
Freya menyuguhkan segelas susu pada Agyan yang sedang membaca sebuah skrip untuk syuting film pertama yang akan dibintanginya bulan depan.
Jujur awalnya Agyan tidak ingin menerimanya. Tapi, mengingat isi naskah tersebut yang bercerita tentang pasangan kekasih yang berjuang meminta restu pada orangtuanya membuat Agyan berfikir beberapa kali untuk menolak film perdananya.
Atfat sendiri sudah bercerita padanya jika novel tersebut diangkat dari kisah nyata. Agyan mengagumi kedua pemeran utama dalam novel tersebut ketika mereka memiliki akhir yang indah dalam kisah tragis setelah kehilangan putra pertamanya.
Lika-liku dijalani sampai akhirnya restupun mereka kantongi. Agyan berharap, jika kelak nasibnya dengan Freya sama seperti tokoh dalam novel tersebut. Hidup bahagia dengan restu dari orangtua. Tapi mengenai kehilangan, Agyan tidak ingin hal itu terjadi.
"Sayang," Freya menyentuh lengan Agyan yang justru malah diam melamun.
Agyan tersadar dan menoleh, balik menyentuh tangan Freya dan tersenyum. "Maafin aku, yah, beberapa hari ini aku sibuk." Agyan menarik Freya dalam pelukannya. Ia takut jika istrinya merasa kurang diperhatikan, Agyan akan merasa sangat bersalah dan menjadi suami yang gagal jika itu yang Freya rasakan.
Selama dua minggu ini, Agyan sibuk menjadi bintang tamu dalam beberapa acara yang ditayangkan di beberapa stasiun tv. Ia juga sudah mulai menjalankan beberapa proses syuting iklan dan sebentar lagi akan membintangi film televisi.
Dan waktunya bersama Freya mau tidak mau sedikit berkurang.
"Gyan, sebelum kamu tandatangan kontrak kerjasamanya, pun. Aku udah nyiapin hati seandainya kamu mau gabung di dunia yang lagi kamu jalanin."
"Aku tau resikonya. Semuanya butuh perjuangan, 'kan, dan harus ada yang dikorbankan." Freya menatap Agyan.
"Kebersamaan kita." sambungnya dengan senyuman.
Agyan tersenyum, mengelus puncak kepala Freya dan mencium keningnya.
"Aku janji, kamu selalu yang nomer satu buat aku."
"Iya. Aku percaya,"
Agyan semakin mengeratkan pelukannya. Andai ia bisa memberi kehidupan yang lebih layak untuk Freya tanpa harus ada di dunia hiburan, mungkin jalannya tidak akan seperti ini.
Tapi Agyan percaya, semua sudah diatur sedemikian baiknya oleh Tuhan. Dan ia barus menerima dengan lapang dada.
"Oh, yah. Aryo udah memuin asisten rumah tangga buat kita." Agyan dengan Freya sudah membahas ini sebelumnya. Karena Agyan sering pulang malam, ia tidak ingin Freya tinggal di rumah sendirian. Setidaknya, istrinya itu tidak perlu kesepian sebelum ia pulang.
"Kemungkinan hari ini dia datang."
"Cepet banget."
"Iya. Sengaja, aku nggak mau kamu kesepian nanti."
"Biar ada yang bantuin kamu juga. Jangan sampe kamu kecapean." ucap Agyan dengan penuh perhatian. Freya tersenyum, ia mendarakan kecupan singkat di pipi Agyan. Pria tampan itu hanya tersenyum.
"Gyan,"
"Hmm."
"Kamu yakin bakalan tetap sayang sama aku. Kamu yakin nggak akan ada cewek lain, terutama dari kalangan artis yang bisa narik perhatian kamu."
Agyan diam sebentar, ia menatap istrinya lekat-lekat. Agyan tau Freya khawatir jika dirinya berpaling. Sama seperti saat Freya menjadi model dan Agyan seringkali parno mengenai kehadiran gadis cantik itu di lokasi pemotretan yang akan memikat banyak pria. Freya pun pasti merasakan hal yang sama mengenai dirinya.
"Mmmm—"
"Jangan kebanyakan mikir!"
Agyan mengernyitkan dahi saat melihat mata gadis itu berkaca-kaca. "Yang—" Ia menyentuh lengan Freya, gadis itu justru menepisnya.
"Kamu tau, gak, sih. Kalau malem-malem kamu belum pulang, aku suka mikir macem-macem."
"Kamu lagi sama siapa? Deket sama cewek apa nggak? Inget sama aku apa enggak?"
"Aku takut kamu bohongin aku!"
"Diem-diem sama cewek lain!"
__ADS_1
"Nggak pernah, 'kan, Gyan?"
Agyan tertawa, memeluk sang istri erat-erat meski Freya berontak. Ia tidak menyangka jika Freya akan berfikir sejauh itu mengenai dirinya. Meski Agyan sangat memaklumi kekhawatiran istrinya.
"Aku bukan nggak percaya sama kamu, tapi aku takut kamu khilaf." sambungnya dengan polosnya, ia sudah tidak lagi berontak meski tak mau menatap Agyan.
"Kamu gak pernah ngelakuin hal macem-macem, 'kan?"
Tidak salah jika Freya merasa khawatir dengan hal itu. Ia pun tau bagaimana kehidupan orang-orang yang terjun di dunia entertaint. Terkadang, tuntutan syuting mampu membuat sebagian orang merasa terbebani dan justru melakukan hal-hal tak terkendali.
Terlebih, Agyan adalah orang baru dalam dunia yang sekarang sedang digelutinya. Freya takut Agyan terbebani dan memendamnya sendiri sehingga ia frustrasi.
Ia juga takut akan ada gadis yang menaruh simpati pada Agyan dan membuat suaminya itu luluh. Hal ini tidak sepele bagi Freya, mengingat wajah tampan suaminya yang mampu membuat siapa saja terpesona.
Sedangkan terlalu mengkhawatirkan Agyan, ia juga tidak mau. Lebih tepatnya tidak ingin bersikap berlebihan. Karena sejak awal, ia sudah berjanji pada Agyan untuk percaya dan mendukung suaminya.
"Sayang, kamu nggak perlu khawatirin hal itu. Aku nggak papa, dan nggak akan kenapa-napa. Apalagi sampe jatuh ke pelukan cewek lain."
"Enggak akan, Freya."
"Mana ada, sih, cewek yang kaya Freya. Yang cantik, seksi, keras kepala, manja—"
"Agyan!" Ia memukul dada Agyan.
Agyan tertawa sembari menahan tangan istrinya, sementara Freya menekuk wajahnya sambil menatap Agyan. Membuat Agyan gemas dengan tingkah sang istri. Seketika suasana diruang tv itu menjadi hening. Dua orang yang berada di sana hanya saling terdiam dengan terus menatap.
Agyan melirik jam dinding. Pukul setengah sebelas, ia kemudian melirik Freya. Detik selanjutnya, ia mengangkat tubuh sang istri dengan hati-hati. "Gyan,"
"Aku kangen."
"Ini masih pagi—"
Agyan tak menggubris, langkah kaki pria itu membawa mereka ke arah kamar. Tak perduli dengan suara mesin mobil yang memasuki pelataran rumah.
*
*
"Nggak papa, 'kan." Agyan berucap sembari memainkan gelang benang ditangan Freya yang sejak lama terus melingkar di pergelangan tangannya.
"Mau makan di rumah?"
"Enggak usah, aku makan di luar aja."
"Aku pengen makan bareng."
Agyan menghentikan tangannya, ia menoleh pada Freya yang berada disamping kanannya dengan lengan Agyan yang gadis itu jadikan bantalan.
"Sekarang?"
"Iya,"
"Boleh."
Keputusan Agyan membuat senyum Freya merekah. Jelas Agyan tidak bisa menolak dan berkata tidak, permintaan istrinya begitu mudah. Dan Freya tidak pernah meminta hal macam-macam darinya.
Agyan mengganti posisinya dan membuat Freya bergeser. Pria itu bangkit dari tempat tidur. "Mau ke mana?" refleks Freya bertanya.
"Mandi." Agyan menyahut santai melihat reaksi istrinya yang berlebihan, seolah dirinya akan pergi sangat jauh.
Ia mengambil handuknya. "Mau bareng?"
Freya menolak dengan menggelengkan kepalanya tanpa berfikir, Agyan hanya mengangkat bahunya acuh dan melangkah ke kamar mandi. Tapi suara ketukan pintu membuat langkahnya terhenti. Ia menatap Freya dengan dahi berkerut, sedangkan gadis yang di tatapnya justru menggelengkan kepala.
__ADS_1
Agyan mengambil kaosnya yang tergeletak di lantai, memakainya sembarang dan keluar dari kamar. Sedangkan Freya hanya duduk diam di atas tempat tidur.
Agyan mengernyit begitu membuka pintu. Tamunya menatapnya dengan lesu. Sedangkan Agyan melipat tangannya di dada.
"Ada apa?"
"Ada apa?" Aryo tampak emosi mengulang pertanyaan yang dilontarkan Agyan.
"Saya sudah satu jam di sini!"
"Terus?" Agyan bertanya dengan santainya. Aryo menggeram kesal.
"Mas Agyan ngapain di dalem. Kenapa buka pintunya lama?" kesalnya. Sedangkan Agyan memasang wajah tanpa dosa.
"Sayang, siapa?" Freya muncul di balik punggung Agyan dengan baju mandi yang di kenakannya. Aryo menatapnya, menatap dari ujung rambut sampai ujung kaki, kemudian menoleh pada Agyan, menilik penampilan pria tampan itu. Kaos polos berwarna putih, celana pendek berwarna abu. Lantas ia melihat panorama langit hari ini.
Cuaca sangat cerah dan panas. Kepalanya sudah berfikir macam-macam, meski ia tau apa yang ada di kepalanya tepat sasaran.
Panas-panas seperti ini? Pria muda itu membatin.
Seperti saat pertamakali mengenalkan Freya pada Aryo. Kembali Agyan melakukan hal yang sama dengan menghalangi Freya dari pandangan Aryo.
"Masuk!" katanya mempersilakan Aryo sambil menggandeng Freya masuk, Aryo mengekor di belakangnya.
"Aryo udah lama di sana?" tanya Freya. Agyan menggandengnya lolos sampai ke pintu kamar.
"Sejak kita ke kamar kayaknya."
"Hah?" gadis itu tampak terkejut.
"Enggak papa."
"Gyan—"
"Kamu mandi aja, aku nemuin Aryo dulu." Agyan membuka pintu kamar, membalikan tubuh Freya dan mendorong pelan punggung gadis itu untuk masuk.
Mau tidak mau, Freya menurut. Sementara Agyan kembali ke ruang tamu menemui Aryo. Pemuda itu sedang duduk patuh. Agyan duduk di sofa yang bersebrangan dengan Aryo.
"Enggak ada yang ngikutin kamu, 'kan?" tanya Agyan. Ia tidak ingin sampai orang-orang tau di mana tempat tinggalnya. Cukup para tetangganya saja yang membuat heboh saat pemberitaan tentang Agyan mencuat di permukaan.
Terlebih, ia tidak ingin awak media tau tempat tinggalnya dan mengganggu kehidupan pribadi keluarga kecil Agyan. Ia tidak ingin Freya merasa terganggu. Nanti, jika uang yang sedang Agyan kumpulkan sudah cukup, maka ia akan mencari rumah yang jauh lebih layak untuk ia tinggali dengan Freya dan anak-anaknya kelak.
"Enggak ada, Mas. Semuanya aman,"
"Saya ke sini, mau memberi tahu. Yayasan akan mengirim asisten rumah tangga sore nanti."
Agyan mengangguk.
"Terimakasih, yah. Kamu sudah banyak membantu saya."
"Sudah menjadi kewajiban saya, Mas."
Keduanya saling melempar senyum tulus. Agyan tidak pernah mengira jika akan mempercayakan semuanya pada Aryo, orang yang bertemu dengannya pertama kali dengan kesan yang buruk.
Kelak, jika Agyan benar-benar sukses. Ia akan selalu ingat, jika Aryo adalah orang pertama yang banyak membantunya mengurus segala hal. Orang pertama yang membantunya meniti karir.
Sedangkan Freya, dia menjadi yang utama bagi Agyan. Orang yang akan selalu berada di belakangnya. Yang mendukungnya di balik layar.
Ia teringat pada kutipan penting.
Di balik pria yang sukses, ada satu wanita di belakangnya. Di balik pria yang gagal, ada lebih dari satu wanita di belakangnya.
TBC
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan komen:")