
Freya menghampiri Braga, melihat beberapa luka di wajah pria itu, ia merasa iba. Padahal Braga tidak salah apa-apa di sini. Tapi, Freya juga memahami bagaimana perasaan Agyan yang merasa terluka dengan apa yang sedang terjadi.
Agyan berjuang mati-matian untuknya, sedangkan Freya sendiri tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima semuanya.
"Biar aku obatin, lukanya." sahutnya, kemudian menggandeng Braga untuk masuk ke dalam mobil. Jauh dari mereka, Agyan yang menghentikan mobil hanya memperhatikan melalui spion. Melihat bagaimana Freya menggandeng calon suaminya, dan membiarkan hatinya benar-benar terluka dengan hal itu.
Menyerah untuk Freya, artinya Agyan harus melepas dua orang berharga dalam hidupnya sekaligus, tapi terus memperjuangkan Freya, Agyan merasa ia sudah kehilangan cara.
Apapun sudah dilakukannya, tapi nyatanya sia-sia.
"Sakit?" tanya Freya saat ia mengoleskan obat merah pada luka di ujung bibir Braga. "Sedikit,"
"Maafin, Gyan, yah."
"Nggak papa."
Freya tersenyum samar. Ia menatap kaca jendela mobil setelah selesai mengobati luka Braga. Ada perasaan cemas di hatinya jika Agyan sampai melakukan hal-hal tidak terduga.
"Frey," Braga menyentuh bahu Freya. Gadis itu menoleh dengan lelehan air di matanya. Ia menatap Braga dengan tatapan bersalah, sedih, berharap pria itu mau melakukan sesuatu agar membatalkan pernikahan mereka. Freya tidak ingin menyakiti Agyan.
"Aku gak bisa nikah sama kamu, Braga. Kamu bisa, minta ke Papi aku buat batalin semuanya?" pinta Freya dengan penuh harap. Meski ia tau tidak mungkin baginya untuk membatalkan acara yang sudah mencapai hampir 99%.
Tapi, Freya tidak ingin jika bukan dengan Agyan. Lebih baik ia mengurus anaknya sendiri. Braga laki-laki yang baik, tapi Freya tidak mencintainya, dia hanya ingin Agyan. Ayah dari calon anaknya.
"Ga, kamu bisa, 'kan?"
Braga tampak menghela nafas. "Gak bisa, Frey. Aku nggak berani, kamu tau, 'kan gimana Papi kamu udah sering bantuin keluargaku?"
"Aku nggak mau dianggap nggak tau terimakasih karena nggak mau nolong keluarga kamu."
"Papi yang salah, Ga. Harusnya dia nggak nyuruh kamu nikahin aku karena Agyan juga mau tanggungjawab atas anak ini!" Freya histeris, mengacak rambutnya dan hampir memukuli perutnya jika saja Braga tidak menghentikannya.
"Aku cuma mau, Gyan."
"Kamu tenang Frey, jangan nyakitin diri kamu sendiri apalgi janin kamu!"
Freya menghentikan tangannya, setelahnya ia hanya menangis.
Braga memeluk Freya, menyalurkan kekuatan dan keyakinan, jika semua akan baik-baik saja. Meski sungguh, Braga tidak yakin dengan hal itu. Semuanya sudah sedemikian kacau, bahkan Braga tidak dapat menebak kemungkinan apa yang akan terjadi di hadapannya nanti.
*
*
Agyan kembali ke rumahnya, memarkirkan mobil dengan asal-asalan, masuk ke arah kamar dengan langkah cepat, mengabaikan Grrycia yang baru saja akan bertanya padanya.
"Gyan-Gyan." Grrycia menggeleng, melangkahkan kakinya untuk duduk di sofa sebelum suara sebuah pecahan kaca dari arah kamar Agyan menghentikan laangkahnya.
"Agyan."
Buru-buru Grrycia menaiki anak tangga menyusul putranya dengan raut khawatir, hatinya cemas jika saja Agyan melakukan hal-hal ekstrim yang tiba-tiba saja sekarang bersarang di kepalanya.
Sebelum membuka pintu kamar Agyan, Grrycia lebih dulu mendial nomor Andreas dan menelponnya.
"Mas," sahut Grrycia dengan nada bicara tidak sabaran karena khawatir.
"Ada apa Sayang?" Andreas juga tampak terkejut dan khawatir.
"Pulang sekarang!"
"Ada apa?"
__ADS_1
"Pokoknya pulang!"
"Iya, Mas pulang sekarang."
Grrycia menutup telpon, membuka pintu kamar Agyan dan ia merasa semakin cemas saat mengetahui pintu kamar putranya di kunci. Sementara Agyan sudah berhenti membanting barang-barang yang berada di kamarnya.
Hal itu bukan membuat Grrycia lega. Tetapi perasaannya cemas dengan apa yang sedang Agyan lakukan di dalam sana.
"Bi Jumi."
"Bibi."
Grrycia berteriak sembari menuruni anak tangga, Bi Jumi muncul dari arah dapur dengan terburu-buru. Ia terkejut tentu saja karena tidak biasanya nyonya-nya berterteriak ketika memanggilnya kecuali dalam keadaan genting.
"Ada apa Nyonya?" tanyanya dengan tergopoh-gopoh.
"Kunci cadangan kamar Agyan di mana Bi?"
"Ada di—" Bi Jumi sibuk mengangkat jari telunjuknya ke sembarang arah, kemudian jari itu berhenti pada sebuah laci lemari di samping tangga.
Bi Jumi segera mengambil dan menyerahkan kunci tersebut pada Grrycia. Keduanya buru-buru ke arah kamar Agyan dan membukanya.
"Gyan," dengan perasaan khawatir bercampur lega, Grrycia menghampiri Agyan yang duduk menghadap balkon, punggungnya ia sandarkan pada kaki ranjang, kepalanya menunduk dengan rambut berantakan. Rompinya tak kalah berantakan dengan kemeja yang sudah keluar dari celana, jasnya tergeletak begitu saja di lantai.
Bi Jumi tampak terkejut melihat kamar Agyan yang amat berantakan. Berbagai miniatur dalam lemari pajangannya berada di lantai. Semuanya tampak kacau tidak beraturan.
Dan keadaan Tuan Mudanya jauh lebih kacau dari kamarnya.
"Mi,"
Agyan memeluk sang Mami. Grrycia menatapnya, iba. Putranya yang hampir tidak pernah bersedih, kini tampak sedemikian kacau. Grrycia tau, beberapa tahun belakangan, Agyan memang menanggung beban berat, dan puncaknya pada hari ini ia menumpahkan segalanya.
Grrycia membelalakan matanya saat melihat dress putih yang dikenakannya berlimur darah. Ia melihat tangan Agyan, rupanya darah itu bersalah dari sana.
"Bi Jumi, ambilkam kotak P3K!"
"Baik, Nya."
Bi Jumi pergi dan kembali dengan kotak P3K, segera menyerahkannya pada Grrycia. Grrycia segera mengobati luka di tangan Agyan.
"Anak itu milik Agyan, Mi. Freya milik Agyan. Mereka milik Agyan, bukan Braga!" ungkapnya dengan air mata yang membuat Grrycia semakin iba dan ikut merasa bersalah karena tidak dapat membantunya.
Agyan tampak tidak merasakan sakit sedikitpun pada luka yang ada pada tangannya. Grrycia dengan telaten mengobatinya, kembali memeluk Agyan setelah membalut tangan Agyan dengan kasa.
"Kenapa semua orang nggak adil, Mi. Kenapa millik Agyan nggak boleh Agyan milikin?!" ia terus saja meracau dengan menyedihkan.
"Mami harus ngapain, Sayang. Mami harus ngelakuin apa, Gyan?" Grrycia ikut menangis melihat kesedihan mendalam di wajah Agyan. Dan Grrycia tidak tau bagaimana kondisi hati Agyan sekarang. Pasti sedemikian hancur.
Sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah Grrycia melihat putranya menangis di usia remaja sampai ia sekarang sudah dewasa.
Tapi hari ini, Grrycia benar-benar melihat air mata di mata jernih putranya.
Grrycia menoleh saat Andreas memasuki kamar. Suaminya itu melangkah perlahan pada ia dan Agyan. Andreas sempat mengamati kondisi kamar Agyan. Termasuk lemari besar milik Agyan yang cerminnya hancur dan berserakan di lantai.
"Gyan,"
"Agyan, mohon Pi." Agyan memohon pada sang Papi yang terlihat bimbang dengan wajah datarnya.
"Papi sudah melamarkan Freya untuk kamu, Gyan. Tapi keluarga Freya yang menolak, apa yang bisa kita lalukan?"
*
__ADS_1
*
"Kak Braga bener mau nikahin Kak Freya?" tanya Vanesh yang baru saja tiba saat Braga, Brandon, Morgan, Gavin, Cherry, dan Gladis sedang berkumpul di sebuah restoran. Termasuk ada Freya di sana, hanya Agyan yang tampak belum hadir.
Braga hanya diam sambil mengaduk makanannya, Freya di sampingnya juga hanya diam saja. Sementara sisanya tampak heran. Braga akan menikah dengan Freya? Lalu bagaimana nasib Agyan?
"Kak, jawab aku!" Vanesh membentak. Tentu saja ia merasa marah saat membaca sebuah kartu undangan untuk kedua orangtuanya dan orang yang akan menikah adalah Braga dengan Freya.
Vanesh merasa tak percaya, tapi pada kenyataannya. Surat undangan tersebut memanglah asli dan Vanesh tidak terima.
"Iya!" Braga menyahut singkat. Membuat genangan air di pelupuk mata Vanesh tumpah tanpa bisa dicegah lagi.
"Kenapa?"
"Kenapa kalian tega sama aku sama Kak Agyan?" gadis itu menaikan nada bicaranya tanpa perduli beberapa orang sudah menatapnya dengan heran.
"Selama ini aku udah nunggu kamu, kurang sabar apa selama beberapa tahun ini aku bertahan tanpa kepastian sama kamu!" makinya sambil mengguncang bahu Braga.
"Kamu bercanda, 'kan, Kak. Kamu nggak mungkin nikahin Kak Freya, 'kan. Kak Freya pacar Kak Gyan!" Vanesh berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Ini beneran?" Brandon akhirnya bertanya setelah cukup lama memendam rasa penasarannya selama mengamati mereka. Sementara Morgan yang sudah mengetahui semuanya hanya diam saja.
"Kak Freya, kalian cuma bercanda, 'kan, Kak?" tanya Vanesh, beralih pada Freya yang hanya diam dengan binar bahagia yang seolah sudah lenyap dalam auranya.
Bersamaan dengan itu. Agyan datang dengan raut wajah tidak bersahabat. Duduk begitu saja tanpa perduli pada perdebatan yang sedang terjadi. Tiga hari lagi, Freya akan menikah dengan Braga, dan rasanya Agyan sudah putus harapan kecuali menunggu janda Freya nanti.
Ah, tidak. Sejujurnya hatinya masih bersikeras memaksakan takdir agar dapat bersama dengan Freya membina bahtera rumah tangga.
"Kenapa Kak Freya jahat?"
"Kenapa Kak Freya sia-siain Kak Agyan dan malah mau nikah sama Kak Braga. Kakak tau, 'kan aku cinta sama Kak Braga!"
Freya tak bergeming, ia memang salah dan tidak akan marah pada Vanesh yang sudah memakinya.
"Van, jangan gini, malu." Cherry memegang lengan gadis itu yang sama sekali tidak membaca kondisi dan situasi.
"Aku nggak perduli, Kak."
"Van, loe bikin malu kita semua!" Gavin akhirnya merasa geram juga melihat tingkah Vanesh.
Selama ini, Gavin memang jarang mengobrol banyak dengan Freya saudara sepupunya itu. Tapi Gavin tau dengan apa yang dihadapi Freya saat ini, dan ia cukup mengerti. Juga tidak terima jika Freya disalahkan.
"Kak Freya. Aku mohon, jangan nikah sama Kak Braga. Gimana aku, Kak, gimana nasib aku?" kali ini nada bicara gadis itu melemah. Freya tidak bisa berbuat apa-apa atau mengiyakan apa yang gadis itu minta.
"Maaf Vanesh, semuanya nggak bisa dibatalin gitu aja." akhirnya Freya buka suara. Sekilas ia menoleh pada Agyan yang sedari tadi terus menatapnya. Freya melihat tangan Agyan yang dibalut kasa, ia merasa penasaran. Tapi tidak mungkin juga untuk bertanya.
Lantas Freya memilih untuk beralih pada Vanesh.
"Andai kamu ada di posisi aku, kamu akan tau gimana sulitnya—Dipaksa berpisah dengan orang yang kamu cintai!" Freya bangkit, berlalu begitu saja di susul oleh Braga.
Vanesh jatuh terduduk dan langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tagan. Cherry menenangkannya sementara para cowok hanya terdiam.
"Gyan, loe nggak papa Freya nikah sama Braga?" tanya Brandon dengan raut tidak percaya.
"Gue udah lakuin berbagai hal biar gue bisa sama-sama, sama Freya. Tapi waktunya nggak tepat buat kita."
Gavin menatap Agyan iba. Ia bisa melihat sorot sakit, dan putus asa dari mata Agyan. Dan ia melihat cinta yang besar di sana saat Agyan menatap kepergian Freya dengan Braga.
TBC
Follow my ig : evayulianti47. Ada surat undangan buat kalian.
__ADS_1