Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
There is no Patience


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Zoya terbangun. Menoleh ke samping dan Ethan tidak ada di sana, kamar mandi sepi. Sedangkan waktu masih sangat pagi, tidak mungkin jika suaminya itu sudah berangkat ke gedung agensi.


Bangkit, Zoya meraih segelas air putih dan melegutnya. Kemudian ke arah kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci wajahnya, setelahnya ia ke lantai bawah. Dahi Zoya mengernyit begitu ia mencium bau masakan dari arah dapur, Zoya mempercepat langkahnya, ia mendapati sang suami yang tengah berkutat di dapur dengan beberapa hidangan yang berada di atas meja pantry.


"Than, kamu masak sendiri?" tanyanya, menghampiri sang suami. Ethan menoleh, kemudian mengangguk dan tersenyum. Zoya berdecak kagum, tidak bosan ia katakan jika Ethan adalah pria yang penuh kejutan.


Siapa pun tidak akan menyangka jika Ethan jago memasak. "Karena kamu tidak bisa memasak dan belum ada asisten rumah tangga di sini, jadi saya yang memasak sendiri." sahut Ethan, Zoya mengerucutkan bibir, merasa bersalah karena tidak bisa melayani suaminya dengan baik.


"Maaf, yah." ucapnya yang membuat Ethan justru tersenyum. Mematikan kompor dan melepas apron yang ia kenakan, kemudian duduk di samping Zoya. Menatap wanita itu lekat-lekat. Zoya tampak salah tingkah.


"Ada apa? Ada sesuatu di wajah aku?"


"Aku udah cuci muka kok." Zoya mengusap-usap wajahnya, tapi Ethan tetap hanya menatap wanita itu.


"Jangn ngeliatin dong, 'kan malu." Zoya memalingkan wajah.


"Zoy,"


"Hmm." kali ini kembali menoleh menatap Ethan.


"Kita udah sepakat buat nggak ada syarat ketiga yang sebelumnya kamu bilang 'kan?"


Zoya mendadak membeku, menatap wajah serius suaminya. Tidak mungkinkan jika Ethan menginginkannya sekarang? Bahkan sedikit pun Zoya tidak pernah memikirkannya. Beberapa hari ini ia mengira jika Ethan lupa akan hal itu. Nyatanya, naluri lelakinya memang berjalan normal.


"Than," Zoya mencoba menghentikan pria itu. Ayolah, mereka sedang di meja makan sekarang, rasanya tidak menyenangkan membahas hal seperti itu.


"Kamu sama Fahry putus?" tiba-tiba Ethan bertanya. Lagi-lagi membuat Zoya terkejut dan heran. Kenapa Ethan selalu bertanya tanpa berbasa-basi.


"Kamu tau dari mana?" Zoya menyahut sedikit kesal. Ia merasa sedih saat mengingat jika hubungannya dengan Fahry sudah berakhir karena skandal dan pernikahan.


"Saya tanya, kenapa kamu malah balik tanya?"


"Kamu tau dari mana!" Zoya membentak.


"Saya tidak suka kamu menaikan nada bicara di depan saya!" Ethan masih berkata dengan lembut, tapi tatapan matanya terlihat kesal.


"Aku gak suka kamu ikut campur!"


"Saya cuma tanya, kenapa kamu marah?"


"Saya juga nggak nuntut buat kamu jawab pertanyaan saya."


Zoya mendengkus, lantas ia bangkit meninggalkan Ethan."Zoya, kamu harus sarapan!" Ethan membalikan tubuh menatap langkah wanita itu ke arah tangga.

__ADS_1


"Aku nggak napsu makan!"


Ethan bangkit. Mengguyur rambutnya ke belakang, kemudian melihat makanan yang sudah tersaji di meja pantry. Ia sudah susah payah memasak sarapan untuk mereka tapi wanita itu sama sekali tidak menghargai perjuangannya.


Ethan mengejar Zoya ke arah kamar mereka. Membuka pintu dengan begitu saja, wanita itu tidak ada di sana. Ethan mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi. Ia hendak masuk ke sana, tapi Zoya mengunci pintu kamar mandi, membuat Ethan harus menunggu di sana.


Pria itu duduk di tepi tempat tidur dengan jari jemari tangan yang bertaut menyangga dagunya.


Sedangkan Zoya membersihkan tubuhnya dengan perasaan kesal. Moodnya sudah hancur meski waktu masih sangat pagi.


Sampai sekitar sepuluh menit berselang, Zoya keluar dari sana. Rambut wanita itu di gulung ke atas sedangkan rambut bagian depan yang jatuh di keningnya tampak basah. Menoleh pada Ethan sekilas kemudian berlalu begitu saja ke arah walk in closet. Agyan mengekor di belakangnya.


"Minggir, aku mau pake baju!" kesalnya saat Ethan memperhatikan, membuat rasa kesal di hati Zoya karena kejadian di dapur tadi semakin mencuat ke permukaan.


"Ganti baju saja. Saya suami kamu, ada masalah apa memang jika.saya melihat kamu tidak berpakain?"


Perkataan Ethan barusan berhasil membuat Zoya membulatkan matanya tidak percaya. Ia semakin tidak memahami Ethan atau barangkali ia memang belum mengenal Ethan dengan baik dan tidak tau bagaimana sebanarnya pria itu.


"Cuma karena saya tanya kamu sudah putus dengan Fahry kamu bahkan bersikap seperti ini pada saya?"


"Apa memurut kamu ini tidak berlebihan?" tentu saja Ethan juga merasa kesal. Sebagai seorang suami, tentu ia sangat ingin dihargai. Sekali pun ia sadar pernikahan ini terjadi karena sebuah keterpaksaan, tapi ia sudah mencoba menjadi suami yamg baik untuk Zoya. Terutama dirinya mencintai wanita itu.


"Aku udah bilang, kamu nggak perlu ikut campur masalah pribadi aku!"


"Minggir!"


"Aku mau ganti baju dan kerja!" paksa Zoya, menyingkirkan pria itu tapi Ethan sama sekali tidak bergeming di tempatnya.


"Bagaimana kalau saya tidak kasih izin? Bisa, seorang istri pergi tanpa izin dari suaminya?"


Untuk yang kali ini Zoya benar-benar dibuat emosi. "Artinya kamu udah melanggar syarat kedua! Kamu ngelanggar aturan Ethan!"


"Baiklah, bagaimana kalau sekarang saya meminta jatah saya sebagai suami kamu."


Zoya tersenyum hambar, menatap Ethan tidak percaya. "Kamu bercanda, 'kan Ethan?" berharap jika pria itu memang hanya sedang bermain-main dengannya.


"Aku belum siap, kamu nggak mungkin 'kan perkosa istri kamu sendiri?"


Ethan tersenyum, meraih pinggang wanita itu sampai tubuh Zoya berdempetan dengannya. Wanita itu hanya menatapnya dengan sorot mata tidak bercaya.


"Tidak ada seorang suami yang memperkosa istrinya sendiri Zoya."


Ethan menurunkan jepitan rambut Zoya, membuat rambur wanita itu tergerai bebas, kepala Zoya menggeleng pelan, menolak perlakuan Ethan, mata pria itu terlihat begitu serius. Sepertinya penilaian Zoya beberapa hari ini terhadap Ethan sudah salah besar, pria itu tidak sepenuhnya adalah seorang pria yang baik. Ethan adalah seorang pemaksa yang tidak memikirkan perasaan mangsanya.

__ADS_1


Ethan menelusupkan tangannya pada tengkuk Zoya, memaksa wanita itu untuk menyatukan bibir mereka, memberikan gigitan agar bibir wanita itu terbuka, yang membuat Zoya terpaksa melakukannya.


Ia hanya pasrah bahkan saat tangan Ethan yang lain melepas tali jubah mandinya, membuat kain tebal itu perlahan lepas dari tubuhnya.


"Saya bukan orang yang sabar, Zoya. Maaf,"


Tidak ada yang bisa Zoya katakan atau ia lakukan, bahkan Zoya tidak sanggup membuka mata begitu tubuhnya sudah berada di atas tempat tidur dan Ethan siap memulai aksinya.


Hanya air mata Zoya yang menjadi pengiring kegiatan yang tak diinginkannya itu. Membiarkan Ethan melakukan semua sepuasnya. Tak ada cinta di hati Zoya untuk suaminya, bahkan ia membenci Ethan yang sudah melakukannya tanpa menunggu Zoya siap atau sekedar memberinya waktu untuk membuka ruang di hatinya untuk pria itu.


Namun satu hal yang ada di kepala Zoya, alasan kenapa ia tidak menolak apa yang Ethan lakukan. Zoya sadar, bagaimanapun Ethan adalah suaminya yang sah dan tidak bisa dibantah.


**


Ethan mengguyur rambutnya di bawah guyuran air shower. Ia merasa sudah menjadi pengecut setelah memaksa Zoya menyerahkan kesuciannya. Seharusnya Ethan sedikit lebih bersabar. bagaimanapun Zoya membubuhkan waktu untuk bisa menerimanya.


Tapi Ethan seolah kehilangan akal, terlebih mengingat fakta jika Zoya masih mencintai Fahry, Ethan sangat membencinya. Ethan tau wanita itu marah, Ethan tau wanita itu tidak ingin melakukannya, Zoya hanya menangis sepanjang kegiatan mereka. Membuat Ethan benar-benar seperti seorang pengecut sudah melakukannya.


Bahkan sampai Ethan bersiap untuk pergi ke perusahaan. Zoya tidak beranjak dari tempat tidur, ia masih tidur dengan posisi menyamping dan air mata yang sudah mengering, membuat Ethan merasa semakin bersalah padanya.


Ethan menghela napas, melangkah menghampiri Zoya dan menekuk satu kakinya di lantai.


"Zoya, bagaimanapun perasaan kamu terhadap saya. Saya sudah terlanjur mencintai kamu," Ethan mengusap rambut wanita itu, air mata Zoya kembali merembes dan membuat matanya basah. Ethan menghapus itu dengan ibu jarinya. Ia sangat sadar jika dirinya yang menjadi penyebab kesedihan Zoya.


"Maaf," Mengusap pipi mulus wanita itu.


Zoya tidak berkata apapun, bahkan matanya enggan menatap suaminya sendiri. Ethan mendesah. "Saya tidak akan berangkat ke perusahaan kalau kamu masih menangis seperti ini."


"Kenapa kamu nggak nunggu aku buat siap?" akhirnya Zoya buka suara.


"Kenapa kamu nggak mau sabar?"


"Kenapa kamu paksa aku?"


"Kamu pikir nggak sakit? Kamu pikir nggak sakit? Huh?"


Wanita itu menangis sembari memukul lengan Ethan berkali-kali. "Di sini sakit Ethan, sakit!" Zoya menaruh tangannya di dada, menunjuk rasa sakit yang dirasanya. Rasa sesak mengingat apa yang Ethan tadi lakukan.


Ethan duduk di tepi tempat tidur, sedikit membungkukan tubuhnya dan mendekat, merah tubuh wanita itu, mendekap tubuh Zoya dan mengusap punggung sang istri dengan penuh penyesalan. Sudah ia katakan jika dirinya bukanlah orang yang sabar.


"Maaf,"


"Maafkan saya."

__ADS_1


TBC


__ADS_2