Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Akan Baik-Baik Saja


__ADS_3

"Mi, apa Mami sama kaya Papi, nggak setuju seandainya Agyan sama Freya nikah?" tanya Agyan saat itu sepulang dari acara resepsi pernikahan Cherry dan Gavin. Ia hanya berdua dengan Grrycia di dalam mobil karena Andreas memiliki urusan dan pulang duluan.


Selama ini, komunikasi antara Agyan dengan kedua orangtuanya memang tidak seterbuka dulu. Dan ia jarang mengobrol banyak dengan Grrycia, termasuk membicarakan hubungannya dengan Freya.


"Selama ini, Agyan selalu berusaha keras meminta restu dari Papi, tapi Agyan gak pernah mikirin perasaan dan persetujuan Mami," sambungnya. Sementara Grrycia masih menatap dengan senyum tipis di bibirnnya.


"Mungkin tanpa sadar selama ini Agyan udah nyakitin Mami."


Grrycia menggenggam tangan putranya seraya menggeleng. "Mami dukung apapun yang buat kamu bahagia, Gyan."


"Mami cuma pengen liat kamu seneng. Untuk Papi, Mami nggak bisa banyak bantu. Papi kamu itu keras kepala, Mami nggak bisa nebak apa yang sekarang ada di kepalanya."


"Tapi Mami janji, Mami akan tetep coba bantu kamu."


"Kamu sayang Freya, 'kan?"


Agyan mengangguk, berhambur memeluk Grrycia dengan perasaan bahagia dan terharu yang berbaur menjadi satu.


"Agyan sayang Freya, Mi."


*


*


Freya menggigit ujung kukunya, dengan perasaan was-was, ia mengambil sebuah benda kecil dalam sebuah gelas berisi cairan urine miliknya. Menghela nafas sekali dan melihat hasilnya.


"Positif." lirihnya dan menghembuskan nafas dengan perasaan tak tentu. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil menatap testpack di tangannya.


Ini adalah anugerah. Tapi Freya tidak mengira jika ia akan hadir secepat ini dalam kondisi disaat sekarang.


Freya juga cukup sadar, jika ini adalah kesalahan. Tapi apa yang harus dilakukannya sedangkan untuk membuangnya Freya merasa tidak mungkin untuk ia lakukan.


Freya menggapai ponsel di sampingnya, memotret dan mengirimkannya pada seseorang.


Tak butuh waktu lama untuk seseorang tersebut membalas pesannya.


Gyan❤


Selamat Sayang.


Freya berdrcak, memilih untuk menelpon Agyan dan akan memakinya. Dering ketiga, telpon baru terhubung, Freya tau Agyan sengaja membuatnya menunggu cukup lama.


"Gyan, kamu tuh, mempersulit keadaan kita."


"Aku? Aku sama kamu Sayang."


"Kita!" Agyan menegaskan. Freya hanya diam, perasaannya kesal pada Agyan yang seolah menganggap jika ini bukanlah masalah besar.


"Gyan,"


"Hmm."


"Kamu nggak bakal ninggalin aku, 'kan?" tanya Freya dengan cemas.


"Enggak akan."


"Kamu mau tanggungjawab, 'kan?"


"Pasti."


Setidaknya perasaan Freya menjadi sedikit lega setelah mendengar kepastian dari Agyan. Atau Freya benar-benar akan gila sendiri jika Agyan tidak mau bertanggung jawab nanti. Meski Freya yakin, Agyan bukanlah orang yang seperti itu.


"Ayo kita ketemu." ajak Agyan setelah beberapa saat. Freya diam untuk beberapa waktu, kemudian. "Kamu nggak bakal suruh aku buat gugurin bayi ini, 'kan Gyan?" Freya memastikan. Entah kenapa ada perasaan was-was di hatinya ketika Agyan mengajaknya untuk bertemu.


"Enggaklah!"


"Kita udah berbuat dosa dan mau nambah dosa lagi dengan buang bayi itu?!" Agyan sedikit terkekeh mendengar reaksi Freya.


"Kok kamu kaya nganggep aku ini cowok brengsek, Yang?"


"Bukan, aku—Aku takut aja."

__ADS_1


Agyan menghela nafas. "Yaudah, kamu siap-siap. Hati-hati, yah "


"Iya." panggilan dengan Agyan terputus. Freya harus memikirkan cara untuk keluar dari rumah tanpa ketahuan.


Terutama oleh para boduguardnya yang maha over protektif melebihi orangtua Freya.


*


*


Freya menyodorkan testpacknya pada Agyan. Sekarang, mereka sedang berada di dalam mobil Agyan, pria itu hanya menatap benda yang Freya sodorkan.


"Berapa minggu?"


"Aku telat tiga minggu,"


Agyan hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Freya memperhatikan sang pacar dengan raut cemas. "Aku takut, Gyan." ujarnya, Agyan merentangkan tangannya, Freya berhambur memeluk Agyan.


"Ada aku," Agyan mengusap punggung Freya. Meyakinkan gadis itu jika ia tidak akan meninggalkannya dan semua akan baik-baik saja.


"Kalau orangtua kita nggak bisa ngerestuin hubungan kita, sekarang mereka harus terpaksa ngerestuin."


"Aku takut Papi tetep ngotot nolak kamu,"


"Enggak akan."


"Aku tau Papi, Gyan. Aku takut dia—"


"Nggak usah takut," Agyan tetap berusaha membuat Freya tenang, meski perasaannya juga ikut bimbang.


Agyan takut apa yang dikatakan Freya benar. Bagaimana jika Warry tetap bersikeras menentang hubungan mereka, dan bagaimana nasib anak mereka nanti?


Bagaimana reaksi Andreas nanti, apakah dia akan marah dan membunuh Agyan. Lalu bagaimana nasib Freya dan calon anak mereka?


Agyan benci memikirkannya, tapi memang hal itu yang berada di dalam kepalanya dan Agyan tidak bisa mengabaikan begitu saja sesuatu yang akan dihadapinya.


"Kita ke rumahku, Papi ada di rumah."


"Ngapain?"


"Aku takut, Gyan."


"Nggak perlu takut. Ada aku, Sayang."


Agyan menghela nafas, mengecup punggung tangan Freya dan bersiap untuk menghidupkan mesin mobil. Freya di sampingnya hanya diam. Mempercayakan semuanya pada Agyan meski jujur, hatinya amat cemas dan khawatir dengan berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi.


Sepanjang perjalanan keduanya hanya terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Jalanan yang mereka lalui terasa tanpa hambatan. Membuat Freya semakin risih saat mobil sudah memasuki gerbang rumah Agyan.


"Nggak usah takut, yah." Agyan menggenggam tangan Freya, berjalan memasuki rumah dengan keyakinan yang ada dihatinya. Bagaimana pun bayi yang sedang Freya kandung adalah anaknya. Cucu Andreas dan Agyan harus bertanggungjawab.


Agyan tidak perduli meski mendapat tatapan penuh keheranan dari kedua orangtuanya saat ia masuk bersama dengan Freya di ruang tengah di mana ada Andreas dan Grrycia di sana.


"Gyan," Grrycia bangkit dengan raut terkejut, matanya menatap tangan Agyan dengan Freya yang saling bergenggaman. Sementara Andreas memasang wajah datar dan bangkit juga.


"Agyan mau nikah sama Freya." sahut Agyan dengan spontan.


"Agyan, jangan main-main!" Grrycia mengingatkan. Meski ia melihat kilatan kesungguhan di mata putranya jika apa yang dikatakannya bukanlah sebuah bualan.


"Freya hamil anak Agyan."


Grrycia menggeleng kuat dengan telapak tangan yang menutupi mulutnya tak percaya. Kali ini Andreas juga tampak terlihat terkejut. Ia melangkah mendekat pada Agyan dengan tatapan tak terbaca.


"Ikut ke ruangan saya!" perintah Andreas. Agyan menoleh pada Freya, gadis itu menggeleng samar dengan raut khawatir. Tapi Agyan berhasil memberikan senyum tipis untuk meyakinkan jika semua akan tetap baik-baik saja.


"Kamu sama Mami, yah." perlahan Agyan melepas genggaman tangan mereka. Ia menatap kepergian Andreas yang sudah lebih dulu berlalu menuju ruang kerjanya.


"Mi, Gyan titip Freya."


"Iya, Gyan."


Agyan berlalu, menghilang dari pandangan Freya. Gadis itu semakin merasa cemas. Mengingat bagaimana tatapan dingin Andreas pada Agyan tadi setelah Agyan mengatakan jika Freya mengandung anaknya.

__ADS_1


Kepala Freya dengan lancang menebak-nebak apa yang akan Andreas lakukan pada Agyan. Akankah menyakiti Agyan?


"Freya, kamu mau minum apa?" tanya Grrycia, ia melangkah menghampiri Freya dengan senyum ramah yang masih sama dengan empat tahun yang sudah berlalu.


Freya menggeleng. "Maafin Freya, Tante, maaf." Freya justru merasa bersalah, bahkan tak kuasa berkata. Ia tau Grrycia pasti kecewa dengannya. Dengan apa yang terjadi karena kelakuannya dengan Agyan yang tidak berpikir panjang.


"Kamu nggak sepenuhnya salah, Sayang." Grrycia memeluk Freya, mengusap punggung gadis itu agar merasa tenang. "Om Andre nggak akan nyakitin Agyan, 'kan Tan?" tanya Freya, berharap Grrycia mengatakan iya dan membuat perasaannya lega. Namun sayang, jawaban yang dilontarkan Grrycia justru membuat perasaan Freya semakin tidak tenang.


"Mami juga nggak tau."


Grrycia memang tidak tau dengan apa yang akan dilakukan suaminya pada putra mereka. Tapi apa yang telah Agyan lakukan memang sudah keterlaluan. Meski Grrycia mengakuinya sendiri, Andreas turut andil atas apa yang Agyan perbuat.


*


*


"Papi tidak pernah mengajarkan kamu menjadi laki-laki seperti itu Agyan!" geram Andreas dengan murka.


Agyan hanya diam menatap sang papi yang memang melarangnya untuk menunduk. Agyan tidak memperdulikan cairan merah yang berasal dari salah satu bibirnya karena tamparan keras yang Andreas berikan. Agyan tidak mengeluh, atau meringis sedikitpun meski ia merasa perih pada pipi dan juga luka di bibirnya.


"Kamu sengaja agar Papi mau merestui hubungan kalian?"


"Bukan, Pi."


"Jadi apa, kamu tidak sengaja melakukan dan menikmatinya?"


"Agyan kira jika hanya sekali tidak papa."


Andreas mendengkus, ia menghela nafas. Melipat tangannya di dada dengan perasaan bergemuruh di hatinya. Berusaha untuk tidak lagi menyakiti Agyan yang bahkan tidak pernah ia pukul sejak kecil.


Tapi hari ini, Agyan membuat Andreas melayangkan tamparan keras pada kedua pipinya.


"Jadi, selanjutnya kamu ingin menikahi Freya?"


Agyan mengangguk. "Kita akan ke rumah Freya malam ini,"


"Papi merestui kami?"


Andreas hanya diam, membuat Agyan menunggu jawaban apa yang akan Andreas berikan. "Dengan syarat yang harus kamu penuhi."


*


*


"Sakit?" tanya Freya, mengusap ujung bibir Agyan dengan wajah prihatin. Agyan hanya tersenyum tipis, memegang tangan Freya yang berada di ujung bibirnya.


Keduanya sedang berada di kamar Agyan. Andreas menyuruh Freya untuk mengobati luka di ujung bibir Agyan.


Ketika Agyan keluar dari ruang kerja Andreas, ia masih sempat tersenyum meski ada luka sobek di ujung bibirnya, bahkan noda darah masih ada di sana. Grrycia juga merasa terkejut, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Dan Freya hanya menggigit bibir bawahnya guna menahan tangis melihat hal itu.


"Nggak papa."


"Tapi bibir kamu luka." mata Freya berkaca-kaca. Hubungannya dengan Agyan memang penuh liku dan air mata.


"Yang penting masih bisa cium kamu."


"AGYAN!" Freya menangis juga. Menumpahkan air matanya, Agyan hanya tertawa, kemudian meringis saat merasakan perih pada lukanya.


Freya tampak khawatir dan menangkup satu sisi wajah Agyan. "Sakit?" Agyan menggeleng.


"Jangan nangis." ibu jari Agyan mengusap lelehan air di pipi Freya. "Jangan nangis."


Perlahan Freya mengangguk, dan perlahan mengulas senyum tipis. "Om Andre bilang apa?"


Agyan diam sebentar, kemudian menyahut. "Papi bakal ngelamarin kamu buat aku." Freya tersenyum senang. Ada perasaan lega di hatinya, bahkan merasa senang jika memang Andreas merestui mereka.


Tapi Freya tidak tau dengan apa yang akan Agyan hadapi atas syarat yang Andreas ajukan. Dan ia juga tidak tau apakah mereka bisa atau tidak menembus benteng pertahanan Warry yang menentang hubungan


keduanya.

__ADS_1


Freya menoleh pada Agyan. Hatinya merasa yakin, jika dengan Agyan, semua akan baik-baik saja.


TBC


__ADS_2