
Shinta pun memutuskan untuk segera beristirahat setelah sepulangnya mereka dari klinik Dokter Spesialis.
Andika yang baru saja selesai mandi, tiba-tiba harus terganggu oleh deringan suara handphone yang begitu mengusik telinganya.
Langsung saja pria itu pergi mengeceknya, dan ternyata Rosi lah yang sedang menghubunginya saat ini.
"Ada apa?" tanya pria itu.
Sementara di lain sisi..Shinta langsung membuka matanya, dan berusaha untuk mendengar obrolan suaminya. Tapi nyatanya tak lama kemudian sambungan telpon malah sudah di matikan oleh pria itu. Membuat Shinta langsung bertanya-tanya di dalam hatinya, 'siapa yang sedang menelpon Andika? Dan kenapa pria itu langsung mematikannya begitu saja?'
Hingga akhirnya terdengar suara langkah kaki mendekat, membuat Shinta langsung bergegas kembali memejamkan matanya. Niat hati ingin pura-pura tidur, namun nyatanya akibat efek obat yang baru saja di minumnya. Membuat Shinta akhirnya harus ketiduran karena merasakan kantuk yang sangat hebat.
Andika kini sudah duduk di bagian tepi ranjang, dengan memandang lekat wajah istrinya. Mengelus pipinya secara perlahan, dan juga sesekali membelai rambut wanita itu.
"Apa yang sedang kau lakukan diluaran sana? Bermain selama seharian dengan polisi itu? Aku tidak akan membiarkanmu pergi setelah ini, apapun keadaannya aku akan tetap berusaha mempertahankan mu. Jangan pernah mencoba untuk mencari pria lain, selain diriku!" ucap Andika pelan.
Pria itu tanpa sadar mengucapkan kalimat yang berarti tidak ingin kehilangan wanitanya, dan tidak rela jika Shinta harus pergi dan memilih pria lain.
Karena pada awalnya Andika benar-benar merasa tidak rela jika harus melihat Shinta bermesraan dengan Adipati.
Ketika ia melihat istrinya tengah berpelukan dengan pria itu. Matanya terasa sakit, dan dadanya langsung merasa sesak secara bersamaan. Lebih konyolnya lagi, Andika bahkan rela memanfaatkan Rosi untuk di jadikan tumbal, hanya agar rencana nya untuk membalas Shinta berhasil dengan sempurna.
Namun nyatanya, ia tidak bisa melakukan hal itu. Pada saat Shinta datang ke restoran, dan memergoki dirinya yang tengah berkencan dengan Rosi. Membuat rasa takut tersendiri bagi Andika! Padahal niat awal dirinya memang sengaja ingin memanas-manasi wanita itu. Tapi tiba-tiba saja terlintas pikiran jika istrinya akan pergi dari hidupnya akibat rasa cemburu, dan memilih untuk pergi bersama Adipati.
Alhasil terpaksa Andika membawa Shinta pulang ke rumah dengan meninggalkan Rosi sendirian. Dan sekarang wanita itu menelponnya dan mengajaknya untuk bertemu lagi, namun Andika langsung menolaknya karena ia ingin beristirahat sekaligus menemani Shinta tidur.
Pria itu langsung saja membaringkan tubuhnya tepat di samping sang istri, lalu mulai memejamkan matanya, hingga akhirnya terbawa ke alam mimpi.
...----------------...
__ADS_1
Keesokan paginya..
Seperti biasa, Shinta turun kebawah untuk menyiapkan sarapan sebelum sang suami pergi bekerja.
Namun tak lama kemudian, baru saja wanita itu meletakan sepiring nasi ke atas meja makan. Tiba-tiba saja Andika malah sudah turun dan langsung datang menghampirinya.
"Aku pergi, setelah sarapan jangan lupa minum obat." pesan pria itu, dan hanya bisa di balas dengan tatapan malas oleh Shinta.
Karena pasalnya suaminya itu telah pergi begitu saja, tanpa mau menyentuh makanan yang telah ia masak dengan bersusah payah.
Akibat merasa lelah, wanita itu akhirnya memutuskan untuk menarik salah satu kursi dan langsung mendudukan bokongnya disana.
"Sampai kapan kau bisa menghargai perjuanganku Andika? Aku sudah sangat lelah sekarang! Apakah aku bisa bertahan untuk tetap berada di sampingmu? Aku tidak bisa menjaminnya lagi mulai sekarang." lirih nya dengan perasaan yang tidak menentu.
Karena setelah kepulangan Rosi terasa sama sekali tidak ada harapan untuk mengambil hati Andika. Pria itu terlihat benar-benar sangat mencintai tunangannya itu, hingga membuatnya langsung patah hati sekarang!
Entahlah! Bahkan Shinta tidak mengerti dengan dirinya yang sekarang. Terlalu lemah dan termakan oleh cinta buta. Haruskah dirinya pergi? Karena ia tidak ingin menjadi orang bodoh hanya demi menunggu cinta yang tidak pasti.
Suara deringan telpon, mampu memecahkan lamunan wanita itu. Shinta melihat pada layar handphonenya, tidak ada nama yang tertera! Menandakan bahwa orang yang menghubunginya bukanlah salah satu pemilik nomor yang tersimpan di kontaknya.
"Hallo, maaf ini siapa?" tanyanya setelah panggilan di angkat.
"Selamat pagi Nona Shinta! Anda berbicara dengan sekretaris Tuan Dion sekarang.
Di harapkan agar nona datang ke Restoran xxx karena Boss saya ingin berjumpa dengan anda."
"Tidak, sepertinya anda salah sambung!" ucap Shinta yang langsung mematikan total handphonenya.
Wanita itu benar-benar tidak ingin di ganggu sekarang! Masalah dengan suaminya saja sudah cukup rumit, apalagi jika di tambah dengan permasalahan dengan Dion.
__ADS_1
Ya, Dion! Sebenarnya dia ingat dengan pria itu. Bocah ingusan yang ingin menyewa jasa nya. Namun Shinta tidak punya waktu untuk meladeni anak itu, dan hanya mengabaikannya saja, karena tidak ingin buang-buang waktu.
...----------------...
Dion baru saja masuk ke dalam ruangannya, dan melihat sang sekretaris tengah berdiri seperti sedang menunggu kehadirannya.
"Gimana? Dia mengangkat telponnya?" tanya pria itu dengan penuh antusias.
"Iya, dia mengangkatnya!"
"Bagus!" Belum lagi sang sekretaris selesai menjelaskan, tapi Dion sudah salah paham, mengira bahwa Shinta akan datang ke restoran itu.
"Tapi tuan! Nona Shinta langsung mematikan telponnya, dan kartu dalam posisi tidak aktif dan tidak bisa di hubungi lagi. Sepertinya ia menolak untuk datang bertemu dengan tuan." jelas Bimo dengan bimbang, takut jika nantinya Dion akan marah kepadanya. Akibat semuanya tidak sesuai dengan permintaan sang boss dari awal.
Namun sayangnya Tuan Muda itu malah tersenyum, dan memilih untuk mengambil handphone nya dari tangan Bimo.
"Dia akan datang!" ucap pria itu dengan penuh penekanan, tersenyum aneh seperti orang yang sudah merencanakan sesuatu.
Bimo yang paham. Akhirnya memilih untuk pamit saja. "Kalau begitu saya keluar Boss," ucapnya, dan Dion langsung membalasnya dengan sebuah anggukan kepala.
...----------------...
Di sebuah kafe yang telah di kosongkan, terlihat seorang pria berpakaian rapi tengah menyeruput segelas kopinya, dengan sesekali melihat ke arah layar handphonenya.
Tak lama kemudian Samudra datang bersama dengan Helen istrinya. Mereka berdua duduk tepat di hadapan pria itu, menunggu sampai Andika berhenti bermain dengan handphonenya.
"Ekhem!!" Helen berdehem dengan kuat untuk menyadarkan pria yang ada di hadapannya saat ini.
Langsung saja Andika meletakan handphonenya ke atas meja, dan beralih memandang ke arah wanita berwajah datar itu.
__ADS_1
"Bersabarlah sedikit! Apa kau tidak punya kesabaran?" tanya Andika, sembari menelisik penampilan Helen.