
Ehh, udah tanggal 1 aja, yah, gak kerasa. Yang harusnya udah ada stok naskah minimal 30 bab ini malah enggak sama sekali. Sekarang jadi bertanya - tanya, kemarin satu bulan diri ini ngapain aja, sih, yah?🤧🤧
Okey, tapi nggak papa ide cerita sudah aku susun dengan sebaik mungkin.
Jadi, apa kabar? Sudah siap kembali berpetulang? Mengarungi bahtera rumah tangga antara Ethan dan Zoya?
Happy reading ...
**
Matahari bersinar dengan cahaya tajam yang menembus gorden putih pintu kaca balkon, masuk ke dalam kamar melalui celah lubang ventilasi udara. Zoya yang merasa jika cahaya sang surya menembus matanya lantas mengucek mata, menghalau sinar sang surya agar tak langsung menembus mata.
Menghindari sinar dengan sedikit menggeser kepalanya, ia meringis saat merasa tubuhnya begitu ngilu dan sakit.
"Than," tangannya menepuk wajah sang suami yang tertidur pulas di sampingnya. Pria itu tak mau bangun, Zoya juga tidak tega untuk membangunkannya. Hanya saja ia ingin segera membersihkan tubuhnya dan hal itu tidak mungkin terjadi saat tangan Ethan melingkari tubuh Zoya dan membuat wanita itu tak bisa kenana - mana.
"Ethan," kali ini mencubit hidung Ethan agar pria tampan itu mau bangun.
Zoya lupa jam berapa Ethan tiba di rumah setelah melakukan perjalanan bisnis Dengan Agyan di luar negri selama beberapa hari. Semalam ia lupa melihat jam karena pria itu segera menyeretnya ke kamar.
"Sayang," Zoya berbisik dengan nada sensual di telinga pria itu ditambah dengan tiupan hangat di telinga sang suami, kali ini Ethan bereaksi. Pria itu menggeliat, tapi masih tampak enggan membuka matanya.
"Saya masih mengantuk Zoya." sahutnya dengan nada serak khas orang baru bangun tidur. Zoya tersenyum, satu minggu ditinggallakan pria itu membuatnya merindukan hal seperti ini. Pada akhirnya, Zoya menyerah membangunkan pria itu, dengan senyuman ia terus menatap wajah damai suaminya hingga mata pria itu dengan perlahan terbuka.
Pandangan keduanya bertemu, Ethan tersenyum, kemudian kembali memejamkan mata dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Zoya. Senang karena sang istri tidak memaksa untuk segera beranjak.
"Udah saing." Zoya membangunkan pria itu dengan lembut setelah sekitar lebih dari sepuluh menit berlalu, tangannya mendarat di atas kepala pria itu dan mengusapnya.
"Sepuluh menit lagi." Ethan menawar durasi waktunya guna menyambung tidur.
"Aku laper, pengen sarapan." keluh Zoya yang kemudian membuat pria itu akhirnya kembali membuka mata, memberi jarak pada posisi mereka dan menatap wajah sang istri yamg begitu dirindukannya selama mereka berjauhan.
"Aku laper." sahut Zoya lagi.
"Naina pasti udah bikin sarapan, yu."
"Nanti dulu!" Ethan menahan pinggang Zoya saat wanita itu akan beranjak.
"Apa?" wanita itu menaikan alis saat perasaannya merasa was - was dengan tatapan penuh arti sang suami.
"Enggak–" tolak Zoya, menggelengkan kepala. Meski pada akhirnya semua tetap terjadi sesuai dengan keinginan Ethan. Zoya hanya bisa pasrah dan menikmatinya.
__ADS_1
Usai membersihkan dan merapikan diri, Zoya berniat untuk turun ke lantai bawah. Sedangkan Ethan masih stay di atas tempat tidur. Pria itu benar - benar melanjutkan tidurnya setelah melepaskan Zoya.
Zoya melihat arloji mungil yang baru saja terpasang di pergelangan tangannya. Waktu menunjukan pukul sembilan pagi. Ia berjalan menghampiri sang suami, memperbaiki selimut yang membalut tubuh polos suaminya.
"Nanti jam sepuluh aku bangunin. Kita harus ke rumah Bunda buat ngerayain ulang tahunnya. Kamu nggak lupa, 'kan?" oceh Zoya sedangkan tangannya menggapai ponsel yang tengah di charger. Suaminya membuka mata, menatap Zoya dan merasakan aroma harum dari istrinya.
"Aku mau sarapan dulu ke bawah. Kamu lanjutin aja tidurnya." wanita itu beranjak namun Ethan berhasil menarik tangannya.
"Jangan macem - macem, deh." gerutu Zoya setengah kesal, dan ia akan sangat marah andai pria itu kembali mengajaknya bermain sedangkan Zoya sudah sedemikian rapi.
"Tidak ada morning kiss?" tanya pria itu.
"Udah!" Zoya menyahut seperlunya dengan memutar bola mata, jengah. Sampai lemudian Ethan menarik tangan wanita itu yang digenggamnya dan membuat Zoya terduduk di atas tempat tudur. Dengan gerakan cepat Ethan meraih bibir wanita itu. Zoya ingin meronta, namun tidak bisa sampai Ethan selesai dengan apa yang dilakukannya.
"Udah?" wanita itu bertanya dengan nada setengah kesal.
"Mau lagi?" Ethan balik bertanya dengan pertanyaan yang begitu sangat menyebalkan di indera pendengaran Zoya. Zoya memukul pelan dada Ethan, beranjak dari duduknya kemudian melanjutkan niatan untuk sarapam ke lantai bawah. Ia sudah sangat lapar, Ethan hanya menatap punggung sang istru sampai wanita itu menghilang dia balik pintu.
Setelahnya, Ethan mendesah. Mengingat kembali kejadian beberapa bulan lalu yang menimpa istrinya, ternyata sensasinya masih lah sama. Masih membuat dadanya sesak. Harapannya dan Zoya untuk memiliki anak terasa benar - benar memudar.
**
Di lantai bawah, Zoya baru saja duduk pada salah satu kursi untuk memulai sarapannya. Ethan menyusulnya, duduk pada tempat biasa dan tersenyum pada sang istri.
"Saya sudah tidak mengantuk." ucap pria dengan kaos berwarna abu itu. Zoya hanya menganggukan kepala samar, menyerahkan piring berisi nasi dan beberapa lauk kemudian menyerahkannya pada Ethan.
"Thanks, Sweety." sahut pria itu, spontan. Zoya yang mendengarnya menautkan alis, antara senang dan geli dengan apa yang baru saja ia dengar. Sedangkan Ethan tampak tak masalah dengan hal itu. Ia memulai sarapannya dengan cuek, sedangkan Zoya hanya bertukar pandang saja dengan Naina. Kedua sudut bibir wanita itu tertarik ke atas dengan lengkungan sempurna.
**
Malam Pesta.
Seorang wanita tampak dengan anggun memasuki sebuah tempat yang ramai oleh orang - orang yang mengenakan gaun pesta. Pandangan semua orang tertuju pada wanita yang tengah diapit oleh menantu kesayangannya itu dengan tatapan penuh kagum.
Freya menebar senyum pada tamu undangan yang didominasi teman - teman sekolahnya dan juga rekan kerja ia dan sang suami. Sejak awal, Freya menolak untuk merayakan ulang tahunnya, namun suami, anak dan juga menantunya bersikeras membuatkannya pesta.
Sehingga Freya tidak bisa melakukan hal apa pun kecuali menurutinya saja.
Agyan menyambut wanita itu di tengah kerumunan lokasi pesta, dengan senang hati Zoya menyerahkan Freya pada Agyan. Dengan senang hati pula Freya menerima uluran tangan Agyan. Seketika wanita cantik mantan model majalah terkenal itu mendapat banjiran ucapan selamat ulang tahun.
Sedangkan Zoya diam - diam mundur dari kerumunan dan menghampiri sang suami yang berada di salah satu meja bersama dengan Rival dan anggota keluarga yang lain.
__ADS_1
Ethan menyambut sang istri dengan senyuman, wanita itu segera mengapit lengan Ethan. Lantas menatap Agyan dan Freya yang menjadi pusat perhatian.
"Mereka masih aja sosweet sampe sekarang." komentar Zoya yang merasa kagum dengan cinta di antara kedua mertuanya tersebut.
"Itu karena merek saling mencintai." sahut Ethan. Ia akan sangat bersedih andai cinta di antara dua orang tercintanya memudar. Rasanya begitu mustahil saling menyia - nyiakan begitu saja mengingat bagaimana perjuangan keduanya di masa lalu untuk dapat bersama seperti sekarang.
Ethan terkesiap saat Zoya melepas rangkulan tangannya san sedikit merendahkan tubuh karena seorang anak kecil menghampirinya. Anak kecil? Ethan mengernyit mendapati anak gados yang begitu familiar baginya.
"Anye," sampai ia mendengar Zoya menyebutkan nama gadis kecil itu. Ethan ingat siapa dia, karena setelahnya orang tua gadis itu menghampiri mereka.
"Anye sama Mama Papa kesininya?" tanya Zoya pada anak itu. Ia sempat terkejut saat Anye, gadis yang pernah menumpahkan minuman pada pakaiannya lebih dari dua tahun lalu itu menghampirinya dan memberingkan setangkai mawar putih untuknya.
"Hmm, sama Adek Bayi juga."
"Adek Bayi?" kening Zoya mengernyit sampai kemudian ia mendapati Fahry – pria dari masa lalunya bersama dengan Anggun yang membawa bayi berusia sekitar tiga bulanan.
"Hay Zoya." sapa Anggun. Ia datang ke acara pesta ulang tahun istri mantan bosnyaakarena mendapat undangan melalui grup chat. Tidak enak jika tidak datang mengingat bagaimana kebaikan semua keluarga AE RCH padanya.
"Hay, Mbak Anggun." Zoya balas menyapa, tersenyum singkat pada Fahry yang tampak tidak nyaman melihat tatapan Ethan, juga bagaimana sikap pria itu saat mengapit lengan Zoya seolah menegaskan jika wanita itu adalah miliknya. Padahal Fahry tidak akan mengambilnya.
"Apa kabar, lama nggak lihat kamu di layar tv." basa basi Anggun yang Zoya tanggapi dengan senyuman. Ia menoleh pada Ethan yang melayangkan tatapan tajam pada Fahry seolah mengibarkan bendera peperangan. Seolah ada hal yang belum usai.
Adalah hal yang tidak Zoya mengerti dengan pria itu yang seolah tidak bisa berdamai dengan masa lalu.
"Iya, Mbak. Setelah kecelakaan itu, aku mutusin buat istirahat total." sahut Zoya, tiba - tiba dadanya terasa sesak mengingat kembali bagaimana tragedi yang membuatnya kehilangan calon anaknya untuk yang kedua kali.
"Mbak turut berduka cita, yah. Tuhan lagi ngerencanain sesuatu yang indah buat kamu." Anggun mengukir senyum menenangkan. Zoya mengangguk, lantas matanya fokus pada bayi laki - laki yang sejak tadi asik memain mainkan jemarinya dalam gendongan Anggun.
"Lucu, usianya berapa bulan Mbak?" Zoya menyentuh pipi bulat bocah kecil itu.
"Satu minggu lagi usianya empat bulan."
"Lucu banget." decak Zoya, membuatnya menatap bocah kecil itu bersamaan dengan Fahry yang pamit untuk pergi ke toilet. Tak lama, Anye juga ingin ke toilet, sehingga Zoya menawarkan diri untuk menggendong putra kedua Anggun dan Fahry. Zoya turut senang, artinya hubungan Anggun dengan Fahry berjalan dengan baik selama ini.
"Maaf, yah, merepotkan." sahut tidak enak Anggun, Zoya menggelemg tanpa rasa keberatan. Ia justru senang karena bisa menggendong anak itu.
"Lucu banget, 'kan Than?" ia meminta pendapat sang suami, Ethan mengangguk dengan senyuman, membiarkan jari telunjuknya yang besar di genggam oleh bayi mungil itu.
"Lucu kalau kita punya anak cowok." sahut Zoya yang membuat pria itu mengalihkan perhatian padanya. Menatap istrinya dengan lembut.
Andai, andai wanita itu tau jika kecil kemungkinan keduanya untuk memiliki anak.
__ADS_1
TBC