
Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam ketika Ethan dengan Zoya tengah menonton televisi dengan hanya saling terdiam. Banyak topik obrolan tapi semua dirasa terlalu sensitif jika dibahas. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing dengan mata yang fokus pada layar televisi yang sedang menayangkan acara random.
Sampai-sampai Ethan bingung di tempatnya, ia menoleh pada Zoya yang asik menonton televisi sekalipun yang ditayangkan bukanlah acara favoritnya. Iris bening Ethan beralih menatap tangan Zoya yang bertumpu pada bantal sofa.
Etha meraih dan menggenggamnya, tindakan yang membuat wanita itu menoleh, lantas tersenyun tipis padanya. Kemudian kembali mengalihkan pandangannya pada layar televisi di depan mereka, sedangkan Ethan menyandarkan jmkepala di bahu Zoya, mencari posisi senyaman mungkin.
"Naina," sampai ketika wanita itu memanggil Naina, Ethan mengangkat kepalanya karena Zoya duduk dengan tegak, membuatnya otomatis harus menyingkir.
Naina yang baru saja mengunci pintu dan akan beristirahat ke kamarnya, menghentikan langkah saat Zoya memanggil.
"Ada apa Mbak?" tanyanya.
"Kamu tidur di lantai atas."
"Enggak perlu Mbak." spontan gadis itu menolak dengan senyum awkward. Bagaimana bisa ia harus tidir di lantai atas, bertiga dengan Ethan dan Zoya?
Atau kalaupun Zoya memilih meninggalkan kamarnya dan membiarkan ia dengan Ethan hanya berdua, rasanya Naina tidak bisa. Dadanya tiba-tiba saja berdebar mengingat jika ini memang malam pertamnya dengan Ethan.
Mungkin karena tidak ada resepsi atau pesta appaun, sehingga sejenak Naina melupakan hal yang biasa dilakukan pengantin baru. Tapi rasanya ..., bukan perasaan seperti itu yang gadis tersebut inginkan.
"Tapi–"
"Mbak Zoya, saya akan tetap tidur di kamar saya." Naina berusaha menolak dengan tegas ketika Zoya hampir memaksanya. Ia tidak akan tidur di kamar Zoya, tidak akan.
Sementara Zoya terdiam. Padahal ia sudah kembali mengganti sprei tempat tudur. Lalu, jika Naina tidak ingin tidur di kamar lantai atas dan bersikeras untuk tetap di kamarnya. Apa yang harus Zoya perbuat?
Ia menoleh pada sang suami, Ethan hanya diam, tak memberikan solusi.
Zoya kembali mengalihkan tatapannya pada Naina saat Ethan benar-benar tak mengeluarkan sepatah katapun. Naina tampak berdiri canggung di tempatnya.
"Saya istirahat duluan Mbak, Pak Ethan." pamitnya, kemudian segera berlalu setelah Zoya mengangguk bimbang.
Hening kembali terjadi di ruang utama rumah mereka ketika Ethan kembali menyandarkan kepalanya di pundak Zoya, suara yang tercipta di sana hanya saluran televisi. Zoya sibuk dengan pikirannya sendiri, sedangkan bibirnya terkunci.
"Rumit, yah, Zoya." Ethan bersuara, menoleh pada Zoya dan menghela napas panjang. Zoya hanya mengangguk tanpa bersuara.
"Jadi jatah tidur malam saya sama kamu berkurang?" tanya Ethan kemudian, kali ini Zoya menoleh dan menatap Ethan.
"Saya tidak bisa Zoya." sambung pria itu saat Zoya tak kunjung bersuara.
"Kata Mbak Selin, sekalipun pernikahan kamu sama Naina cuma sekedar hitam di atas putih. Tapi di dalam agama, kalian pasangan suami istri yang sah, jadi kamu harus adil sama kami berdua." terang Zoya, panjang lebar. Yah, sekalipun hal itu sulit diterima. Ethan tak bereaksi, justru pria itu menatap Zoya dalam-dalam.
"Zoya."
"Hmm?"
"Bagaimana perasaan kamu?"
"Harus berbagi suami dengan orang lain. Apa kamu baik-baik saja?" tanya pria itu dengan serius. Di matanya, Zoya tampak baik-baijk saja merelakan dirinya terbagi. Tapi di sisi lain, Ethan juga melihat ada luka yang wanita itu coba sembunyikan darinya.
"Kamu tanya aku baik-baik aja apa enggak?"
"Berantakan Ethan. Sangat berantakan. Tapi itu satu-satunya jalan, buat kita tetep bisa bersama untuk ke depannya."
"Setelah kita punya anak dari Naina. Semua akan segera berakhir, kesedihan ini akan berakhir dan kita akan bahagia."
"Trust me, Darling."
**
Naina tidak bisa memejamkan mata bahkan ketika waktu sudah menunjukan hampir pukul sebelas malam. Ia beberapa kali merubah posisinya namun tak kunjung mendapat kenyamanan. Perasaan dan pikirannya mendadak resah, membuatnya tak bisa tenang.
Gadis itu membulatkan mata begitu pintu kamarnya diketuk dari luar, ia cukup terkejut mendapati hal tiba-tiba, hingga ia beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu.
__ADS_1
Naina mematung melihat Ethan yang berdiri di depan pintu kamarnya. Ia mendadak kaku dengan kepala yang dipenuhi tanya. Pria itu tidak mungkin akan tidur dengannya bukan? Rasanya Naina belum siap.
"Aa–ada yang bisa saya bantu Pak?" tanyanya dengan gugup, terlebih melihat raut Ethan yang tampak tampan dengan rambut berantakan dan mata mengantuknya.
"Saya tidur di sini." pria itu menyahut singkat, lantas membuka pintu kamar Naina lebar-lebar dan menerobos masuk bahkan ketika Naina sama sekali belum mempersilakan.
Naina meremas tangannya sendiri yang mendadak berkeringat dingin. "Kunci pintunya!" intruksi Ethan yang sudah berbaring di atas tempat tidur tanpa rasa canggung.
Naina menoleh gugup. Kemudian menganggukan kepalanya dan menutup pintu, perlahan menguncinya lantas berbalik dan melangkahkan kakinya dengan pelan menuju tempat tidur di mana Ethan tengah memindai setiap sudut kamar.
Ethan mengedarkan pandangan ke segala penjuru kamaf. Ia pernah memasuki kamar tersebut, yah tepat saat membawa gadis itu ketika Naina tiba-tiba saja pingsan, di teras rumah usai jalan-jalan dengan Freya dan Zoya, namun ia belum pernah benar-benar mengamatinya.
Sekalipun dekat dengan dapur, tapi kamar tersebut tidak buruk. Ethan sengaja membuatnya agar sama seperti kamar tamu. Isi kamarnya juga sengaja pria itu lengkapkan. Seperti menyediakan lemari pakaian dan juga cermin rias. Rupanya Naina merawat kamar tersebut dengan baik, terbukti dengan kerapihan yang terjadi di setiap sudut kamar.
Ethan berhenti mengedarkan pandangan saat menyadari jika Naina hanya mematung, tak kunjung menaiki tempat tidur.
"Kamu mau disitu sampai pagi?" tanya Ethan dengan sewot.
"Apa kita harus–"
"Tidurlah, sudah malam!" intruksi Ethan yang tak ingin mendengar apapun yang Naina katakan. Dengan sejuta keraguan di dadanya, Naina perlahan menaiki tempat tidur dan berbaring dengan tubuh kaku di samping Ethan.
Malam itu, adalah pertamakalinya untuk Naina tidur satu kamar dengan Ethan. Dengan pria yang ia kagumi. Tidur di atas tempat tidur yang sama, di bawah satu selimut yang sama, dengan seorang Zeinn Ethan.
Sementara di kamar lain, tepat di lantai atas, Zoya memeluk bantal gulingnya dengan perasaan pasrah. Apapun yang terjadi di kamar lantai bawah, ia dapat menerimanya dengan hati yang lapang. Toh ia sendiri yang meminta Ethan untuk tidur di kamar Naina.
***
Beberapa hari berlalu, baik Zoya dengan Ethan maupun Naina, ketiganya sama-sama belajar membiasakan diri dengan hal-hal baru yang terjadi di rumah mereka, di antara mereka bertiga.
Zoya sudah kembali disibukan oleh kegiatan syutingnya di mana ia juga menggandeng Naina untuk ikut karena bagaimanapun, gadis itu adalah asistennya.
Gadis? Barangkali sekarang Naina sudah bukan gadis lagi. Ia sudah menghabiskan malam pertamanya dengan Ethan, tapi sekalipun Zoya tidak pernah menanyakannya pada Ethan, pun pria itu juga tidak bercerita apapun.
"Aku udah pesen tiketnya untuk keberangkatan dua hari lagi."
"Mendadak? Pekerjaan saya banyak, tidak bisa saya tinggalkan." Ethan segera menolak saat Zoya mengagendakan bulan madu untuknya dan Naina ke luar negri.
"Randy bilang dia bisa handle karena kerjaannya lagi sedikit. Kamu juga cuma tiga hari di LN." Zoya tetap bersikeras. Ia memerhatikan interaksi Ethan dengan Naina yang sama sejali tidak memiliki perubahan, terlebih Ethan lebih sering tidur dengannya. Rasanya semua tidak akan selesai jika dua orang tersebut tetap begitu.
"Sayang." Ethan berusaha membujuk.
"Kalau kamu sama Naina kaya gitu terus, gimanaa caranya kalian cepet punya anak?"
"Kamu pengen semuanya cepet selesai, 'kan?" kesal Zoya. Ethan nyaris selalu menolak segala usulan yang Zoya buat, bahkana ia sudah beberapa kali memberikan waktu untuk Ethanndengan Naina sekedar saling mendekatkan diri dengan banyak berbincang, namun tampaknya Ethan sama sekali tidak perduli.
Melihat sang suami yang hanya diam tanpa reaksi, Zoya menatapnya dengan sorot pasrah, tak ingin memaksa lagi. "Kamu pikir-pikir lagi!" ia berlalu begitu saja menuju lantai atas, menapaki satu persatu anak tangga dan meningglakan Ethan di ruang utama.
Sedangkan Ethan memijat pelipisnya, menghempaskan tubuhnya pada sofa.
"Kenapa Pak Ethan harus menolak?" suara itu membuat Ethan menoleh dan mendapati Naina di sampingnya. Pria itu mengernyit, ingin tahu apa yang Naina maksud.
"Mbak Zoya benar, kalau kita terus seperti ini gimana caranya kita mau cepat punya anak?"
"Lebih cepat jauh lebih baik bukan?" Naina ingin semuanya segera selesai. Terkadang ia ingin menyerah sehingga pasrah pada Ethan. Namun pria itu benar benar kuat pada pendiriannya untuk tidak mengkhianati Zoya.
"Kamu yakin?" Ethan bertanya dengan senyum miring. Sempat membuat Naina segan, namun kepalanya tetap mengangguk sebagai jawaban.
***
Rela membiarkan suaminya menikah lagi dengan wanita lain bahkan menyiapkan honeymoon spesial untuk mandunya sendiri. Tepuk tangan untuk Nyonya Zoya Hardiswara.
wanita itu berseru pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Memang tidak akan ada satu orang pun yang mengerti maksud dan persaan Zoya. Pun ia tidak bisa menjelaskannya jika ada yang bertanya. Langkah yang wanita itu ambil tentunya atas pertimbangan yang begitu matang, begitu juga dalam mempertimbangkan bagaimana perasaannya ke depan.
Ia mengukir senyum pada gadis di sampingnya di mana langkah kaki mereka berjalan memasuki bandara dan menuju boarding lounge di mana Ethan sudah menunggu di sana.
Pria itu memang berangkat lebih dulu karena harus mampir di gedung agensi dan mengurus beberapa keperluan sebelum menyerahkan segalanya pada Randy, kemudian langsung ke bandara.
Pada akhirnya, pria itu memutuskan menerima tawaran Zoya untuk berbulan madu dengan Naina. Zoya patut bersyukur, sekalipun hatinya meronta menolak egonya membiarkan pria itu pergi.
Sementara dari arah lain, seorang pria tampak berseri-seri dengan tangan kirinya yang menyeret koper secara enteng, sementara tangan yang lain mengetikan sebuah pesan pada salah satu aplikasi chat dan mengirimkannya pada seseorang.
Setelah memastijan jika pesannya terkirim pada orang yang ia tuju. Ia menyimpan ponsel pada saku jeans-nya. Senyum di bibirnya tak kunjung sirna sepanjang kakinya melangkah keluar dari bandara.
**
Zoya melambaikan tangan pada Ethan. Berlalu lebih dulu menghampiri pria itu, sementara Naina merogoh ponselnya yang berdenting, menandakan jika ad sebuah pesan masuk.
Mas Rival
Naina, saya pulang.
Kamu ingin tahu alasan saya pulang?
"Naina." Naina menengadahkan pandangan saat Zoya memanggilnya dan melambaikan tangan agar ia buru-buru. Membuat Naina mengangguk, dan mempercepat langkahnya setelah sekali lagi melihat pesan yang Rival kirim.
Kalau kamu ingin tahu. Ayo nanti malam kita bertemu.
"Pesawatnya take off sebentar lagi." beritahu Zoya ketika Naina sudah ada di hadapannya. Naina hanya bisa mengangguk polos, Zoya menatap gadis itu. Gadis yang sudah mau mengorbankan hidupnya untuk Zoya dan Ethan.
Dengan segera Zoya meraih tubuh Naina dalam dekapan. Cukup membuat Naina terkejut dan terdiam kaku, tak mampu membalas pelukan Zoya bahkan sampai wanita itu mengurai pelukannya.
"Kalian hati-hati di sana, yah." pesan Zoya, Naina lagi-lagi hanya mampu mengangguk, saat dirasanya ada yang perlu Zoya sampaikan pada Ethan, ia pamit lebih dulu untuk masuk ke boarding lounge dengan perasaan yang tak tentu arah begitu mengingat isi chat yang Rival kirim padanya beberapa saat lalu.
"Are you okay Baby?" tanya Ethan saat wanita itu menatapnya. Zoya mengukir senyum lantas mengangguk, setelahnya ia merapikan dasi dan jas yang Ethan kenakan. Begitu usai, Ethan mendaratkan kecupannya di dahi Zoya, sangat lama sekali.
"Saya akan sering-sering menghubungi kamu." sahut pria itu, Zoya hanya diam. Tak memberi respon apapun. Jika mengangguk, artinya ia akan menyita waktu Ethan dengan Naina sedangkan mereka harus quality time di sana. Tetapi jika menggeleng, ia pasti akan rindu pria itu. Sehingga yang bisa Zoya lakukan hanyalah diam. Terlebih ia tidak ingin berbohong pada perasasnnya sendiri.
"Jaga diri kamu baik-baik. Segera kabari saya jika terjadi sesuatu."
Untuk kali ini, Zoya mengangguk. Ia memejamkan mata ketika Ethan mendekap tubuhnya dengan hangat. Lantas pria itu berbisik dengan tak kalah hangat.
"Zoya, saya mencintai kamu."
"Kamu harus tahu ini." Zoya mengangguk mengiyakan apa yang pria itu katakan. "Saya sangat mencintai kamu." sahutnya lagi yang terus Zoya respon dengan anggukan kepalahinnya, ia memilih untuk mengurai pelukan mereka dan menyuruh Ethan agar segera menyusul Naina.
Dengan berat hati, Ethan melangkahkan kaki. Zoya melambaikan tangan saat pria itu hilang dari pandangannya. Ada setetes krystal bening yang jatuh dari mata Zoya, tapi wanita itu menepisnya dengan sebuah senyuman.
Ia memilih berlalu menuju pintu keluar bandara bersamaan dengan ponselnya yang berdering. Telpon dari Selin, wanita itu segera berajalan dengan cepat menuju mobil dan mengangkat telpon.
"Ada apa Mbak?"
"Zoy, Mbak nggak tau ini kabar buruk atau kabar baik." sahut Selin yang membuat Zoya mengernyitkan dahi, terlebih saat mendengar suara Selin yang bergetar.
"Maksudnya Mbak?"
"Pemenang casting untuk lawan main kamu buat bulan depan."
"Siapa?" Zoya sudah menduga-duga dengan jelas, persaanya mulai tidak enak untuk dibaca.
"Edrin Nicolas."
"What, Edrin Nicolas?"
TAMAT
__ADS_1
SEE YOU DI SEASON BERIKUTNYA YA❤