di sana. Tak jauh dari rumah pohon tampak sebuah Grand Piano berada di tepi danau dengan seorang pria yang siap memainkan alat musim tersebut, dan tak lama bunyi tuts piano terdengar mengalun indah setelahnya. Menjadi backsound di antara Zoya dengan Ethan.
"Ini apa?" Zoya bertanya polos dengan perasaan yang meledak-ledak karena bahagia.
"Mm, anggap ini kencan."
"Ayo." mengulurkan tangan pada Zoya, ragu tapi lagi-lagi wanita itu menggapai tangan Ethan bagai terhipnotis. Pria itu membantunya naik ke atas rumah pohon. Begitu sampai di atas, Zoya menutup mulutnya tidak percaya saat melihat sebuah meja makan berukuran kecil dengan dua kursi yang berhadapan. Makanan sudah tertata rapi di sana, vas bunga dengan bunga mawar putih tampak melengkapi tampilan meja makan.
Kejutan yang Ethan berikan, lebih dari apa yang Zoya harapkan.
"Kamu–" menatap Ethan tidak percaya, Ethan hanya mengangguk. Ikut senang melihat jika kejutan yang ia berikan tampaknya berhasil.
"Kamu siapin ini semua selama berapa hari?"
"Mmm."
"Tiga hari." Randy menyela dengan cepat. Zoya membulatkan mata, menatap Ethan sedangkan pria itu mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Menokak bersitatap dengan wanita itu.
Randy mengangkat bahu acuh. Ethan memberikannya tugas dadakan yang harus selesai dalam waktu tiga hari. Sangat merepotkan, namun Randy juga bangga karena hasil kerjanya tampak memuaskan.
"Silakan dinikmati." ucap Randy, sopan.
__ADS_1
"Terimakasih Randy." sahut Zoya. Pria itu mengangguk, kemudian berlalu meninggalkan dua orang itu. Setelah hanya ada mereka berdua di sana, Zoya menatap Ethan dengan senyuman. Perlahan pria itu mengalihkan tatapannya pada Zoya.
Setelah cukup lama. Akkhirnya Ethan merasa terganggu dan melangkah mendekat pada Zoya. Menarik pinggang wanita itu mendekat dengan jarak wajah yang tak kalah dekat.
"Ethan,"
"Terimakasih."
Dengan begitu saja Zoya mendaratkan ciuman di ujung bibir Ethan. Membuat pria itu sejenak membeku dengan apa yang Zoya lakukan. Bukan ia yang mengejutkan wanita itu, justru dirinyalah yang dibuat terkejut.
Setelahnya Zoya berlalu begitu saja, melenggang dari hadapan Ethan dan duduk di salah satu kursi, buket bunga masih ada di tangannya. Ethan yang bagai terhipnotis tampak sadar, kemudian berbalik ke belakang dan duduk di kursi yang lain.
"Oh, yah, saya punya sesuatu buat kamu." sahut Ethan, mengeluarkan sesuatu dari saku jaket yang dikenakannya. Membuka dan menunjukannya pada Zoya.
Zoya hanya mengerutkan kening. Melihat sebuah kalung dengan liontin dua huruf terdiri dari Z dan E. Detik selanjutnya wanita itu tersenyum, mengerti arti inisial tersebut. Ethan juga tersenyum, tau jika Zoya sudah peka, setelahnya Ethan bangkit dan berdiri di belakang wanita itu, memasangkan kalung tersebut pada Zoya. Setelahnya menumpu tangan pada meja, Zoya yang berada dalam kungkungan pria itu menoleh setelah memperhatikan kalung yang melingkar di lehernya tersebut.
"Cantik nggak?" tanya Zoya, Ethan mengangguk. Fokus pada wajah istrinya, bukan pada kalung yang wanita itu kenakan.
Setelahnya kedua orang itu hanya diam, sampai ketika wajah Ethan mendekat, Zoya berbicara. "Aku laper."
Ethan terdiam, tersenyum dan mengusap puncak kepala wanita itu. Menegakan posisinya dan kembali ke tempat duduknya tadi. Ia baru mengingat jika mereka belum memakan apapun sejak tadi pagi.
"Kalau begitu silakan makan." sahutnya dengan senyuman. Zoya mengangguk antusias. lantas segera melahap makanannya. Sedangkan instrumen piano sudah beberapa kali berganti lagu di bawah sana.
Randy di bawah sana juga duduk pada ayunan dengan tampang memelas, sesekali akan tersenyum ketika kamera mengarah padanya.
"Kamu kenapa siapin ini semua?" tanya Zoya disela-sela makannya.
"Sudah saya bilang ini kencan romantis."
"Selain kencan romantis?" tanya Zoya lagi.
"Saya tidak memiliki alasan lain, saya hanya ingin membuat kamu senang." Ethan menyahut santai sambil menikmati makanannya. Sedangkan Zoya menatap takjub pria itu, bagaimana Ethan selalu tampak mudah mengatakan apapun seolah hal tersebut bukan apa-apa baginya.
Padahal Zoya merasa jika kejujuran pria itu begitu berarti. Setelah selesai makan, keduanya turun ke bawah, tanpa Zoya tau jika ternyata pria itu berbakat memainkan piano. Satu buah lagu Ethan persembahkan untuk Zoya. Wanita itu tampak bahagia menghabiskan waktunya dengan Ethan, bermain ayunan bahkan memancing di danau.
Ethan benar, Zoya pun merasakannya. Jika ini semua adalah kencan romantis untuk mereka.
Sedangkan di vila yang dua orang itu tinggalkan. Selin yang sedang berjalan-jalan di sekitar vila untuk menikmati pemandangan tampak menyipitkan mata kala melihat tiga orang yang dinenalinya sedang berjalan-jalan dalam arah berlawanan dengan Selin.
"Fahry, Mbak Anggun."
"Anye?"
Spontan Selin membalikan tubuh, berjalan kembali ke arah vila dengan kepala yang menggeleng kuat. Penglihatannya tidaklah salah.
"Enggak mungkin!"
"Kenapa Fahry nggak bilang kalau dia ngajak keluarganya liburan di sini?" Selin pusing sendiri. Menggigit ujung kukunya kemudian menyingkap gorden untuk melihat kemana tiga orang itu akan berjalan.
"Gak mungkin."
"Gak mungkin!"
Selin menolak percaya, jika ternyata orang yang mengisi vila sebelah adalah Fahry dengan keluarganya. "Gimana kalau Zoya ketemu sama Fahry dan keluarganya?"
TBC
__ADS_1