Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Noda Darah


__ADS_3

Thor, Zoya sama Naina tuh cantikan siapa, sih? Aku udah naro foto mereka berdua di akun ig aku –– eva_yuliaaan. Pendapat kita nggak akan sama. Jadi silakan lihat dan tentukan sendiri🤗


**


"Mbak Zoya, lipstiknya nggak rata." beritahu Naina saat Zoya baru saja kembali dari toilet, gadis itu berbisik pelan di telinganya begitu ketiganya akan menghampiri Randy dan Selin di pelaminan untuk memberi ucapan selamat.


"Berantakan banget yah?" tanya Zoya, takut - takut sejak tadi orang - orang menatapnya karena lipstiknya yang tidak rata. Gara - gara Ethan yang mengharuskan ia memoles micellar water ke bibir, kemudian memperbarui lipstiknya dengan diiringi rasa malas. Zoya sudah bilang ia sangat malas merias diri.


"Masih berantakan?" tanya Zoya setelah merapatkan bibir berulang - ulang, ia mencari cermin di dalam clutchnya. Tapi sial, benda penting itu tidak dibawanya. Naina tersenyum melihat Zoya yang tampak mendadak kesal.


"Saya coba perbiki." gadis itu menawarkan bantuan, Zoya mengangguk. Mengarahkan wajahnya pada Naina, gadis itu mengusap bibirnya agar lipstik yang digunakannya tidak berantakan.


"Ulah Ethan ini," sungut wanita itu dengan suara pelan, Naina yang mengerti hanya tersenyum tipis. Sedangkan sang suami yang sibuk disapa beberapa rekannya tampak anteng mengobrol sebentar. Zoya sedang hilang dari radar pria itu.


"Nah, udah." sahut Naina, tersenyum dengan tulusnya. Tapi beberapa detik berselang, mata gadis itu tampak terpaku pada satu arah yang membuat Zoya mengalihkan perhatian pada apa yang menyita perhatian gadis itu bahkan membuat Naina nyaris tak berkedip dengan ekspresi berbeda.


Kening Zoya berkerut, ia tak mendapati apa pun kecuali pandangan yang sama di mana orang - otang sibuk dengan dunianya sendiri atau orang - orang yang tampak hendak memberikan capan selamat dan menikmati hidangan yang tersedia di acara pesta.


"Mbak, mungkin nggak kalau Mas Kevin ada di sini?" tanya Naina tiba - tiba. Kali ini gadis itu mengalihkan perhatiannya pada Zoya yang tampak kebingungan dengan tingkah gadis itu.


"Kevin?" dahi Zoya berkerut. tak lama ia menggelengkan kepala.


"Randy atau pun Mbak Selin nggak mungkin ngundang Kevin."


"Tapi saya liat dia ada di sini."


"Di mana?" tanya Zoya, sekali lagi memastikan ke arah yang tadi ditatap lama oleh Naina.


"Tadi ada di sana–" Menunjuk arah yang tadi membuatnya terpaku pada seorang pria yang dengan jelas ia lihat bahwa itu adalah Kevin. Pria bejad yang melecehkan dan hampir memerkosanya.


"Mungkin kamu salah lihat." Zoya menangkan gadis itu yang air mukanya tampak sudah berbeda. Nain tampak ketakutan dan tidak tenang.


"Ada apa?" tanya Ethan yang tiba - tiba sudah bergabung dengan mereka.


"Naina bilang dia liat ada Kevin." beritahu Zoya karena Naina hanya diam. Ethan mengedarkan pandangan, saat tak menemukan Kevin ia lantas mengalihkan perhatian pada Naina.


"Tidak apa - apa. Kevin tidak ada, kamu tidak perlu khawatir. Ada saya." Zoya mengangguk membenarkan ucapan pria itu agar Naina merasa lebih tenang. Hingga kemudian Zoya memeluk Naina guna mengalorkan kekuatan agar gadis itu benar - benar tenang dan percaya jika yang dilihatnya hanyalah fatamorgana.


"Tenang, yah. Ada saya sama Ethan di sini, kamu aman."


Perlahan gadis itu mengangguk. Zoya menggenggam tangan Naina. Melanjutkan langkah mereka munuju pelaminan di mana Selin sudah melambai - lambaikan tangan pada Zoya. Wanita itu membalasnya dengan senyuman.


"Mbak Selin–" Zoya segera merentangkan tangan dan memeluk Selin. Sulit dipercaya, manajernya yang begitu menutup hati karena sibuk dengan pekerjaan akhirnya bertemu dengan jodohnya dan duduk di pelaminan penuh senyum kebahagiaan.


"Maaf banget, yah, nggak hadir pas akad." mengingat ke sana jujur Zoya merasa kecewa dengan perbuatan suaminya."Ethan nggak ngebangunin, tuh." sambungnya. Menunjuk sang suami yang memberi ucapan selamat pada Randy.


"Enggak papa, Mbak maklum, kok. Yang penting sekarang kamu ada di sini," sahut wanita itu, tangannya mendarat mengusap perut Zoya yang tampak masih rata.


"Thanks banget, yah, Than." ucap Randy saat Ethan memberikan ucapan selamat dan doa terbaik untuk rumah tangganya.

__ADS_1


"Udah bantuin biayain pernikahanku juga. Pokoknya makasihlah udah mau ikut repot." sambungnya, mengusap - usap bahu Ethan yang justru membuat pria tampan itu geli dan heran dalam waktu bersamaan. Begitu tangan Randy turun dari bahunya. Ia segera mengusap bahunya tiga kali seolah menghilangkan debu kotor di sana yang ditinggalkan oleh Randy.


"Santai aja. Bukan masalah besar." Ethan menyahut setelah cukup lama.


Naina hanya diam saat Zoya sedikit terlibat obrolan dengan Selin, begitu juga Ethan dan Randy. Tapi beberapa waktu kemudian, Zoya menoleh dan mempersilakannya memberi ucapan selamat pada sang pengantin.


Naina mendekat pada Selin dengan langkah ragu. Lantas menyerahkan paper bag yang sejak tadi tak pernah lepas dari tangannya pada wanita itu "Selamat, yah, Mbak Selin." ucapnya saat ia menjabat tangan wanita itu. Selin mengangguk, kemudian memeluk Naina tanpa gadis itu duga.


"Terimakasih, yah, Naina."


**


"Kamu mau ikut acara lempar bunga? Kamu kan udah punya istri. Gimana, sih, mau punya istri dua emang?" protes Zoya saat suaminya hendak beranjak begitu mc mengumumkan acara lempar bunga oleh pengantin.


"Enggak Sayang. Saya cuma mau ke toilet." sahut pria itu dengan senyuman. Kenapa rasanya sangat menyenangkan jika melihat Zoya cemburu?


"Oh, kirain." wanita itu cengengesan, lantas melepas tangan suaminya dan membiarkan Ethan berlalu. Begitu sang suami lenyap dari hadapannya, Zoya melepas cincin yang ia kenakan. Ia menatap jejak cincin yang membuat warna kulitnya berbeda.


"Kenapa Mbak?" Naina yang kali ini duduk di samping Zoya bertanya saat wanita itu mengusap - usap jari manisnya.


"Oh, ini. Cincinnya sempit," Naina menganggukan kepala. Melihat cincin yang Zoya lepas, tampak sederhana namun terlihat begitu cantik.


Ethan menatap pantulan wajahnya di cermin. Ia merapikan dasi, kemudian menyalakan keran air. Tapi sebelumnya, ia melepas jam tangan yang dikenakannya, ia sempat tersenyum karena jam tangan tersebut adalah hadiah dari Zoya.


Tak lama, Ethan kembali pada tempat di mana Zoya berada di tempatnya. Tatapan pria itu segera fokus pada jari tangan Zoya di mana terdapat bekas cincin di sana.


"Sakit banget?" tanyanya, meraih tangan Zoya dan meniliknya, mendadak ia begitu khawatir.


"Yaudah, kalau gitu lepas dulu saja cincinnya." titahnya. Zoya mengangguk, memasukan cincin tersebut pada clutch - nya. Dari sana ia benar - benar merasa nyaman.


Berselang kurang dari satu jam setelahnya, Ethan mengajak Zoya pulang karena khawatir wanita itu kelelahan. Zoya pamit pada Selin karena tidak bisa berlama - lama di sana, ia juga meras sudah sangat pegal karena terus menerus duduk.


Ketiga orang itu berjalan menuju pintu keluar tanpa sadar sedikit pun jika sejak ketiganya datang, seseorang selalu mengamati gerak - gerik mereka.


"Kamu pikir akan lolos setelah dua bulan membuatku sengsara?" kesalnya yang kemudian segera berlalu dengan cepet menuju parkiran untuk mendahului tiga orang itu.


"Langsung pulang?" tanya Zoya saat ketiganya tengah menunggu mobil. Ethan di sampingnya menoleh. "Iya."


"Saya nggak mau kamu kelelahan. Pulang ke rumah dan langsung beristirahat." Zoya tau tidak bisa bernegosiasi dengan pria itu, sehingga yang dilakukannya hanya diam dengan tangan bergenggaman dengan suaminya, sampai kemudian ia sadar ada yang berbeda dengan tangan pria itu.


"Jam tangan kamu?" Ethan mengernyit, Zoya mengarahkan tatapan pada pergelangan tangan pria itu dan membuat Ethan teringat jika ia melepas jam tangannya saat mencuci tangan di toilet satu jam yang lalu. Kenapa ia bisa tidak sadar?


"Itu jam tangan pemberian aku, 'kan?"


"Kalau ada yang ngambil gimana?' tanya Zoya. Ethan melihat sekitar saat mobilnya belum kunjung tiba.


"Kalau gitu saya ambil dulu."


"Enggak usah enggak usah." cegah wanita itu, menahan tangan Ethan dengan erat saat mobil mereka sudah tiba.

__ADS_1


"Kamu bisa suruh petugas hotel."


"Saya takut jam tangannya keburu ada yang ambil." sahut pria itu yang membuat Zoya terdiam. Ethan melepas rangkulan tangan Zoya di lengannya dengan gerakan perlahan. "Kamu tunggu di sini, saya cuma sebentar." sahutnya, mengusap puncak kepala Zoya dan berlalu meninggallannya dan Naina.


Zoya mendesah, rasanya selalu tidak nyaman saat Ethan meninggalkannya meski hanya sebentar.


Selama menunggu Ethan, Zoya hanya menatap jari manisnya tanpa cincin pernikahannya dengan Ethan yang selama ini selalu melekat di sana selama lebih dari satu tahun.


Entah mengapa rasanya mata Zoya tak nyaman melihat jari manisnya yang polos. Ia kemudian membuka clutchnya dan mengeluarkan cincin pernikahannya tersebut. Namun saat seseorang tak sengaja menyenggol lengannya, cincin yang sudah dipegangnya terjatuh, bergulir menjauh darinya bersamaan dengan langkah Ethan yang akan kembali pada wanita itu, namun ponsel di balik saku jas yang bergetar membuat pria itu urung melangkah dan lebih dulu mengecek panggilan masuk. Saat ternyata yang menelponnya adalah skretaris Agyan – Aryo. lantas Ethan menggeser ikon hijau dan menempelkan benda canggih itu di telinga.


"Cincinnya." decak Zoya.


Naina menoleh, melihat cincin Zoya yang bergulir kian menjauh. "Mbak Zoya, biar saya yang ambil." sahut gadis itu yang membuat langkah Zoya terhenti. Zoya mengangguk, membiarkan Naina berjalan mengikuti cincinnya sampai gadis itu mendapatkannya. Zoya tersenyum tenang, tapi sebelum matanya menangkap sesuatu.


Di mana sebuah mobil boks berwarna putih melaju dengan kecepatan tinggi dan tampak tak terkendali. Mata Zoya membulat, terutama saat Naina tak menyadari hal itu dan justru menunjukan cincin yang telah di dapatkannya pada Zoya dengan senyuman. Zoya menggelengkan kepala, tanpa sadar ia menjatuhkan clutch yang dipegangnya, berlari menghampiri Naina.


Kejadiannya begitu cepat. Zoya tak tau apa yang terjadi, ia hanya merasa jika tubuhnya seperti melayang ke udara, kemudian jatuh dengan begitu keras dan ia merasakan sakit diseluruh tubuhnya, terutama pada bagian perutnya.


Sedangkan Ethan yang masih berbicara dengan Aryo terpaku begitu mendengar sebuah hantaman dan juga teriakan beberapa orang. Ia terfokus pada benda kecil yang bergulir membentur pantofel hitam yang dikenakannya. Ethan kian terpaku, merasa tidak asing, lantas ia mengambil benda kecil itu dan menatapnya.


Mendadak hatinya berdebar. Kemudian dengan perasaan tak karuan ia menoleh pada keberadaan Zoya yang tidak ada di tempatnya. Ethan hanya menemukan clutch wanita itu yang tergeletak begitu saja.


Orang - orang di sekitar hotel, termasuk sebagian tamu undangan yang hendak pulang tampak berbondong - bondong menghampiri korban yang ditabrak mobil boks, sedangkan sebagian menghampiri sopir mobil dan menggunjingnya karena menyetir ugal - ugalan.


Naina merasakan pening di kepalnya begitu Zoya mendorongnya dengan gerakan cepat. Pelipis gadis itu berdarah karena membentur batu, ia duduk perlahan dari posisi berbaringnya. Menatap keadaan Zoya tak percaya yang spontan membuat matanya berkaca - kaca.


"Mbak Zoya." lirihnya. Zoya seakan kabur dari pandangannya saat air matanya kian menggenang. Samar - sama ia melihat Ethan yang berlari menghampiri Zoya dengan raut kacau, tapi kemudian ..., ia tak melihat apa pun lagi.


"Zoya," Ethan segera membawa kepala wanita itu ke pangkuannya, matanya sudah tak dapat menahan air yang sejak tadi akan terjun membasahi pipi begitu melihat kondisi sang istri. Ethan lebih terbelalak saat mendapati luka pada belakamg kepala istrinya yang memenuhi telapak tangannya.


Sedangkan Zoya perlahan membuka mata, tampak meringis dengan tangan yang memegangi perutnya.


"Panggil ambulan!" terdengar seseorang berseru.


"Than, anak kita nggak akan kenapa - napa, 'kan?" Zoya bertanya dengan susah payah, darah di pelipisnya juga mengenai mata dan membuat pandangannya kabur. Ethan menggeleng - gelengkan kepala, bahkan ia tak sanggup melihat banyaknya darah pada gaun berwarna putih yang wanita itu kenakan.


"Than, jawab aku!"


"Anak ..., kita nggak akan kenapa ..., napa, 'kan?" susah payah Zoya mengatakannya saat nyeri menyerang perutnya dengan begitu hebat.


"Kita nggak akan kehilangan dia lagi, 'kan, Than?" nada bicara wanita itu sudah tak bertenanga.


"Jawab aku!" Zoya mengguncang kerah kemeja Ethan dengan air mata yang membanjiri pipinya. Sedangkan Ethan tak dapat mengatakan apa pun. Tak ada satu kalimat pun yang kuasa keluar dari mulutnya untuk meyakinkan sang istri jika semua akan baik - baik saja.


"Than," mata wanita itu hendak terpejam dengan tangan yang akhirnya turun ke bawah, meninggalkan noda darah di bagian atas kemeja putih Ethan.


"Sayang, kamu harus bertahan demi saya."


"ZOYA!" Ethan tak kuasa menahan air mata saat mata wanita itu benar - benar terpejam dengan sempurna.

__ADS_1


"Zoya, kamu harus bertahan demi saya. Demi saya, Zoya."


TBC


__ADS_2