
Ethan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hatinya resah, mengingat Zoya sudah tau siapa ia sebenarnya. Ia hanyalah anak diluar pernikahan. Kenapa ia takut Zoya tidak dapat menerima kenyataan tersebut?
Ethan memukul stir dengan kesal. Selama ini, tak ada satu pun orang yang mengetahui kelemahannya. Saat sekarang justru sang istri yang mengetahui hal tersebut, Ethan merasa jika harga diri - nya benar - benar terluka.
Ethan menatap rear vission mirror - nya. Ia melihat sebuah mobil yang tengah mengejarnya. Ethan tau itu mobil Agyan, tapi siapa yang menyetir. Zoya? Tiba - tiba Ethan mengingat jika sang istri sangat jarang mengendarai mobil, dan mengejarnya dengan kecepatan tinggi. Ethan cukup yakin jika itu adalah istrinya.
Apa Ethan sedang mencoba membunuh istrinya sendiri? Lagi, pria itu memukul stir. Kemudian mengurangi laju kecepatan mobilnya. Bahkan di saat seperti ini pun, yang ia pikirkan hanyalah keselamatan istrinya. Hanya Zoya.
Zoya yang sudah kewalahan mengejar Ethan seperti mendapat harta karun begitu mobil suaminya tampak mengurangi laju kecepatan, sehingga di jalanan yang cukup sepi, Zoya menambah kecepatan, menyalip mobil Ethan dan menginjak rem kuat - kuat. Membuat mobil Ethan juga otomatis berhenti. Pria itu mendesah dan segera turun dari mobil untuk menghampiri wanita itu.
Zoya yang baru saja turun dari mobil mengernyit mendapati suaminya yang tengah menatapnya, lantas menariknya mendekat.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu pikir tidak bahaya menyetir seperti tadi?"
"Kamu pikir saya tidak khawatir?" geram Ethan pada Zoya yang tampak mengernyit bingung melihat reaksi suaminya yang tiba - tiba saja marah padanya. Bukankah di sini yang seharusnya marah adalah Zoya? Seharusnya yang dicaci maki itu Ethan, bukan dirinya.
"Bagaimana jika sesuatu hal yang buruk terjadi sama kamu, hmmm?" sambung pria itu, masih dengan sorot kesal bercampur khawatir yang sangat jelas kentara.
Zoya memukul dada pria itu berkali - kali. "Kamu pikir aku mau ngebahayain diri aku sendiri?"
"Siapa yang maksa aku buat nyetir?"
"Aku juga khawatir sama kamu!"
"Kamu pergi gitu aja dalam keadaan marah dan nyetir kaya orang kesetanan. Kamu pikir aku gak takut kalau hal buruk terjadi sama kamu, hah?"
"Gimana kalau kamu kecelakaan? Gimana kalau kamu mati dan ninggalin aku?"
"Gimana aku hidup setelah itu, huh?" pada akhirnya puncak lelah dan kacau seorang wanita hanyalah menangis. Ethan sesaat terdiam, menahan bahu Zoya yang hampir luruh karena isakan. Dari apa yang ia dengar, apa ini berarti Zoya tidak akan meninggalkannya?
Kali ini Ethan menghela napas, lantas mendekap tubuh wanita itu. Faktanya, ia hanya tidak ingin Zoya tahu mengenai hal yang baru saja wanita itu ketahui mengenai dirinya.
**
"Enggak papa, Bunda. Ethan aman, dia nggak papa. Kami baik - baik aja." sahut Zoya pada sang mertua di ujung sana. Ia segera menghubungi Freya setelah melihat banyak panggilan tidak terjawab dari wanita itu yang pastinya sangat mengkhawatirkan keadaan Ethan.
"Maafkan Bunda, yah," lirih Freya di ujung sana. terdengar begitu sendu. Zoya mengusap tangannya, kepala wanita itu mengangguk samar sekali pun Freya tidak dapat melihatnya.
"Zoya yang seharusnya minta maaf. Mestinya Zoya gak nanyain sesuatu hal yang enggak Ethan suka." sahut Zoya, merasa bersalah. Karena bagaimanapun, ia yang membuat Freya memberitahukan padanya hal tersebut.
"Maafin Zoya udah buat Bunda sama Ethan salah paham jadinya." sambungnya penuh sesal.
"Enggak papa, Sayang. Kamu nggak salah apa - apa. Jangan minta maaf," nada suara Freya yang menenangkan membuat Zoya tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Yaudah, sekarang Bunda tenang, yah. Ethan udah nggak ambek - ambekan lagi." sahut Zoya. Kali ini senyumnya kian merekah.
"Iya. Kamu istirahat, yah ,Zoy."
"Iya Bunda."
Panggilan terputus bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka, Ethan muncul. Mata pria itu menatapnya sebentar, namun kemudian mengalihkan tatapannya ke arah lain dan berjalan ke arah tempat tidur tanpa mengidahkan kehadirannya.
Zoya yang merasa diabaikan lantas menatap pria itu yang sudah merebahkan tubuh dengan posisi membelakanginya. Hal yang tidak pernah pria itu lakukan selama mereka menikah, yah kecuali jikan sedang marah. Maybe, seperti sekarang misalnya.
"Ethan,"
Zoya berjalan menuju tempat tidur, mendekat dan menaruh dagunya pada bahu sang suami.
"Ethan," panggilnya lagi. Namun pria itu tak menghiraukan. Matanya terpejam seolah sudah lelap dalam tidurnya. Padahal Zoya tahu dengan pasti Ethan bukan tipikal ***** yang nempel langsung molor.
"Sayang," bisik wanita itu kemudian. Namun tetap tak membuahkan hasil.
"ETHAN!" pekik Zoya saat pria itu benar - benar tak menghiraukan panggilannya. Kesal, wanita itu naik ke tubuh Ethan, lantas menjatuhkan diri untuk berbaring di hadapan pria itu. Tempat yang sempit membuat wanita itu nyaris terjatuh kalau saja Ethan tidak secara refleks dan cekatan menahan pinggangnya.
Zoya mengelus dada setelah memejamkan matanya sekilas. "Untung nggak jatuh," ucapnya bernapas tenang. Lantas memalingkan wajah pada Ethan yang sudah membuka mata dan tengah menatapnya. Sejenak, wanita itu merasa gugup seperti biasa saat melakukan eye contact dengan suaminya, namun pegangannya pada lengan Ethan kian erat karen takut terjatuh. Bisa saja, Ethan tiba - tiba melepas tangannya yang kini menyangga pinggang Zoya dan membuat wanita itu terjatuh ke lantai.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Ethan, menyadarkan pikiran wanita itu yang tengah melantur.
"Hmm?" Ethan menaikan alisnya, menunggu jawaban. Wanita itu menggelengkan kepala perlahan, melihat hal itu Ethan menarik tubuh Zoya ke tengah, mengisi bagian ranjang kosong yang Zoya tinggalkan. Wanita itu menghela napas lega saat tak perlu lagi menahan napas karena takut terjatuh. Ethan sudah memposisikan dirinya, tidur di tempat yang biasanya Zoya tempati. Pria itu sudah kembali memejamkan mata. Zoya memiringkan tubuh, menatap pria itu lekat - lekat.
Setelah cukup lama sampai ia merasa suaminya sudah tidur, tangan wanita itu naik ke dada Ethan. Memain - mainkan kancing piama suaminya. Faktanya Zoya belum merasa benar - benar tenang meski Ethan dengannya sekarang, karena Ethan belum berbicara padanya sejak insiden di pinggir jalan sore tadi usai drama kejar - kejaran.
Zoya menghela napas, terus memainkan kancing piama Ethan sampai sebuah tangan menghentikannya. Sesaat Zoya membeku, lantas tatapannya beralih menatap wajah suaminya dengan mata yang masih terpejam.
Dahi Zoya berkerut, tapi beberapa saat kemudian mata pria itu perlahan terbuka dengan sorot sayu dan warna yang sedikit memerah.
"Belum tidur?" spontan Zoya bertanya. Ethan melepaskan tangan wanita itu, lantas memiringkan posisinya dan berhadapan dengan sang istri. Zoya hanya mengerjap bingung.
"Gimana saya mau tidur kalau kamu terus ganggu?" Ethan baru bersuara setelah cukup lama mendiamkannya.
"Ganggu, yah?" Zoya bertanya ambigu. Kembali meraih kancing piama Ethan dan memain mainkannya seperti sebelumnya guna mengalihkan rasa salah tingkah yang bisa saja akan sangat kentara, karena tatapan Ethan masih mengarah padanya. Dan sama seperti sebelumnya pula, Ethan membiarkan. Sedangkan matanya tetap lekat menatap sang istri. Tidak tau jika Zoya nyaris terbakar karena tatapan itu.
Sedangkan bagi Ethan, wajah istrinya yang cantik membuatnya betah berlama - lama menatap wanita itu. Pipi yang berisi, mata yang besar dan bulat. Hidung yang tidak terlalu mancung, namun membuat Ethan gemas melihatnya.
Dan bibir mungilnya yang ..., seksi. Ethan tersenyum membayangkan bagaimana jika bibir mungil itu mengerucut saat Zoya tengah marah atau kesal padanya.
Ia sudah menikahi bidadari. Wajar saja jika dulu ia tak bisa jatuh cinta pada wanita mana pun. Karena Zoya sudah sangat mengikatnya dan membuat Ethan tak bisa jatuh cinta kepada wanita lain, kecuali hanya pada wanita itu. Hanya Zoya.
__ADS_1
"Zoy,"
"Hmm?" Zoya berhenti memain - mainkan kancing kemeja suaminya. Sekarang tatapannya memusat pada Ethan.
"Ada apa?"
"Kamu nggak malu?"
"Malu karena?" dahi Zoya berkerut. Ethan sempat memejamkan matanya sekilas.
"Karena punya suami seperti saya."
"Seperti kamu yamg kenapa?" Zoya tampak mempermainkan sang suami.
"Zoy–"
"Than, kenapa aku harus malu? Kenapa aku harus ninggalin kamu," sela Zoya dengan cepat.
"Zoy, gimana pun saya–"
"Ethan, aku nggak ada masalah." Zoya meyakinkan. Menatap pria itu dalam - dalam sampai terdengar embusan napas berat Ethan. Wanita itu hanya tersenyum, lantas mengusap sisi wajah sang suamin dengan lembut.
"Aku emang nggak bisa membenarkan apa yang udah Bunda sama Ayah lakuin. Tapi di balik semua itu, mereka cuma berjuang buat cintanya meski caranya salah."
"Dan aku tau itu bukan mau kamu. Kamu nggak bisa milih buat lahir dari rahim siapa dan dengan cara apa." panjang lebar Zoya dengan penuh kelembutan. Ethan hanya terdiam.
"Aku nggak akan ninggalin kamu karena hal itu. Aku janji,"
"Siapa pun kamu dan gimana pun latar belakang hidup kamu atu pun masalah kamu di masa lalu. Atau antah berantah lainnya, aku nggak perduli, Hubby."
"Cinta aku ke kamu nggak akan berubah." wanita itu berujar sungguh - sungguh. Ethan mulai tersenyum, balas mengelus satu sisi wajah Zoya.
"You are the perfect wife." pujinya,
"Terimakasih Zoya. Karena sudah menerima saya apa adanya." sambungnya, lantas meraih kepala Zoya dan mendaratkan kecupan di dahi wanita itu, menahan cukup lama seperti biasa. Mengalirkan ketenangan yang membuat hati Zoya merasa damai. Sampai kemudian Ethan melepasnya dan tersenyum dengan manisnya.
"Cuma di kening?" protes Zoya dengan bibir mengerucut, hal yang tadi ia pikirkan saat Zoya sedang kesal dan merajuk.
"Kalau cium di tempat lain nanti minta yang lebih." sahut Ethan dengan mata memicing pada wanita itu.
"Enggak papa." jawab Zoya dengan senyuman. Tidak keberatan atas apa pun yang akan suaminya lakukan. Zoya tidak mau, karena fakta yang baru diketahuinya mengenai Ethan, pria itu merasa tidak enak dan canggung padanya.
Karena faktanya, Zoya tidak masalah dengan hal itu. Ia mencintai Ethan apa adanya. Bagaimana pun masa lalu pria itu.
__ADS_1
TBC