
Tiga hari sebelum Tomy meninggal, Agyan mendapat jemputan untuk pulang ke tanah air karena kondisi Tomy yang memburuk, dan menginginkan keluarganya untuk berkumpul.
"Mas Agyan tidak perlu khawatir, saya sudah membereskan barang-barang yang akan Mas Agyan perlukan selama pulang." sahut Dharma saat Agyan baru saja pulang dari kampus dan tampak terburu-buru saat Dharma memberitahukannya jika ia harus pulang.
"Kenapa kagak bilang, sih!" ia menggerutu sendiri, Dharma hanya tersenyum.
Ketika sudah duduk tenang di kursi pesawat, Agyan hanya diam dengan pikiran yang menerawang. Menemui Tomy yang merindukannya, juga Freya.
Agyan terkekeh sendiri, bagaimana kabar gadis itu setelah lama ia abaikan. Apa dia marah? Sedih? Kecewa dan membencinya? Apa dia sudah bersama orang lain sekarang?
Tepat satu tahun yang lalu, saat Agyan baru saja tiba di apartementnya, Andreas menghubunginya dan mengajaknya bertemu di sebuah restoran hotel, dengan badan yang masih merasa lelah, Agyan memenuhi perintah sang Papi.
Waktunya memang tepat untuk Andreas dan Grrycia mengunjunginya, tapi Agyan cukup merasa heran karena Andreas mengajaknya untuk bertemu di luar, biasanya ia akan langsung datang ke apartement. "Papi, sendiri?"
"Mami di mana?" tanya Agyan setelah melepas pelukannya, Dharma yang berada di belakang Andreas hanya tersenyum padanya.
"Mami tidak ikut!"
Agyan mengangguk, kemudian duduk setelah Andreas mempersilahkannya. Ia cukup peka dengan situasi saat ini yang begitu serius hanya dengan melihat tatapan sang papi padanya.
"Kamu masih berhubungan dengan Freya?"
Pertanyaan yang sudah Agyan duga. Ia yang sedang mengemut selang minuman hanya mengangguk tanpa ragu.
Andreas menghela nafas. "Mungkin selama ini Papi terlalu membebaskan kamu. Papi kira, dengan membiarkan kamu, maka kamu akan berpikir dengan sendirinya. Ternyata Papi salah."
"Gyan gak ngerti!"
"Berhenti berhubungan dengan Freya jika kamu ingin pulang ke Indo!"
"Papi ngancem Agyan?" Agyan merasa atmosfer di sekitarnya sudah berbeda.
"Terserah kamu, jika setelah kuliah kamu selesai kamu ingin pulang, maka dengarkan apa kata Papi."
"Jika, tidak, maka biarkan kamu menetap di sini. Di Amrik.
"Kamu bisa Papi tugaskan untuk mengurus anak perusahaan yang berada di LA."
"Pi!" Agyan membentak, membuat tatapan beberapa orang mengarah padanya. "You kidding me?" ia bertanya pelan pada Andreas.
"Papi tidak memaksa, keputusan ada di tangan kamu. Silahkan!" sahut Andreas dengan tenang.
Agyan terlihat gusar, dengan mata yang menyiratkan kekesalan. Agyan tau Papinya tidak suka bermain-main dengan perkataannya, kali ini pun sama. Ia serius dengan apa yang baru saja disampaikan pada Agyan.
Terus berhubungan dengan Freya artinya menahan dirinya di Amrik untuk waktu yang lama. Sedangkan putus komunikasi adalah jalan yang tepat asalkan suatu saat nanti ketika pulang ia bisa menjelaskan semuanya pada Freya.
Tapi, apa Freya akan mengerti?
"Bagaimana?" pertanyaan Andreas menyadarkannya. Ia mengangguk setengah ragu, "tapi Agyan mau hubungin Freya sekali lagi." pintanya dengan memelas. Andreas dengan cepat menggeleng. "Pi,"
Andreas justru menengadahkan tangan, meminta untuk Agyan menyerahkan ponselnya. Dengan berar hati, Agyan menyerahkan ponsel tersebut. Selama ini, jika ia merindukan gadis itu, mereka hanya bisa berkomunikasi melalui ponsel, setelah ini, tidak akan pernah lagi.
Sementara raut wajah Andreas tampak tidak memiliki rasa kasihan sedikitpun.
__ADS_1
"Papi akan tau jika kamu menghubungi Freya. Dalam bentuk apapun!" sahutnya yang membuat Agyan mengangguk mengerti jika ia sama sekali tidak bisa menghubungi Freya, kemudian Dharma menyerahkan ponsel lain padanya.
"Di sana hanya ada nomor Papi dan Mami!"
"Bang Rayn?"
"Jika di sana ada nomor telpon Rayn, artinya Papi memberi celah pada kamu untuk menyampaikan kabar pada Freya. Papi tidak izinkan."
"Kenapa Papi jahat, bukannya hubungan Papi dan Tante Anna sudah berakhir lama."
"Kamu tidak berhak mencampuri urusan Papi!"
Agyan hanya diam. Percuma saja, Andreas akan selalu menang dan ia tetap kalah.
"Papi bertemu dengan Papi Freya. Dia juga tidak ingin kalian terus berhubungan. Kami harap kalian mengerti."
Agyan mengangguk. "Baik, biar kami saja yang mengerti kalian. Karena kami tidak butuh pengertian!"
"Agyan!"
"Pada kenyataannya kalian memang tidak dapat memberi pengertian pada kami!" Agyan beranjak dari duduknya. "Agyan permisi, Pi."
Setelah kejadian itu, komunikasi antara Agyan dengan Andreas tidak sehangat dulu. Agyan membatasi dirinya dan lebih memilih fokus pada pendidikannya setiap hari.
Belajar dan belajar terus di lakukannya dengan hati yang meronta-ronta merindukan Freya.
*
*
Ketika sekarang Agyan bertemu dengan Freya, ada perasaan lega dihatinya melihat gadis itu baik-baik saja. Dia semakin terlihat dewasa dan lebih cantik dari terakhir mereka berkomunikasi. Agyan tau, pasti banyak pertanyaan dari kepala gadis itu yang sejujurnya ingin diajukan padanya.
Ingin Agyan adalah menghampiri Freya, memeluk bahkan mencium bibir gadis itu. Tapi sayang, tatapan Andreas menahannya, ditambah dengan luka dihatinya karena kehilangan orang tersayangnya.
Sejak kecil, baik Tomy maupun Wijaya memang memiliki hubungan baik dengannya. Jelas Agyan merasa sakit saat salah saru dari mereka meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Begitu acara pemakaman usai, satu persatu dari kerumunan orang membubarkan diri. Begitu juga Freya, melihat gadis itu berlalu, Agyan bangkit. "Pi, Agyan ketemu Freya sebentar." pamitnya dan berlalu dengan cepat tanpa menunggu persetujuan sang Papi. Andreas tidak dapat mencegah, sekalipun Agyan diancam tidak akan dipulangkan dari Amrik, ia sudah terlanjur berada di sini. Kalau perlu tidak usah kembali lagi ke sana.
Freya baru saja akan membuka pintu mobil Braga saat seseorang justru menarik tangannya. "Agyan."
Seketika saja Agyan merengkuh gadis itu, mendekap Freya dengan begitu erat
"Aku kangen." ia menumpahkan segala kerinduannya selama mereka berpisah, bahkan sampai harus putus komunikasi
Freya hanya mematung, inginnya balas mendekap, tapi hatinya menolak meski ia sangat merindukan Agyan.
"Aku kangen, Freya. Aku kangen,"
Sementara Braga yang berada di samping mobil dengan pintu yang sudah terbuka hanya diam memperhatikan.
"Frey," panggil Agyan saat Freya sama sekali tidak bereaksi. Ia perlahan melepas pelukannya. Nemegang kedua bahu Freya setelah melepas kacamata hitamnya. "Kamu nggak kangen aku?"
"Kamu kenapa nggak pernah kasih kabar?"
__ADS_1
Agyan tau ini, Freyanya marah. Gadisnya kecewa atas Agyan yang menghilang tanpa kabar selama satu tahun.
"Maafin aku,"
"Maaf aja nggak cukup, Gyan."
"Terus aku harus gimana, Frey?"
Freya hanya menggeleng, ia melepas kacamata hitamnya dan menatap Agyan dengan lekat. Tunangannya kini semakin mengagumkan, tubuhnya tinggi, kulitnya putih dengan citra fierce dari tatapan tajamnya. Bibirnya yang merah alami, dan bentuk wajah dengan rasio hampir sempurna.
Rasanya terlalu berlebihan, tapi itulah kenyataannya. Mustahil jika Agyan tidak memiliki simpanan di Amrik sana.
"Nggak tepat buat ngobrolin itu sekarang, aku gak perduli!"
"Aku mau pulang!"
"Keras kepala!"
Freya hanya mengibaskan tangannya, tidak perduli akan ucapan Agyan. Braga sudah duduk di balik kemudinya. Freya membuka pinru mobil, dengan cepat Agyan menutupnya dan justru membawa Freya duduk di kursi belakang.
"Kamu apa-apaan, sih,"
Agyan hanya menarik sudut bibirnya. Matanya mengarah pada kursi depan. Tepat di mana Braga sedang duduk, lantas ia menoleh pada Freya.
Jadi, selama dirinya tidak di samping Freya? Mereka berdua menjadi dekat? Jelas Agyan tidak terima. Ia menarik pinggang Freya. tangan yang lainnya menarik tengkuk gadis itu.
Bersamaan dengan bibir mereka yang menyatu setelah tiga tahun tidak bertemu, Braga memalingkan wajahnya ke arah kaca jendela. Mengabaikan kegiatan seenaknya di dalam mobil miliknya tanpa seizinnya.
Jelas mengotori mobil kesayangannya tapi ia tak bisa berkata apa-apa. Apalagi mengusir keduanya.
Gadis itu sudah meronta setelah cukup lama Agyan menyiksanya, tapi Agyan tak melepaskan meski satu kancing kemejanya terlepas karena tarikan Freya.
Agyan baru melepasnya saat satu tamparan dari Freya mendarat di pipinya, bersamaan dengan umpatan dari gadisnya yang ditujukan pada Agyan.
Freya merapihkan penampilannya yang dalam sekejap menjadi berantakan. Agyan di sampingnya juga melakukan hal yang sama. Kemeja bagian depannya lecek dengan kancing teratas yang hilang entah kemana.
Tatapan kesal Freya jelas terlihat, tapi Agyan seolah tidak perduli, ia malah menatap Freya dengan lekat meski merasa pipinya sedikit perih. Agyan tau Freya marah, tapi mengingat gadis itu yang tadi membalas ciumannya, Agyan merasa masalah diantara mereka memang masih bisa dibicarakan.
"Kamu turun!" suruh Freya.
"Jalan, Ga!" dengan songongnya Agyan justru menyuruh Braga melajukan mobil.
"Gyan, ini mobil Braga!"
"I know!"
"Kamu turun, seenaknya aja!"
Agyan justru menatap gadis itu tanpa berkedip. Membuat Freya salah tingkah, ia tidak menyangka jika Agyan akan sedewasa ini saat pulang. Meski tingkahnya masihlah kekanak-kanakan, Freya tau tatapan mata pria itu adalah tatapan orang dewasa.
Perlahan Agyan menggapai tangan Freya, menggenggamnya dan mengecupnya dengan lembut, Freya tak menolak kali ini. Sorot kerinduan jelas terpancar dari mata keduanya.
Mobil melaju, tampaknya Braga harus rela karena ia dijadikan sopir oleh Agyan yang menikmati pertemuannya dengan Freya.
__ADS_1
TBC
Braga+Sopir+Obat Nyamuk\= Sampah Tampan 😅😂🤣