Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Cameo (2)


__ADS_3

Sama seperti kemarin, hari ini Agyan kembali melihat pemandangan sirkuit yang sebagian tempatnya disulap menjadi lokasi syuting. Ia kemudian berjalan dengan santai, sampai tiba-tiba saja ia bertabrakan dengan seseorang yang sedang membawa beberapa botol air mineral.


"Loe gak bisa hati-hati?" protes Agyan saat ponselnya harus terjatuh karena tabrakan tadi.


"Sorry mas, saya gak liat!" ucapnya dengan penuh sesal.


"Lain kali hati-hati."


"Iya, Mas." pria itu mengambil ponsel Agyan dan menyerahkannya.


"Mas artis baru?" tanyanya setelah mengamati wajah tampan Agyan.


"Gue pelatih di sini." Agyan menyahut enteng.


"Pelatih?"


Tak ingin ambil pusing, Agyan hanya mengangguk dan berlalu. Beberapa orang tampak sedang menunggunya untuk segera memulai latihan. Sedangkan Gavin tidak datang ke sirkuit hari ini.


Peralatan syuting sudah siap, seorang Sutradara juga sudah duduk di tempatnya sambil mengamati potret seorang gadis yang siap melalukan syuting.


"Ini pelatihnya ke mana?" protesnya. Sudah sepuluh menit ia menunggu orang yang akan berperan sebagai pelatih. Seorang Cameo untuk pemeran utama wanita.


"Dia gak bisa dateng syuting, Bang." seorang Astarda yang baru saja menghubungi calon pemeran bersuara.


"Kenapa?" sang Sutradara terkejut, padahal syuting seharusnya sudah berjalan sekitar dua puluh menit. Sementara orang tersebut dengan begitu saja tidak datang ke lokasi.


"Kemaren dia party di apartement, polisi gerebek dan nemuin paket sabu di sana."


"Gila."


Sebagian para kru berdecak tak percaya. Untung saja ia belum memulai syuting. Jika sudah, maka mereka yakin akan ada penurunan rating, padahal film yang sekarang sedang dijalani sedang naik daun dalam waktu satu minggu tayang di tv.


"Jadi, gimana, Pak. Kita batalin syuting?" salah satu camera man bertanya. Sutradara terdiam sebentar. Jika syuting di tunda, maka agenda untuk besok dan seterusnya akan berubah. Sehingga tidak ada cara lain, syuting tetap harus di lanjutkan.


Aktris wanita yang sudah mulai pegal berdiri di tengah sirkuit lantas berjalan ke tempat istirahat di gandeng oleh asistennya.


"Gak jadi syutingnya, Cha?" tanya Aryo. Asisten menejer artis tersebut yang muncul dan membawa beberapa botol mineral.


Ocha Moremars—Aktris muda yang sedang naik daun itu mengangguk. Aryo hanya memperhatikan. Kemudian memghampiri sutradara dan menanyakan kenapa proses syuting tak kunjing dimulai.

__ADS_1


Setelah Sutradara menjelaskan semuanya. Aryo mengerti dan mengangguk-anggukan kepala. Berusaha ikut membantu untuk mencari solusi. Yang lain juga tampak melakukan hal yang sama. Mereka terlihat bingung memikirkannya.


Tiba-tiba saja Aryo mengingat jika di parkiran tadi, ia bertemu dengan Agyan. Seorang pelatih sirkuit yang tinggi dan tampan.


"Pak, saya ada rencana." usulnya.


Mungkin memang bukan keputusan yang tepat. Saat Aryo mengemukakan pendapatnya dan yang lain setuju mengiyakan untuk mencari pemeran dadakan. Sebagian dari mereka juga sudah melihat pelatih tampan di sirkuit sana saat hari pertama syuting. Tapi, mereka tetap harus mencoba. Sekalipun besar resikonya jika Agyan tidak bisa apa-apa.


Di bagian sirkuit lain, Agyan tengah mengarahkan anggota club yang memiliki jadwal latihan dengan dua pelatih lain yang sudah lama bekerja dengan Gavin di sirkuit.


Sampai kemudian seorang pria yang ditemuinya di parkiran dan menabraknya menghampiri Agyan dan mengajaknya untuk berbicara sebentar.


"Gue gak bisa!" tolak Agyan tanpa berfikir panjang saat Aryo memberitahukan maksud kedatangannya.


"Please, Mas. Karakter Masnya sesuai sama skrip di naskah." bujuk Aryo dengan susah payah. Setelah ini, ia harus menemani Ocha pemotretan, mereka akan terlambat jika proses syuting tak kunjung dimulai. Ia berharap Agyan mau untuk membantunya.


"Gue gak bisa, loe siapa kenal juga nggak maksa-maksa." cibirnya tanpa merasa berdosa.


"Mas, syutingnya gampang kok. Nggak sampe sepuluh menit." Aryp tak menyerah.


Agyan hanya terdiam. Melihat Agyan yang memperhatikan, lantas Aryo menunjukam sebuah skrip naskah yang dibawanya pada Agyan.


"Jadi, ceritanya gini. Kan pemeran utama ceweknya suka sama cowok jago balap—" ia menjelaskan dengan antusias dan Agyan mendengarkan dengan malas.


"Tapi ini bukan sirkuit gue."


"Di ceritanya, 'kan gitu!" Aryo setengah kesal. Pria berusia tiga tahun lebih muda dari Agyan itu menunjukan raut memohonnya setelah beberapa saat.


Agyan diam sejenak. Jangankan masuk tv, untuk sekedar wajahnya menjadi sampul majalah saja Agyan sama sekali tidak memiliki minat. Tapi tatapan pria di hadapannya terlihat penuh harap. Dan ia tidak tega untuk.


Agyan semakin tidak dapat menolak saat Sutradara film tersebut menghampirinya dan meminta tolong membujuknya. Berkata jika dirinya cocok dengan karakter yang akan diperankan.


Semua kru film tampak senang saat syuting tidak perlu ditunda. Berlanjut dengan pemain pengganti yang tak kalah tampan. Bahkan Ocha saja terpesona, untunglah dia sudah memiliki seorang kekasih. Rasanya tidak rela mengkhianati kekasihnya dengan orang baru yang baru saja ia lihat.


"Kamu bisa baca dulu, biar ngerti." Sutradara mengambil naskah di tangan Aryo dan menyerahkannya pada Agyan. Setelah memperkenalkan Agyan pada semua kru.


Agyan mengangguk dan menerimanya. Ia diberi waktu tiga menit untuk melihat skrip


Sesuai dengan apa yang dikatakan Aryo tadi, part kali ini, ia harus berperan sebagai seorang pelatih sirkuit yang akan melatih Ocha, selaku pemetan utama. Membuat pemeran utama cowok cemburu dan mulai menunjukan rasa cintanya pada Ocha.

__ADS_1


Ah, Agyan mengerti.


"Sudah." katanya sambil menyerahkan naksah tersebut kembali pada Aryo dan ia siap melaksanakan syuting. Lebih cepat lebih baik, Agyan ingin ini segera berakhir.


*


*


"Cut!"


Sutradar berhenti dan bertepuk tangan. Diikuti oleh tepuk tangan dari yang lain. Mereka tampak puas saat satu scene diambil dengan sempurna.


Pada awalmya, seluruh kru film tampak was-was melihat Agyan. Namun detik selanjutnya, mereka dapat percaya pada Agyan jika ia dapat memerankan karakternya dengan baik. Meski mungkin, ia tidak.pernah berakting sebelumnya.


"Akting kamu bagus," puji Sutradara. Agyan hanya tersenyum sopan. Ocha dan pemeran utama cowok menyalami Agyan dan mengucapkan terimakasih.


Sutradara menggampiri Agyan dan menepuk bahunya. "Terimakasih, yah."


"Sama-sama."


"Kamu tidak ada minat menjadi artis?" tanyanya pada Agyan. Agyan menggeleng tanpa berfikir panjang, toh dia tidak harus memikirkannya. "Kenapa?"


"Tidak apa-apa. Saya tidak tertarik."


"Sayang sekali, padahal potensi dalam diri kamu sangat bagus. Saya yakin kamu akan jadi orang besar jika terjun ke dunia entertaiment."


"Kamu masih muda, masih lajang?"


"Sudah beristri."


"Oh."


"Tapi sekali lagi terimakasih. Nanti ada satu scene lagi, kamu boleh istirahat dulu."


Agyan mengangguk, ia tidak bergabung dengan pemain lain. Ia justru menghampiri Aryo yang duduk sendiri di dekat garis finish.


Begitu Agyan tiba, Aryo menyodorkan sebotol air mineral yang langsung di terima Agyan tanpa sungkan. Pria itu mulai memuji-muji Agyan. Sedangkan yang dipuji tampak acuh tak acuh.


Meski perkataan Sutradara tadi terngiang dibenaknya. Ia tetap tidak tertarik untuk berkecimpung dalam bidang seperti ini.

__ADS_1


Ia cukup akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk istri dan calon anaknya.


Jangan lupa tinggalkan like, biar aku selalu semangat:")


__ADS_2