Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Telepon


__ADS_3

Setiap orang pasti memiliki keinginan yang sempurna saat membina bahtera rumah tangga, begitu juga Naina. Ia selalu berangan-angan untuk menikah dengan pria yang dicintainya dan juga mencintai dirinya.


Naina selalu berangan-angan untuk membina keluarga kecil yang bahagia dengan kebahagiaan yang sempurna. Namun, pada akhirnya justru sekenario dari Tuhan tak dapat ia tebak bagaimana alurnya.


Menikah dengan Ethan mungkin akan menjadi anugrah dalam hidupnya, andai pria itu tidak memiliki Zoya.


Menikah dengan Ethan mungkin akan menjadi mimpi besar baginya andai pria itu tak berstatus sebagai suami orang lain.


Apa yang Ethan katakan memablng benar, bukan pernikahan seperti ini yang diinginkannya. Bukan pernikahan seperti yang dijalaninya sekarang yang Naina impikan. Tapi apa boleh buat, semua sudah terjadi tampa Naina duga, semua sudah terjadi tanpa bisa dikendalikannya.


Ia tak bisa menghindar. Yang bisa dilakukannya hanya terus berjalan dengan setitik keraguan di dadanya.


"Memang bukan pernikahan seperti ini yang saya inginkan Pak Ethan," Naina menanggapi apa yang Ethan katakan setelah cukup lama ia hanya terdiam di hadapan pria itu.


"Setiap orang pasti ingin punya pernikahan yang bahagia. Begitu juga saya, tapi saat ini saya nggak bisa ngelakuin apapun."


"Saya sudah terlanjur masuk dalam rumah tangga kalian. Saya sudah terlanjur menjadi istri Pak Ethan." gadis itu menyahut pasrah dengan senyum miris di bibirnya yang membuat Ethan merasa bersalah.


"Tapi saya sudah yakin dengan semua ini. Niat saya membantu kalian, saya memang istri Pak Ethan. Tapi hanya hitam di atas putih, wajar jika Pak Ethan merasa tidak perlu memperlakukan saya sebagaimana seorang istri pada umumnya." panjang lebar Naina yang lagi lagi menusuk tepat di hati Ethan.


Ethan mengingat lagi apa yang pernah Zoya katakan mengenai pernikahannya dengan Naina. Dimana keduanya adalah sah pasangan


suami istri di mata agama sehingga Ethan harus adil memperlakukan kedua istrinya.


Tapi cinta di hatinya yang begitu besar untuk Zoya membuatnya tak dapat melakukan hal tersebut. Ia tidak bisa memperlakukan Naina sama seperti Zoya, ia tidak bisa. Ia juga tidak ingin melihat Zoya terluka karena cinta dan perhatiannya harus terbagi dengan wanita lain.


Ethan hanya tersenyum tipis, tampak sedikit dipaksakan saat melihat Naina di hadapannya yang tersenyum lebar.


"Pak Ethan tidak perlu khawatir, saya baik-baik aja." sahut Naina, entah keberanian seperti apa yang datang menghampirinya sehingga ia dapat dengan leluasa meraih tangan besar Ethan dan menggenggamnya. Terasa begitu hangat.


"Pak Ethan tidak perlu minta maaf." sambungnya seraya mengusap punggung tangan sang suami.


Ethan tak mengatakan sepatah katapun lagi saat Naina juga hanya diam menatapnya setelah mengatakan hal tersebut. Bagai tersihir, tatapan gadis itu membuat tangan Ethan dalam genggaman Naina terulur untuk mengusap puncak kepala gadis itu.


Ethan tahu Naina menderita dengan pernikahan mereka. Ethan peka jika gadis itu juga butuh perhatian darinya.


Selanjutnya, keduanya berdiri saling bersisian menatap matahari tenggelam. Tidak ada yang berbicara lagi, samar-samar suara para wisatawan dan juga deburan halus ombak menjadi backsound di antara keduanya ketika matahari mulai kembali ke peraduaannya di ufuk barat.


Terlihat begitu indah saat cahaya berwarna jingga menghiasi mega.


***


Pada malam harinya, usai makan malam di dalam kamar hotel, Naina hanya memainkan ponselnya. Sedangkan Ethan sibuk sendiri dengan laptopnya, ia membawa beberapa pekerjaan untuk dikerjakannya di sana, andai Zoya tahu, istrinya itu pasti akan marah.


Asik bermain ponsel, Nana cukup terkejut saat melihat sebuah panggilan masuk di ponselnya. Ethan yang duduk di sampingnya di atas tempat tidur dan melihat gadis itu mengernyitkan dahi. Ia tak bertanya apapun, tapi begitu meliht id Rival menghiasi layar ponsel, hal tersebut cukup membuatnya terkejut.

__ADS_1


"Ternyata kamu sering berkomunikasi sama Rival?" tanyanya.


Naina menggelengkan kepala. "Enggak Pak, tapi saat di bandara kemarin, Mas Rival kirim pesan dan ngasih tahu kalau dia udah pulang ke Indo." beritahu Naina pada suaminya.


Ethan sempat terdiam di tempatnya, dering ponsel Naina sempat mati, kemudian hidup lagi begitu Rival menelpon kembali.


Naina menatap sang suami bagai menunggu persetujuan pria itu untuknya mengangkat telpon. Ethan menggerakan kepala untuk menyuruh Naina mengangkat telpon sehingga dengan hati-hati Naina menggeser ikon hijau dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.


"Hallo, Mas."


Ethan mengernyit mendengar nada lembut Naina. Ia terus memperhatikan gadis itu.


"Hallo, Naina. Apa kabar?" Rival bertanya di ujung sana. Naina hanya diam, membuat Ethan yang sebenarnya penasaran lantas ikut mendekatkan telinganya pada ponsel Naina guna mendengar apa yang Rival katakan. Membuatnya tidak memiliki jarak dari gadis itu.


"Ba–baik, Mas." Naina menyahut ragu saat Ethan mepet ke tubuhnya. Ia menoleh, tatapan keduanya bertemu lantas dengan cepat Naina menepiskannya. Ethan berdehem, sedikit canggung tapi kemudian ia tetap kembali menempelkan telinganya di ponsel Naina.


"Saya sudah kirim kamu chat tapi kamu nggak balas, kamu sedang sangat sibuk?" tanya Rival yang samar-samar dapat Ethan dengar.


"Euu, saya lupa." Naina menyahut tak logis.


"Kamu benar-benar lupa atau nggak perduli."


"Kenapa saya harus perduli?" tanya Naina tanpa berpikir sama sekali. Sesekali ia masih harus menjauhkan kepalanya agar tak terlalu berdempetan dengan Ethan namun pria itu tetap terus mengikutinya.


Melihat Ethan yang tampak kembali melanjutkan pekerjaan membuat Naina memilih untuk turun dari atas tempat tidur dan pergi sedikit menjauh dari Ethan.


Rival di ujung sana masih terdiam, sepertinya pria itu sedang mencari topik obrolan agar panggilannya dengan Naina tidak segera berakhir.


"Saya hanya ingin tahu apa kamu penasarn tentang alasan kenapa saya pulang." jujur pria itu, Naina diam beberapa saat, ia mengingat lagi pesan yang Rival kirim mengenai alasan pria itu kembali ke tanah air.


"Apa memangnya?" tanya Naina pada akhirnya. Sesaat hanya ada hening di antara mereka, Rival tak kunjung menjawab pertanyaan Naina sedangkan Naina diam untuk mendengarkan jawaban pria itu.


"Apa, Mas?" Naina bertanya sekali lagi saat Rival benar-benar tak berkata-kata.


"Nanti, nanti kamu akan tahu sendiri." jawaban ambigu Rival akhirnya membuat Naina bungkam.


"Saya akan memberitahu kamu secara langsung." sambungnya yang kemudian memutus sambungan telpon secara sepihak. Naina menurunkan ponsel dari telinganya, mematung cukup lama hingga kemudian ia memutuskan untuk kembali naik ke atas tempat tidur dan mengabaikan sekelebat bayangan mengenai Rival.


Ethan yang masih berkutat dengan ponselnya hanya menoleh sekilas kemudian melanjutkan kesibukannya. Naina kembali bermain ponsel, selang beberapa menit setelahnya, ponselnya kembali berdering, panggilan masuk di ponsel wanita itu berhasil membuat Ethan berdecak.


"Mau apalagi?" tanyanya sedikit sewot.


"Ini Mbak Zoya." jawab Naina, seketika Ethan mematung dengan hati yang dirundung perasaan tak menentu. Sejuta pertanyaan mendadak bersarang di kepalanya.


Apa yang wanita itu lakukan selama seharian ini?

__ADS_1


Kenapa seharian ini Zoya tak menghubunginya sama sekali, bahkan sekedar mengiriminya pesan.


Kenapa Zoya justru menghubungi Naina, bukan dirinya?


Kenapa Zoya tak memberinya kabar?


Naina yang sempat terdiam melihat ada panggilan masuk dari Zoya lantas segera menggeser ikon hijau. Suara lembut Zoya yang penuh nada ceria segera menyapa indera pendengarannya.


"Nainaaa," wanita itu segera menyapa asisten rumah tangga sekaligus asistennya, juga madunya.


"Hay, Mbak Zoya." Naina balas menyapa dengan canggung. Sedikit kaku mengingat jika saat ini ia tengah berbulan madu dengan suami dari wanita itu.


"Gimana bulan madunya? Maladewa indah, yah?" tanya wanita itu yang seketika membuat kepala Naina mengangguk samar sekalipun Zoya tidak dapat melihatnya. Ethan yang diam-diam mencuri dengar di sampimg Naina hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


Perasaannya sedang sangat resah saat ini. Sekalipun dengan mendengar suara Zoya sudah mengobati rasa rindu di dadanya, namun ia tetap ingin berbicara dengan Zoya dan bertanya langsung bagaimana wanita itu menghabiskan waktunya tanpa Ethan berada di sisinya.


"Mbak Zoya gimana, di rumah nggak repot 'kan?" tanya Naina, khawatir jika karena tidak ada dirinya, Zoya yang mengurus semua keperluan rumah sendiri.


"Santai aja, aman semuanya." Zoya menyahut dengan kekehan kecil.


"Kamu lagi ngapain?" tanya Zoya kemudian.


"Cuma lagi siap-siap buat tidur aja Mbak."


"Wah, saya ganggu dong, yah." decak Zoya, Naina menggelengkan kepala dengan senyum canggung.


"Enggak kok Mbak."


"Ethan ada sama kamu?"


"Dia nggak lagi kelayapan nyari cewek bule, 'kan?" terdengar kekehan kecil Zoya usai menanyakan keberadaan sang suami.


"Mbak Zoya mau bicara sama Pak Ethan?" ia yang sangat peka bertanya.


"Boleh."


Jawaban Zoya membuat Naina dengan segera menyerahkan ponselnya pada Ethan, pria itu sempat mengernyitkan dahi namun tangannya tetap meraih ponsel yang Naina sodorkan.


Ethan segera menempelkan benda pipih itu di telinganyan. "Hallo," sapa Ethan sambil turun dari tempat tidur, ia pamit pada Naina dengan bahasa isyarat kemudian berjalan menuju pintu balkon dan melangkahkan kakinya menuju balkon.


"Sayang,"


"I miss you." kalimat singkat itu membuat Ethan terdiam, tapi bibirnya mengukir senyum tipis. Sedangkan di dalam kamar yang pria itu tinggalkan, Naina hanya menatap ke arah balkon. Ia sama sekali tidak cemburu, hanya saja, bagai ada sebuah belati yang tiba-tiba menikam hatinya. Rasanya begitu perih.


TBC

__ADS_1


__ADS_2