Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Tetap Milik Saya


__ADS_3

"ZOYA!"


"KAMU GILA?"


"Aku nggak ada pilihan lain, Mbak. Itu satu-satunya cara agar rumah tanggaku sama Ethan bertahan."


"Dengan menghadirkan orang keriga di antara kalian kamu bilang bertahan Zoya?" Selin tidak habis pikir.


Ia masih tidak percaya dengan apa yang Zoya katakan. Ia benar-benar syok mendengar pengakuan wanita itu jika dirinya membiarkan suami tercintanya menikah lagi dengan wanita lain–dengan Naina yang notabenenya adalah asisten rumah tangga mereka.


"Ini bukan drama film Zoy!" sahut Selin lagi, kali ini Zoya tersenyum smirk.


"Faktanya beberapa film terinspirasi dari apa yang terjadi di dunia nyata." sahutnya dengan enteng. Ia sengaja datang ke rumah Selin untuk memberitahukan hal tersebut begitu Naina menandatangani kontrak pernikahannya dengan Ethan.


Ia tahu Selin akan bereaksi seperti apa. Tapi Zoya tidak punya pilihan apapun. Dan keputusan ini sudah mereka bertiga sepakati.


"Tapi Zoya, ini ...., sulit dipercaya." rasanya Selin ingin berteriak sekencang-kencangnya. Bagaimana bisa Zoya terpikirkan solusi semacam ini?


"Aku udah bilang aku enggak ada pilihan lain. Ini hanya akan bertahan selama satu tahun, Mbak."


"Kamu pikir satu tahun itu sebentar?" Selin merasa emosi. Bukan apa-apa, hanya saja ia khawatir dengan keadaan Zoya ke depannya. Ia benar-benar mengkhawatirkan wanita itu.


"Kamu siap ngeliat suami kamu sama wanita lain? Tidur satu kamar? Satu ranjang?"


"Kamu siap ngeliat suami kamu perhatian sama wanita lain? Kamu siap kasih sayang Pak Ethan terbagi?"


"Sekalipun pernikahan yang nanti Pak Ethan sama Naina jalani hanya sekedar hitam di atas putih. Tapi di dalam agama mereka sah pasangan suami istri dan Ethan harus adil memperlakukan kalian berdua."


Selin mengoceh panjang lebar, bahkan napasnya sampai tersenggal.


"Kamu siap, Zoya?"


"Siapa yang bisa jamin ke depannya enggak akan ada apa-apa sama mereka?"


"Siapa yang bisa jamin ke depannya mereka enggak akan memiliki ketertarikan satu sama lain?"


Ocehan panjang lebar Selin membuat Zoya hanya mematung. Apa yang Selin katakan sepenuhnya adalah benar, namun Zoya tidak bisa membatalkan keputusan yang sudah ia ambil. Ia sudah terlanjur melangkah. Sekalipun, perhatian dan kasih sayang Ethan akan terbagi nantinya.


"Belum lagi jika nanti Naina hamil. Perhatian Ethan pasti akan ekstra teralihkan sama Naina dan calon anaknya, Zoy."


"Mbak nggak mau kamu sakit hati."

__ADS_1


Demi apapun Selin tidak akan dapat membayangkan bagaimana keadaan Zoya menghadapi hal itu nanti. Selin kenal betul siapa Zoya, orang yang tidak suka jika barang berharga miliknya harus dibagi dengan orang lain. Terlebih, ini adalah Ethan. Suaminya. Hidup dan mati Zoya.


******* napas kasar Selin melembut saat mendapati Zoya yang hanya terdiam. Sepenuhnya ia yakin jika Zoya belum benar-benar siap dengan semuanya.


"Mbak."


Pada akhirnya Zoya meraih tangan Selin.


"Mbak tahu aku. Mbak benar, aku belum benar-benar siap. Tapi aku nggak ada pilihan lain Mbak."


"Aku mau aku sama Ethan punya anak. Seenggaknya dengan begitu aku bisa sepenuhnya yakin rumah tangga kami akan bertahan."


"Aku mohon Mbak, Mbak dukung keputusan aku." Zoya ingin Selin meyakini dirinya jika wanita itu ada di pihaknya dan meyakini Zoya bahwa semua akan baik-baik saja.


Selin mendesah, meraih Zoya dalam dekapannya. "Semuanya bakalan baik-baik aja. Mbak ada dipihak kamu." Selin menenangkan, mengusap punggung Zoya dengan lembut. Ia tahu apa yang dialami wanita itu tidaklah mudah.


***


Malam hari, ketika pada keesokan paginya akan dilaksanakan ijab kobul antara Ethan dengan Naina, Zoya dan Ethan lebih dulu menemui wanita itu. Ketiganya duduk pada sofa di ruang utama rumah.


"Berapa mahar yang kamu inginkan dari saya?" tanya Ethan pada gadis itu. Naina mendongak, mempertemukan tatapannya dengan Ethan.


"Saya terserah Pak Ethan sama Mbak Zoya saja."


"Saya tidak menginginkan lebih Pak, terserah Mbak Zoya saja." sahut Naina, mengalihkannya pada Zoya, ia sama sekali tidak terpikirkan apa yang dirinya inginkan dan berapa yang ia rencanakan. Terlebih, semua serba mendadak dan sangat tiba-tiba bagi Naina.


"Kenapa saya? Mahar itu untuk kamu, jadi kamu bebas meminta apa dan berapapaun dari Ethan selagi Ethan ngasih kamu penawaran." Zoya meminta gadis itu untuk membuat keputusannya sendiri.


Naina diam sesaat, mempertimbangkan.


"Bagaimana dengan logam mulia 10 gram?"


Ethan mengerutkan kening. "10 gram?Apa tidak terlalu sedikit?"


"Cukup Pak."


"Kalau begitu bagaimana dengan 30 gram dan sebuah rumah?"


"Atau apartement? Apa yang kamu inginkan?" bagaimanapun Ethan tidak bisa memberi mahar dalam jumlah sedikit untuk gadis itu. Toh ia juga sudah membicarakan hal ini dengan Zoya dan istrinya tersebut setuju. Hal itu ia lakukan demi menghargai gadis yang akan ia nikahi, gadis yang nantinya akan mengandung anaknya.


Sedangkan Naina hanya diam. Menatap Ethan tidak mengerti. Kalau begitu ceritanya, lantas kenapa Ethan mesti bertanya? Toh ia akan menerima apa dan berapapun yang pria itu berikan untuknya.

__ADS_1


"Bagaimana Naina?" tanya Zoya, membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.


"Kalau begitu terserah Pak Ethan saja." pasrahnya, Ethan sempat terdiam namun selang beberapa saat pria itu menganggukan kepalanya. Ia lantas pamit pada Zoya untuk berlalu lebih dulu karena tahu ada yang ingin istrinya itu sampaikan pada Naina secara empat mata.


Begitu Ethan berlalu meninggalkan keduanya. Zoya beranjak dari duduknya dan menghampiri Naina, duduk di samping gadis yang tampak saat berhadapan dengannya itu.


"Ada yang ingin Mbak Zoya sampaikan?"


"Atau ada beberapa aturan yang nantinya harus saya patuhi saat menjadi istri Pak Ethan?" tanya gadis itu bagai mengerti, Zoya tersenyum, meraih tangan Naina dan menggenggamnya. Sekilas bayangan ketika mereka berada dalam acara pernikahan Selin dengan Randy terlintas di kepala Zoya.


"Nanti, kalau saya menikah, saya mau dekorasi yang megah seperti ini." ingatan itu masih kental di kepala Zoya.


"Kenapa enggak pengen yang lebih mewah dari ini?" tanya Zoya saat mata gadis itu kembali mengedar. Kemudian tak lama. Ia menatap Zoya setelah menyiapkan jawaban atas pertanyaan Zoya padanya barusan.


"Karena dekorasi seperti ini sudah lebih dari cukup."


"Saya nggak mau mewah yang berlebihan."


"Kamu udah ada calon?"


"Hmm?"


"Kalau seandinya saya cariin kamu calon suami. Kamu mau?"


Zoya tersenyum simpul. Ternyata ia benar-benar mencarikan Naina calon suami, dan ia membagi miliknya untuk gadis itu.


"Maafkan saya Naina." ucap Zoya setelah cukup lama keduanya diselimuti keheningan.


"Kenapa Mbak Zoya minta maaf?"


"Karena saya, kamu enggak bisa menggelar pesta pernikahan mewah yang kamu inginkan. Kamu hanya akan menikah di Kantor Urusan Agama." mata Zoya berkaca-kaca, membuat Naina ikut terbawa suasana. Ia balas menggenggam tangan Zoya.


"Semoga apa yang kita rencanakan dapat Tuhan kabulkan. Setelah itu, saya berharap ada pria baik yang mau dengan saya dan mempersembahkan saya pernikahan yang saya inginkan." Naina mengutarakan harapannya, Zoya mengangguk dengan hati mengaminkan.


Ketika hening kembali melanda. Zoya mengusap tangan Naina dalam genggamannya.


"Boleh saya minta satu hal lagi?" tanya wanita itu, Naina mengangguk perlahan.


"Naina, sampai kapanpun Ethan adalah milik saya. Tapi saat kalian menikah nanti, maka Ethan juga milik kamu. Tapi saya mohon, jangan jatuh cinta pada Ethan." pinta Zoya dengan sorot memohon, bagaimanapun apa yang Selin katakan jelas membuat Zoya kepikiran.


Naina mengangguk. Tapi hatinya cemas. Apakah ia akan bisa memenuhi apa yang Zoya minta?

__ADS_1


TBC


Tinggalkan jejak guys.


__ADS_2