Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Jangan Sentuh Istriku.


__ADS_3

DEVID


Beberapa hari ini aku terlalu sibuk di rumah sakit. Bukan karena bertambahnya pasien yang harus kutangani. Tetapi karena masalah kematian Bapak Firdaus yang menurutku sangat aneh dan mencurigakan. Anton benar benar sangat membantuku. Aku sangat mengandalkannya. Saat ini yang paling besar kemungkinannya orang yang berada di balik semua ini adalah Tuan Handoko. Karena dia lah satu satunya yang sangat berambisi menurunkan jabatanku sebagai president Direktur rumah sakit.


Seperti dalam rapat pemegang saham siang ini. Terlihat semangatnya sangat berapi api menyalahkan kelalaianku saat operasi kemaren. Dan sangat menyanjung anaknya. Kalau saja anaknya tidak ikut dalam operasi itu mungkin Bapak Firdaus akan meninggal di meja operasi. Begitulah pendapatnya. Sangat pintar sekali dia mencari celah untuk menjatuhkan nama ku. Terbukti dari beberapa pemegang saham mulai terhasut olehnya. Tapi syukurnya masih banyak yang memihakku. Bukan karena aku pemegang saham prioritas di rumah sakit ini. Tapi aku adalah salah satu Dokter terbaik di negri ini bila dibandingkan dengan Dokter Adrian anaknya.


Hari ini aku telah menyelesaikan tugas praktek ku, dan berniat kembali keruanganku. Anton sudah menunggu ku didepan pintu. Ternyata ada tamu penting yang datang untuk bertemu denganku. Petugas dari kePolisian. Mereka datang meng interogasi ku mengenai masalah kematian Bapak Firdaus. Sebenarnya mereka telah mebawa surat penangkapan untukku Atas laporan dari anak anak Bapak Firdaus. Berkat Anton, aku tidak dibawa ke kantor polisi. Cukup menjalani pemeriksaan saja tanpa harus menahanku. Apalagi tidak cukup bukti untuk menjadikan aku tersangka.


Hari pun berlalu, tanpa ada penahanan ternyata kasus ku sudah sampai ke tahap sidang. Aku menyerahkan semuanya pada Anton. Aku tidak ingin masalah ini terserbar luas. Dan Anton bisa ku percaya sepenuhnya. Karena Anton telah menemaniku sejak lama. Dulu nya Ayah Anton yang bekerja pada Ayahku. Sekarang Anton menggantikan posisi Ayahnya dan menjagaku. Anton pernah bilang kalau Ayahnya memintanya untuk melindungi dari siapa pun yang berniat buruk padaku. Karena Ayah ku katanya dulu sangat berjasa kepada keluarga Anton. Meskipun aku tidak tau pasti jasa apa yang dimaksud Tapi aku sangat bersyukur Anton selalu ada untuk melindungiku.


Bahkan dulu aku sempat hampir mati karena ada yang berniat membunuhku. Berkat Anton aku selamat dari tragedi yang mengancam nyawaku. Anton mencurigai kalau mobilku ada yang mengerjai. Maka hari itu, Anton menyuruhku memakai mobilnya. Ternyata benar, esoknya Anton menelfonku mengabari kalau dia tengah berada dirumah sakit. Rem Mobilku blong, sehingga mengalami kecelakaan. Andai saja aku yang membawa mobil itu kemaren pasti aku yang akan mengalami kecelakaan itu. Makanya sekarang aku sangat percaya apapun keputusan Anton. Semuanya untuk keselamatanku.


Hari ini setelah rapat pemegang saham, Anton datang mengabariku. Kalau yang akan menjadi Lawyer dari pihak Irawan anak Bapak Firdaus adalah Syahdan. Berita ini cukup membuatku kaget, bukan karena masalahku dengan Syahdan mengenai Airin. Tapi tidak ada yang tidak tau sepak terjang Syahdan di persidangan. Nama Syahdan sudah sangat dikenal didunia hukum.

__ADS_1


Aku tak ingin berhadapan kelak dengannya di persidangan. Walau bagaimanapun kami pernah bersahabat dekat. Apakah setega itu dia ingin membuatku di penjara. Setelah menerima berita dari Anton, aku berniat ingin menemui Syahdan. Mungkin aku bisa berbicara baik baik dengannya. Tanpa harus ada kekerasan lagi diantara kami. Kalau pun ternyata benar dia dan Airin ada hubungan. Aku akan berusaha ikhlas untuk melepaskan Airin. Daripada persahabatan yang sudah terjalin sejak kami masih sekolah dulu harus putus seperti ini.


Sebelum pergi aku mengambil ponsel ku terlebih dahulu. Karena tadi saat akan rapat sengaja ku tinggalkan di laci. Perasaanku sedikit tidak enak karena melihat laciku yang tak tertutup rapat. Apakah ada yag masuk ke ruanganku. Ku lihat ponselku masih dilaci Dan, amplop coklat itu masih ada juga disana. Ah, mungkin memang aku yang lupa mengunci nya tadi. Buktinya, kuncinya masih tergantung disana. Aku pun segera pergi ke kantor Syahdan.


Sampai di kantor Syahdan, aku langsung bertemu dengannya di depan kantornya. Dia pun menatapku, terasa dari tatapannya menyimpan amarah dan dendam. Aku berusaha untuk bersikap tenang. Ingat, tujuanku menemuinya bukan untuk adu jotos.


"Ada perlu apa kau kesini." Aku tak menyangka Syahdan menyambut kedatanganku dengan pertanyaan yang menyiman amarah.


"Tak usah banyak basa basi, kalau kedatanganmu untuk membahas kasus yang ku tangani. Maaf, aku tak ada waktu. Kita berjumpa saja langsung di pengadilan." Syahdan sama sekali tak menyambut uluran tanganku. Aku masih saja mencoba tersenyum.


"Bagaimana kalau kedatanganku untuk membahas Airin. Apakah kau ada waktu.. Atau kah kau cukup merasa puas bisa bertemu dengan istri orang secara sembunyi sembunyi tanpa sepengetahuan suaminya" Ujarku balik menyerangnya.


"Apa maksudmu brengs*k. Jaga lisanmu." Ujar syahdan semakin emosi.

__ADS_1


"Bukan aku yang harus menjaga lisanku bung,, seharusnya kau yang menjaga perbuatanmu. Kau kira aku tidak tau kalau kau masih bertemu dengan istriku secara sembunyi sembunyi.Kalau memang kalian masih saling mencintai katakan saja terus terang. Tidak usah munafik." Aku pun semakin tersulut emosi. Mungkin karena rasa cemburu ku.


"Bangs*t kau..." Tiba tiba Syahdan melayangkan tangannya hendak memukulku. Aku mencoba untuk menangkis, tapi dengan tiba tiba saja ada yang menarikku dan memelukku. Ternyata Airin, Airin yang justru terkena pukulan dari Syahdan. Sontak kami pun kaget, tiba tiba saja Airin ada diantara kami. Karna pukulan Syahdan yang cukup keras membuat Airin langsung ambruk. Syukur saja dia jatuh kedelam pelukanku, jadi aku bisa menahannya agar tak jatuh ke tanah.


"Airin.. Airin... Kenapa jadi begini dek.." Ujarku khawatir melihat keadaannya. Airin masih mencoba tersenyum dan sepertinya ia sangat menahan rasa sakit dibagian belakang kepalanya yang tadi terkena pukulan Syahdan.


"Mas,, aku mencintaimu.. Sungguh, aku telah mencintaimu. Aku tak pernah selingkuh mas.." Ucapnya sambil tersenyum dan menahan sakit. Kulihat airmata diujung matanya menetes. Dan Airin pun tak sadarkan diri.


"Airin... Airin... Bangun dek... Tolong bertahanlah..." Ujarku. Aku memeluknya erat sambil menangis.


"Jangan sentuh istriku brengs*k... " Amarah ku semakin meluap saat Syahdan masih berusaha untuk menyentuh Airin. Segera ku gendong Airin dan langsung ku masukkan ke mobil. Dan langsung ke rumah sakit. Selama dalam perjalanan, Airin masih belum sadarkan diri. Aku merutuki kebodohanku, kalau saja tadi tak terpancing emosi mungkin ini tak akan terjadi.


"Maafkan mas dek,, maafkan mas... Tolong bertahanlah.. Kamu harus kuat." ucapku tak henti henti. Aku benar benar takut, takut akan kehilangan wanita yang kucintai.

__ADS_1


__ADS_2