Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Kisah yang Harus Berakhir


__ADS_3

"Mbak ke sini mau jenguk kamu, bukan minta hadiah." sahut Selin saat wanita itu tengah disuapi makan saing oleh mertuanya. Zoya tampak menatapnya kesal, kemudian memyahut setelah makanannya habis. "Iya. I know. Tapi tetep aja, aku belum kasih Mbak Selin hadiah pernikahan."


"Enggak perlu, Zoy." tolak wanita itu dengan halus. Freya yang menyaksikan hal itu hanya tersenyum. Ia merapikan piring makan Zoya. Ia sengaja datang dan akan menginap untuk merawat menantunya yang baru sejak kemarin pulang dari Rumah Sakit. Juga menghibur wanita itu agar tidak banyak melamun.


"Harus, Mbak. Aku harus kasih kamu sama Randy hadiah pernikahan. Enggak mau tau pokoknya harus diterima." Zoya adaah Zoya yang keras kepala dan pemaksa. Seharusnya Selin sadar jika ia tak akan bisa menolak pemberian Zoya.


"Cuma tiket honeymoon doang." sambungnya setengah kesal. Hampir membuat Selin mengutukinya andai di sana tidak ada Freya. Sedang sakit tapi masih bisa - bisanya berteriak kesal.


"Yah, terima, oke. Ini paket komplite, aku udah siapin dari pas masih di Rumah Sakit. Enggak kasian?" Zoya memasang wajah memelas. Sehingga akhirnya Selin mengangguk dengan senyuman, lalu memeluk wanita itu.


Ada iba di hatinya, padahal wanita itu sedang sangat berduka. Tapi Selin tau Zoya, dia adalah wanita yang kuat.


**


"Sayang, saya pulang."


Zoya yang sedang berada di ruang utama dan tengah membaca sebuah buku ditemani Freya menolehkan kepala. Tersenyum menyambut kedatangan suaminya.


"Udah pulang? Randy ikut?" tanyanya beruntun setelah Ethan mendaratkan kecupan singkat di keningnya. Ethan mengangguk. "Mbak Selin baru aja pulang." beritahunya jika baru beberapa belas menit lalu Selin pamit pulang setelah setengah hari menemaninya agar tak merasa bosan.


"Oh, yah?" Ethan bertanya so serius.


"Heem." tanpa sadar wanita itu menanggapi sang suami dengan serius. Ethan hanya tersenyum. Matanya sekilas mengarah pada Freya. Seharusnya sang bunda ada di sini sekarang untuk membahas acara empat bulanan yang minggu ini akan digelar. Atau seharusnya hal itu dibicarakan saat di Rumah Sakit dan sekarang semuanya sudah 100% beres. Yah, andai kecelakaan yang merenggut nyawa malaikat kecilnya itu tidak terjadi.


"Saya punya sesuatu buat kamu." sahut Ethan setelah cukup lama hanya diam dan mengusap punggung tangan Zoya berulang - ulang.


"Sesuatu? Apa?"


"Surprise!" Randy muncul dengan buket bunga besar di tangan kanan dan sebuah paper bag di tangan kiri. Diikuti Rival di belakangnya yang baru saja selesai mengurus kasus Kevin, terpaksa ikut ke rumah Ethan karena Randy bilang masakan Naina sangat enak. Akhirnya Rival penasaran dan ingin mencoba.


"Ini apa?" tanya Zoya setelah Randy menyerahkan dua hadiah itu padanya dengan menekuk satu lutut bak prajurit sejati, seolah Zoya adalah Tuan Putri dalam negri dongeng. Kening Zoya berkerut saat mendapati tiga toples kacang almond di dalam paper bag.

__ADS_1


"Buat apa?" tanyanya.


"Tiba - tiba saya ingin, saya kira kamu akan suka." sahut Ethan tanpa mengatakan yang sebenarnya jika kacang almond itu sengaja ia beli untuk mempercepat pemulihan Zoya pasca operasi.


"Makasih." ucapnya pada pria itu, Ethan mengangguk, mengusap puncak kepala Zoya lembut.


"Mbak Zoya, makan malamnya udah siap." terdengar seruan dari dapur. Tak lama, Rival melihat Naina muncul, tatapan keduanya sempat bertemu sekilas sebelum akhirnya gadis itu yang lebih dulu menepis.


"Kalau gitu aku pulang, yah." Randy tiba - tiba bersuara, tidak ada yang mencegah karena semua orang tau. Maklum, pengantin baru.


Malam itu, meja makan di rumah Ethan dengan Zoya diisi oleh lima orang. Rival membenarkan perkataan Randy, ia memuji masakan Naina yang memang enak dan juga cocok di lidahnya.


**


Waktu sudah menunjukan pukul 22.04 saat Ethan menuruni anak tangga untuk menjemput istrinya yang masih mengobrol dengan Freya dan Naina di ruang utama.


"Udah malem." sahutnya, Zoya yang mengerti lantas bangkit dari duduknya, menggapai tangan Ethan yang terulur di hadapannya.


"Than, inget, yah. Belum boleh!" Freya memperingati.


Setelahnya, Freya dan Naina juga membubarkan diri karena memang sudah waktunya beristirahat.


**


Ethan dan Zoya berbaring dengan tubuh terlentang dan tatapan mata yang lekat pada plafon kamar, sibuk dengan pikiran masing - masing. Tak lama, Ethan memiringkan tubuhnya, menatap sang istri dari samping. Hanya butuh waktu satu minggu untuk membuat penampilan fisik istrinya menjadi berbeda.


Wanita itu sudah tak seberisi satu minggu yang lalu. Ethan mengambil sesuatu dari atas meja di samping tempat tidur, lantas ia meraih jemari Zoya yang bertumpu di atas perutnya. Wanita itu menoleh saat Ethan memasangkan cincin pernikahan mereka.


Zoya tersenyum, dengan sedikit pilu di hatinya melihat cincin tersebut begitu pas di jari manisnya, sama seperti saat pertamakali ia memakainya. Padahal satu minggu yang lalu cincin tersebut membuatnya tak nyaman karena begitu sempit.


"Makasih." ucapnya pada sang suami setelah puas menatap cincin itu. Ethan menganggukan kepala. Lama keduanya hanya saling terdiam, namun jarak di antara mereka kian terkikis.

__ADS_1


Perlahan tapi pasti, Ethan meraih dagu wanita itu. Menempelkan bibirnya lama, bergerak pasti, pelan - pelan dan mendalam.


**


Enam Bulan Kemudian.


Zoya tau ia tak bisa berlarut - larut dalam kesedihannya. Ia memiliki lebih dari satu support system. Terutama Ethan, sumber energi, kebahagiaan dan juga kekuatan baginya.


Setelah enam bulan berlalu dan terbiasa menjalani harinya dengan kebahagiaan yang selalu Ethan ciptakan, hari ini ia mengajak pria itu untuk membeli hadiah ulang tahun untuk Freya.


Ethan tak mungkin menolak keinginanya, sehingga ia mengambil cuti guna menemani sang istri.


"Kemana lagi?" tanya Ethan begitu hadiah untuk Freya sudah berhasil mereka dapatkan.


"Mm, jalan - jalan aja dulu. Sekalian kamu udah ambil cuti, sayang kalau langsung pulang." sahutnya, Ethan mengangguk, menggenggam tangan istrinya lantas melanjutkan langkah dengan sesekali saling tertawa dengan topik yang tengah dibahas.


Ethan berbicara panjang lebar mengenai kejadian random yang dialami Randy yang menggelitik perut, namun fokus Zoya sudah teralihkan pada store perlengkapan bayi yang enam bulan lalu pernah dikunjunginya dan Ethan saat akan membeli gaun untuk menghadiri acara pernikahan Selin dengan Randy.


Seharusnya, saat ini ia dan Ethan melangkah masuk ke sana untuk membeli keperluan bayi karena sebentar lagi ia akan melahirkan. Namun pada kenyataannya ..., Zoya meraba perutnya yang rata dengan senyum miris.


Ethan yang melihat hal itu hanya terpaku. "Sayang," Menyentuh bahu Zoya dengan lembut.


Zoya menatap suaminya dan spontan tersenyum, menunjukan keadaannya jika ia baik - baik saja dan Ethan tidak perlu mengkhawatirkannya. Zoya kembali menggenggam tangan pria itu.


"I am okey, Hubby." sahutnya, tersenyum dengan begitu hangat. Dalam sekejap waktu dapat membuat perasaan Ethan terasa jauh lebih baik.


"Ayo, kita pulang." ajaknya.


"Kenapa pulang?" dahi Ethan berkerut heran, padahal beberapa waktu lalu gadis itu bilang untuk tidak segera pulang.


"Kita abisin jatah cuti kamu di rumah." bisiknya dengan nada sensual, berhasil memancing tawa suaminya. Tapi pria tampan itu tetap menurut, melanjutkan langkah dengan sang istri menuju pintu kelurlar dan berlalu dari sana.

__ADS_1


Namun sekali lagi, Zoya menoleh ke belakang. Store perlengkapan bayi yang menjadi incarannya. Suatu saat nanti, ia harus ke sana untuk membeli segala perlengkapan untuk bayinya. Harus.


~THE END~


__ADS_2