
Pada balkon di salah satu unit apartemen mewah, seorang wanita tampak tengah berdiri di balkon apartementnya menikmati malam pekat yang disuguhkan suasana dingin. Wanita itu adalah Alexa, ia sudah mengenakan sleepwear berwarna putih dengan segelas red wine di tangannya. Rambutnya yang panjang terurai saat angin dengan lembut menerpanya.
Alexa mendekatkan bibir gelas tersebut ke bibirnya. Ia memejamkan matanya sesaat begitu cairan berwarna merah itu masuk ke mulut dan membasahi kerongkongannya.
Ia mengingat lagi pertemuannya dengan Somi kemarin malam. Wanita yang dengan nekad membocorkan salah satu adegan film yang dibintangi Zoya dan Edrin.
"Sebagai salah satu cast di sana, tentunya aku perlu tahu apa alasan kamu ngelakuin hal ini." Alexa bertutur dengan santai saat itu sebelum menyesap lattenya. Somi menawarinya untuak memesan makan tapi Alexa menolak karena ia sudah menikmati makan malam tim dan ia masih sangat kenyang.
Wanita itu lantas menatap Somi ketika lawan bicaranya tersebut justru menyandarkan punggung ke belakang dan tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Alasan?" wanita itu justru bertanya balik. Alexa mengangguk, menaruh cangkir lattenya dan memusatkan perhatian sepenuhnya pada Somi.
"Aku cuma kesal." wanita itu menyahut singkat, Alexa hanya mengerutkan keningnya, memerhatikan Somi dengan seksama barangkali wanita itu akan memperjelas ucapannya.
"Aku kesal karena Zoya nggak bantu aku buat gabung di film itu. Aku juga kesal karena Pak Arfat sama sekali nggak ngasih aku kesempatan buat bergabung sama mereka." tutur Somi, Alexa hanya memerhatikan dengan kepala yang menggeleng takjub.
Ia tidak menyangka jika Somi akan senekad itu dan bahkan berkata dengan jujur padanya sekalipun tahu Alexa adalah bagian dari tim.
"Aku juga kesel sama kamu."
Kali ini Alexa dua kali lipat lebih terkejut. Dahinya berkerut melihat tatapan sinis yang Somi lontarkan padanya. Alexa menunjuk dirinya sendiri tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Somi mengalihkan perhatiannya ke arah lain, lantas berbicara. "Aku kesal karena kamu ambil peran yang aku mau." wanita itu melipat tangannya di dada, sedangkan Alexa berdehem guna meredakan keterkejutannya atas serangan yang tiba-tiba wanita itu lontarkan.
Ia hanya mampu menyandarkan punggungnya ke belakang dan kembali menyesap lattenya. Sementara Somi di hadapannya juga tampak akan kembali berbicara.
"Aku nggak mau film mereka sukses." jujur wanita itu lagi.
"Aku nggak ada pilihan selain buat reputasi mereka jadi buruk di mata masyarakat."
"Biar?"
"Biar publik hanya melihat mereka dengan sebelah mata. Dengan begitu, film mereka nggak akan dapat antusiasme dari masyarakat luas."
"Biar film mereka dicaci habis-habisan."
Alexa mendesah, ia menyesap lagi red wine miliknya, menepis bayangan Somi dalam benaknya. Sepertinya Somi tidak bisa dicegah.
****
__ADS_1
Hari hari terus berlalu sebagaimana mestinya. Zoya yang penuh semangat dan antusias tak pernah absen menjalani syuting. Naina kerap kali ikut dengannya ke lokasi syuting. Selain karena gadis itu adalah asistennya, Naina juga pasti akan merasa kesepian jika setiap hari hanya sendirian di rumah, terlebih baik Zoya maupun Ethan sering pulang larut malam.
Tapi belakangan, gadis itu tampak tidak sehat sehingga Zoya kerap kali membiarkannya untuk tetap tinggal di rumah. Gadis itu hanya dibiarkannya membereskan rumah seperlunya. Bahkan Zoya membawa makanan dari luar setiap habis syuting karena Naina tidak bisa mencium bau masakan. Gadis itu akan merasa mual dan berakhir dengan memuntahkan semua isi perutnya.
Penciuman Naina sensitif bahkan pada wangi parfum.
"Mas Ethan kesini pake parfum?" tanya Naina sambil menutup hidungnya begitu Ethan masuk ke dalam kamarnya untuk tidur setelah pria selesai mengurus pekerjannya di ruang perpustakaan. Ethan berhenti di ambang pintu dan mencium kaos berwarna putih dengan lengan pendeknya. Ia memang memakai parfum sebelum ke kamar Naina, tapi hanya sedikit, ia kira Naina tidak akan menciumya.
Pria itu mengangguk. "Tapi cuma sedikit."
Naina menggeleng kuat-kuat dengan wajah menahan mual, melihat hal itu Ethan lantas beranjak. "Kalau begitu saya ganti baju dulu." ucap pria itu yang kemudian berlalu dari kamar Naina.
Naina hanya mengangguk dan membiarkan pria itu berlalu dari kamarnya. Ia lantas berbaring di atas tempat tidur sambil mengipasi wajahnya dan mengusir atmosfer yang mengelilinginya, karena wangi parfum pria itu masih tertinggal di kamar miliknya.
***
Zoya yang baru saja menyingkap selimutnya dan akan berbaring di atas tempat tidur menoleh begitu pintu kamar terbuka. Ia melihat suaminya berjalan masuk seraya melepas kaos yang dikenakannya.
"Kenapa?" tanya Zoya, melangkah mendekati pria itu yang membuka pintu lemari.
Zoya meraih kaos yang suaminya lepas dan menciumya. Harum aroma tubuh Ethan dan parfum mahal pria itu berbaur menjadi satu aroma yang candu baginya.
"Saya pakai parfum, tapi cuma sedikit. Ternyata Naina tidak tahan." sahutnya usai mengambil kaos berwarna biru tua dan mengenakannya. Zoya mengangguk mengerti, ia terdiam sesaat, sementara Ethan tengah merapikan rambutnya yang berantakan.
"Ada yang nggak biasa sama Naina."
Ethan mengernyit, menatap Zoya penuh tanda tanya, namun wanita itu justru hanya mengukir senyum tipis. "Ada apa?" Ethan bertanya lagi karena penasaran.
"Enggak papa, nanti aku kasih tahu besok."
"Sekarang saja."
"Sekarang aku ngantuk, mau tidur." Zoya beralasan seraya berakting seolah ia memang mengantuk. Ethan menatap wanita itu pasrah, ia meninggalkan kecupan singkat di bibir Zoya sebelum kemudian meninggalkan wanita itu di dalam kamar.
Zoya hanya tersenyum menatap kepergian suaminya. Ia lantas mendekap kaos yang suaminya tinggalkan dan memanggil nama pria itu dengan suara pelan. "Ethan,"
Naina sudah terlelap dalam tidurnya ketika Ethan kembali ke kamar. Pria itu menutup pintu perlahan karena tidak ingin mengganggu gadis itu. Ethan lantas duduk di tepi tempat tidur dan menatap gadis itu lekat.
Zoya benar, Naina tampak aneh akhir-akhir ini, gadis itu bersikap tidak seperti biasanya. Tetapi begitu sesuatu hal terlintas di kepalanya, Ethan buru-buru menepis hal tersebut.
__ADS_1
***
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali saat Ethan masih lelap dalam tidurnya. Suara bel rumah terdengar disusul suara orang yang amat familiar di telinganya.
"Ethan belum bangun?"
"Belum Bunda. Ethan masih di kamar, semalam habis ngurus pekerjaannya dan tidur larut malam sekali. Kasian kalau udah dibangunin sekarang."
Ethan membuka mata dengan sempurna, kesadarannya juga terkumpul dengan cepat, membuat Naina yang tidur di atas lengan pria itu terbangun mendapati gerakan sang suami.
"Ada apa?" Naina bertanya dengan suara parau khas orang bangun tidur seraya menggisik matanya. Ethan beringsut dari posisinya dan membuat Naina menjatuhkan kepalanya di atas bantal.
"Di luar ada Bunda." sahut Ethan seraya beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu. Naina yang mendengar hal itu juga tampak terkejut dan terduduk dari posisinya. Kesadarannya kembali penuh dengan cepat.
"Ibu Freya?" tanya Naina, Ethan mengangguk . Dua orang itu tampak kalang kabut. Sementaara di luar kanar, Zoya sudah kebingungan untuk mengalihkan perhatian mama mertuanya yang sangat senang memberi kejutan dengan kedatangannya yang tiba-tiba.
Ia sama sekali tidak tahu jika Freya akan datang. Ia bahkan sangat terkejut begitu membuka pintu dan mendapati Freya dengan senyuman. Tentu Zoya juga harus menyambutnya engan sebuah senyuman pula sekalipun ia kebingungan karena Ethan belum keluar dari kamar Naina.
"Rumah masih sepi, asisten rumah tangga kalian ..., mm Naina belum bangun?" tanya Freya kemudian, sialnya wanita itu berjalan ke arah dapur dan membuat Zoya kian tak karuan. Ia melirik pintu kamar Naina yang masih tertutup rapat.
"Zoya?" Freya menoleh pada menantunya yang hanya diam saat ia bertanya.
"Oh, ini Bunda. Naina sakit, mungkin kecapean karena dia juga kan bantu Zoya di lokasi syuting." Zoya berdusta dengan senyum dipaksakan.
"Kasian sekali. Udah dikasih obat?"
"Euu,"
"Yaudah, nggak apa-apa. Biar Bunda yang kasih obatnya nanti. Sekarang, kamu mandi–" Freya menyipitkan matanya menatap Zoya, membuat wanita itu tersenyum kecut dengan kerutan di dahinya.
"Kamu belum sarapan, 'kan Sayang?"
"Belum Bun."
"Kebetulan, Bunda bawa bahan masakan." selanjutnya wanita itu tersenyum girang sambil menenteng plastik belanjaan yang dibawanya.
Lagi-lagi Zoya hanya mampu tersenyum kecut, tidak tahu harus berkata apa pada Freya. "Yah, kamu mandi dulu." kali ini Freya sedikit mendorong tubuh wanita itu menjauh dari dapur.
"Iya, Bunda."
__ADS_1
Zoya pada akhirnya beranjak memenuhi perintah mama mertuanya dan sesekali menoleh ke belakang, berharap Freya tidak mengetuk pintu kamar Naina dan masuk ke sana.
TBC