
"Ada apa?" tanya Agyan tak ramah saat mengangkat telpon dari Rachel. Ayolah, ia sudah mengatakan jika dirinya akan cuti dan tidak ingin diganggu sedikitpun oleh urusan pekerjaan. Tapi sedari pagi, Rachel terus menelponinya. Kali ini, Agyan terpaksa mengangkatnya atas suruhan Freya.
"Aku sudah bilang, aku tidak ingin diganggu!" protesnya begitu menggeser ikon hijau setelah kepergian Freya.
"Dengarkan untuk kali ini, Gyan. Perusahaan sedang berada dalam masa krisis!"
Agyan mematung. Matanya menyipit tak percaya, Rachel memang sudah mengatakan padanya jika perusahaan sedang tidak stabil. Tapi Agyan tidak pernah mengira jika akan sampai mengalami krisis.
Dan Agyan tidak tau, apa yang harus dilakukannya. Sementara ia sedang menanti kelahiran kedua anaknya.
*
*
Hidup, adalah tentang perjalanan. Tentang perjuangan, dan tentang pengorbanan. Tapi bagi Agyan, hidup adalah bagaimana kita membuat sebanyak-banyaknya cerita. Dan kelak, menceritakannya pada anak-anaknya.
Perjalanan yang panjang, kerja keras, perjuangan yang tak mudah dan pengorbanan yang tiada habisnya, semuanya terasa mudah bagi Agyan ketika ia melihat senyum Freya.
Semuanya menjadi tidak berarti apa-apa baginya begitu ia mengingat jika ia memiliki Freya di sampingnya.
Ketika telpon dengan Rachel berakhir, Agyan menyusul Freya. Saat tak mendapati Freya berada di ruangannya, ia mencari Freya ke mana-mana dan merasakan cemas saat tak kunjung menemukan keberadan sang istri.
Diujung keputusasaannya, Agyan menemukan Freya, ia langsung menghampiri dan memeluknya. Kecemasannya musnah dengan mudah saat melihat Freya baik-baik saja. Dan kalimat yang Freya katakan spontan membuat dadanya berdebar.
Di dalam hatinya yang terdalam, Agyan merasa senang dan bahagia. Meski menemui Andreas, mungkin bukan saat yang tepat untuk sekarang.
Kebahagiaan dalam hidup Agyan dan Freya semakin sempurna ketika kedua buah hati mereka hadir menyapa dunia. Kecupan penuh cinta dari Agyan mendarat di dahi Freya yang mengukir senyum dengan cantiknya.
"Terimakasih, Sayang. Terimakasih," barangkali, hanya kalimat itu yang dapat Agyan sampaikan.
Ia tidak tau harus bagaimana berterimakasih pada istri tercintanya. Yang ia tau, ia hanya perlu menjadi suami, dan ayah yang baik untuk keluarga kecilnya.
__ADS_1
"Cute banget," Cherry tak henti-hentinya memuji kedua bayi Freya dengan gemas, Gavin di sampingnya hanya tersenyum dan menggandeng Cherry. Semua anggota keluarga Freya hadir di sana, mereka mengerubungi bayi pengantin itu yang hanya tertidur dengan lucunya di dalam boks bayi.
"Yang cowok bibirnya mirip kamu, Frey." sahut Anna, terpancar kebahagiaan di matanya yang cerah.
"Yang cowoknya tampan, kaya—"
"Kaya, Ayahnya dong." sela Anna dengan cepat saat tau apa yang akan Warry katakan. Semua yang berada di sana tertawa. Warry hanya menggeleng pelan melihat sang istri yang sudah meledeknya.
"Senangnya punya dua cucu,"
"Iya, Mas. Kita harus sering-sering nginep di rumah Freya sama Agyan nanti." Warry mengangguk setuju pada ucapan Anna.
"Lucunya,"
"Kita kapan punya baby, Vin?" tanya Cherry pada Gavin. Gavin mengerutkan kening dan tersenyum.
"Nanti kita usaha," sahutan Gavin mendapat cubitan dari Cherry. Pria itu mengaduh kesakitan. Sementara Freya dan Agyan hanya tersenyum melihatnya.
Anna, Warry, dan kedua orangtua Gavin tampak masih asik dan belum bosan menatap Ethan dengan saudara kembarnya. Sementara pikiran Agyan berkelana, seandainya di sini ada Grrycia dan Andreas. Mereka pasti akan memiliki ekpresi yang sama seperti Anna dan Warry.
"Gyan,"
"Sayang,"
"Ada yang ganggu pikiran kamu?" tanya Freya. Ia selalu peka dengan sikap Agyan.
"Enggak ada,"
Freya diam. Ia tidak ingin memaksa Agyan.
"Morgan sama yang lain bentar lagi dateng." Agyan mengalihkan pembicaraan, Freya hanya mengangguk, balik menggenggam tangan Agyan dengan erat, kemudian mengecupnya. Agyan tersenyum.
__ADS_1
"Kamu seneng?"
"Seneng banget. Aku punya kamu, suami yang baik. Dan aku punya dua malaikat sekarang."
Agyan mengangguk, ia mengecup kening Freya. Setelahnya, sama seperti tadi. Pandangan keduanya mengarah pada orang-orang yang sedang menatap dua bayi mereka.
Sesuai dengan apa yang dikatakan Agyan. Selang setengah jam, Morgan and the geng datang untuk melihat bayi Agyan dan Freya. Juga mengucapkan selamat pada dua orang yang sekarang sudah resmi menjadi orangtua.
"Wah, gila. Baru satu menit si kembar udah punya banyak fans, nih." decak Vanesh sambil menatap foto si kembar yang ia unggah pada akun media sosialnya. Braga hanya tersenyum kecil melihat tingkah sang pacar.
Morgan dengan yang lain melihat di akun instagram mereka masing-masing, melihat unggahan Vanesh berikut komenntar dari para netizen. Ramai-ramai mereka memberikan ucapan selamat pada Agyan dan Freya yang mendapat mantion dari Vanesh. Mereka juga memuji dan mendo'akan yang terbaik untuk si kembar.
"Kayaknya, bapaknya yang artis saingannya sama anak sendiri, nih." ledek Brandon yang hanya ditanggapi senyum dan gelengan kepala dari Agyan.
"Kak Frey, udah harus dibikinin akun medsos nih si kembar." usul Vanesh, matanya tetap asik menatap layar ponsel.
"Lucu banget," Gisna yang maha kalem bersuara setelah menyentuh pipi salah satu dari si kembar. Semua mata tertuju pada Gisna, gadis itu tampak bingung.
"Kenapa, kamu mau?" tanya Brandon yang membuat gadis itu tersipu malu tidak karuan. Sementara yang lain tertawa melihat pasangan itu.
Mereka sibuk membahas hal-hal tidak penting, memberi saran untuk nama si kembar, bahkan Morgan menawarkan diri untuk mengadopsi salah satu dari mereka. Tentu saja pria itu mendapat jitakan dari Agyan dan mendapat pelototan dari Freya.
Tapi pada akhirnya, mereka hanya tersenyum, tertawa dan berbahagia. Agyan dengan Freya sudah terlalu jauh melangkah. Apapun halang rintang sudah berhasil mereka lalui. Kehadiran si kembar menyempurnakan kebahagiaan dalam hidup keduanya.
"Mas Agyan," Aryo datang dan mendekat pada Agyan. Agyan hanya menaikan alisnya.
"Mas Agyan sudah dengar kabar dari perusahaan?" tanya Aryo dengan raut cemas. Agyan diam sebentar, tak lama, ia mengangguk. Agyan hanya fokus pada kelahiran si kembar, ia melupakan satu hal jika perusahaan sedang dalam masa krisis.
Meski Agyan sudah menyatakan cuti dan tidak ingin mengurus apapun. Perasaan terdalamya seolah ingin agensi yang menaunginya selama ini kembali normal.
"Sayang, aku ke perusahaan sebentar. Enggak papa?" tanya Agyan pada Freya, ia sedikit terburu-buru. Setengah bingung, Freya mengangguk. Agyan pamit dan berlalu, sedangkan Freya hanya menatap kepergiannya. Ia menoleh pada boks bayi di sampingnya.
__ADS_1
Hanya ada mereka bertiga di ruang rawat Freya. Anna dan Warry sedang dalam perjalanan untuk segera kembali ke Rumah Sakit. Freya yakin Agyan meninggalkannya bukan tanpa alasan, Agyan sudah pernah memberitahunya, jika perusahaan memang sedang dalam keadaan yang tidak stabil. Sudah pasti, Agyan akan mengurus hal ini.
TBC