
"Hahaha!" Dion tertawa dengan begitu sangat keras.
"Sudah ku tebak bahwa kau adalah seorang pembunuh! Sebenarnya aku tidak mengetahuinya, tapi karena melihat ayahmu yang mendekam di penjara atas kasus pembunuhan. Membuat ku sedikit yakin jika putrinya akan melakukan pekerjaan yang sama." ujar Andika dengan tersenyum puas, karena wanita ini sudah berhasil masuk ke dalam jebakannya. Dan mengakui tentang identitas aslinya sendiri, tanpa harus bersusah payah menyuruh orang lain untuk menyelidiki nya.
"Like Father Like Daughter! Bukan begitu Nona?" tanya Dion kembali, hingga mampu membuat Shinta emosi. Ingin rasanya ia memukul wajah pria itu, namun semua keinginannya tersebut harus terpaksa ia tahan. Dan hanya bisa memandang wajah Dion dengan tatapan yang sangat tajam.
"Oh ya kenalkan namaku Dion Hanggara! Pemilik dari Perusahaan Zero. Dan juga, aku merupakan keponakan dari Tuan Panjaitan. Kau masih ingat bukan? Panjaitan orang yang telah menyewa jasa ayahmu untuk membunuh istrinya karena telah berselingkuh. Tapi akhirnya ayahmu malah tertangkap oleh polisi." Pengakuan dari pria itu benar-benar membuat Shinta merasa sangat muak.
"Ku katakan sekali lagi padamu! Bahwa aku sudah tidak membunuh, dan telah keluar dari pekerjaan tersebut. Jadi jika kau memaksa, itu hanya akan percuma saja! Karena aku tidak akan pernah mau melakukan tindakan keji itu lagi. Mengerti?" Shinta mengatakannya dengan bersungguh-sungguh.
"Oh, jadi rupanya kau sudah tobat dan ingin menjadi orang baik? Tapi satu hal yang harus kau tau Nona! Pembunuh tetap lah pembunuh, dan akan tetap selamanya menjadi orang jahat." balas Dion dengan melayangkan sebuah senyuman miris ke arah Shinta.
Namun wanita itu seakan tidak peduli, dan terlihat begitu santai. "Kau tidak tau tentang kehidupan ku, jadi jangan banyak berbicara! Dasar sampah!" maki Shinta yang setelah itu akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan Dion.
"Tunggu dulu!" cegah pria itu.
Namun sama sekali tidak di hiraukan oleh Shinta, wanita itu tetap melangkahkan kakinya. "Aku sangat membutuhkan jasamu untuk membunuh seorang Pengacara yang bernama Andika Dwi Kurniawan." Hingga akhirnya perkataan dari Dion kali ini mampu membuat langkah kakinya terhenti seketika.
Ia lantas berbalik dan melihat ke arah pria itu dengan tatapan penuh amarah.
"Kau mengenalnya bukan? Mana mungkin kau tidak mengenalnya, dia sangat terkenal, dan sering menangani kasus-kasus para selebritas. Lagi pula wajah pria itu sangat sering muncul di televisi ataupun berita." ucap Dion lagi.
"Aku tidak sempat untuk melihat telivisi ataupun berita. Maka dari itu aku tidak mengenalnya." bohong Shinta.
"Oh ya! Sepertinya anda orang yang sangat sibuk."
__ADS_1
"Sangat!" jawabnya dengan cepat.
"Hm, baiklah kalau begitu apakah anda bersedia berkeja sama dengan ku?" tanya Dion lagi, masih terus berusaha membujuk Shinta.
"Ngomong-ngomong anda punya masalah apa dengan dia?" tanya nya merasa sangat penasaran. Ingin mengetahui ada hubungan apa di antara suaminya dan juga pria ini.
"Itu masalah pribadi dan kau tidak perlu tau! Yang aku tugaskan adalah untuk membunuh nya dan_"
"Tapi aku tidak mau!" potong Shinta.
"Kenapa? Apa yang menjadi alasan anda tidak ingin melakukannya. Apa mungkin anda memiliki hubungan dengan Andika? Sampai-sampai terlihat sangat berat untuk melakukan pekerjaan ini." ujar Dion menebak-nebak.
"Dasar bodoh! Sudah ku katakan bahwa aku tidak melakukan pekerjaan sebagai pembunuh bayaran lagi. Apa kau tuli?" tanya Shinta dengan nada yang membentak.
"Lagi pula jika seandainya aku masih melakukan pekerjaan itu, aku pasti akan tetap menolak. Karena jasa yang ku sewakan hanya berlaku untuk membunuh orang-orang yang sudah berkhianat terhadap pasangannya. Sementara kau dan Andika! Itu hanya karena masalah bisnis, dan itu sama sekali tidak berguna!" sambungnya lagi.
"Bukan urusan mu! Jadi jangan pernah untuk ikut campur." tekan Shinta.
"Aku akui, baru pertama kalinya bertemu dengan perempuan yang sangat menarik seperti mu. Apa jangan-jangan dulunya kau pernah di khianati oleh pacar, suami, atau tunangan. Sampai-sampai memutuskan untuk menjadi pembunuh bayaran?" Lagi-lagi Dion terus membuat teori yang sama sekali tidak benar adanya, membuat Shinta serasa ingin menendang wajah pria itu.
"Kasihan sekali, cantik-cantik tapi menjadi korban perasaan." ucap Dion sembari menggelengkan kepalanya.
"Tutup mulutmu, atau akan ku sumpal dengan menggunakan batu." ancam Shinta yang sudah terlanjur geram. "Ingat pesanku! Aku bukan wanita lemah, dan saya tidak suka di kasihani oleh siapapun." ucapnya lagi, kali ini ia benar-benar serius dengan perkataannya.
"Oke, oke! Baiklah." Akhirnya Dion pun mengalah dan menyerah kepada Shinta.
__ADS_1
"Jangan pernah berbuat macam-macam! Karena aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu. Meskipun diriku sudah memutuskan keluar dari pekerjaan itu, tapi setidaknya aku bisa nekat kapan pun untuk melukai hingga melenyapkan nyawamu! Jadi berhati-hatilah, jika kau masih ingin hidup!" ancam Shinta.
"Sialan kau!" umpat Dion dengan tangan yang sudah mengepal sempurna. Menatap tajam punggung wanita angkuh itu, yang kini telah pergi meninggalkannya sendirian di atas gedung.
...----------------...
BRAK! Shinta menutup pintu kamarnya, dan langsung meletakan seluruh belanjaannya ke atas meja.
"Apa lagi ini? Kenapa selalu ada masalah? Membuat pikiranku menjadi tidak tenang." gumam wanita itu, dan akhirnya ia pun memutuskan untuk segera mandi saja. Agar tubuhnya bisa menjadi lebih segar.
...----------------...
Keesokan paginya, Dion terus saja menerornya, dan kembali membawanya pergi secara paksa. Padahal niat awal dirinya ingin pergi ke Perusahaan Indokom, karena ingin melihat suaminya disana. Akibat semalam Andika yang tidak pulang, membuat hatinya menjadi sangat rindu, dan ingin melihat wajah pria itu dengan segera.
Namun kedatangan Dion sungguh menghancurkan segalanya. Entah dari mana pria itu bisa tau tentang keberadaannya, dan untung saja tadinya ia masih berada di sebuah toko roti, dan belum pergi ke perusahaan.
"Apa mau mu?" tanya Shinta serius. Dia sangat muak dengan drama ini.
"Ayolah nona, santai saja! Tidak perlu marah seperti itu. Nanti wajahmu akan berubah menjadi tua." seloroh Dion.
"Lelucon macam apa ini? Asal kau tau aku memang sudah tua, dasar pria sialan!" balas Shinta seketika membuat nya langsung terbatuk. "Tua?" tanya Dion sambil tertawa. "Memangnya berapa umurmu?"
"Tiga satu!" jawab Shinta langsung.
"Apa?" tanya Dion langsung di buat terkaget atas pernyataan dari wanita yang ada di hadapannya saat ini.
__ADS_1
Pria itu lantas langsung memandangi penampilan Shinta dari bawah hingga naik ke atas. Begitu tak percaya jika wanita yang terlihat sangat cantik, dan muda itu kini telah berusia 31 tahun.
"Opss, maaf! Ku pikir nona masih berumur 22, atau 23. Tapi nyatanya tidak sesuai, dan melesat sangat jauh." ujar Dion sambil tertawa, sementara Shinta hanya memasang ekspresi biasa. Dan sama sekali tidak tertarik untuk mengeluarkan suara lagi.