
Ethan hanya terdiam dengan posisi menunduk di ruangan Agyan di perusahaan keluarga Maheswari. Ethan tau betul apa maksud Agyan memanggilnya kemari. Zoya. Hubungannya dengan Zoya.
Agyan yang baru saja selesai menandatangani beberapa berkas penting di meja kebesarannya lantas menatap putranya yang duduk pada sofa hitam di sudut ruangan. Agyan bangkit dari duduk kemudian melangkah menghampiri Ethan dan duduk pada sofa lain yang berhadapan dengan putranya.
"Kalian belum bertemu?" tanya Agyan tanpa basa-basi. Ethan yang langsung mengerti lantas menggelengkan kepalanya pelan.
"Kamu bukan anak kecil lagi yang harus selalu Ayah ingatkan. Tatap mata Ayah jika Ayah sedang berbicara!" perkataan Agyan yang penuh penekanan membuat Ethan mengangkat pandangan. Menatap mata sang ayah sebagaimana pria itu perintahkan dan sudah melekat pada Ethan sejak ia masih kecil.
"Jadi kapan rencananya kamu akan menemui istrimu?" tanya Agyan lagi.
"Sampai Zoya meninggalkanmu dan kamu menyesaali semuanya?" serobot Agyan saat mendapati putranya yang hanya terdiam.
"Kamu jangan egois ginilah, Than!" Agyan mendesah frustrasi. Juga kecewa karena harus turun tangan secara langsung membujuk putranya yang keras kepala, kurang lebih sama seperti Freya. Meski Agyan tau, jika Freya mendengar Agyan mengatakan hal tersraebut, wanita itu pasti akan menyangkal.
"Ayah tau kamu kecewa, tapi enggak harus kaya gini. Kamu justru semakin menyakiti perasaan Zoya." sahut Agyan lagi. Ethan hanya terdiam.
"Than, kamu denger Ayah, 'kan?" Ethan menghela napas, kemudian mengangguk. Membuat Agyan memijat pelipis, putranya sangat sulit diajak berkomunikasi.
Ethan seolah menentang takdir. Menolak kenyataan jika semua sudah diatur dalam hidupnya. Ia hanya merasa kecewa dan tidak lagi berpikiran cerah untuk dapat menerima semuanya.
"Kalau Bunda yang ada di posisi Zoya, Bunda udah pasti ninggalin kamu," apa yang beberapa hari lalu dikatakan Freya saat menemuinya kembali berdengung di indera pendengaran Ethan.
"Wanita mana, sih, Than yang nggak sakit hati gak diperduliin sama suaminya sendiri saat lagi sakit? Lahir sama batinnya?"
"Bunda nggak ngerti sama kamu. Bunda nggak suka, yah, sama laki-laki yang nyakitin hati perempuan. Apalagi Zoya menantu Bunda, istri kamu!"
"Terserah kamu mau ngelakuin hal apa. Asal jangan ambil keputusan yang sifatnya buat diri kamu nyesel nanti!"
"Bunda gak ngerti, kamu kaya bukan anak Bunda, tau, gak, sih Than!"
Atas desakan dari tiga orang tersayangnya. Maka di sinilah Ethan sekarang, di depan pintu rumahnya dengan Zoya. Selain karena ayah bunda serta saudara kembarnya. Ethan juga sudah berniat untuk menemui Zoya, namun begitu ia masih menunggu waktu yang tepat untuk bertemu dengan istrinya sampai ia siap.
Ethan sadar jika dirinya salah, tidak seharusnya ia menelantarkan sang istri yang sedang dalam kondisi sangat membutuhkannya. Ethan tau ia egois. Itulah sebabnya ia akan meminta maaf pada Zoya.
Pria tampan itu sempat menghela napas sebelum membuka pintu. Ada rasa rindu di hatinya begitu pertama kali menginjakan kaki ke dalam rumah setelah lebih dari satu minggu tidak pulang dan bertemu dengan Zoya.
Keadaan rumah tampak rapi dan sepi. Seperti tidak ada orang di dalam rumahnya, mendadak membuat Ethan cemas dan khawatir jika barangkali Zoya memiliki pikiran sama dengan Freya untuk meninggalkannya karena sifat Ethan yang egois.
Dengan langkah cepat, Ethan menapaki anak tangga menuju kamar utama, membuka pintu lebar-lebar dan tidak ada siapa pun di sana. Kamarnya tampak rapi dan tidak ada sedikit pun tanda keberadaan Zoya, bahkan Erhan tidak menemukan jejak wanita itu.
Perasaan Ethan kian cemas saat ia mengecek balkon dan kamar mandi tetapi tetap tidak mendapati sang istri. Ethan mulai panik, raut wajahnya tidak tenang seperti biasanya.
"Zoya, kamu di mana?" mendesah sambari mengusap wajah dengan gusar.
__ADS_1
Dengan perasaan berkecamuk, Ethan merogoh ponsel, mendial nomor Zoya dan menunggu respon dari wanita itu. Saat mendapati ponsel wanitanya tidak aktif, Ethan merasa kian frustrasi. Ia hendak beranjak keluar, namun sebuah kertas putih di atas meja di samping tempat tudur membuat Ethan melangkah ke arahnya.
...Aku tau kamu akan pulang....
...Aku harap, saat itu terjadi kamu sudah memberiku maaf....
...Ethan, beberapa hari ini pikiranku sangat tidak tenang. Kamu yang bahkan tidak bisa dihubungi membuatku kian frustrasi. Aku perlu menenangkan diri....
...Jika kamu merindukanku dan mau memperbaiki hubungan kita. Kamu pasti tau di mana kita harus bertemu....
...Aku akan ada di sana untuk menunggumu....
...Aku berharap kamu mau datang....
...~Zoya.~...
**
Ini adalah hari ketiga Zoya menikmati waktu sendirinya di puncak. Udara sangat segar begitu ia menarik napas dalam, rasanya menenangkan. Meski tidak sepenunya membuat Zoya tenang, mengingat Ethan yang tak kunjung datang. Membuatnya ragu untuk bertahan.
Zoya mendesah. Merasa lagi-lagi kehampaan mengampirinya saat ia sendiri tanpa Ethan. Kakinya melangkah melewati teras vila menuju mobil yang akan membawanya ke suatu tempat. Zoya ingin melihat kembali tempat yang Ethan buat untuk dirinya sepulang pria itu dari bisnis luar negrinya.
Senyum Zoya terukir begitu mobil melaju, mengingatkannya saat pertama kali Ethan membawanya ke rumah pohon. Sekali pun kenangan pahit menghampirinya atas kegagalan bulan madu antara ia dan Ethan karena pertemuannya dengan Fahry, perasaan Zoya tetap tidak bisa menepis jika ia merasakan kebahagiaan dalam hidupnya pada bagian tersebut, selalu ada kebahagiaan tersendiri untuk semua yang terjadi. Zoya tidak menyesalinya. Ia yakin semua sudah rencana Tuhan
Termasuk dirinya yang harus kehilangan calon anaknya dengan Ethan, juga berpisah untuk sementara waktu dari pria itu.
"Oh, tidak perlu Bu. Akan terlalu lelah jalan kaki nantinya."
"Ini satu-satunya jalan menuju danau."
Jawaban sang sopir membuat Zoya terdiam. Kepalanya menggeleng pelan dengan sebuah senyuman, mengingat apa yang saat itu Ethan lakukan.
**
Suasananya masih sama seperti saat Zoya pertama kali datang ke tempat tersebut. Indah, dan menenangkan. Mata Zoya lekat menatap danau yang jernih, kemudian mengedar ke seluruh tempat sampai matanya fokus pada rumah pohon.
Zoya melangkah menuju tangga, dengan sangat perlahan ia naik dan menyangga tangan pada pembatas untuk menatap keadaan di bawah sana. Kemudian masuk ke dalam, melihat kembali apa yang sebelumnya sudah ia lihat dengan Ethan.
Sebuah loveseat berwarna abu membuat langkah Zoya menuju ke arahnya. Duduk di sana dan mengambil sebuah bingkai foto yang berada di atas meja tepat di samping loveseat tersebut. Senyumnya terukir melihat potret dirinya dengan Ethan, mengalihkan Zoya dari interior rumah pohon yang didesain dengan gaya modern.
Tanpa sadar, air mata Zoya menetes. Setiap detik ia merindukan Ethan, merindukan kasih sayang dan sikap kaku pria itu.
"Ethan, kapan kamu akan datang?"
__ADS_1
"Aku kangen."
"Kapan kamu mau nemuin aku?!"
"SEKARANG!"
Zoya membeku, matanya yang semula menatap bingkai foto berfokus pada pria yang tengah berdiri di hadapannya dengan napas berantakan. Perlahan Zoya bangkit, menatap pria itu dengan sorot mata tidak percaya.
**
Ethan sempat berpikir keras mengenai tempat yang Zoya maksud. Ia yakin bukan lokasi syuting wanita itu atau hotel Ethan. Setelah mengemudikan mobilnya cukup lama sembari berpikir, Ethan akhirnya tau kemana ia harus menyusul sang istri.
Setelah tidak mendapati Zoya di vila, akhirnya Ethan mengemudikan mobilnya ke rumah pohon di mana Ethan merasa yakin jika istrinya ada di sana. Dan feelingnya tidak salah mengenai keberadaan wanita itu.
Sekarang, Ethan melihat jelas bagaimana wanita yang beberapa hari ini sangat dirindukannya karena mereka tidak bertemu. Ethan melihat dengan jelas sorot sedih dalam mata Zoya yang membuatnya merasa sangat berdosa.
Perlahan Ethan melangkah, begitu jarak mereka dekat. Ia meraih pinggang wanita itu dan mendekapnya dengan erat. Membuat Zoya terkesiap dalam keraguannya pada orang yang saat ini mendekap tubuhnya dengan erat.
Zoya masih mempertanyakan apakah orang tersebut Ethan atau bukan. Hingga ia merasa yakin orang tersebut adalah sang suami begitu aroma maskulin khas Ethan menguar ke dalam indera penciumannya.
Namun tak butuh waktu lama.untuk Zoya akhirnya menangis sejadi-jadinya sambil berontak melepaskan diri dari dekapan Ethan.
"Maafkan saya."
"Kenapa kamu jahat? Kenapa kamu ninggalin aku? Kenapa kamu gak pernah jenguk dan nemenin aku di rumah sakit?"
"Kenapa kamu nggak percaya sama aku dan nyalahin aku?"
Ethan hanya pasrah menerima pukulan wanita itu di dadanya. Membiarkan Zoya meluapkan emosi yang selama ini ditahannya. Ia tau ia salah dan pantas mendapatkan perlakuan kasar dari wanita itu.
"Kenapa Than, kenapa?" perlahan wanita itu mulai tenang dan diam dalam dekapan Ethan yang sejak tadi memang tidak melepaskannya.
"Saya tau saya salah, saya minta maaf." Ethan tau maaf saja tidak cukup untuk Zoya yang terluka, tapi dengan mengatakan maaf dan mengakui kesalahannya, Ethan yakin itu akan jauh lebih baik bagi Zoya.
Ethan mendaratkan kecupannya berkaali-kali di puncak kepala wanita itu seraya meminta maaf. "Saya minta maaf,"
"Saya berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi."
"Saya minta maaf."
TBC
Awas aja kalo sepi like sama koment:"(
__ADS_1
Btw aku lagi sakit dan maksain buat up karena kemaren juga libur, hmm😢
Bilang sakit biar apa coba thor? Biar diperhatiin wkwk😂