Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Dua Aturan


__ADS_3

Zoya mengerjap perlahan saat suara ponsel mengganggunya dari tidur. "Sayang," Ethan menyentuh tangannya agar Zoya mengambil ponsel, membuat mata wanita itu terbuka, kemudian menggapai ponsel yang berada di atas meja di samping tempat tidur.


"Ada apa Mbak?" tanyanya karena Selin yang menghubunginya. Ia mengucek matanya dan menguap.


"Ke bawah sekarang, Mbak ada di rumah kamu."


Zoya membulatkan mata saat Selin menyampaikan sesuatu hal, yang membuatnya refleks bangkit dati posisi berbaring dan hendak beranjak. Ethan yang semula lanjut memejamkan mata guna mengumpulkan kesadaran menatap istrinya yang menyambar cardigan dan berlalu dari kamar.


Ethan melihat jam digital yang sudah menunjukan angka tujuh. Ternyata waktu sudah cukup siang. Hingga akhirnya ia bangkit dan menyusul istrinya daripada melangkah ke kamar mandi.


"Berarti aku harus siap - siap dong Mbak?" tanya Zoya saat Selin mengatakan, jika Zoya ada pemotretan dadakan dengan seorang model idolanya yang sudah go internasional dan sudah lama menetap di Luar Negri.


"Iya, Mbak bantu, yah." tawar Selin agar sua urusan dapat selesai dalam waktu singkat. Zoya mengangguk, kembali ke kamar diikuti Selin. Ia berpapasan dengan sang suami di undakan tangga.


"Mau kemana?" tanya Ethan saat wanita itu hampir mengabaikannya dan berlalu begitu saja. Zoya menepuk kepala karena melupakan suaminya. Ia mendaratkan kecupan sekilas di pipi pria itu.


"Aku ada pemotretan."


"Memangnya harus buru - buru seperti itu?"


"Bagaimana kalau nanti terjatuh? Atau tersandung sesuatu."


"Jangan membahayakan dirimu!" Ethan serius mengatakannya. Sekilas matanya mengarah tajam pada Selin dan membuat wanita itu memberikan sorot mata tidak enak. Zoya tersenyum, menepuk tangan suaminya dan mengangguk. Kemudian berlalu ke kamar dengan langkah pelan. Tapi begitu Ethan sudah tak melihatnya lagi ia segera berlari, membuat Selin mengejarnya guna menghentikan wanita itu.


"Zoya, hati - hati. Kamu harus dengerin apa kata suami kamu!"


"Katanya hati - hati Mbak. Aku hati - hati kok, tenang aja." Zoya melangkah masuk ke kamar, ia mencari baju mandinya dan mengikat rambutnya dengan asal.


"Air anget atau dingin?" tanya Selin seraya masuk ke dalam kamar mandi. Hendak menyiapkan air untuk Zoya.


"Dingin aja, Mbak. Kalo pake air anget yang ada malah gerah, lagian udah siang juga." sahutnya yang diiyakan oleh Selin. Begitu selesai menyiapkan air, Selin keluar dan membiarkan Zoya mandi. Sedangkan dirinya mencari pakaian untuk wanita itu dan juga mencari alat make up Zoya.


Sementara di lantai bawah, Ethan yang sudah biasa melegut air putih begitu bangun tidur segera berjalan ke dapur. Ia berdiri di hadapan dispenser dan melegut segelas air. Menghela napas dan berbalik badan bersamaan dengan seorang gadis yang membuatnya sejenak mematung mempertanyakan siapa gadis tersebut dan kenapa ada di rumahnya?


Beberapa saat kemudian, Ethan mengingat jika gadis itu adalah Naina. Asisten rumah tangga mereka. Gadis itu mengangguk sopan pada Ethan sebagai sapaan, lantas melanjutkan aktivitas memasaknya.


Ethan duduk pada salah satu kursi di meja makan dan hanya diam. Tampaknya Naina juga segan menyapanya dengan mengeluarkan suara.


Naina bangun sekitar lebih dari dua jam yang lalu. Ia sudah merapikan kamarnya yang semalam Zoya tunjukan, ia juga sudah menyapu dan mengepel lantai seluruh bagian rumah. Kecuali lantai atas, yaitu kamar Zoya dengan Ethan.


Ia memutuskan untuk segera menyiapkan sarapan saat melihat jika bahan makanan di dalam lemari pendingin cukup untuk sarapan pagi ini.


Ia ingin bertanya pada Ethan mengenai bahan makanan yang sepertinya harus disediakan. Namun majikan prianya itu hanya diam, bahkan tidak menyapanya meski hanya dengan bahasa isyarat, membuatnya segan untuk bertanya dan mengurungkan niat.


Naina menggelengkan kepala saat isi kepalanya menuduh jika Ethan berbeda dari manusia kebanyakan. Ia bahkan heran kenapa Zoya yang terlihat seorang yang ceria mau dengannya.


Di tengah lamunannya, Naina mendengar kegaduhan. Ia yakin wanita yang baru saja datang tadi dengan Zoya yang bersuara, ia menoleh dan melihat dua wanita itu menuruni anak tangga dengan Selin yang berusaha merapikan rambut atau dress yang Zoya kenakan.

__ADS_1


Naina mengalihkan perhatiannya pada Ethan yang tiba - tiba saja bangkit dan berjalan menghampiri Zoya.


"Kamu nggak ke kantor?" tanya Zoya saat melihat suaminya, sedangkan di belakangnya Selin sibuk merapikan tatanan rambutnya.


"Ke kantor." Ethan menyahut seperlunya.


"Udah Mbak?" wanita itu beralih pada Selin, Selin mengangguk, bersiap memakaikan sebuah cardigan pada Zoya namun wanita itu tampak menahannya.


"Kamu ada pemotretan apa, sih, buru - buru sekali?" tanya Ethan yang heran melihat Zoya. Padahal dalam keadaan mendesak pun ia sering kali melihat sang istri yang selalu santai sekali pun Selin menyuruhnya bergegas.


"Mau ketemu seseorang, dia buru - buru. Jadi aku harus ontime."


"Siapa?"


"Ada pokoknya." Zoya menyahut seperlunya dan membuat Ethan kesal. Juga penasaran akan siapa orang yang Zoya maksud, karena jika wanita itu bertemu dengan seorang pria, maka seharusnya Zoya tau apa yang akan dilakukannya.


"Naina," Zoya memanggil Naina, Naina segera berjalan ke arahnya seraya tersenyum dan menyapa.


"Uang belanja, nanti ada di Ethan. Bahan makanan udah abis, 'kan?" tanyanya yang segera dijawab dengan anggukan kepala oleh Naina.


"Kamu kerjain aja apa yang mau kamu kerjain. Kalau merasa udah beres, kamu istirahat, di sini nggak ada kesibukan yang harus ngebuat kamu seharian kerja kok, yah."


"Saya mau kerja, Ethan juga nanti kerja. Kami pulang sore, kamu cuma perlu nyiapin makan malam." panjang lebar Zoya. Naina mengangguk mengerti.


"Oh, yah. Di rumah ini cuma ada dua aturan buat kamu." sahut Zoya lagi begitu mengingat dua hal tersebut, sekilas ia menatap suaminya yang hanya memperhatikan.


"Satu lagi, yang paling utama." sambungnya.


"Jangan sentuh pakaian Ethan. Pakaian suami saya biar saya yang urus." sesaat Naina terdiam, tapi tak lama ia mengangguk patuh juga.


Kali ini Ethan tersenyum. Ia seperti sedang melihat seseorang yang familiar dari diri Zoya sekarang. Freya? Yah, Freya. Ethan mengingatnya.


"Aduh, aku belum siapin baju kerja kamu." Zoya baru mengingat jika sejak tadi ia hanya mementungkan dirinya sendiri. Ia berpamit pada Selin sebentar kemudian berlalu menaiki anak tangga untuk kembali ke kamar.


Ethan menggeleng pelan, tak lama ia menyusul langkah Zoya. "Budak cinta." decak Selin begitu pria itu berlalu dari hadapannya. Naina yang mendengar hal itu hanya tersenyum, kemudian juga berlalu kembali ke dapur begitu mengangguk sopan pada Selin.


**


Zoya mengambil sebuah kemeja berwarna hitam, lantas mengambil juga stelan rompi dan jas hitam, juga sebuah dasi berwarna hitam. Ethan yang baru saja tiba memperhatikan. Menilik pakaian yang Zoya pilihkan.


"Gimana? Mau ganti nggak?" tanya Zoya yang menyadari kehadiran suaminya. Ia menoleh saat Ethan tak menyahut, pria itu lantas melangkah mendekat pada sang istri. Mendekap tubuh wanita itu dari belakang, kemudian menaruh dagunya pada bahu Zoya. Menghirup harum aroma istrinya yang menenangkan kepala.


"Saya suka apa pun yang kamu pilihkan." sahut Ethan, Zoya tersenyum. Tangannya mengusap satu sisi wajah Ethan.


"Yaudah, mandi gih. Aku mau berangkat," Zoya melepaskan tangan pria itu namun Ethan justru kian mengeratkan tangannya di perut Zoya. Membuat wanita itu mendesah.


"Than, jangan berantakin dandanan dong. Kasian Mbak Selin." gerutunya, masih berusaha melepaskan tangan Ethan namun pria itu tampak tidak perduli dan tak mau mendengarkan.

__ADS_1


”Kamu mau ketemu siapa? Sampai tidak memerdulkkan saya."


"Model idola aku,"


"Cewek atau cowok?"


"Ceweklah."


Ethan terdiam Zoya melepaskan tangan pria itu. Kali ini Ethan tidak mengeratkan pelukannya. Wanita itu berbalik dan menatap Ethan.


"Kamu mau cemburu kalau cowok?"


"Hmm." kepala Ethan mengangguk mengiyakan.


Zoya tertawa, sedangkan Ethan mengabaikannya. "Cewek, kok. Jangan cemburu, yah."


"Saya bahkan cemburu kalau kamu terlalu akrab sama cewek." jujur Ethan dengan satu tangan yang menangkup sisi wajah Zoya. Zoya hanya tersenyum, bahkan saat Ethan meraih kepalanya dan mendaratkan kecupan di kening, ia hanya tersenyum seraya memejamkan mata.


"Hati - hati."


"Okey, My Hubby."


Ethan menuruni anak tangga seraya memasang jam tangannya. Ia berjalan le arah meja makan untuk sarapan, Naina sudah ada di sana sedang menata makanan.


"Ini pertama kali kamu datang ke Jakarta?" tanya Ethan dengan acuh tanpa menatap gadis itu, kemudian duduk pada salah satu kursi dan memulai sarapannya. Naina yang merasa jika Ethan bertanya padanya menganggukan kepala. Kemudian menyahut singkat. "Iya Pak."


"Hmm." Ethan seperti berpikir.


"Kalau begitu. Bagaimana kamu belanja nanti, kamu yakin tidak akan tersesat?" tanya Ethan. Ia lanjut menyuapkan nasi ke mulutnya sambil menunggu jawaban Naina.


Naina terdiam, ia juga memikirkan hal tersebut. Tapi juga tidak mungkin baginya untuk terus berdiam di rumah sang majikan sedangkan tuntutan pekerjaan mengharuskan ia pergi keluar.


"Saya akan suruh seseorang mengantarkan kamu, setidaknya jika hanya pergi ke supermarket atau pasar. Kamu tidak perlu tersesat." sahut panjang lebar Ethan yang mengerti keadaan Naina sebagai orang yang baru pertama kali menginjakan kaki di Ibu Kota dan belum tahu - menahu seluk - beluk Jakarta.


"Terimakasih Pak, maaf sebelumnya merepotkan. Saya janji akan belajar dengan cepat."


Ethan tak menyahut, ia mengeluarkan dompetnya dan mengambil banyak lembaran uang berwarna merah di sana, menaruhnya di atas meja.


"Ini uang belanja. Apa cukup?" tanyanya. Naina tampak terkejut, ia menelan saliva susah payah.


"Justru ini terlalu banyak Pak."


"Tidak papa, sisanya bisa kamu simpan." Ethan bangkit, lagi membuat Naina terkejut karena makanan pria itu belum habis.


"Makanan Pak Ethan tidak dihabiskan? Apa masakannya tidak enak?"


Ethan mendehem. "Saya buru - buru." sahutnya, meraih gelas berisi air putih. Kemudian berlalu meninggalkan Naina sendirian. Wanita itu menatap lembaran uang di meja makan yang Ethan tinggalkan. Kemudian menatap punggung Ethan yang berjalan menjauh.

__ADS_1


TBC


__ADS_2