
"Asisten kamu cantik, Zoy." komentar seorang photografer saat Zoya kembali touch up untuk pemotretan akhir, pandangan pria itu mengarah kepada Naina yang tengah merapikan set pakaian milik Zoya di samping meja rias. Zoya menoleh kepada Naina kemudian tersenyum kepada sang photografer.
"Iya dong, cantik. Itu kenapa aku jadiin dia asistenku." sahut Zoya yang membuat sang photografer hanya tergalak mendengar nada setengah bercanda dari Zoya.
"Tidak tertarik untuk menjadi model atau aktris?" sang photografer bertanya lagi. "Dia bilang dia nggak tertarik." Zoya menjawab singkat mengingat jika dulu Naina pernah mendapatkan pertanyaan yang sama dari seorang mua yang mendandani Zoya di lokasi pemotretan yang berbeda.
Naina yang menjadi bahan pembicaraan hanya tersenyum membenarkan apa yang Zoya katakan karena hal tersebut memang benar. Rasanya ia tidak akan bisa tampil percaya diri dihadapkan pada sebuah kamera dengan kilatan blitz yang menerpa dirinya, ia tidak akan terbiasa. Tidak seperti Zoya yang memang tbuh untuk hal semacam itu.
Usai melakukan pemotretan, Zoya mengajak Naina dan Selin untuk berjalan-jalan di pusat perbelanjaan besar. Ia membelikan Naina beberapa pakaian untuk gadis itu kenakan ketika ikut dengannya ke lokasi syuting–meski hal itu sudah pernah ia lakukan sebelumnya.
Semula Naina juga menolak, mengingat jika Zoya sudah sangat banyak membelikannya pakaian, sepatu dan tas mahal. Tapi Zoya bersikeras dan menempatkan Naina pada posisi dimana gadis tak dapat menolak ajakan Zoya.
Zoya juga membawa Naina ke salon dan spa agar wanita itu mendapat perawatan.
"Jadi lebih cantik." puji Zoya setelah Naina mengenakan sebuah dress berwarna kuning yang ia pilihkan. Naina hanya tersenyum menanggapi pujian wanita itu.
Selain itu, Naina juga membeli beberapa potong pakaian untuk sang Bibi di kampung, awalnya ia ingin membayarnya sendiri karena tidak ingin merepotkan Zoya, namun majikannya tersebut tetap bersikeras membayarkannya.
Selin dengan senang hati mengikuti mereka. Terutama ketika Zoya mengajaknya mengunjungi sebuah toko peralatan bayi.
"Zoy, Mbak lahiran, 'kan masih lama. Kamu nggak perlu repot-repot dari sekarang." awalnya Selin menolak apa yang wanita itu lakukan tetapi Zoya tetaplah Zoya, ia tidak dapat menerima penolakan ia bersikeras tetap mengajak Selin untuk mengunjungi toko peralatan bayi sehingga Selin hanya bisa menurut.
Tetapi sebelum benar-benar memasuki toko peralatan bayi Zoya sempat mematung di depan toko, ia tersenyum menatap semua peralatan yang tampak menggiurkan bagi siapa saja calon ibu yang melihatnya.
Toko tersebut adalah tempat impiannya ketika ia tengah mengandung calon anak keduanya dulu, sebelum kecelakaan menimpa dirinya dan merenggut calon buah hatinya dengan Ethan.
Melihat kondisi yang tidak memungkinkan saat mereka berada di depan toko peralatan bayi membuat Selin jelas merasa tidak enak kepada wanita itu.
"Mbak udah bilang nggak mau kesini, nggak masalah Zoy."
"Mbak, 'kan lahiran masih lama, kita nggak perlu datang kemari. Mending sekarang kita pulang atau ke tempat lain aja yuk–" Selin mengalihkan perhatian wanita itu dan menggandeng tangan Zoya namun Zoya masih tetap terdiam di tempatnya.
Zoya menoleh dan tersenyum tipis. "Enggak masalah, kita masuk. Aku bakal beliin apapun yang bakal dibutuhin sama calon keponakan aku." sahut Zoya dengan senyum tulus yang terbit di bibirnya.
Zoya dengan begitu saja menarik tangan Selin untuk memasuki toko peralatan bayi. Naina mengekor di belakang mereka. Dengan penuh keceriaan, Zoya memilah berbagai barang yang sekiranya nanti akan dibutuhkan bayi. Mulai dari pakaian, selimut, sepatu, jaket dan tempat tidur bahkan peralatan makan.
Melihat hal tersebut, Naina menjadi semakin tahu seberapa besar keinginan Zoya untuk memiliki anak. Ia merasa iba kepada wanita itu. seharusnya sekarang Zoya tengah memilah barang-barang untuk keperluan bayinya sendiri bukan bayi orang lain–andai hal buruk beberapa bulan lalu tidak terjadi kepada wanita itu.
"Menurut kamu, bagus yang mana?" tanya Zoya kepada Naina yang membuat lamunan gadis itu buyar seketika, ia melihat Zoya yang tengah menunjukkan dua buah jaket bayi lucu dengan warna berbeda. Sementara Selin tengah memilah sepatu di bagian yang lain.
"Mbak Zoya minta pendapat saya?" tanya Naina, Zoya segera mengangguk. "Atau yang ini?" ia mengambil lagi satu jaket berwarna biru muda, membuat Naina bingung mebentukan pilihannya
"Cepetan, bagus yang mana?" tanya Zoya lagi dengan tidak sabaran, Naina melihat ketiga jaket berwarna biru, abu-abu dan putih tersebut.
"Menurut saya, sih, dua-duanya bagus Mbak." komentarnya karena faktanya memang demikian, bahkan Naina tidak dapat menentukan pilihan. Zoya tampak diam, terlihat mengamati ketiga jaket tebal itu dan ia merasa jika ketiganya sangat bagus.
"Ambil tiga-tiganya aja kalau gitu." putusnya kemudian dengan enteng, berhasil membuat Naina menggelengkan kepala melihat tingkahnya.
"Tapi kalo anaknya nanti cewek–"
"–atau ambil yang merah muda juga, yah." wanita itu terlihat kembali bingung.
"Enggak usah Zoy, kebanyakan. Lagian biru sama putih cocok dipake anak cewek, abu juga masuk." Selin yang tiba di sana segera mencegah niat gila Zoya yang seolah akan memborong semua peralatan bayi.
Mendengar hal itu keinginan Zoya tak dapat goyah dengan mudah, tetapi Selin sudah menggelengkan kepala dan mencegah wanita itu.
***
"Abis ini kemana lagi?" tanya Zoya usai mereka membeli banyak peralatan bayi.
"Naina, masih mau nambahin nggak?" tanyanya lagi, memusatkan tatapannya pada Naina, Naina dengan cepat menggelengkan kepala. Zoya sudah terlalu banyak membelanjakan uangnya untuk segala jenis kebutuhan Naina.
"Beneran?"
"Iya, Mbak. Sudah, ini sudah banyak."
"Kita ke restoran di lantai bawah aja, Zoy." usul Selon mengingat jika sudah masuk waktu makan siang dan mereka belum makan siang. Zoya mengangguk, ia baru sadar jika ternyata dirinya lapar. Tiga orang itu akhirnya turun ke lantai bawah dan akan menikmati makan siang dengan tenang setelah menyegarkan pikiran dengan berbelanja.
Zoya memilih spot paling pojok karena menghindari beberapa kemungkinan yang bisa saja terjadi jika ia dapat dengan mudah dilihat oleh orang-orang yang mengenalinya sebagai aktris sekaligus istri dari CEO agensi.
__ADS_1
"Mbak Zoya, Mbak Selin, saya ke toilet sebentar." pamit Naina seraya beranjak dari duduknya ketika mereka tengah menunggu makanan pesanan mereka tiba. "Kamu tahu arah toilet?" tanya Zoya, khawatir jika gadis itu tersesat nanti.
Tapi rupanya kekhawatirannya tidak ada apa-apanya saat Naina mengangguk dengan penuh keyakinan, Zoya hanya menatap arah kepergian gadis itu dan segera meraih ponselnya yang berada di atas meja saat benda pipih itu berdering.
Panggilan masuk dari suaminya. Zoya segera menggeser ikon hijau dan menempelkan ponsel pada telinganya.
"Hallo,"
"Hallo Sayang, bagimana pemotretannya?"
"Sudah selesai? Kamu mau saya jemput?" tanya Ethan di ujung sana.
"Udah beres. Enggak usah jemput. Ini aku lagi makan siang sama Mbak Selin sama Naina di restoran mall."
Ethan sempat terdiam beberapa saat hingga kemudian–"Saya ke sana sekarang."
"Ngapain?" tanya Zoya, tapi beberapa saat kemudian ia mengangguk. "Euu, yaudah kalau mau ke sini, aku tunggu."
Panggilan terputus setelahnya, Zoya hanya menatap layar ponsel. "Suami kamu mau ke sini?" tanya Selin yang sejak tadi memerhatikan, Zoya mengangguk. Seharusnya ia tidak perlu heran, justru Zoya harus merasa lega karena Ethan tetaplah Ethan. Tidak berubah sekalipun ada Alexa.
Zoya mendesah kasar dengan tangan terkepal di atas meja. Mengingat Alexa membuat darahnya tiba-tiba saja mendidih. Ia tidak suka pada wanita itu.
***
Naina tidak menyangka jika tamu bulanannya harus datang saat ia tak mempersiapkan apapun. Yang membuatnya akhirnya hanya berdiri mematung kebingungan di dalam toilet. Naina menjadi lebih panik saat orang yang mengantri di depan toilet mulai mendesaknya untuk segera keluar.
Naina ingin menangis saja rasanya, ia melihat lagi dress berwarna kuning yang dikenakannya di mana terdapat bercak merah di sana–dibagian belakang tubuhnya. Sangat memalukan, mungkin seharusnya tadi ia mengenakan dress hitam saja.
Mendesah, Naina tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia tidak sadar jika ada bercak merah darah segar di sana. Andai tahu mungkin ia akan mengganti pakaiannya dengan palaian baru yang lain–yang dibelikan Zoya.
"Mbak, cepetan dong. Saya kebelet, nih." seseorang dari luar berteriak seraya menggedor pintu toilet dan didusul suara gaduh lainnya menyuruhnya untuk cepat keluar.
Dengan sangat terpaksa, Naina keluar dari dalam toilet, rona merah seketika tercetak jelas di wajahnya. "Lama banget, sih, Mbak. Ngantri nih," gerutu salah satu dari mereka saat Naina keluar.
Naina hanya bisa diam, tak menyahuti apapun yang mereka katakan, yang ia lakukan hanya berjalan pelan sembari berusaha menutupi noda darah di belakang pakaiannya dari pandangan orang-orang, meski hal itu sangat sia-sia saat beberapa orang dapat melihatnya dan menatapnya dengan tatapan tak terbaca.
Naina mulai menyesal karena tidak membawa ponselnya, seharusnya ia membawanya tadi agar tidak kerepotan seperti sekarang. Setidaknya ia bisa meminta tolong pada Zoya untuk mengantarkan pakaian padanya.
***
"Naina kok belum dateng-dateng, yah." Zoya mulai khawatir saat gadis itu tidak muncul setelah makanan sudah tersaji cukup lama, bahkan Ethan dan Randy sudah tiba dan duduk bergabung dengan mereka sekitar lebih dari lima menit yang lalu.
"Dia nggak mungkin nyasar, 'kan?" Dahi Selin berkerut. Zoya menggelengkan kepalanya, berharap hal itu tidak terjadi.
"Aku coba susul dia, deh." Zoya tak ingin menunggu dengan khawatir sehingga ia memilih untuk bangkit dari duduknya, tetapi Ethan dengan cepat meraih pergelangan tangan wanita itu.
"Kamu duduk saja, biar saya yang menyusul Naina." sahut Ethan yang kemudian juga beranjak dari duduk. Menyentuh kedua pundak Zoya dan menuntun wanita itu untuk duduk kembali di kursinya. Zoya hanya bisa mengangguk, menatap kepergian Ethan ke arah yang sama saat Naina pamit ke toilet beberapa waktu yang lalu.
"Naina nggak mungkin dalam masalah, 'kan?" Selin bertanya lagi. Zoya hanya menggeleng samar, berharap jika gadis itu tidak sedang berada dalam masalah.
***
Ethan melangkahkan kakinya dengan cepat menuju toilet. Perasaannya tidak enak, jika Zoya bilang Naina sudah lama tidak kembali, maka bisa saja gadis itu sedang berada dalam masalah, jika tidak maka ia pasti akan kembali dengan cepat.
Ethan setengah berlari ketika ia hampir sampai di area toilet, hingga objek yang ditangkapnya membuat gerakan kakinya melambat hingga kemudian pria itu menghentikan langkahnya. Menatap Naina yang tengah digandeng oleh seorang pria ke arahnya.
Ke arah di mana Ethan tengh berdiri menatap mereka hingga Ethan melihat jelas jika pria yang tengah menggandeng gadis itu adalah Rival. Kemudian Naina juga tampak melihat ke arahnya, menyadari kehadiran Ethan dan menghentikan langkah, membuat Rival ikut menghentikan langkahnya dan menatap Naina dengan heran hingga pria itu mengikuti arah pandangan Naina dan melihat Ethan yang berdiri beberapa langkah dari mereka.
***
Beberapa waktu yang lalu.
Naina yang tengah kebingungan terus melangkah perlahan, bagaimanapun diam tak akan menyelamatkannya dari masalah mengingat jika tidak ada orang yang dapat dimintainya tolong.
Saat pandangan beberapa orang mulai mengarah padanya ketika melihat bercak darah pada bagian belakang pakaiannya. Naina berusaha menebalkan muka sekalipun kulit wajahnya terasa panas. Ia yakin jika wajahnya sudah merah bagai kepiting rebus saat ini.
Tapi, takdir baik masih berpihak padanya saat seseorang tiba-tiba saja menyampirkan sebuah jas ke bagian belakang tubuhnya, mengikat jas tersebut di pinggangnya. Rupanya, orang yang kali ini menyelamatkan dirinya adalah orang yang sudah seharusnya ia hindari sesuai dengan apa yang diperintahkan sang suami.
"Maf Rival," Naina setengah terkejut juga tak menyaka, seolah keajaiban tengah menghampirinya saat pria itu berhasil mengusir rasa malunya, menyelamatkannya dari situasi yang membuatnya ingin tenggelam ke dasar bumi.
__ADS_1
"Euu–" Naina ingin berkata tapi tertahan saat Rival mengikatkan jas pada pinggangnya. Ia hanya diam dan pasrah, hingga kemudian pria itu menggandengnya untuk melanjutkan langkah dan keluar dari area toilet, mengabaikan tatapan penuh tanya orang-orang.
Rival selalu merasa, jika takdir baik selalu berpihak padanya. Ia sedang menghadiri acara pertemuan dengan sahabat sang papa dan pamit ke toilet untuk mencuci tangan dan wajahnya yang terasa sudah kaku.
Ia tak perduli saat beberapa orang tengah berbisik-bisik dan tertawa. Rival sempat mengikuti arah pandangan mereka dan melihat objek yang memicu hal tersebut. Tanpa ia duga, jika orang yang tengah jadi pusat perhatian adalah pujaan hatinya, adalah Naina.
Sehingga dengan cepat, bak heroik Rival segera bertindak untuk menyelamatkan gadis itu begitu memahami kondisi yang tengah terjadi.
Ia tau pasti Naina sangat malu saat ini.
Awalnya Rival nyaris saja tidak mengenali Naina melihat tampilan gadis itu yang berbeda. Ia terlihat lebih cantik dan modis dengan pakaian dan juga sepatu mewahnya, rambut gadis itu juga tampak bergelombang, tidak lurus seperti biasanya.
"Makasih, yah, Mas Rival. Kalau seandainya nggak ada Mas Rival, saya nggak tahu apa yang harus saya lakuin di sana." sahut Naina, ia merasa lega mengingat dirinya terselamatkan dari situasi memalukan. Meski saat ini pun, ia merasa sangat malu dihadapan pria itu.
"Bukan hal besar, takdir sepertinya sedang berpihak pada kita." pria itu menyahut dengan senyum lebar. Sementara Naina hanya berusaha untuk tidak peka pada apa yang Rival katakan.
"Kamu di sini bersama dengan Zoya?" tanya pria itu kemudian, sebab tidak mungkin Naina jalan-jalan sendirian di sana. Naina menoleh sebentar. Kemudian menganggukan kepala.
"Iya, habis selesai pemotretan Mbak Zoya ngajak jalan-jalan, sama Mbak Selin juga. Kita lagi makan siang." jelas Naina, Rival hanya mengangguk-anggukan kepala.
"Mas Rival sendiri, ngapain di sini?" gadis itu balik bertanya. Rival menoleh padanya, tak kunjung menyahut dan justru menatap gadis itu cukup lama, tapi sebelum Naina memutus tatapan mereka karena ketidak nyamanan yang tercipta, Rival segera menyahut. "Saya cuma jalan-jalan aja." ia tersenyum manis meski apa yang dikatakannya tidak sepenuhnya benar.
Karena andai situasi memungkinan, barangkali Rival akan makan siang bersama dengan Naina. Jika ia mengatakan ia ikut bersama sang papa untuk menghadiri acara dengan kawan-kawan Rayn, pasti Naina menyuruhnya untuk segera berkumpul kembali dengan sang papa.
Naina mengangguk-anggukan kepala, keduanya melanjutkan langkah hingga Naina tak sengaja menatap seorang pria dengan jarak beberapa langkah darinya tengah menatap mereka berdua, sehingga membuat langkah Naina spontan tertahan saat meyakini dirinya sendiri jika pria itu adalah Ethan, begitu juga dengan Rival yang ikut menghentikan langkahnya.
"Kenapa?" tanya Rival setelah melihat Ethan yang tengah berdiri beberapa langkah di hadapan mereka.
Naina perlahan kembali melangkahkan kaki hingga berdiri saling berhadapan dengan pria itu. Ethan hanya menatap Naina, menilik penampilan gadis itu begitu juga dengan jas yang melingkar di pinggang gadis itu.
Melihat Rival yang hanya mengenakan kemeja, Ethan yakin jika jas yang melingkar di pinggang gadus itu adalah milik Rival. Tetapi Ethan tak akan bertanya apapun mengenai apa yang terjadi, dia hanya diam dan membuat Naina kian bimbang. Beruntung ada Rival yang mencairkan suasana.
"Kebelet Than?" tegurnya pada pria itu. Ethan hanya menggeleng samar. Barangkali tak dapat mencerna apa yang Rival pertanyakan.
***
Ethan dengan Naina kembali ke restoran mall di mana Zoya dengan yang lain sudah menunggu mereka untuk makan siang. Rival juga ikut bergabung sebagaimana pria itu menginginkannya.
Zoya yang melihat kedatangan tiga orang itu segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Naina juga Ethan. Sedangkan Rival melanjutkan langkan dan menyapa Randy dengan Selin.
"Pak Rival," tegur Randy. Rival mengangguk sopan begitu juga pada Selin.
"Biar saya pesankan makan." sambung pria itu seraya bangkit setelah mempersilakan Rival untuk duduk.
"Tidak usah. Tidak perlu repot-repot–" cegah Rival tapi rupanya Randy tidak dapat ditolak. Ia berusaha keras dan tetap melakukan tawarannya tadi. Membuat Rival akhirnya hanya pasrah dan berakhir dengan ucapan terimakasih.
"Nggak ada masalah apa-apa kan?"
"Kamu kenapa lama banget?" tanya Zoya setengah berbisik. Naina hanya tersenyum kaku. "Ada sedikit masalah Mbak." sahutnya kikuk, Zoya mengerutkan kening, menilik penampilan gadis itu hingga ia menemukan jas yang terikat di pinggang Naina.
"Ini apa?"
"Euu, ini Mbak. Saya–"
"Saya datang bulan." sambungnya, sekejap memejamkan mata, enggan melihat reaksi Zoya.
"Datang bulan?" tercipta beberapa lipatan di dahi Zoya, wanita itu sekilas menatap suaminya tapi Ethan hanya mengangkat bahu acuh tak acuh.
Zoya mendesah. Kecewa? Tentu saja. Ia berharap seharusnya Naina tidak datang usah bulan selama sembilan bulan ke depan. Ia berharap seharusnya Naina positif hamil setelah berbulan madu dengan Ethan.
Zoya ingin segera memiliki anak dengan Ethan dan mengakhiri pernikahan kontrak yang terjalin antara gadis itu dengan suaminya.
Zoya ingin semuanya segera selesai.
TBC
Hmm, ini crazy up yah.
Gimana-gimana sejauh ini, readers? Keluarin lah unek-unek kalian untuk author, Zoya, Ethan dan Naina.
__ADS_1
Salam sayang🤗❤